
Libur sekolah akhirnya tiba. Waktu yang panjang untuk bersantai dari segala aktifitas sekolah. Terbebas dari tugas-tugas yang membebani setiap hari dan terbebas dari kegiatan bangun pagi-pagi buta untuk berangkat ke sekolah. Terbebas juga sementara waktu dari drama tom dan jerry bersama genx axepink tapi terselip rindu akan kebersamaan Mila dan teman-temannya.
Lana mengetuk pintu kamar kakaknya tapi tak ada jawaban dari dalam kamar. Lana pun langsung masuk saja ke dalam dan mendapati kakaknya yang masih tertidur dengan pulas. Lana melangkah mendekat ke tempat tidur. Dia melihat wajah kakaknya yang tidur sambil tersenyum, seperti sedang mimpi indah. Lantas dia naik ke atas tempat tidur dan lompat-lompat di sana, macam bermain trampolin. Dia sengaja melakukannya untuk menganggu tidur Mila, agar segera terbangun dari mimpi indahnya.
Yang semula mimpinya indah berubah menjadi gempa bumi. Lana mengacak-ngacak mimpi Mila dan berhasil membuatnya terbangun dengan kesal.
Mila melihat adiknya lompat setinggi mungkin di kasurnya. "Lanaaaaaaa,,,,," teriaknya tapi Lana tak menghiraukannya. Dia asik melompat-lompat dengan girang. "Lana! Kamu ngapain sih,,,,, ganggu aku tidur ajaaaa!" Mila menutup kepalanya dengan bantal.
"Ibuuuuu,,,! Teteh tidak mau bangun nih." teriaknya sambil terus melompat tinggi.
Mendengar peperangan di kamar Mila membuat Ibu harus naik ke atas untuk melerai mereka. "Kalian ini ya, kenapa ribut sekali sih?" oceh Ibu saat masuk ke kamar Mila. Dia melihat Lana yang sedang melompat-lompat di kasur. Sedangkan Mila masih asik tidur dengan bantal yang menutupi kepalanya. "Lana,,, turun sayang. Turun sini, jangan lompat-lompat gitu dong. Nanti kasurnya rusak gimana?" Ibu menggendong Lana turun dari kasur. "Mila,,, kamu juga bangun dong sayang. Udah jam berapa ini? Sudah siang banget, kamu mau tidur sampai pagi lagi?" Ibu membuka bantal dari kepala Mila.
"Ibu,,, kan sekolahnya libur. Sehari aja aku bangun siang, Bu." rengek Mila menarik selimut menutupi wajahnya.
Ibu balik menarik selimut itu dan mengambilnya. Dia juga mematikan ac dan membuka kaca jendela anak gadisnya. "Pokoknya bangun. Mau sekolah libur atau engga. Ga ada urusannya. Anak gadis gak boleh bangun siang-siang. Cepat turun terus makan." katanya dengan tegas. Lalu Ibu keluar dari kamar Mila dengan menuntun Lana.
Lana menjulurkan lidah pada kakaknya. Mila memanyunkan bibirnya. Ocehan Ibu bak kereta api yang berbunyi panjang dan tak henti-henti. Mila menghentak-hentakan kakinya di kasur, kesal. Dia mengumpulkan niat untuk bangun lalu merapikan tempat tidurnya yang berantakan karna Lana. Lalu dia bergotai dengan malas masuk ke kamar mandi.
Usai mandi Mila turun ke bawah dengan mengenakan handuk kecil di kepalanya. Dia duduk di depan tv sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. Lana sedang asik menonton film kartun. Dia tak menghiraukan kakaknya yang duduk di sebelahnya. Mila mengibaskan rambut basahnya padanya tapi tak juga direspon. Jahilnya tiba-tiba muncul, Mila berdiri dan mematikan tv lalu pergi ke meja makan.
Lana teriak sampai ingin menangis. "Ibuu,,,,,"
"Mila,,,,, kamu ini iseng aja. Adiknya lagi nonton juga." Ibu sudah hafal dengan kejahilan kedua anaknya. Saling usil jika sedang berkumpul berdua.
"Gantian. Tadi kamu loncat-loncat di kasur aku." Mila menjulurkan lidahnya pada Lana.
Mila tertawa dan menggulung rambutnya dengan handuk. Membuka lemari es dan mengambil susu. Menaruhnya di meja dan membuka tudung saji. Dia melihat nasi goreng yang di buat Ibu. Meski sudah tak lagi hangat tapi tetap menggiurkan. Nasfu makannya langsung hadir dan dia tak jadi meminum susu yang sudah di tuangnya. Mila menyendok nasi goreng dan menaruh telur mata sapi di atasnya. Makan pagi yang menjelang siang ini, dapat di nikmatinya dengan santai tanpa tergesa-gesa pergi ke sekolah.
Selesai makan dengan menenteng segelas air putih, Mila pergi ke teras depan mencari ayahnya tapi tidak ada. Lalu dia pergi ke kamar orangtuanya tapi juga tidak ada. Mila tak mendapati ayahnya dimana pun. Dia lalu menemui ibunya yang sedang sibuk menjahit pesanan seragam anak-anak paud.
"Ibu, Ayah dimana? Mila cari gak ada? Ayah pergi ya?" Mila duduk di kursi sebelah mesin jahit.
"Ayah kerja. Ada apa cari Ayah?" matanya fokus melihat baju yang sedang di jahit.
"Kerja? Kerja dimana? Sejak kapan Ayah kerja?" Mila tak tahu tentang ayahnya yang sudah mendapatkan pekerjaan baru.
"Di ajak temannya. Sudah seminggu. Ibu gak tau, Ayah kerja dimana tapi katanya jadi supir?" jelas Ibu.
"Supir? Emangnya gak berat?" Mila melipatkan baju yang sudah selesai di jahit ibu.
"Semua pekerjaan pasti berat, Mila. Gak ada pekerjaan yang gak berat. Tapi jika semua itu di lakukan dengan senang hati dan mempunyai tujuan yang berarti, seperti keluarga. Berat itu akan menjadi ringan." kata Ibu memberikan petuah pada Mila.
Mila mendengarkan dan mencoba memahami nasihat dari Ibunya. Mila menengok ke arah Lana dan dia tertidur saat sedang menonton tv. Mila menghampirinya dan mematikan tv yang menyalah di tinggal penontonnya. Memberikan bantal untuk adik semata wayangnya lalu mengecup manja pipi mungilnya. Kemudian dia membantu pekerjaan rumah seperti merapikan rumah serta mencuci baju. Ibu belum sempat mengerjakannya. Dia sedang sibuk mengejar pesanan yang sudah mepet waktu.
Usai membersihkan dapur dan mencuci piring. Mila beralih ke belakang rumah untuk mencuci baju. Memasukkan semua pakaian ke mesin cuci. Untung saja ada mesin yang bisa membantunya mengerjakan tugas rumah kalau tidak,,,,, mungkin dia akan memilih untuk sekolah saja. Sambil menunggu baju yang sedang di kerjakan oleh mesin. Mila mengambil sapu dan pengki dan beralih ke ruang tengah. Menyapu bersih ruang tv sampai ke depan teras rumah, di lanjutkan dengan mengepel seluruh ruangan. Setelah semuanya beres, Mila beralih ke belakang lagi untuk mengangkat pakaian yang sudah selesai di cuci lalu menjemurnya di matahari yang sudah sangat terik sekali.
Libur sekolah hanya hayalan baginya karna tugas sekolah beralih menjadi tugas rumah. Bukannya hanya leha-leha rebahan di kasur sambil menghabiskan membaca novel yang belum selesai. Tapi tak apa dia melakukannya dengan senang hati untuk membantu ibunya. Selesai menjemur, Mila masuk lagi ke dalam rumah dan duduk di samping ibunya sambil menghela nafas panjang karna kelelahan sehabis mengerjakan semua tugas rumah.
Ibu tersenyum. "Kasian anak Ibu, capek ya?"
"Huh,,, lumayan. Gimana jadi Ibu, ya? Semua di kerjakan setiap hari, belum lagi masak dan jahit pesanan baju. Ibu, hebat,,,!" Mila mengacungkan jempol pada ibunya dengan muka kelelahan.
Ibu hanya tersenyum sambil melipatkan baju yang sudah selesai dijahitnya. Mila menenggak segelas penuh air lalu kembali membantu ibu mengemas baju pesanan ke dalam plastik.
"Mil, kalau sudah di plastikin semua. Kamu ambil kardus di samping lemari tv ya." Mila mengangguk.
Setelah menyelesaikan yang terakhir, Mila pergi mengambil kardus. Saat mengambil kardus, sebuah plastik jatuh dari lemari tv. Mila mengambil dan melihatnya, ternyata itu berisi obat-obatan. "Ibu, ini obat siapa?" tanyanya lalu memberikan plastik yang dia temukan pada ibunya.
"Obat?" Ibu mengambil plastik itu dan melihatnya. "Bukan punya Ibu. Apa ini punya Ayah?" katanya heran. Ibu tak mengetahui tentang suaminya sedang sakit.
"Ayah sakit?" tanya Mila penasaran.
"Ibu kurang tahu, coba nanti Ibu tanya ya. Kamu simpan lagi di tempat semula." Ibu tak terlalu memikirkannya dan mengira itu hanya obat biasa saja. Dia kembali fokus merapikan pesanannya lagi.
Mila menaruh kembali obatnya sambil bertanya dalam hati. Sakit apa sebenarnya Ayah? Mengapa ibu tidak tahu tentang sakitnya? Tidak seperti biasanya? Semoga bukan penyakit yang buruk, pikirnya. Mila lalu kembali membantu ibu sampai selesai. Memasukan seragam yang sudah di kemas ke dalam kardus dan menyusunnya dengan rapi.
"Mila, kamu bisa bantu Ibu untuk antarkan baju-baju ini ke rumah Ibu Sari? Yang punya sekolah paud di komplek sebelah. Rumahnya dekat dengan rumah Yana, beda tiga rumah saja. Bisakan? Ibu ada pengajian soalnya nanti sore tapi Ibu Sari minta di antar sesegera mungkin." pinta Ibu dengan nada memohon.
"Oke, Bu. Nanti aku antar tapi nanti Mila main ya sebentar ke rumah Yana."
"Yakin sebentar? Mana bisa sebentar. Yang ada kamu pulang jam 9 malam kalau sudah main ke rumah Yana." Ibu hafal betul dengan kebiasaan anaknya. Mila suka lupa waktu kalau sudah bersama Yana.
Mila tersipu. "Sore aja ya, Bu. Mila antar seragamnya. Sekarang terik banget." kata Mila dan Ibu mengangguk.
Dia juga kasihan melihat anaknya sudah membersihkan seluruh rumah dan membantu menyelesaikan semua pekerjaannya. Ibu membiarkan Mila beristirahat sejenak sambil menunggu matahari lebih bersahabat. Mila naik ke kamarnya, merebahkan tubuh ke kasur sambil memeriksa ponselnya. Dia berharap mendapatkan pesan dari Tian tapi tak ada satupun kabar darinya.
Mila menarik nafas dalam-dalam dan berpikir positif. Mungkin di sana sinyalnya susah tapi mana mungkin orang berada tidak memiliki sinyal, pikirnya. Mila memutuskan lebih dulu mengirim pesan pada Tian dan menunggu balasan darinya. Mila menunggu 1 menit, 2 menit, 10 menit berlalu sampai akhirnya dia ketiduran tapi tak lama ponselnya berbunyi. Tian meneleponnya dan tidak terjawab karna Mila tertidur pulas.
__ADS_1
Mila di bangunkan oleh suara Lana yang seru bermain dengan teman-temannya di halaman rumah. Mila mengusap matanya dan melihat ke jendela yang menyuguhkan warna jingga di langit sore. Mila melihat layar ponselnya dan panggilan tak terjawab dari Tian tertera di sana. Dia meletakkan lagi ponselnya dan tak berniat menelepon balik pacarnya. Percuma pikirnya.
Sehabis mandi, Mila pergi mengantarkan pesanan seragam yang Ibu titipkan padanya. Mila mengantarkannya dengan menggunakan motor, sekalian jalan-jalan sore. Hal yang sudah jarang sekali dia lakukan semenjak duduk di kelas 12. Kesibukan yang padat karna tugas-tugas yang menumpuk, membuat waktunya banyak tersita. Belum lagi kerja kelompok yang menghabiskan banyak waktu. Maklumlah namanya juga kelas akhir. Ya harus siap-siap waktunya tersita banyak dengan tugas-tugas yang bejibun.
Mila menghentikan motornya di depan rumah bercat warna kuning gading dengan pagar putih bersih. Mila turun dari motor dan memencet bel yang terletak di samping pagar. Tak ada yang keluar. "Assalamualaikum,,, Ibu Sari." Mila mengucap salam sambil setengah berteriak. Cukup lama Mila menunggu si pemilik rumah keluar. Dia menekan bel berulang kali dan mengucap salam lagi sampai 3 kali. Baru seorang wanita yang berusia sama dengan ibunya keluar dari dalam rumah.
"Waalaikumsalam. Aduh maaf ya lama." kata Bu Sari keluar dari dalam rumah. Lalu datang menghampiri Mila dan membuka gerbang untuknya. "kamu anaknya Ibu Diah ya?" tanyanya.
"Gpp, Bu. Iya saya Mila. Mau antar pesanan seragam. Ibu gak bisa antar karna ada pengajian di tetangga sebelah soalnya." Mila membawa 2 kardus berisikan seragam, dibantu Bu Sari membawakan kardus satunya.
"Masuk, Mil. Taruh di sana aja." tunjuknya saat memasuki rumah.
Mila menaruhnya di meja yang Bu Sari perintahkan. "Oke, Bu. Ini catatan pesananya." memberikan catatan yang ibu sengaja taruh di atas kardus. "Mau di periksa dulu, Bu?" tanyanya untuk memastikan semuanya sudah sesuai.
"Tidak usah, Mila. Ibu percaya. Ya sudah ini sisa pembayarannya ya." Bu Sari menyerahkan sisa uang seragam.
"Terimakasih, Bu." Mila menerimanya dan memasukkan ke saku celana. "Mila pamit, Bu. Kalau kurang sesuatu bilang aja ya." Mila berpamitan padanya.
"Sama-sama, Mila. Salam untuk ibumu." Bu Sari mengantarkan Mila sampai ke motornya.
Mila menyalahkan motornya dan langsung pergi pulang. Dia tidak jadi mampir ke rumah Yana karna dia membawa uang yang Bu Sari titipkan padanya. Dia harus memberikannya dulu pada Ibu. Takut nanti hilang tapi saat melewati rumah Yana, ternyata Yana sedang mencuci vespa kesayangannya dan melihat Mila yang melintas di depan rumahnya. Mila melintas tanpa meliriknya sama sekali membuatnya langsung menyemprotkan air padanya.
"Astaga, Yana!" teriak Mila menghentikan motornya.
Yana tertawa senang. Dia sudah menebak reaksi Mila yang akan marah padanya. "Sombong!" katanya sambil membuang muka.
"Oh, bagus! Udah salah, malah buang muka. Ngatain lagi,,,!" Mila memarkirkan motornya dan mendatangi Yana dengan kesal.
"Eitth, maju gue siram lu!" Yana yang siap dengan selang air di tangannya.
"Ngancem lu ya! Gue udah mandi tahu! Main siram-siram aja." Mila mengambil tanah dan melemparkan tanah itu ke motor vespa yang sudah di cuci bersih oleh Yana.
"Mila,,,! Kampret luh! Udah bersih ini,,,!" kali ini Yana yang balik marah padanya.
"Bodo! Lu yang mulai." Dia mengambil tanah untuk di lempar lagi ke motor Yana.
"Milaaaaaaaaaa,,,,,!" Yana menahan tangannya. "Oke, Sorry! Tapi jangan di kotorin lagi, capek gue bersihinnya. Lu tau kan kalau mandiin dia lama,,," yang dia maksud adalah vespa kesayangannya.
"Ya lagian. Lu sibuk apa kek, pacaran kek. Ini mah vespa aja yang lu urusin terus. Oke, Sorry juga ya Yellow." Mila mengusap vespa kesayangan Yana. Yellow adalah panggilan kesayangan dari Mila untuk vespa Yana. Dia juga menjadi kesayangannya karna selalu setia mengantarnya kemana-mana tanpa pernah mogok sama sekali. Mila merebut selang air dan membersihkan lagi vespa Yana.
Bukannya tanpa maksud dia merebut selang itu. Yana mengambil lagi lap dan mencuci kembali bagian yang kotor. Mila membantu membilasnya setelah sudah diberi sabun. Setelah vespanya kembali bersih, kini giliran Yana yang Mila bersihkan. Mila menyemprotkan air ke Yana dengan senang karna dendamnya terbalas langsung.
"Hahaha rasain! Makanya jangan suka iseng jadi orang,,," Mila mengakhiri pembalasan dendam itu dan langsung mematikan kran dan melipat selangnya. Dia tak ingin Yana membalasnya dengan menyemprotkan air padanya lagi.
Yuna keluar mendengar kehebohan yang diciptakan oleh mereka berdua. Dia menggelengkan kepala dan dibalas tawa oleh Mila. Yuna lalu masuk lagi ke dalam dan membiarkan 2 sahabat itu berseteru.
"Basah dah, Mil. Iseng banget lu,,," Yana memeras bajunya yang basah.
"Ya emang udang basah juga dari tadi. Lagian lu juga mau mandi kan. Yaudah lah ya, gue balik dulu. Dahh,,," Mila menggeloyor pergi tapi bajunya langsung di tarik Yana.
"Cepet banget sih lu. Biasanya juga mampir lama. Lagian dari mana mau kemana sih lu?" tanyanya penasaran.
"Abis nganter pesanan seragam Ibu. Ini gue bawa duit sisa bayarannya. Gak enaklah, nanti Ibu nungguin. Besok deh gue main ya. Hari ini gue sibuk banget." keluhnya.
"Tumben gak minta anterin gue?" memanyunkan bibirnya.
"Kali-kali mandirilah. Masa iya gue bawa bodyguard mulu." Mila berbicara sambil lari takut-takut Yana ngamuk dibilang bodyguard.
"Dasar lu! Awas lu ya!" ancam Yana sambil tertawa juga. Mila melambaikan tangannya dan pergi pulang. Yana tersenyum dan memasukkan vespanya ke beranda rumah.
Mila memarkirkan motornya dan melihat Ayah yang baru juga pulang bekerja. Mila tersenyum melihatnya tapi kemudian wajahnya berubah menjadi datar. Dia melihat wajah Ayah yang sangat pucat. Ayah mematikan mesin motor dan melepas helm yang dikenakannya. Ayah menyapa Mila dengan senyum yang terlihat memaksa. Mila menyalami tangannya dan tangan itu terasa dingin.
"Ayah sakit? Tangan Ayah dingin sekali? Muka Ayah juga pucat?" nada suara Mila terdengar sangat khawatir. Dia mengingat lagi obat yang dia temukan tadi siang.
"Ayah gpp, kecapean aja. Masuk yuk, sudah mau magrib." Ayah menggandeng Mila masuk ke dalam rumah.
Ayah berjalan dengan tubuh yang sangat lemas. Mila mendudukkannya di kursi dan segera mengambilkan segelas air putih untuknya. "Ayah sudah makan?" menghapus peluh di dahi ayahnya.
Ayah hanya menggeleng sambil menyenderkan kepalanya di kursi. Mengatur nafasnya yang terdengar sesak. Mila berusaha tidak panik dan pergi ke dapur untuk membawakan makanan. Mila datang lagi dengan membawa piring berisi nasi dan sayur. Serta menenteng plastik obat yang dia yakini itu adalah obat ayahnya.
"Ayah, makan dulu ya. Habis itu minum obat."
Mila mengaduk-ngaduk nasi dan meniupnya agar tak terlalu panas saat dimakan. Walaupun tak terlalu berselera tapi Ayah berusaha menelan semua makan itu. Tak ingin membuat Mila khawatir ataupun kecewa. Tapi pada suapan ke lima, perutnya terasa mual dan tak bisa lagi menelan makanan. Mila menyudahinya dan memberikan minum untuk Ayah. Mila langsung membuka plastik obat dan membacanya.
Mila tak mengetahui semua obat-obat itu. Terlihat asing baginya dan sepertinya bukan obat penyakit biasa. "Ini obat Ayah kan? Obat apa ini, Yah? Ayah sakit apa sebenernya?" tanyanya penuh kekhawatiran dengan mata yang menahan kesedihan.
"Sakit biasa aja, Sayang. Sini." mengulurkan tangannya meminta obat-obat itu.
__ADS_1
Mila memberikannya dan segera Ayah menelan semua obat-obatan itu. Mila menatap wajah ayahnya dengan cemas. Berharap jika sakitnya, hanya sakit biasa saja. Dia benar-benar cemas melihatnya tapi Ayah meyakinkan dirinya kalau semua baik-baik saja. Ayah tersenyum meyakinkan putrinya. Mila menghela nafas lega. Dia menggenggam tangan Ayah lalu menciumnya hangat.
Ibu datang dan melihat pemandangan yang sudah cukup langka. Kedekatan suami dan anak perempuannya tapi saat mendekat dia malah di kagetkan dengan wajah suaminya yang nampak pucat pasi.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" memeriksa kening suaminya.
"Gpp, Bu. Sudah diurus semuanya sama Mila." menarik senyum hampa untuk menenangkan istrinya.
"Pindah ke kamar aja ya. Di sini dingin. Aku bantu bersihkan badan dan mengganti pakaianmu."
Ibu dan Mila memapah Ayah ke kamar. Mila meninggalkan Ayah bersama Ibu di kamar untuk beristirahat lebih nyaman. Mila lalu merapikan piring dan obat yang sudah selesai di pakai dengan air mata yang ingin terjatuh. Hatinya tak nyaman memikirkan kesehatan ayahnya tapi dia harus membuang pikiran-pikiran buruk itu dalam benaknya.
Mila pergi ke kamar Lana dan melihat dia yang sedang asik menggambar. Mila masuk ke dalam dan merapikan mainan yang berserakan di lantai. Mila melihat apa yang sedang di gambar adiknya. Sebuah gambar yang menceritakan tentang keluarganya. Lana menggambar Ayah, Ibu, dia dan dirinya. Mila tersenyum senang melihat gambar itu dan mengelus rambut Lana lalu menciumnya.
Terdengar ponsel yang berbunyi dari saku celananya. Dengan cepat tangannya mengangkat telepon itu.
"Hai,,," sapa Mila sambil tersenyum sumringah dan pergi ke kamarnya.
"Akhirnya,,," terdengar lawan bicaranya yang menghela nafas lega.
Mereka saling tersenyum bahagia dari balik telepon. Saling menanyakan kabar masing-masing dan keadaan mereka sekarang. Bercerita panjang lebar seperti sudah berpisah berjuta-juta tahun lamanya. Seraya ingin sekali menembus jarak yang terbentang dan bertemu rindu yang terhalang. Memeluk erat sang kekasih hati yang jauh dari pandangan. Melepas rindu pada wajah yang setiap hari mengisi hati. Sekarang mereka hanya bisa mendengar suara yang indah dan tawa yang renyah yang selalu membuat rindu.
"Aku rindu." katanya dengan menggebu. Seperti sudah tak bisa di bendung lagi kata-kata itu.
Sang wanita tersipu. "Aku juga begitu. Bisakah kita bertemu sebentar lewat pintu doraemon?" candanya lugu.
Sang pria tertawa kecil. "Haruskah ku pinjamkan itu?" lalu mereka saling tertawa.
"Bagaimana keadaan Ayah Luna?" Mila mengubah topik pembicaraan menjadi serius.
"Keadaannya koma dan kritis. Ternyata ada penyakit serius dan tidak ada yang mengetahuinya. Sepertinya Om Lukman sengaja menutupi itu dari Luna karna tak mau membuatnya khawatir. Tapi semoga masih bisa di sembuhkan dan Om Lukman bisa melewati masa kritisnya. Bantu doa ya, Mil?" jelas Tian menceritakan semuanya pada Mila.
"Ya ampun. Kasihan Luna. Aku pasti bantu doa dari sini, Tian. Salam untuk Luna, semoga ayahnya cepat sadar." Mila teringat akan ayahnya yang sekarang juga sedang sakit. Mila terdiam pikirannya melayang entah kemana. Dia sendiri takut musibah itu akan menimpah padanya juga. Lagi-lagi pikiran buruk itu datang tapi kemudian dengan cepat dia membuang pikiran buruk itu. Firasatnya tak enak sejak melihat obat-obatan itu.
"Mil? Kenapa?" mendengar Mila tak bersuara. "Halo?" melihat ponselnya, takut teleponnya tiba-tiba saja terputus.
"Ya, Tian. Gpp kok, kepikiran Ayah aja. Ayah juga sedang sakit." jelasnya singkat.
"Aku kira gak ada sinyal lagi. Ayah kenapa Mil? Sakit apa?" tanyanya khawatir.
"Kecapean aja sih katanya. Bukan sakit parah kok." Dia tidak ingin menambah beban pikiran Tian dan membuatnya malah lebih khawatir padanya.
"Semoga Ayah cepat sehat ya. Kamu juga jaga kesehatan. Kalau aku denger kamu sakit, langsung aku pulang ke jakarta,,,!" candanya dengan nada serius.
Mila tertawa dan melupakan kecemasannya. "Baiklah." senyumnya mengembang saat mendengar pacarnya yang selalu cerewet soal kesehatanya.
"Aku mencintaimu, Aksara Mila." kata Tian di tengah-tengah keheningan Belitung-Jakarta.
Tiba-tiba kata-kata itu terdengar lagi di telinga Mila. Kata-kata yang sama tapi dari orang yang berbeda. Mila mengingat lagi kejadian itu. Kejadian dimana Bian menciumnya dan mengatakan hal yang sama dengan apa yang Tian katakan sekarang. Mila membungkam mulutnya. Dia tak mampu membalas kata-kata yang Tian ucapkan padanya. Padahal dia juga menunggu balasan kata-kata itu untuknya dari mulut Mila.
"Mil? Kamu dengar aku?" hanya hening yang didengarnya.
"Iya, Tian. Aku dengar." katanya terbata.
Tapi tiba-tiba telepon berakhir, sinyal menjadi penghalang mereka lagi. Tian meremas ponselnya. Dia gemas pada sinyal yang menarik putus teleponnya. Mila memandang langit gelap di luar sana. Dia teringat lagi akan kejadian dia bersama Bian. Dia harus menceritakan sejujurnya pada Tian. Dia tidak mau berbohong padanya dan harus mendengar dari mulutnya langsung. Sebelum Bian dengan frontal mengatakannya pada Tian. Dia tahu Bian pasti akan senekat itu nantinya tapi apa dia akan terima reaksi Tian setelah mendengar hal itu. Mila pusing dengan pikirannya sendiri.
Lalu kemudian pikirannya terfokus lagi pada kesehatan Ayah. Matanya terpejam dan berdoa dalam hati untuk kesehatannya. Mila turun lagi ke bawah menemui Ayah untuk melihat keadaannya sekarang. Mila mengetuk pintu kamar dan membukanya perlahan. Ibu duduk di tepi tempat tidur sambil mengompres dahi Ayah. Mila menghampiri Ibu dan memegang bahunya.
"Biar Mila aja, Bu." katanya lirih di telinga Ibu.
Ibu memberikan handuk kecilnya pada Mila dan keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Mila menatap wajah ayahnya yang sedang tertidur. Suhu badannya panas tinggi. Mila membilas kompresnya lalu menaruhnya lagi di dahi Ayah. Tangan Mila menggenggam tangannya pelan dan berdoa agar panas badannya segera turun. Dengan setia Mila mengompres Ayah berharap keadaannya akan segera membaik.
"Ayah, cepat sembuh ya. Mila sedih lihat Ayah sakit." dengan tertunduk lesu dan mata yang berkaca-kaca Mila mencium pipi ayahnya.
Mila naik ke kasur dan tidur di sampingnya. Menatap wajahnya sambil sesekali memperhatikan nafas di perutnya. Entah kenapa pikirannya setakut ini. Mila tertidur di samping Ayah dengan memeluknya. Berharap dengan memeluknya, tubuhnya akan menyerap suhu panas dari tubuh ayahnya. Mila ingin berbagi rasa sakit itu, sama seperti Ayah yang selalu melakukan itu saat dirinya sakit.
"Mila." bisik Ibu sambil menggoyangkan tubuh Mila.
Mila keluar dari dalam kamar dan duduk termenung di sofa depan tv. Matanya masih sendu karna ketiduran selagi mengompres Ayah. Dia kemudian berjalan ke meja makan dan menuangkan segelas air putih. Lalu kembali sofa dengan membawa segelas air. Mila mengambil remote tv dan saat hendak menekannya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Dik, tolong bukain pintu." pintanya pada Lana.
"Aa'aah Teteh. Aku kan lagi gambar." rengek Lana menolak.
Mila menghela dan bergontai lemas membukakan pintu. Saat pintu terbuka, berdiri seorang cowok yang dia kenal. Yang baru saja terlintas di pikirannya beberapa menit yang lalu. Yang sudah beberapa hari ini dia tidak melihatnya. Jantungnya seketika berdegup kencang. Ekspresi kaget di wajahnya tak bisa di bohongi. Bagaimana tidak, jika yang dia lihat adalah Bian. Dia datang ke rumahnya malam-malam begini. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan.
"Hai, Mil. Apa kabar?" sapa Bian dengan tersenyum senang melihat Mila di hadapannya.
__ADS_1
Bisakah kau menghilang saja dari bumi? Agar aku tak bersusah payah untuk melupakanmu.