Aksara Mila

Aksara Mila
Lembar Cerita


__ADS_3

Tian datang menghampiri teman-temannya yang sudah berada di basecamp mereka biasa kumpul. Mereka sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Tak ada pembicaraan seperti biasanya di antara mereka. Entah karna memang sibuk atau memang menghindari pembicaraan. Suasana canggung terlihat di antara mereka. Mungkin karna kejadian Mila kemarin. Tian menatap mereka semua dengan tatapan heran. Baru hilang satu personil tapi udah bisa bikin pertemanan anyep kaya gini.


"Baru datang?" tanya Seno melihat kedatangan Tian di sana. Dia hanya tersenyum dan duduk di sampingnya. Yana melirik sebentar dan kembali fokus dengan ponselnya.


"Kalian diem-dieman gini?" Tian kali ini bersuara. Dia seperti tak tahan dengan kecanggungan ini dan mencoba menegur teman-temannya. Wahyu dan Amar hanya melihat kearah Seno dan Yana. "Udahlah Yan, Sen gak usah di lanjutin lagi urusan yang kemarin. Gak kasian apa sama Mila? Cukup dia aja yang kalian cuekin. Kalian gak usah saling cuekan juga!" tegurnya kesal.


"Bener kata Tian. Gak asik dah sumpah kek gini,,,!" Wahyu ikut bicara. "Mila lagi gak ada aja udah bikin ini tempat sepi. Apalagi ditambah lu berdua diem-dieman gini."


"Gue gak suka sama sikap Seno ke Mila kemarin. Yaaa, walaupun gue juga gak suka sama sikap Mila. Gue tau Seno pasti kecewa, kesel, marah. Gue juga sama! Gue diem gini karna gak mau debat aja sama lu." tutur Yana sambil membakar rokoknya.


"Sorry, gue juga gak bisa ngontrol emosi gue kemarin ke Mila. Gue tau dia temen perempuan kita satu-satunya tapi sikap dia kemaren tuh keterlaluan banget sama Tian. Gak mau dengerin kita lagi,,,! Malah dia ngemis-ngemis maaf sama si kampret itu! Brengsek!" suara Seno meninggi mengingat sikap Mila kemarin.


"Udah gak usah dilanjutin lagi. Nanti yang ada kita yang ribut!" Amar menghentikan ucapan Seno.


"Mila berantem sampai lepas kendali begitu kemarin. Ya, karna dia difitnah." Tian menjelaskan semua cerita yang sebenarnya pada teman-temannya. Cerita jika Mila di jebak dan di fitnah. Walau Mila gak cerita semua tapi dia mengambil kesimpulan dari situ.


"SIALAN! Emang kebangetan banget si Cila! Saiko gue rasa tuh cewek!" teriak Seno kesal setelah mendengar cerita dari Tian.


"Panteslah Mila kemarin murka parah! Taunya mereka main fitnah gitu. Kalau gue jadi Mila gue juga bakal ngelakuin hal yang sama." saut Amar yang sedikit terpancing emosi.


"Iya. Mungkin kemarin Mila sebenernya gak mau juga kita ikut campur. Tapi dia sendiri juga ga bisa nahan emosi jadinya ya kelepasan gitu. Tau sendiri dia kalau udah kesel emosinya suka meledak-ledak." jelas Tian lagi dan diam sejenak mengatur nafasnya. "Kalau urusan Bian itu jadi urusan Mila. Kita gak bisa ikut campur karna itu masalah hati. Gue sendiri gak punya kuasa apalagi sampai maksa dia untuk gak respek sama Bian. Biarin dia tentuin hatinya sendiri." katanya dengan jujur dari dalam hati. Meski terdengar klise tapi itu kenyataannya. Terdengar getir dan pahit. Mereka yang mendengar juga merasakan hal yang sama. Seno menepuk bahu Tian, menenangkan hatinya. Walapun ini menyakitkan baginya tapi dia yakin Tuhan akan menyelipkan kebahagian untuknya.


"Terus kita harus gimana?" tanya Wahyu pada teman-temannya.


"Yan, lu kok diem aja?" Amar menyenggol kaki Yana.


"Sorry Yan, gue salah." Seno mengulurkan tangannya.


"Gak usah minta maaf. Gue juga salah." menjabat tangan Seno.


Kelas dimulai, pelajaran pertama berjalan dengan tentram tanpa suara saling sindir menyindir seperti biasanya. Ada yang hilang dari kursi sebelah Yana. Anak-anak menyimak pelajaran dengan seksama. Entah karna niat belajar atau memang karna hanya ingin diam. Cila and the genx menikmati hari ini dengan penuh semangat karna mereka merasa bahagia tidak ada Mila hari ini. Cila merasa tidak ada saingan di kelasnya untuk beberapa hari ke depan. Dia berpikir kalau sudah berhasil membuat teman sekelasnya membenci Mila atas kejadian kemarin. Misinya berjalan sukses menyikirkan Mila.


Hari ini juga terlihat Bian semakin dekat dengan Qila. Mereka duduk sebangku. Entah apa yang membuat mereka semakin lengket. Qila ikut senang karna rencana Cila, dia jadi berhasil menyenggol kedudukan Mila di hati Bian. Yana tak peduli dengan itu. Dia hanya sibuk mengambar di belakang buku catatannya. Pikirannya sibuk mengaitkan cerita Tian di warung tadi dengan ucapan Qila dan Aya kemarin. Yana menelaah masalah yang terjadi dengan Mila. Tian yang hari ini duduk bersamanya melihat dia banyak diam dan sangat cemas. Tian mengerti perasaan Yana sekarang.


Pelajaran berakhir Bu Yanti memberikan tugas membaca puisi untuk minggu depan. Bu Yanti sudah mendengar masalah Mila dari Pak Hamzah pagi ini. Beliau kaget dan juga cemas mendengar itu. Apalagi Mila sampai absen dari pelajaran favoritenya karna masalah itu. Pak Hamzah membujuk Bu Yanti untuk bicara dengan Mila agar dia mau memanggil orangtuanya ke sekolah besok karna orangtua Mila tidak bisa dihubungi olehnya begitu juga Mila.


Bu Yanti membereskan buku tugas yang telah dikumpulkan dan memanggil Yana untuk membantunya membawakan buku tugas itu ke ruang guru. Yana menutup bukunya dan maju ke depan lalu membawakan buku tugas kelasnya sesuai perintah Bu Yanti. Setelah mereka keluar dari kelas, Cila mulai meracau memprofokasi teman-teman sekelasnya.


"Duhhhhh, tenangnya hari ini. Gak ada biang masalah di kelas ini." racaunya dengan meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Bener banget, Cil. Tentram banget ya hari ini. Bener kan temen-temen?" saut Diana mulai ikut mengompori.


Mendengar mereka berdua menyindir Mila. Wahyu dan Seno seakan tersulut emosi. "Weh lu bisa diem gak!" teriak Seno kesal.


"Yang ada elu yang kaya sampah!" teriak Wahyu juga.


"Aduhhh bodyguardnya marahhh, takut!" Netha meledek. Qila hanya menunduk menyembunyikan senyumnya di depan Bian.


"Duhhh, Mba. Kalau nyindir itu pas ada orangnya. Nanti diajak berantem mainnya kroyokan." Amar yang dari tadi diam ikut buka suara membela Mila.

__ADS_1


"Bisa gak sih diem! Berisik tau gak kalian semua. Belom cukup apa kemarin. Lagian orangnya juga ga ada masih aja dibahas!" teriak Bian menghentikan perdebatan antar genx. Yang malah membuat suasana kelas semakin memanas.


"Santai dong, Slow aja." Seno maju mendatangi meja Bian. "Lu jaga aja wanita lu baik-baik. Gak usah ikutan ngebacot kaya cewek!" sindirnya di telinga Bian.


"Jaga juga tuan putri lu biar gak kasar jadi cewek!" Bian tak terima dengan ucapan Seno dan membalas ucapannya dengan menyindirnya balik. Mereka lalu saling bertatapan penuh amarah seperti akan ada awan gelap sebentar lagi menyemburkan kilat di mata mereka berdua.


Gani menghampiri mereka yang terlihat mulai sengit. Dia tak mau kelasnya di hancurkan lagi seperti kemarin. Gani melerai mereka yang sudah berdiri dan saling menatap. Seno melepaskan tangan Gani di dadanya dengan keras. Tian datang dan menarik tangan Seno untuk mencegah peperangan ini terjadi lagi.


"Gue jaga tuan putri gue, lu jaga tuan putri lu!" jawab Tian menohok di wajah Bian dan pergi meninggalkan kelas bersama dengan Seno dan yang lainnya.


Cila dan teman-temannya pun bersorak kegirangan karna berhasil menguasai kedudukan di kelas. Aya semakin tak nyaman dengan sikap Cila dan temannya yang lain. Mereka semakin menjadi-jadi setelah berhasil memfitnah Mila. Aya juga keluar kelas dan pergi ke toilet. Qila tak menyusulnya dia sibuk menenangkan hati Bian.


Yana menaruh buku di meja Bu Yanti. "Bu, saya pamit ya." Yana meninggalkan ruang guru.


"Yana, sebentar." Bu Yanti menahan Yana yang pergi keluar. "Ibu mau bicara sebentar." Bu Yanti duduk di kursinya dan menyuruh Yana duduk di depannya.


"Ada apa, Bu?"


"Mila tidak bisa Ibu hubungi dari pagi. Apakah dia baik-baik saja?" tanya bu Yanti cemas.


"Saya juga belum dapat kabar, Bu. Tapi semoga dia baik-baik aja." harapnya.


"Kalau sudah ketemu Mila bilang suruh kabarin Ibu ya." Yana menggangguk. "Ibu akan coba bantu bicarakan dengan Bu Siska." katanya dan menepuk-nepuk tangan Yana.


"Terima kasih, Bu. Kalau gitu saya keluar dulu." pamitnya melihat ruangan yang sudah mulai ramai dengan guru-guru lain.


"Yasudah." Bu Yanti menyudahi pembicaraan mereka.


"Kenapa lu, kepanasan?" tegurnya dan tak dijawab oleh Seno.


"Ribut dia sama Bian." Wahyu yang menjawab.


"Kenapa lagi dia?" Yana meneguk air.


"Tadi genx kampak itu ngebacot nyindir Mila terus di sautin sama Seno. Eh si Bian malah ikut-ikutan ngebela mereka. Nyuruh si Seno diem lagi. Yaudah jadi adu bacot mereka. Eh di pisahin sama si Gani sama Tian." jelas Wahyu.


"Tapi tadi keren sih." Amar menyelang pembicaraan. "Gue jaga tuan putri gue, lu jaga tuan putri lu!", ANJAY!" Amar mengulang kata-kata Tian lalu tertawa.


Mendengar itu membuat Yana semakin muak dengan Bian. Dia menenggak air sampai habis lalu meremas botolnya. Tian hanya diam tak berkata sedangkan Seno jalan mondar-mandir mengontrol emosinya.


"Mending kita temuin Mila deh pulang sekolah." kata Seno yang mulai sedikit tenang.


"Sampe sekarang aja dia gak bisa dihubungin! Hp nya mati!" Yana yang kesal tak dapat menghubungi Mila. "Kalau kita kerumahnya gue takut nyokap bokapnya curiga."


"Sama gue juga gak bisa hubungin dia," saut Amar dan Wahyu bersamaan.


"Tapi sekarang dia gak masuk aja, pasti udah bikin orangtuanya curiga. Atau dia alasan sekolah tapi pergi ketempat lain?" kata Seno menerka-nerka.


"Engga. Orangtuanya lagi pergi ke luar kota." Tian bersuara.

__ADS_1


"Kok lu tau?" Yana menengok ke arah Tian.


"Iya dia kemarin kerumah gue sampai sore. Gue yang ngajak trus,,,,," Tian melanjutkan ceritanya yang tadi pagi belum selesai juga cerita tentang si Kakek yang bisa jadi salah satu bukti mereka. Tapi Tian tak cerita tentang hal pribadi mereka. "Gue sih masih mau cari tau kebenarannya lagi. Tapi tanpa sepengetahuan Mila. Mumpung dia lagi gak di sini. Gue usul untuk bantu dia kemarin tapi di tolak sama dia. Mila gak mau dibantu sama sekali kali ini karna dia ngerasa kita ribut kemarin gara-gara dia."


"Pasti gara-gara ucapan gue kemarin!" Seno terlihat menyesal.


"Gue sih kemarin sempet dengar pembicaraan Aya sama Qila kemarin,,,,," Yana menceritakan kecurigaaanya tentang genx kampak.


"Gimana kalau kita tanya Qila langsung?" Amar memberi ide.


"Lu gimana sih! Lu tau kan dia rapet mulu sama si Bian. Gimana kita mau nanyanya?" kata Wahyu mengingatkan.


"Kayanya kita harus berharap sama Aya. Dia satu-satunya di genx itu yang keliatan masih punya hati sedikit." Yana melihat Aya yang sedikit berbeda dari yang lain.


"Bagaimana cara nanyanya?" kata mereka semua bersamaan.


Di saat teman-temannya mencari cara menemukan bukti untuk membelanya. Mila masih tertidur manis di kasur empuknya. Benar kata Tian, ini benar-benar extra libur untuknya. Mila membuka mata karna tersorot panasnya matahari yang masuk dari jendela kamarnya. Mila menutupi wajahnya dengan tangan dan sekuat tenaga bangun dari tidurnya. Mila melihat jam dan membuatnya panik.


"ASTAGA! Jam 10.00 ! Mampus gue kesiangannn!" Mila bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia keluar lagi sambil menggaruk kepalanya. "Gue kan di skors yak!" dia berjalan lagi ke kasur dan merebahkan tubuhnya lagi.


Mila menyalahkan ponselnya tapi habis baterai. Dia meraih charger lalu mengisi daya ponselnya. Setelah beberapa persen terisi dia mengaktifkan ponselnya dan meninggalkannya di kamar. Mila turun ke bawah untuk mengambil air minum. Tenggorokkannya terasa kering bagai savana. Saat ponselnya aktif langsung saja diserbu dengan suara chat yang masuk dan beberapa panggilan tak terjawab dari teman-temannya. Mila pergi ke dapur dan merasa rumah tampak sepi tanpa Ayah, Ibu dan Lana. Dia membawa air dari kulkas dan pergi lagi ke kamarnya. Mila menenggak air sambil berjalan masuk ke kamarnya. Melihat ponselnya sudah menyalah lantas dia membukanya.


"Gila banyak banget! Siapa coba yang kerajinan telepon sampe sebanyak ini?" kaget melihat banyak notif di ponselnya. Hampir saja dia menyemburkan air dari mulutnya. Mila melihat daftar panggilannya. Ternyata itu semua dari teman-temannya, Bu Yanti, Ayah, Ibu dan yang bikin dia makin kaget dia adalah Bian. Tak hanya telepon mereka juga mengirim banyak pesan padanya. Yang membuatnya sedikit terharu tapi tidak dengan pesan Bian.


"Mila, sudah tidur yaa?" Ayah.


"Mila, sudah bangun belum?", "Nak bangun jangan sampai terlambat ke sekolahnya." Ibu.


"Mila sudah bangun?", "Jangan lupa makan yang banyak, kemarin sudah banyak nangis 😊 " Tian.


"Mil, gue pengen ngomong!", "Mila", "Mil aktifin HP-nya!" Yana.


"Mila, gue minta maaf ya." "Mil kita kerumah lo yaa..." "Mil tongkrongan sepi gak ada lo!" Seno.


"Mila, angkat telepon kita." Amar.


"Mil, angkat dong!", "Mila,,,,, cemilan gue utuh gak ada lo yang bantuin."Wahyu.


"Mila sayang, kamu baik-baik saja?" "Bisa kabarin Ibu ya kalau butuh teman cerita" Bu Yanti.


"Mila, lu dimana? Si Cila berulah lagi gak ada lo di kelas." Arsya.


"Mila, kamu di cariin Pak Hamzah?" Gani.


"Gue kecewa banget kemarin. Seharusnya lu bisa tahan emosi. Gak kelewatan dan bikin orang lain jadi tersakiti atas sikap lu!" Bian.


Mila senang melihat teman-temannya masih peduli dengannya. Begitu juga dengan Bu Yanti yang tak pernah absen memberikan perhatiannya jika dia sedang ada masalah. Namun ada satu pesan yang merusak semuanya. Pesan dari Bian. Rasa pedulinya pada Bian tiba-tiba hancur dan memudar dengan ucapnya kemarin juga hari ini yang dia baca lewat pesannya.


Mila berdecak kesal. "Dia kira gue kemarin kasar itu gara-gara siapa? Dia pikir gue peduli sama dia! Cehhhhhh...! Liat aja nanti, dia sendiri yang bakal malu karna udah ngebelain orang yang jelas-jelas salah!" katanya terdengar kesal. "Dia kira si Qila itu lebih baik dari gue? Malahan dia jauh lebih busuk dari gue! Dasar cewe muka dua! Sekarang gue udah gak peduli lu mau belain dia tau engga. Gue juga gak peduli kalau mereka sampe jadian! Pokonya gue gak peduliiiiiiii....! Bian brengsek! Cila iblis!" teriak Mila sekencang-kencangnya dan melemparkan bantal mengungkapkan kekesalannya pada Bian dan juga genx kampak.

__ADS_1


Benarkah Mila sudah tak memikirkan Bian sepenuhnya? Atau sekarang hanya Tian yang ada di hatinya?


__ADS_2