
Mila masuk lagi ke dalam kelas untuk mengambil tasnya dengan mata sembabnyaber. Hatinya kacau, pikirannya kemana-mana, harus dari mana dia menyelesaikan masalahnya. Teman sekelas melihat dia dengan tatapan menghakimi atas kejadian tadi. Padahal sebelumnya mereka semua ikut mengompori dia untuk bisa melawan Cila. Tapi setelah kejadian mereka semua hanya dia dan tak membelanya di depan Bu Siska.
"Cehhhh, dasar pecundang!" decak Mila sambil membawa tasnya lalu pergi dari kelas. Dan dia berpapasan dengan Cila di depan kelas.
"Eh mau kemana, Mila sayang? Aduhhh,,, kan belum jam pulang sekolah?" Cila pura-pura melihat jam di tanganya. Padahal dia hanya sedang mengejeknya. Mila tak menjawab ucapan Cila dan memilih meninggalkannya yang asik ngoceh-ngoceh sendiri, bak burung beo.
Mila melangkah dengan penuh dendam terhadap Cila. Dia benar-benar merasa sangat marah pada manusia picik itu. Sampai dia tak melihat ke arah jalannya dan menabrak Tian yang sengaja menyusulnya.
"Duuhhh bisa liat gak sih!" Mila berucap tanpa tau siapa yang sedang dia marahinya.
"Sorry." kata Tian. Mila tak membalas ucapannya dia pergi begitu saja. Tian memegang tangannya. "Mau kemana?" tanyanya. Mila melepaskan tangannya dan memilih tak menjawab lalu pergi. "Mila" Tian memanggilnya.
"Mila" ada suara selain Tian yang memanggil Mila. Mila yang mengira itu adalah Tian yang memanggilnya lagi, tidak menjawab panggilan itu. "Milaa,,," suara itu terdengar lagi.
"Adduuuhhhhh apa sih, Tiannnn?" Mila berbalik ke belakang dan menatapnya. Tian menaikan alisnya binggung dan menoleh pandangan ke arah Bu Siska yang memanggil dirinya.
"Bu Siska, Milaaa. Bukan, Tian." Bu Siska menyilangkan tangannya. "Mau kemana kamu?" tanyanya.
"Pulang." jawabnya dengan santai. Mila sudah masa bodo dengan guru yang dia rasa sudah pilih kasih padanya.
"Pulang kamu bilang? Ke ruangan saya sekarang!" katanya dengan tatapan tajam.
"Ada apa lagi, sekarang?" katanya lirih. Mila melangkahkan lunglai masuk ke ruang BK. Dia sudah pasrah akan yang terjadi nanti. Otaknya serasa sudah full. Mentok. Gak bisa mikir.Tian hanya memperhatikan Mila yang melewatinya begitu saja.
"Ada apa dengan kamu hari ini, Mila? Kenapa kamu buat kelas sampai kacau seperti itu? Kamu sadar apa yang kamu lakukan melukai teman-temanmu?" Bu Siska berbicara tanpa henti seakan tak habis pikir dengan tingkah Mila yang sudah seperti preman.
"Maaf, Bu." Mila berucap singkat seolah lelah untuk menjelaskan. Toh juga pada akhirnya Bu Siska pasti tidak akan percaya padanya.
"Sudah? Seperti itu saja?" Bu Siska yang menyangka Mila akan membela dirinya justru ia hanya bersikap pasrah. "Mungkin tadi di kelas Ibu sudah bersikap kelewatan dengan tidak memberikan kamu waktu untuk menjelaskan. Sekarang kamu bisa jelaskan, kenapa kamu melakukan itu? Bukannya minta maaf dengan Cila malah kamu berantem dengannya." tutur Bu Siska.
Mila hanya diam membisu, air matanya mengembang kembali. Dia menahan kesal di dadanya mengingat kejadian di kelas tadi. Dia tak berbicara sepatah kata pun karna dia rasa percuma. Dari depan pintu Tian mendengarkan percakapan guru dan murid itu. Dia hanya memastikan keadaan Mila. Tak lama Mila keluar dari ruangan dan terkejud melihat Tian yang menunggu dirinya. Mila tak berniat menyapanya dan memilih pergi saja. Jujur hatinya kecewa akan dirinya sendiri. Atas apa yang dia lakukan pada Tian dan teman-temannya. Kekecewaan terbesarnya adalah harus kehilangan teman-temannya di saat seperti ini, di saat dia sangat membutuhkan mereka untuk mendukungnya. Mila keluar dari sekolah dan berjalan lesu. Matanya menatap ke arah warung tempat teman-temannya masih berkumpul.
Tian mendatangi Wali kelasnya untuk meminta izin pulang lebih cepat karna alasan punggungnya yang sakit. Pak Hamzah memberikan izin tanpa berucap panjang lebar. Mungkin dia sudah pusing melihat ulah murid-murid kelasnya hari ini. Tian segera mengambil tasnya dan langsung berlari cepat keluar sekolah menyusul Mila. Di depan gerbang dia bertemu dengan teman-temannya yang ingin masuk ke kelas.
"Tian, mau kemana?" Seno melihat dengan bingung.
"Gue balik duluan ya. Punggung gue sakit banget." Tian langsung lari sebelum mereka bertanya lebih panjang lagi.
Yana diam dan tak berkata apa-apa. Dia hanya berharap Tian bisa berada di sisi Mila saat ini. Sedangkan dia akan mencari tau akar masalah ini sebenarnya. Yana sengaja bersikap acuh seperti itu pada Mila agar dia bisa ikut campur dalam masalahnya tanpa diketahui olehnya. Yana tak bisa lagi diam melihat Mila diperlakukan seperti itu oleh Cila dan teman-temannya.
Tian berlari mengejar Mila, menahan rasa sakit di punggungnya. Di persimpang jalan dia bingung mencari jejak Mila yang tiba-tiba menghilang. Dia menyusuri setiap jalanan tapi tidak ketemu. Tian menendang kerikil jalanan, menyesali dirinya yang tak dapat menemukan Mila. Dia masih berusaha mencari satu persatu jalan tetapi tak berhasil juga. Tian mulai putus asa. Dia duduk sebentar di trotoar jalan menghela napas. Tapi tak lama dia mendengar suara kakek-kakek sedang bicara dengan seseorang.
"Nak, kamu kenapa nangis di pinggir jalan? Ada yang ganggu kamu?" tanya si Kakek sambil menaruh gerobaknya ke tepi. "Kamu terluka?" dia menghampiri anak yang berjongkok sambil menangis itu.
Mila menengadahkan kepalanya ke atas melihat asal suara itu dan melihat seorang Kakek berpakaian lusuh dengan wajah yang tampak kelelahan. Mila menghapus air matanya. Semakin mendekat Tian makin penasaran dengan suara tangis itu. Dia secepatnya mendatangi Kakek yang berada di belakang mobil.
"Mila." Tian melihatnya sedang berjongkok. Melihat Tian ada di hadapanya membuat tangis Mila pecah lagi.
"Ini temanmu?" tanya si Kakek. "Tadi saya dengar suara tangis jadi saya berhenti. Ternyata ada anak cantik ini sedang menangis" katanya menjelaskan pada Tian.
"Iya, Kek. Ini teman saya." Tian ikut berjongkok di depan Mila. "Terimakasih ya, Kek. Sudah menemukan dia." Tian mengelus kepala Mila. "Bangun yuk. Kita cari tempat teduh ya buat kamu nangis." Tian mencoba menenangkan hatinya. Mila menghapus tangisnya dan Tian mengangkatnya untuk berdiri.
Kakek memperhatikan seragam yang mereka kenakan, seperti tak asing baginya. "Kalian dari SMA mana?" tanyanya.
"Kita dari SMA Jakarta yang di ujung jalan sana, Kek." Tian menunjuk ke arah jalan sekolah mereka.
Saat mereka sedang mencari tempat untuk berteduh. Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang mengarah ke arah si Kakek. Mila langsung menarik tangan si Kakek agar terhindar dari mobil itu. Akibatnya mereka berdua jatuh terpelanting ke aspal jalan. Mila dan Kakek merintih kesakitan. Tian mencoba mengejar mobil tersebut tapi tak terkejar sangking kencangnya.
"Kakek. Kakek gpp kan ada yang luka gak?" Mila teriak panik melihat Kakek tua yang sudah rentan itu ikut tersungkur ke aspal bersamanya.
"Kakek gpp, Nak. Yang ada tangan kamu yg luka." Kakek memegang lengan Mila yang berdarah oleh gesekan aspal jalanan.
"Kenapa, Mila?" Tian memegang lengan Mila yang berdarah.
"Gpp kok, luka sedikit doang." katanya menenangkan hati Kakek dan Tian. Lalu mereka membantu Mila bangun dan mendudukannya di trotoar. Tian lekas pergi ke ujung jalan mencari warung untuk membelikan air minum dan obat.
"Maaf ya. Gara-gara tolongin kakek kamu sampai terluka." Kakek membersihkan tangan Mila yang kotor.
"Yang penting Kakek gpp." Mila tersenyum tenang.
"Minum dulu, Mil. Ini untuk Kakek." Tian memberikan air minum untuk mereka. Tian membasuh luka Mila dengan air dan betadine.
__ADS_1
"Aww,,, perih Tian." Mila meringis menahan perih lukanya.
"Haaa,,,! Kakek ingat." suara Kakek mengagetkan Mila dan juga Tiann. "Kakek pernah lihat seragam kalian kemarin. Waktu ada anak-anak perempuan dari sekolah kalian mobilnya menabrak pohon." Tian dan Mila saling memandang.
"Anak sekolah kita, Kek?" tanya Mila.
"Iya, Kakek ingat seragam kalian sama dan mobil tadi bikin Kakek ingat juga dengan mobil teman kalian." Kakek mengingat kejadian kemarin.
"Mobil? Warna merah, Kek?" tanya Mila dengan antusias.
"Iya, benar." jawabnya yakin. "Tapi yang kakek bingung, kenapa mobilnya nabrak pohon tapi wajah mereka senang-senang aja." tutur si Kakek bingung.
"Mereka berlima kek?" saut Tian.
"Iya, cantik-cantik."
"Iya, cantik tapi busuk!" gumam Mila. "Mereka bukan kek?" Mila memperlihatkan foto Cila dan kawan-kawan dari ponselnya.
"Ya benar, itu mereka." Kakek tersenyum melihat foto mereka.
Mila pun berdecak senang, hatinya yang semula kacau kini sedikit terobati dengan bukti yang datang dengan cepat kepadanya. Tian hanya menyimak pembicaraan mereka. "Gue bakal bales perbuatan lu." gumam Mila. "Oya, Kek. Lain kali kalau saya minta tolong sama Kakek boleh?"
"Boleh, Nak. Silahkan." kata Kakek dengan senang hati.
Mila membuka tasnya dan mengambil sebuah roti dari dalam tasnya. "Ini buat Kakek makan siang. Di makan yaaa, jangan sampai engga." Paksanya dengan tersenyum.
"Baik. Terimakasih." Kakek menerima dengan tertawa mendengar ucapan Mila.
"Mila pamit ya, Kek. Terimakasih sudah hibur Mila hari ini." Mila memeluk Kakek dengan bahagia tanpa memperdulikan pakaiannya yang lusuh dan kotor.
"Kakek yang terimakasih kamu sudah tolong Kakek." Kakek mundur untuk melepas pelukkan Mila karna dia sadar pakaiannya kotor. "Maaf, Nak. Kakek kotor." Kakek melihat pakaiannya.
"Gpp." senyum Mila yang selalu mengambang di wajahnya sejak Dia mendengar bukti itu. "Dahhh,,, Kakek. Hati-hati yaaaa." Mila melambaikan tangannya.
"Tian juga pamit ya, Kek." Tian pun menyusul Mila.
Kakek melambaikan tangannya dengan tersenyum. "Dia baik, tidak melihat kakek yang lusuh dan kotor ini. Dia menolong kakek, padahal dirinya sedang terluka. Senyumnya membuat damai orang yang melihatnya. Kamu anak baik, Nak. Semoga kebaikan selalu menyertaimu." kata Kakek sambil melihat Mila pergi yang semakin lama semakin menjauh dengan disusul Tian di belakangnya. Kakek pun mengambil gerobaknya kembali dan melanjutkan perjalanannya.
"Tian, ngapain ikutin Mila? Kenapa gak pulang sendiri? Mana motor sama mobil Tian? Kenapa jalan kaki?" Mila menengok kebelakang lalu ngoceh tanpa henti dengan wajah gemasnya.
Tian tersenyum dan mendekatinya sampai wajahnya dengan Mila hanya sebatas jengkal tangan saja. "Tian gak bawa mobil atau motor makanya jalan kaki. Tian juga gak tau jalan pulang. Makanya ikutin Mila." kata Tian yang tak kalah menggemaskan.
Mila memundurkan wajahnya dan menelan ludahnya. Dia terkesima dengan wajah tampan Tian yang sedang berada sangat dekat dengan wajahnya. Mila pun salah tingkah. Dia segera membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya. Sebelum Mila semakin jauh melangkah Tian menarik tangannya. Sontak Mila berbalik dan memeluknya. Tian tak sengaja melakukannya. Setelah mereka saling kaku selama 5 detik, Mila ingin mundur tapi Tian sengaja menahannya. Dia ingin Mila tetap dalam pelukkannya sebentar saja. Mila tak menolak, justru memeluknya balik. Mila merasa sangat bersalah pada Tian.
"Maaf ya, Tian. Sudah buat kamu sakit karna aku." kata Mila di telinga Tian.
Tian mengangguk dan melepas pelukkannya. "Mending obatin dulu tangannya." Tian melihat darah yang masih mengalir di tangan Mila. Mila menyekan luka dengan tisu dari sakunya. "Taxi,,,!" Tian menghentikan taxi yang lewat. Menarik tangan Mila dan memaksanya masuk. "Jalan cendana 1 ya, Pak." kata Tian pada supir taxi.
"Mau kemana, Tian?" Mila heran mendengar alamat yang tak pernah dia dengar. Tian tidak juga mencoba menjelaskan.
Jam menunjukkan pukul 12.00
Bunda sibuk membersihkan meja makan sedangkan Bibi sedang menata makanan untuk makan siang. Heran ya, Kenapa tugasnya terbalik? Ya begitulah Bunda, dia tak pandang bulu dalam mengerjakan tugas rumah tangga. Bunda tak selalu mengandalkan bibi sebagai pengurus rumah. Selagi masih bisa mengerjakan dengan tangannya sendiri, Bunda pasti akan melakukannya sendiri. Bunda itu tipe ibu-ibu yang ramah, baik hati dan sangat lembut. Bibi saja sudah bekerja bersamanya sejak menikah. Ya kira-kira 20 tahun. Kata Bibi, Bunda bukan tipe bos-bos yang cerewet. Bunda selalu memperlakukan dirinya selayaknya orangtuanya saja bukan pekerjanya. Jadi Bibi sangat nyaman bekerja untuknya. Nama Bibi adalah Minah. Beliau datang dari kampung bersama dengan suaminya. Kebetulan juga suaminya bekerja di rumah ini sebagai supir. Namanya Pak Maman. Mereka punya anak perempuan yang cantik bernama Mima dan umurnya baru 10 tahun. Katanya nama dia itu singkatan dari nama ibu dan ayahnya. Mereka di beri tempat tinggal di belakang rumah Tian. Bunda juga suka membantu keperluan sekolah Mima. Bunda sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri karna memang dia ingin punya anak perempuan.
Taxi berhenti di rumah berpagar hitam. "Ya, Pak. Stop di sini." Tian memberikan ongkos dan turun dari taxinya.
Mila masih duduk diam di dalam taxi. Dia masih bingung dimana dia sekarang. Tian mengetuk kaca taxi, menyuruh Mila untuk segera turun. "Ini dimana, Tian? Kamu bawa aku kemana sih?" matanya melihat sekeliling. Rumah besar dengan tiang-tiang penyangga yang terukir indah menyita perhatiannya.
"Ayo masuk." Tian masuk ke dalam rumahnya diikuti Mila. "Assalamualaikum, Bunda." Tian masuk dan mencari ibunya.
"Waalaikumsalam." jawab Bunda menghentikan aktivitasnya. "Loh, Tian sudah pulang?" Bunda datang menghampirinya.
"Iya, pulang cepat." kata Tian bohong lalu mencium pipi Bunda. "Bun, Tian bawa temen." Tian menoleh ke belakang tapi Mila tak ada. Dia bingung dan mencarinya lagi ke depan untuk melihat apakah Mila ikut dengannya atau pergi. Hatinya was-was takut-takut Mila tak ikut dengannya ke dalam dan malah pergi pulang.
"Mana temanmu?" Bunda mencari keberadaan temannya.
"Ya ampun, Milaa. Kenapa gak masuk?" hatinya lega karna Mila ada di depan rumahnya. "Pakai ini dulu, Mil." Tian memberikan sandal rumahnya. Mila melepaskan sepatu dan menyimpannya di rak sepatu yang ada.
Bunda menyusul Tian sampai ke depan pintu dan melihat ada gadis cantik yang berada di rumahnya. Bunda tersenyum menyapanya. "Oh ini teman Tian, siapa namanya?" tanyanya dengan suara lemah lembut mirip suara Tian.
Mila tersenyum. "Mila, Tante." sapanya dan menyalami Bunda.
__ADS_1
"Halo, Mila. Kenapa di depan pintu? Masuk sayang." ajaknya dengan bersikap terbuka dengan Mila. Ini pertama kalinya Tian membawa temannya ke rumah dan teman wanita pula. Pasti dia bukan wanita sembarangan untuk Tian pikirnya dalam hati.
"Iya, Tante. Tadi gak enak maen langsung masuk." kata Mila dengan sopan dan santun.
Bunda tersenyum mendengar ucapan Mila. "Panggil aja Bunda. Biar lebih akrab." katanya dengan wajah senang. "Jarang-jarang loh, Tian bawa temannya main ke rumah."
Ya memang Tian jarang sekali membawa temannya main ke rumah apalagi teman wanita. Tian berpikir dia tidak mau teman-temannya berubah pandangan karna melihat status sosialnya yang cukup mentereng.Dia tidak mau membuat teman-temannya minder apalagi sampai memanfaatkannya saja. Satu-satunya teman yang dibawanya kerumah adalah Yana. Itu juga karna kepepet vespa Yana mogok. Sebenarnya ada satu lagi yang Tian bawa ke rumah tapi sekarang dia menghilang tanpa kabar. Dia adalah teman kecilnya bahkan cinta pertamanya.,,
"Bunda, masuk dulu. Ngobrolnya di dalam nanti." Tian memotong pembicaraan mereka.
"Oiya, sampai lupa. Yuk, Mila masuk." Bunda merangkul tangan Mila yang terluka.
"Aw,,," Mila merintih.
"Kenapa, Mila? Bunda melepas rangkulannya dan melihat tangan Mila yang berdarah. "Ya ampun, kenapa sampai berdarah gini?" Bunda langsung membawa Mila ke ruang tamu dan mendudukinya di sofa. Bunda tersenyum kaget saat melihat Tian langsung berjongkok di depan Mila dan membersihkan darah yang mengalir di tangannya. "Di obati dulu ya, Mila. Biar tidak infeksi dan darahnya berhenti." Bunda mengambil kotak P3K.
"Aku ganti baju dulu ya, Bun." Tian pergi ke kamarnya yang berada di lantai 2 rumahnya.
"Kenapa bisa sampai berdarah seperti ini, Mila?" tanyanya cemas.
Mila menceritakan kejadiannya bersama si Kakek yang ingin tertabrak mobil. Mereka berdua terlihat sangat akrab padal baru saja beberapa menit bertemu. Walaupun sedikit canggung tapi Mila orang yang cepat berbaur dengan sekitar. Apalagi den/gan perlakuan Bunda yang nyaman dan sangat.
Di kamar Tian membuka bajunya dan melihat ruam merah di punggungnya. Dia pergi mandi untuk sedikit menghilangkan rasa perihnya itu. Memutar keran shower ke setelan air panas lalu mengatur suhu panasnya menjadi hangat. Berdiri di bawah pancuran air sedikit membuatnya lebih nyaman dan tenang. Ke pelikkan hari ini sungguh membuat emosinya tak terkontrol dengan baik.
Di ruang tamu Mila dan bunda sedang membicarakan tentang Tian di sekolah. Bagaimana dia bergaul dan kegiatan dia di sekolah. Bunda juga memperlihatkan pada Mila, foto-foto Tian sewaktu kecil. Bunda sangat antusias menceritakan tentang Tian semasa dia kecil. Di akhir album Mila melihat sebuah foto Tian sedang bersama dengan seorang gadis kecil yang sebaya dengannya. Mila ingin bertanya siapa dia tapi pertanyaan Bunda tiba-tiba membuatnya lupa.
"Tian tuh ya akhir-akhir ini sedikit berubah. Dia jadi sedikit lebih semangat setiap kali berangkat ke sekolah. Bunda ikut senang melihatnya. Tapi tadi pagi, entah kenapa jadi berubah dingin lagi, gak tau kenapa? Apa Tian sedang suka seseorang ya, Mil?" dengan jujur Bunda bertanya pada wanita yang jelas sedang disukai oleh anaknya itu. Mila yang merasa itu adalah dirinya hanya terdiam membisu dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
Tian yang sedang menuruni anak tangga, mendengar pembicaraan itu mempercepat langkahnya. Rumah Tian yang cukup besar dengan tak banyak orang yang tinggal. Membuat suara yang sedang berbicara menggema. "Bunda, apa sih tanya-tanya gitu." katanya dengan ekspresi dinginnya.
"Tuhkan Mila benerkan dia berubah." Bunda menunjukkan sikap dingin anaknya itu. Mila hanya bisa tersenyum. Tian yang sebenarnya malu harus menutupi ekspresinya itu dan berusaha agar tetap santai.
Bunda sebenarnya tau tentang hubungan anaknya dengan Mila. Tapi dia menyimpan itu semua dalam hati karna tak ingin membuatnya malu. "Makan siang dulu yuk, Mil. Kita makan bareng." ajak Bunda.
Mereka bertiga makan bersama dengan hikmat. Bunda tersenyum menikmati makanan hari ini. Hari ini jadi hari yang spesial untuknya karna bisa makan bersama dengan anaknya dan juga tamu spesial. Tidak seperti hari-hari biasa yang selalu makan sendirian. Bunda selalu melirik ke Tian yang tanpa henti menatap Mila yang sedang makan. Mungkin kebahagiaan yang Bunda rasakan sama dengan yang Tian rasakan juga sekarang. Bisa makan bersama dengan orang tersayang.
Usai makan Mila mengangkat piring kotornya, juga piring Bunda dan Tian. Mila berniat untuk mencucinya. "Loh Mil, mau ngapain?" tanya Bunda melihat Mila berjalan ke dapur.
"Cuci piring, Bunda." Mila mengangkat piring yang dibawanya.
"Biar Bibi aja, Non." Bibi datang dari belakang dapur dan mengambil piring dari tangan Mila.
"Ih, Mbaa. Biarin aja. Mba, istirahat ajaa ya. Cuma 3 piring aja kok." katanya. Mila menaruh piring di tempat cuci piring dan langsung mencucinya. Melihat itu Bibi dan Bunda saling berpandangan dan membiarkan Mila melakukannya seperti maunya.
Tian pergi ke belakang rumahnya. Dia duduk di kursi favoritenya sambil rehat sejenak dan memejamkan mata. Suasana sejuk nan asri tercipta dari pepohonan rindang yang ada, tanaman hias koleksi Bunda yang tersusun rapi dan rumput-rumput taman yang terawat dengan baik. Lalu sirkulasi air kolam renang yang menimbulkan efek suara, menambahkan relaksasi menenangkan. Mila sudah selesai mencuci piringnya. Dia melihat-lihat rumah Tian yang tampak sepi untuk ukuran rumah yang cukup besar seperti ini.
Mila menghampiri Bunda yang sedang berada di kursi goyang. "Bunda sedang merajut?"
"Eh, Mila. Kamu bisa? Bunda menghentikan tangannya merajut.
"Engga." Mila menggeleng. "Ibu Mila juga penjahit."
"Oya, wah satu hobi ya kami." Bunda mencari keberadaan Tian. "Kamu ditunggu Tian tuh di sana." menunjuk ke arah Tian. Bunda memberi waktu untuk Tian dan Mila agar bisa berbincang berdua.
"Baik, Bunda. Mila ke Tian dulu yaaa." kata Mila dan di balas dengan anggukan Bunda.
Mila melihat Tian yang sedang tertidur. Dia melihat wajah Tian yang teduh tanpa efek dingin seperti ciri khasnya. Mila mencoba mengalihkan tanganya menutupi wajah Tian lalu menggerakkannya lagi untuk menganggu tidurnya. Padahal Tian juga tidak benar-benar tidur. Dia hanya sekedar memejamkan matanya saja untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tiba-tiba Tian tersenyum dan membuat Mila kaget yang mengira dia sedang tidur.
"Tiaaaannnn. Iseng banget sihhhh!" Mila menepuk punggung Tian.
"Aw,,," Tian merintih pelan.
"Eh, maaf. Maaf Tian aku lupa." Mila mengusap punggungnya. "Sakit banget ya?" Mila mencoba melihat ruam di punggung Tian yang belum diketahuinya. "Ya ampun, merah banget itu. Aku obatin lagi sini." Mila panik melihat ruamnya ternyata cukup serius.
Tian memegang tangan Mila dan mendekatkan wajahnya. Membuat Mila mematung dan berhenti bicara. Tian sengaja melakukannya agar suara panik Mila tak di dengar oleh ibunya. "Jangan berisik, aku gpp. Nanti Bunda denger." Bisiknya dengan menaruh telunjuk di bibirnya.
Mila langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Tian melepas genggamannya tapi Mila malah menarik balik tangannya. "Maafin ya." katanya tertunduk penuh sesal. Menaruh dahinya di genggaman tangan mereka. Menyesali perbuatannya yang membuat Tian terluka, hati maupun fisiknya.
Melihat genggaman tangan Mila yang sangat erat padanya. Membuat Tian menemukan setitik harapan untuk bisa merebut hati Mila lagi, sepenuhnya. Semangat di hatinya datang kembali. Aku janji bakal perjuangin kamu sampai kamu lelah untuk aku perjuangkan, katanya dalam hati. Lalu mencium rambut Mila.
Semoga Tian dan Mila bisa bersatu ya gengsss!
__ADS_1