Aksara Mila

Aksara Mila
Dilema


__ADS_3

Amar sudah selesai di obati dan meminta Mila untuk membawanya ke kelas saja. Amar ingin merayakan kemenangan tim mereka bersama dengan yang lain. Cidera yang di alaminya tidak sebanding dengan kemenangan tim mereka. Mila memapah Amar keluar dari UKS. Ternyata di luar sudah banyak yang menunggu Amar untuk melihat keadaannya. Jelas semuanya cewek-cewek, mereka membawakan makanan dan minuman untuk Amar. Itu menjadi PR banget buat Mila karna harus menerimanya satu persatu dengan tangan yang sibuk memapah Amar sampai ke kelas.


"Mar, banyak banget ini. Berat tahu! Nambah-nambahin beban gue aja. Belum lagi ketek lu asem banget!" bisik Mila pada Amar.


"Udah sabar dulu. Namanya juga lagi cidera, atau lu mau Cila yang mapah gue?" goda Amar sambil menebar senyuman pada cewek-cewek yang datang padanya.


Mila menarik nafas pasrah sambil bersusah payah memapah Amar sampai ke kelas. Cila melihat kedatangan Amar dan berteriak histeris lalu mendekatinya. Mata Mila spontan melotot agar Cila tak berani-berani mendekat meski hanya lima jengkal saja. Cila menghentikan langkahnya, takut. Dia melambaikan tangannya pada Amar. Yana bangkit dari duduknya dan mengambil alih membantu Amar duduk di kursi. Mila menaruh makanan dan minuman di atas meja.


"Banyak banget, Mil?" Seno mengambil minuman yang baru saja di taruh Mila di meja. Amar menepuk tangan Seno. "Pelit banget sih lu." Seno merampas paksa minuman itu.


Mila duduk di kursinya, menghela lelah. "Punya Amar, semuanya! Mendadak famous doi. Capek banget gue." Mila mengarahkan pandangannya keluar kelas. Adik kelas mengikutinya sambil ke depan kelas.


"Widih,,,!!! Gak sia-sia ya lu cidera." Wahyu mengambil cemilan yang bertumpuk di meja Amar.


"Sialan lu,,,!" melemparkan ciki pada Wahyu.


"Tapi gimana, Mar? Mau ke dokter?" Tian mengambil kursi sebelahnya untuk menopang kaki Amar.


"Gak usah lah, Tian. Gpp kok, keseleo doang palingan. Santai, di urut juga sembuh." Amar tak ingin teman-temannya khawatir berlebihan.


"Aduh, Amar! Jangan di urut dong. Mending ke rumah sakit aja, gimana? Mami punya kenalan dokter saraf yang bagus loh. Gimana kalau aku antar?" kata Cila yang datang pada mereka dengan centilnya dan main nimbrung pembicaraan mereka.


Mereka semua menatap Cila dengan heran. Terutama Mila yang menjadi benteng paling depan. Mila mendekati Cila sambil tersenyum memaksa. "Gak perlu repot-repot,,,! Lagian centil banget sih lu dari tadi,,,,!" menatap tajam mata Cila.


"Gue ngomong sama Amar. Bukan baby sitternya." Cila bertolak pinggang.


Teman-teman Cila tertawa. Sepertinya kondisi mulai memanas, Tian menjauhkan Mila dari Cila. Untungnya tak lama terdengar pengumuman pemenang pertandingan futsal oleh panitia. Perseteruan itu pun tidak terjadi. Yana dan semuanya keluar dari kelas mereka. Amar di lupakan begitu saja oleh mereka sangking senangnya. Cila yang melihat kesempatan itu langsung bergerak cepat mendekatinya. Amar hanya bisa pasrah menerima keadaan itu. Bahkan Cila yang menawarkan diri untuk dia bisa melihat pemberian hadiah yang akan di terima oleh timnya. Awalnya Amar menolak tapi karna Cila memaksa akhirnya dia mengiyakan tawarannya.


Cila antara senang dan menyesal menawarkan itu. Senang karna bisa lebih dekat dengan Amar. Menyesal karna dia harus bersentuhan dengan tubuh Amar yang lengket minta ampun sehabis bertanding. Belum lagi bau asem dari keringatnya. Amar sengaja melakukannya. Dia pasti tahu Cila akan hilang filling dengannya. Dia tersenyum dalam hati melihat ekspresi Cila yang jijik padanya tapi berusaha menahan.


Amar melihat timnya menerima hadiah dari depan pintu kelas saja. Dia tidak bisa bergerak lebih banyak. Yana sebagai kapten, mewakili mereka untuk menerima hadiah yang tim mereka dapat. Sebuah piala dan sejumlah voucher yang bisa mereka gunakan untuk membeli kebutuhan olahraga. Mereka semua bersorak gembira dan melakukan berfoto bersama. Yana meminta pada panitia untuk foto bersama di depan kelas mereka saja karna melihat Amar yang sedang berdiri di sana. Yana tidak ingin melupakan sahabatnya yang sudah berjuang juga untuk tim mereka.


Setelah kehebohan pasca penerimaan hadiah dan berfoto bersama. Acara class metting hari ini pun usai dan mereka sudah boleh pulang. Mereka berkumpul kembali di kelas. Yana sebagai kapten membagikan dengan adil hadiah yang mereka dapatkan. Suasana kelas sangat bahagia saat itu dan tawa mereka hadir di sana. Ternyata ada kelebihan dua voucher. Yana memutuskan untuk memberikannya pada Tian dan Bian yang sudah menyumbangkan gol untuk tim mereka. Jelas atas keputusan bersama. Tian menerimanya tapi tidak dengan Bian. Malah Bian memberikan semua vouchernya pada Tian.


"Gue gak butuh ini. Gue mau kita barter aja." Semua mata menatap Bian dengan bingung.


"Maksud lu?" tanya Tian. Dia tidak menerima voucher itu begitu saja.


"Gue mau kita barter. Untuk lu izinin gue jalan sama Mila." katanya tanpa tahu malu.


Kata-kata Bian kali ini jelas-jelas membuat amarah Tian benar-benar tidak bisa di bendung lagi. Tian berdecak kesal. Mila dan Qila jelas tercengang dengan ucapan Bian. Yang tanpa berpikir panjang atas apa yang dia katakan barusan. Yana pun kali ini sudah tidak habis pikir pada Bian. Aya mendekati Qila menenangkannya.

__ADS_1


"Mau lu apa sih,,,? Kenapa dari kemarin selalu mancing emosi gua!" kata Tian dengan mulut yang bergetar menahan emosinya. "Lu pikir ini keren? Lu gak kasian sama dia?" Tian menunjuk Qila yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Gak usah di ladenin. Kita pergi aja,,,!" Mila menarik tangan Tian dan tak menghiraukan ucapan Bian.


"Gue udah putus sama Qila!" teriak Bian. Lagi-lagi membuat semua orang makin tercengang akan ucapannya. "Gue sayang sama lu, Mila. Dan akan terus sayang sama lu." teriaknya lagi makin tak terkendali.


Seolah alam sadarnya sudah terhapus. Seolah urat malunya sudah tidak ada. Bahkan kejiwaannya sudah terguncang. Astaga Bian. Antara keren atau gak punya hati sih. Langkah Mila seolah membeku. Dia tak bisa bergerak kemana pun. Bahkan berlari meninggalkan kata-kata yang dari semalam berkeliling di pikirannya saja dia tidak bisa. Pikirannya memutar ulang kejadian kemarin dan melepaskan tangannya dari Tian. Dia mendekap mulutnya menahan tangis.


Mila berbalik badan dan menghampiri Bian. "Jangan lu pikir, hati wanita bisa lu mainin seenaknya!" Bian seolah pasrah menerima tamparan itu. Dia tahu pasti Mila akan melakukannya.


Qila menghampiri Mila dan menamparnya balik. "Lu kira ini semua terjadi karna siapa? HAH,,,,!" teriaknya sambil menangis.


Bian menahan tangan Qila. "Jangan lempar kesalahan lu sama orang lain! Lu ang selingkuh di saat gue bersusah payah untuk lupain dia!" kata-kata Bian menusuk jiwa.


"Kamu pikir aku gak berusaha? Aku berusaha pura-pura bahagia padahal aku tahu! Wanita yang kamu cintai itu dia, bukan aku!" air matanya mengalir deras.


Mila menutup mulutnya mendengar pertengkaran mereka karna dirinya. Mila merasa sudah merusak hati banyak orang. Tian berusaha menenangkannya tapi Mila menolak. "Cukup!" teriak Mila.


Saat situasi genting seperti ini tiba-tiba seseorang datang dan menambah kegaduhan di dalam kelas. Luna masuk ke dalam kelas dan mencari Tian sambil menangis tersedu-sedu. Semua pandangan teralihkan padanya. Tian dan Mila melihatnya dengan bingung. Mila menghapus air mata yang masih setia di ujung matanya.


"Tian, Papa masuk rumah sakit. Papa sakit, Tian!" kata Luna dengan tubuh yang melemah. Dia mengguncang-guncang tubuh Tian lalu memeluknya sambil menangis.


Mereka semua melihat hal itu bagaikan naik roller coaster. Gak ada yang bisa menebak kalau kejadiannya bakal sekacau ini. Percintaan macam apa ini. Alurnya muter-muter bikin geram.


"Kamu ikut aku ya? Kita ke Belitung temui Papa. Tian, Papa ingin ketemu kamu. Please, Tian." Luna memohon agar Tian berbaik hati padanya kali ini dan mengerti kondisinya.


Bian menatap Mila yang seolah tersakiti akan hadirnya wanita yang tidak dia kenal itu. Qila menahan tangan Bian agar tak mendekatinya. Yana berdiri di samping Mila. Dia mengalihkan padangan Mila untuk tidak melihat Tian dan Luna. Tian dilema harus bagaimana?


Ponselnya berdering. Bunda meneleponnya dan memberitahu kondisi yang sedang terjadi pada ayahnya Luna. Bunda dan Ayah sudah menunggunya di luar sekolah. Setelah menutup telepon, Tian menyuruh Luna untuk menunggunya di mobil saja. Luna menuruti ucapan Tian dan pergi dari kelasnya. Tian berjalan menemui Mila dan memintanya keluar kelas untuk menjelaskan semua itu padanya.


"Aku pamit ya. Kamu gpp kan?" tanyanya cemas.


"Aku gpp, Tian. Kondisi Papa Luna lebih penting. Kamu hati-hati ya. Salam untuk Ayah dan Bunda." Mila mencoba mengerti keadaan.


Tian memeluk Mila sebelum pergi meninggalkanya. "Tunggu aku ya. Kalau Bian ganggu kamu, bilang aku. Oke?" Tian mencium keningnya dan tidak lupa membuat proteksi pada pacarnya.


Mila tersenyum. "Ada Yana dan yang lain. Udah kamu tenang aja." Mila melambaikan tangannya.


Tian pergi dan berlalu meninggalkannya, membalas lambaian tangan Mila sambil tersenyum. Yana keluar dari kelas dan menenangkan Mila sambil merangkulnya. Sejujurnya hatinya pilu melepas Tian pergi tapi dia tidak boleh egois dengan mengorbankan orang lain. Wahyu memapah Amar keluar dari kelas dan Seno membawakan tasnya lalu mereka langsung pulang.


"Mil bisa ngomong sebentar?" Bian mengejar mereka sampai ke parkiran sekolah.

__ADS_1


"Lu bisa gak stop ganggu Mila." Yana menghadang Bian.


"Gue gak ada urusan sama lu." Bian mendekati Mila.


"Lu bisa gak jangan maksa." Seno sudah bersiap melayangkan tinjunya pada Bian tapi di tapik olehnya.


"Mau temen-temen lu pukul gue berapa kali pun. Gue tetep akan kejar lu, Mil." matanya menatap Mila meski dia memalingkan wajahnya.


Yana dan yang lainnya memilih untuk meninggalkan Bian dan tak menghiraukannya. Wahyu sudah duduk di motornya. Mila membantu Amar untuk naik ke motor. Yana menyuruh Mila naik tapi dia menolak dan meminta Seno yang naik ke motor Yana. Mila meminta mereka untuk segera membawa Amar ke tukang urut mengobati keseleonya.


"Terus lu gimana?" Yana menatapnya khawatir. Dia tahu hatinya rapuh karna kepergian Tian.


"Gue naik angkot aja. Kalian harus bawa Amar ke tukang urut. Jangan sampai telat. Nanti makin parah bengkaknya." pinta Mila.


"Jangan sejengkal pun lu deketin dia." ujar Seno mengancam Bian.


Mila tersenyum meyakinkan teman-temannya. Yana sebenarnya tak yakin hal itu tidak akan terjadi tapi dia juga tak bisa memikirkan Mila saja. Ada Amar yang lebih penting sekarang. Kakinya harus segera diobati agar tak makin parah. Mereka pun pergi dan meninggalkan Mila sendiri di parkiran sekolah.


Mila memilih pulang dengan berjalan kaki. Berharap pilu di hatinya bisa hilang bersamaan dengan jejak yang dia tinggalkan di jalan. Bian melihatnya pergi dengan hampa. Dia tak mau mendekatinya bukan karna ancaman dari teman-temannya tapi melihat respon Mila yang benar-benar mengacuhkannya. Bian tak ingin membuatnya tak nyaman. Meski sebelumnya dia sudah membuat Mila sangat tidak nyaman dengan semua tingkah dan ucapannya. Bian memang tak mendekatinya tapi dia mengikuti Mila dari belakang. Memastikan dirinya pulang dengan baik-baik saja. Tak akan ada yang mengganggunya sepanjang jalan. Saat berbelok di jalan yang sepi tiba-tiba Mila berjongkok. Dia mengira tak ada yang mengikutinya dan menangis sambil menutupi wajahnya. Sesak terasa setelah kepergian Tian bersama dengan Luna.


Bian tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Dia ingin mendekat tapi ragu. Lalu kemudian dia mendengar isak tangis dari cewek yang sedang membelakanginya. Semakin berjalan ke arahnya semakin tangisnya jelas terdengar. Mila menutupi kesedihan itu dari teman-temannya. Inilah alasan dia menghindar untuk pulang bersama mereka. Batinnya tak kuat menahan pedih di hatinya. Bian memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat dengan Mila. Mana bisa dia menahan diri untuk tidak mendekatinya di saat tahu dia sedang menangis. Bian berjongkok di hadapannya. Dia menyapa lembut rambut Mila dengan tangannya. Mila melihatnya kaget. Tangisnya langsung berhenti begitu tahu Bian ada di depannya. Dia tak menyangka Bian mengikutinya. Mila lalu bangkit dan menyeka air matanya.


"Sorry." kata-kata pertama yang terucap dari mulut Bian. Dia mengira tangis itu karna dirinya.


"Kenapa ikutin gue?" Mila memasang wajah marah.


Bian tak bisa menjawab. Dia menatap air mata yang terus mengalir di pipi Mila meski selalu di hapus olehnya. Mila paham betul maksud tatapan itu dan semakin di tatap semakin dia tidak mampu membendungnya lagi. Dia menangis tanpa peduli ada orang yang sedang melihatnya menangis. Mila tak tahu harus bagaimana lagi selain mencurahkannya saja. Bian mendekat padanya, memeluknya dan menyandarkan kepala Mila di bahunya. Tangis Mila pecah saat Bian memeluknya.


Dia tidak mampu mengingkari jika dia memang membutuhkan sandaran hangat itu. Di saat dia sudah tidak yakin dengan hubungannya bersama Tian. Haruskah dia tahan melihat Tian bersama dengan Luna. Apakah hubungannya akan baik-baik saja setelah dia membiarkan orang lain masuk ke dalam hubungannya. Apalagi tanpa dia tahu apa yang akan terjadi di sana tanpanya.


Mila melepaskan pelukannya. Bian menyeka air matanya. Perasaan mereka tiba-tiba menembus batas yang selama ini terhalang. Bian mendekatkan bibirnya dan Mila membiarkannya semakin mendekat. Dia memejamkan matanya. Entah apa yang dilakukannya itu benar atau salah. Apa hatinya segoyah itu sampai membiarkan Bian mencium hangat bibirnya.


"Aku mencintaimu, Aksara Mila." katanya setelah mencium Mila.


Mila mendekap mulutnya. Dia sadar dan menjauhkan dirinya dari Bian. Hatinya terenyuh mendengar kata-kata itu dari mulutnya. Hatinya benar-benar goyah dan ingin sekali membalas kata-kata itu tapi Mila memilih melangkah mundur. Dia menyentuh bibirnya yang baru saja menyentuh bibir Bian. Dia tak percaya dia melakukannya pada Bian dan mengkhianati Tian. Bian heran melihat respon itu dari Mila. Dia mendekati Mila tapi kemudian.


"Stop! Jangan maju. Ini salah Bian." Mila sadar yang di lakukannya adalah kesalahan besar.


"Gak ada yang salah, Mila." Bian membenarkan kejujuran hati mereka berdua.


"Engga, Bian." Mila langsung berlari sekencang mungkin meninggal Bian bersama hujan yang turun ke bumi.

__ADS_1


Mila berada di sebuah persimpangan jalan.


__ADS_2