Aksara Mila

Aksara Mila
Salah Paham


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi.


Yana dan teman-temannya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Pilihan makanan mereka adalah mie ayam Bang Asoy, langganan mereka di kantin sekolah. Mila tak banyak bicara dan hanya mengikuti teman-temannya dari belakang dengan muka ditekuk. Perutnya juga tak sabar ingin segera diisi.


"Yan, kenape lu? Diem aja dari tadi." tegur Seno.


"Udah lu diem aja." Yana merangkul Seno dan membisikan di kupingnya. Seno yang bingung dengan tingkah Yana, berusaha untuk diam saja.


"Bang Asoy, mie ayam lima!" teriak Wahyu yang sudah tak sabar ingin makan. Cacing-cacing di perutnya sudah menggelitik minta makan.


"Oke siap, Bosku." Kata Bang Asoy dengan sigap. Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. "Silahkan semuanya. Mie ayam spesial siap disantap" kata Bang Asoy dengan semangat. Lalu memberikan pesanannya pada Yana, Mila, Tian, Seno dan Wahyu.


"Makasih, Bang." Wahyu menerima mangkuk mie ayam dengan cepat dan langsung melahapnya tanpa peduli panas akan membakar lidahnya.


"Amar kemana?" Mila tak melihat Amar bersama dengan mereka.


"Lagi antar buku ke perpus." jawab Tian karna tak ada yang menjawab Mila. Yang lain asik dengan mangkuk mie ayamnya masing-masing.


"Yan, mau sambel." Mila mengulurkan tangannya. Namun Yana cuek dan tak menghiraukannya. Akhirnya Tian juga yang memberikan botol sambalnya. Mila yang merasa Yana sangat cuek padanya memilih meninggalkan makanannya dan pergi dari kantin. "Besok gak usah jemput gue lagi!" teriak Mila kesal. Emosinya mengalahkan lapar di perutnya. Mila tak tahan lagi karna sikap Yana yang nyebelin. Mila pergi dengan menghentakkan keras kakinya ke lantai dan muka jutek.


"Yah, Mil. Habisin dulu makanannya. Mubazir tau." teriak Wahyu melihat Mila pergi begitu saja meninggalkan makanannya.


"Lu kenapa sih, Yan? Kasian itu si Mila lu cuekin gitu dari tadi. " saut Seno yang tak mengerti dengan sikap Yana.


"Kenapa sih, Yan?" tanya Tian lagi, menepuk pundak Yana.


"Biar dia berenti diem juga! Kalo gak gue cuekin gitu. Dia pasti masih diem aja kaya kemarin!" katanya sambil mengunyah mie ayam. "Dah lah. Ayo ke warung." Yana menyudahi makannya dan pergi.


"Buset, Yan. Bentaran napa, masih banyak ini." kata Wahyu dengan mulut penuh makanan.


Tian juga menyudahi makanannya dan membeli air mineral untuk Mila. Seno menarik kerah Wahyu yang masih ingin menyuap makanannya. Wahyu menolak karna masih ingin menyelesaikan makannya tapi Seno memaksanya untuk ikut. Wahyu meratapi mie ayam yang masih tersisa satu suap saja untuk mendarat lepas di perutnya. Amar yang baru saja mendarat ke kantin, bingung karna mereka sudah bubar secepat itu. Lalu menyusul mereka keluar sekolah.


Mila kesal lantaran Yana masih bersikap cuek padanya. Padahal dia sudah minta maaf dan berniat menceritakan masalahnya. Justru membuatnya tambah keki hari ini. Mila berjalan di lorong sekolah dengan wajah jengkel. Sangking jengkelnya sampai dia tidak melihat jalan dengan benar dan membuatnya menabrak seseorang.


Bruk!!!


"Aduh,,,,," Mila terjatuh ke lantai.


"Eh sorry." seseorang mengulurkan tangannya.


"Maaf juga gak liat-liat." Mila menerima uluran tangannya.


"Eh Mila. Maaf ya. Gak liat juga tadi, sakit ya?" Bian memeriksa keadaan Mila.


"Bian, gpp kok." Mila mengusap-usap roknya.


Tian yang melihat Mila jatuh berlari kearahnya. "Mil, gpp?"


"Gpp kok, Tian." memaksa senyum sambil meringis menahan sakit.


"Nih minum dulu, belum minumkan tadi." Tian menyodorkan air mineral yang dibelinya.


Bian melihat mereka dengan cemburu. "Gue duluan ya. Sorry ya, Mil." Bian meninggalkan mereka berdua.


"Eh tunggu." Mila menarik tangan Bian. "Thanks ya, Tian. Gue ke perpus dulu." Mila berjalan dengan menggandeng tangan Bian dan meninggalkan Tian. Melihat mereka pergi berdua dengan tangan Mila yang menggandeng tangan Bian membuat cemburu itu berpindah padanya. Tian menatap kesal kearah mereka dan pergi menyusul teman-temannya.


Bian berhenti, "Gue gak ajak lu ke perpus?" tanyanya bingung.


"Ya emang engga." Mila melepaskan gandengannya.


"Lah teruss?" tanyanya lagi. Ohhhhh...." tiba-tiba dia tersentak senang.


"Ohhh.. Apaa?" Mila kebingungan.


"Gpp. Hari ini ya?" tanyanya menebak.


"Apanya yang hari ini?" tanya balik Mila heran.


"Pulang barengnya?" Bian mengingatkan Mila.


"Idih GR,,,!" Mila mengerutkan dahinya lalu tertawa. Mereka memutuskan untuk ke perpustakaan bersama namun bel masuk berbunyi. Saat hendak ke kelas, Mila merasakan sakit lagi pada perutnya. "Aw....," rintih Mila memegang perutnya.


"Kenapa, Mil?" tanya Bian.


"Aduh, Bi. Kayanya perut gue sakit deh. Lu duluan ke kelas deh, gue ke toilet dulu." Mila berlari ke toilet. Bian hanya tersenyum melihat tingkah Mila, yang dia kira kebelet. Padahal itu karna asam lambung di perutnya naik. Akibat belum sarapan dan tadi di kantin juga belum sempat makan.


Mila merintih kesakitan di dalam toilet. "Aww,,, sakit banget." Mila meremas perutnya. "Obatnya di tas lagi." menekan dengan cepat nomor Yana. "Kenapa gak diangkat sih?" gumamnya. Mila tak sempat menelepon yang lain. Sakit sudah membuat nafasnya sesak. "Ahhh,,, sakittt banget lagi. Tolongggggg! Ada orang gak?" teriak Mila. Mila berteriak sekuatnya namun tidak ada yang mendengar. Murid-murid sepertinya sudah masuk ke dalam kelas. Keringat mengalir deras dari dahinya. Sakitnya tak tertahankan lagi dan Mila pun harus ambruk di toilet.


Guru datang ke kelas dan melihat kursi Mila yang masih kosong. "Mila kemana ya? Kok belum masuk?" guru bertanya.


"Tadi ke toilet, Bu. Sakit perut katanya." jelas Bian. Mila kok gak balik-balik ya gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Pelajaran pun dimulai dan murid-murid mengerjakan tugas yang diberikan. Yana mulai bertanya kemana perginya Mila. Kenapa belum masuk kelas juga? Begitu juga dengan pikiran Tian dan Bian. Sudah 20 menit pelajaran berlalu namun Mila tak kunjung kembali. Membuat resah teman-temannya dan juga guru yang mengajar.


"Bian, benar Mila ke toilet?" guru bertanya lagi.


"Waktu mau ke kelas bareng saya, Bu. Terus dia bilang perutnya sakit dan pergi ke toilet." Bian menjelaskan dengan lebih jelas.


Yana heran mendengar cerita Bian. Lalu dia bertanya dalam hati dan mencoba menghubungi ponsel Mila. Saat melihat ponselnya, ada panggilan tak terjawab dari Mila. Yana tersentak dari duduknya dan berlari menuju toilet wanita untuk mencari Mila.


"Hei, Yana! Mau kemana kamu?" melihat Yana keluar kelas tanpa izin.


Ternyata di toilet cewek sudah banyak murid yang berkumpul dan mencoba membangunkan Mila. Yana masuk ke dalam dan melihat Mila yang tak sadarkan diri dengan tubuh dingin dan wajah pucat. Yana mengangkat tubuh Mila dari lantai.


"Minggir! Panggil guru, cepet!" teriak Yana yang panik. Guru yang menyusulnya datang dan langsung menyuruhnya membawa Mila ke UKS.


"Ada yang pingsan,,,," teriak murid kelas sebelah.


"MILAAA,,,!" teriak Bian,Tian, Wahyu, Amar dan Seno. Mereka bergegas keluar kelas dan menyusul Yana yang membawa Mila. Cila dan teman-temannya saling melihat satu sama lain dengan raut wajah bahagia.


Lantai 1 sekolah tiba-tiba ramai karna kejadian ini. Guru dan murid-murid keluar dari kelas karna mendengar ada yang pingsan. Ada juga yang menjadikan alasan mereka untuk buru-buru pergi ke kantin untuk membolos pelajaran atau sekedar membeli cemilan di kantin. Guru piket mengambil alih dan membubarkan mereka yang berkerumun di depan UKS agar kembali lagi ke dalam kelas.


"Bu, ini gimana?" dengan panik Yana mencoba terus menyadarkan Mila.


"Sabar dulu, Yana. Kamu bisa tunggu di luar sebentar. Tolong ya," perintahnya.


Yana menunggu di luar dengan rasa bersalah di hatinya. Dia menyalahkan dirinya atas kejadian ini. "Aaaagggghhhhh Begooo,,,! Kenapa harus gue cuekin dia sih tadiiii,,,!" Yana meninju tembok.


Bian, Tian, Wahyu, Amar dan Seno datang. Wahyu menenangkan Yana yang terlihat sedih dengan keadaan Mila sekarang. Semuanya juga sedih melihat Mila yang terbaring di dalam sana. Mereka melihat Mila dari kaca jendela. Guru sedang berusaha menyadarkannya.


"Kenapa Mila, Yan?" Tian yang terlihat paling panik dari yang lain.


"Yanaaa." teriak Seno karna Yana tak menjawab.


Bian memberanikan diri mengetuk pintu. "Boleh saya masuk, Bu." katanya meminta izin guru yang ada di dalam agar bisa masuk ke dalam.


"Lu kenapa main masuk-masuk aja sih? Gue aja nunggu di sini,,,!" Yana menarik keras tangan Bian yang hendak masuk ke dalam.


Bian menepis tangan Yana."Kalau elu aja gak bisa jagain dia untuk apa larang-larang gue." tunjuk Bian. Lalu masuk ke dalam UKS. Bian membantu guru untuk menyadarkan Mila.


"Aagggghhhh sialan!" Yana meninju lagi tembok yang ada dihadapannya.


"Yan, udahlah sabar dulu." Tian berusaha menenangkan Yana.


"Emang sialan si Bian! Sok ngerti banget dia!" saut Seno kesal.


Guru masih berusaha membuat Mila sadar. "Sebelumnya Mila sudah makan?" guru bertanya pada Bian.


"Kurang tau deh, Bu. Soalnya tadi ketemu saya di depan perpustakaan. Saya tidak sengaja nabrak dia. Dia kelihatan buru-buru gitu dan pas waktu mau masuk kelas dia bilang kalau perutnya sakit. Saya kira dia ingin ke toilet, taunya kaya gini kejadiannya." ujar Bian menjelaskan.


Yana dan yang lain mendengarkan dengan menyesal. Pasalnya mereka semua bersama Mila sebelum Bian. Tapi tak ada satupun dari mereka yang tau kalau Mila sedang sakit. Yana yang terlihat paling menyesal. Dia menyesal karna terlalu memikirkan egonya hari ini. Sampai membuat sahabatnya sendiri menahan sakit. Seharusnya dia orang pertama yang mengetahuinya karna sejak pagi Yana bersama dengannya.


Yana membuka pintu UKS. "Maaf, Bu. Ini salah saya. Tadi saya dan Mila terlambat masuk sekolah dan dihukum di lapangan. Sepertinya Mila belum sarapan dan waktu istirahat dia juga belum sempat makan karna marah dengan saya." katanya dengan rasa bersalah. "Asam lambungnya pasti kambuh, Bu. Mila punya asam lambung," tuturnya lagi.


"Kenapa bisa seperti itu, Yana? Harusnya kamu bisa ingatkan dia untuk makan." sedikit marah setelah mendengar cerita dari Yana. "Sekarang Ibu bantu menyadarkan Mila. Jika sudah sadar, Mila akan Ibu izinkan untuk pulang lebih cepat." menenangkan hatinya lagi. Agar teman-temannya tidak terlalu khawatir. "Sekarang kalian bisa kembali dulu ke kelas dan lanjutkan pelajaran." Perintahnya.


"Tapi, Bu." Yana memohon agar bisa menjaga Mila.


"Kembali ke kelas!" perintahnya lebih keras. "Lagi pula sudah ada Bu Ratih yang akan menjaga Mila sekarang," melihat Bu Ratih datang ke ruang UKS.


"Udah, Yan. Ayoo." ajak Seno.


Yana dan yang lain kembali ke kelas bersama guru mereka. Dengan rasa cemas Tian memperhatikan Mila tanpa lepas. Tian juga menyimpan penyesalan. Mengapa tak ikut menemani Mila saat dia bersama dengan Bian tadi? Mengapa malah langsung terbakar api cemburu dan pergi? Yana berjalan dengan rasa sedihnya. Bian ikut khawatir setelah mendengar penjelasan Yana tentang sakitnya Mila.


Mereka semua ingin terus menemani Mila sampai sadar tapi apa daya. Mereka harus kembali ke kelas dan menunggu kabar Mila di sana. Genx axepink terlihat begitu bahagia karna melihat teman-teman Mila yang masuk ke kelas dengan wajah sedih mereka. Di dalam hati Cila itu adalah sebuah kemenangan untuknya hari ini. Tapi beda dari yang lain Ayana atau biasa dipanggil Ana. Dia justru ikut khawatir akan kondisi Mila. Entah apa yang membuatnya khawatir?


"Milaaa, bisa denger Ibu?" kata Bu Ratih. Guru piket yang juga bertugas di UKS hari ini. Mila yang setengah sadar mulai menggerakkan tangannya. Mila merasakan sakit diperutnya dan meringis kesakitan. "Mila, apa yang dirasa sayang?" tanya Bu Ratih dengan lembut.


"Perut Mila sakit sekali, Bu." katanya terbata-bata dan menahan sakitnya.


"Kamu sudah makan?" menyeka keringat Mila yang bercucuran.


"Sedikit. Bu, bisa minta tolong ambilkan obat Mila yang ada di tas?" Mila memang selalu membawa dompet kecil tempat menyimpan obat-obatnya di tasnya. Mila yang sadar dirinya tak bisa telat makan tapi selalu saja telat. Mengharuskan dirinya untuk membawa obat itu selalu di tasnya. Sewaktu-waktu sakitnya kumat jadi dia tak perlu susah mencarinya. Tapi hari ini karna emosinya yang terlalu, dia jadi lupa juga akhirnya.


"Sebentar ya, Mila. Ibu ambilkan dulu." Bu Ratih pergi ke kelas Mila.


Yana yang masih khawatir dengan kondisi Mila terus saja melihat ke arah luar. Pikirannya tak fokus pada pelajaran. Bahkan dia tak peduli dengan itu. Yang dia ingin secepatnya selesai dan dapat menemani Mila.


"Gpp, Yan. Sabar dulu. Sebentar lagi Mila sadar. Berdoa aja." Tian mencoba menenangkannya dari depan. Tian yang duduk di depannya bersama dengan Amar.


Tak lama pintu kelas diketuk. Bu Ratih datang ke kelas mereka.


"Permisi, Ibu. Saya mau ambil tas Mila." Bu Rantih masuk ke dalam kelas menemui guru yang sedang mengajar.

__ADS_1


"Oh baik, Ibu. Silahkan," guru kelas Mila mempersilahkan.


"Ini tas Mila, Bu." Yana langsung bangun dari duduknya dan membawakan tas Mila padanya. "Mila sudah sadar, Bu?" Yana yang masih khawatir dengan kondisi Mila langsung menanyakan kondisinya sekarang.


"Sudah. Ini Ibu diminta untuk ambilkan obatnya di tas. Terimakasih ya." Bu Ratih menerima tas Mila. "Bu, saya permisi." dan pamit meninggalkan kelas. Yana dan yang lain merasa lebih tenang mendengar Mila sudah sadar.


Bu Ratih datang membawa tas Mila. "Mila, ini minum dulu ya obatnya." Bu Ratih memberikan tasnya pada Mila. Mila langsung mencari obatnya dan meminumnya. "Kalau sudah enakkan perutnya bilang Ibu ya. Biar Ibu izinkan kamu untuk pulang lebih cepat."


"Tidak usah, Bu. Saya tunggu sampai jam pulang aja. Mila mau istirahat dulu disini. Bolehkan Bu?" pintanya.


"Baiklah, Mila. Nanti Ibu panggilkan teman kamu ya untuk jagain kamu. Ibu ada kelas habis ini, jadi tidak bisa temani Mila."


"Tidak usah, Bu. Mila bentar lagi juga membaik kok." merasa tak ingin di ganggu dan juga masih kesal dengan Yana.


"Kamu sudah sering seperti ini? Lain kali harus sarapan ya, Mila." memeriksa suhu tubuh Mila.


"Engga ko, Bu. Kalau telat makan aja. Baik, Bu."


Setelah minum obat dan makan roti pemberian Bu Ratih, Mila pun tidur untuk istirahat. Bu Ratih meninggalkan Mila setelah melihat kondisinya sudah membaik. Mila enggan untuk pulang kerumah. Dia tidak ingin ayah dan ibunya khawatir. Mereka juga pasti akan marah padanya karna sudah dua hari dia selalu telat makan. Mila tak ingin menambah masalahnya. Apalagi menambah pikiran orangtuanya. Mila juga tak ingin kondisinya yang lemah ini akan makin menjadi alasan kuat ayahnya melarang dia untuk bekerja setelah lulus sekolah. Jadi dia memilih istirahat di sekolah saja agar nanti jika sampai rumah keadaanya sudah lebih baik dan tidak terlihat sehabis sakit.


Bel pulang sekolah berdering. Mila masih terlelap dalam tidurnya. Tian berjalan menuju UKS tapi Yana menahannya dan melarangnya menemui Mila dengan alasan Bian sudah lebih dulu ke sana. Yana tak ingin melihat mereka berdebat di sana dan di dengar oleh Mila. Nanti yang ada Mila akan tambah sakit atau tambah kesal dengan mereka. Jadi atas perintah Yana, mereka semua memilih menunggu Mila di depan sekolah saja.


Suara pintu terbuka. Seseorang datang untuk mengunjungi Mila. Dia duduk disamping Mila dan memperhatikannya yang sedang tidur. Bahkan dia memotret moment Mila yang sedang tertidur. Pikirnya moment berdua bersama Mila dapat terwujud. Meski dalam kondisi yang tidak terlalu baik. Tapi setidaknya dia dapat dengan leluasa memandang wajah Mila dengan lebih hangat.


Mila terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, dia melihat Bian ada di hadapannya. Bian yang sedang memperhatikannya sedari dia tertidur pulas.


"Ihh,,, Bian. Kenapa gak di bangunin?" Mila kaget melihat kehadiran Bian.


"Gpp kan lagi tidur." jawab Bian dengan tersenyum senang melihat Mila sudah membaik.


"Kenapa senyum?" tanya Mila mengerutkan dahi. "Gue ngiler yaa" tanyanya panik. Takut-takut saat tidur tadi ilernya mengalir dan Bian melihatnya (huek).


"Engga kok. Cuma seneng aja liat lu tidur. Lain kali makannya jangan telat ya?" Bian mencubit hidung Mila.


"Ih,,, apaan sih. Iya-iya." Mila mengelus hidungnya. Padahal di dalam hatinya senang bukan main karna diperhatikan Bian.


"Udah bisa pulang belum?" Bian mengelus rambut Mila.


"Udah kok, yuk!" ajaknya. Mila bangkit dari tidurnya dan melipat selimut sehabis dipakainya.


Bian memakai tas Mila di pundak lalu memapah Mila bangun dari tempat tidur. Mila yang masih belum stabil berjalan dengan pelan-pelan. Mila mencari keberadaan teman-temannya tapi tak terlihat. Dia juga menanyakannya pada Bian tapi Bian tak tau. Setelah sampai di depan gerbang Mila baru melihat teman-temannya yang sedang menunggunya di sana. Mereka duduk di atas motor, menunggu Mila keluar. Yana yang menunggu Mila sejak tadi melihatnya dengan tersenyum senang. Mila sudah dapat berjalan meski harus dipapah oleh Bian.


"Yan, itu Mila." Wahyu menunjuk kearah datangnya Mila.


"Mila,,,,," Yana melambaikan tanganya.


Namun disambut dengan wajah jutek Mila. Mila merasa kesal pada teman-temannya. Mengapa yang dia lihat pertama kali dari sadarnya bukannya Yana atau yang lain melainkan Bian? Mila tak menghiraukan Yana yang melambaikan tangan padanya. Mila memilih lanjut jalan melewati mereka semua yang sudah menunggunya.


"Jalan terus, Bi." bisik Mila ke Bian.


"Eh kok jalan terus sih, Mil." Yana menghalangi jalan mereka. "Gue nunggu loh dari tadi."


"Ngapain?" kata Mila ketus.


"Lah kan kita mau pulang, Ayo!" Yana menggapai tangan Mila dan hendak memapahnya tapi langsung dilepas Mila.


"Gue kan tadi bilang di kantin. Gak usah jemput gue lagi" Mila mengulang kata-katanya.


"Gue kan mau anter pulang bukan jemput!" Yana membalikkan perkataan Mila.


"Udah deh, Yan! Gue gak mau debat." Mila merangkul Bian lagi dan lanjut jalan pergi.


Yang lain hanya dapat diam saat mereka berdua sedang berdebat. Tidak ada yang bisa menengahi mereka berdua jika sudah berdebat sesuatu. Yana menghela nafas panjang dan kembali menghalangi Mila. Tapi kali ini Bian harus ikut campur karna Yana memaksa Mila.


"Sorry nih ya, Yan. Bukannya gue mau ikut campur tapi kan tadi Mila bilang gak mau." Bian bersuara.


"Kok lu ikut campur sih?" Seno menyenggol Bian yang memancing emosinya.


"Aduh,,, udah deh stop. Kenapa jadi ribut gini sih?" Mila mendorong Seno dengan keras sampai sakit di perutnya kumat lagi. "Aww,,," rintih Mila.


"Mila, gpp?" Tian yang dari tadi menahan suaranya karna kesal melihat Bian dan Mila dekat. Langsung bertindak saat Mila kesakitan lagi. "Pulang bareng gue aja ya. Naik mobil biar bisa istirahat. Mau ya?" bujuk Tian pada Mila. "Bolehkan, Bian?" dengan tatapan penuh makna Tian meminta izin agar Bian secepatnya melepaskan tangan Mila dari pundaknya.


Walau hatinya menolak dan berharap jika dia yang akan mengantar Mila sampai ke rumahnya. Tapi Bian harus memikirkan keadaan Mila juga yang belum sehat 100%. Jika Mila harus ikut pulang dengannya naik motor. Pasti akan membuatnya makin sakit lagi. Akhirnya dengan berbesar hati, dia menurunkan egonya. Merelakan Tian yang mengantar Mila pulang dan melepaskan tangan Mila dari pundaknya.


"Eh, Bi. Kok dilepas?" Bian melepaskan tangannya dan mengalihkannya pada Tian.


"Pulang sama Tian aja ya. Biar bisa istirahat. Pulang barengnya lain kali aja kalau udah sehat lagi, okee?" suara Bian lirih sambil membiarkan Tian memapah Mila.


Mila memikirkan kondisinya juga. Jika sampai rumah masih dalam keadaan sakit kaya gini. Pasti Ayah sama Ibu khawatir. "Yaudah deh gue balik sama Tian aja." Mila mendengarkan permintaan Bian. "Thanks ya, Bi." Mila melambaikan tangan pada Bian lalu masuk ke mobil Tian.


Yana yang melihat Mila pulang dengan Tian merasa lebih tenang. Lalu bersama dengan yang lain pergi dan melupakan kekesalannya dengan Bian. Bian melihat Mila dan Tian yang pergi dengan rasa kecewa di hatinya. Bian harus merelakannya lagi untuk kali ini. Padahal dia sudah selangkah lebih dekat dengan Mila. Tapi selalu saja ada benteng menghalanginya yaitu teman-teman Mila.

__ADS_1


Akankah kesalahpahaman ini berakhir?


__ADS_2