
Mila masih bermalas-malasan di kasur. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Dia sibuk dengan ponselnya sambil berguling ke kiri dan ke kanan. Rasa malasnya bak benalu di tubuhnya. Enggan sekali untuk dia beranjak mandi. Mila tak berniat melakukan apa-apa hari ini. Dia hanya ingin rebahan saja di kasur dan menghabiskan membaca novel yang kemarin baru saja dia beli. Saat asik dengan ponselnya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
Ting Tong
"Siapa cobaa yang dateng. Astaga! Dia gak tau apa gue males banget turun ke bawah." Ngomelnya pada bantal dan guling. Suara bel terus terdengar sampai pemilik rumah membukakan pintu untuknya. "HAH,,,! Rese banget sih!" kakinya dihentakkan ke kasur seperti cacing kepanasan. Mila mengumpulkan niat untuk bangun dari tempat tidurnya. Namun langkahnya terhenti. "Apa jangan-jangan itu Ayah sama Ibu? Aduhhhh mampuss gueeeeee!" Mila berlari ke bawah dengan rasa cemas.
"Permisi." terdengar suara cowok berteriak dari depan pagar rumah.
"Iyaaaaaa, sebentar." teriak Mila. Dia mengintip dari jendela dan ternyata seorang Kurir pengantar paket yang datang ke rumahnya. "Huh untung aja." Lalu dia berlari menuju gerbang. "Cari siapa ya, Mas?" Mila menghalangi wajahnya dari panas matahari yang sangat terik siang ini.
"Ini Mba, mau antar makanan." Kurir mengangkat plastik makanan di tangannya.
"Untuk siapa, Mas? Saya gak pesan makanan." tanya Mila bingung.
"Untuk Mila. Alamatnya sih di sini. Mba, Mila kan?" kurir itu memberikan catatan alamatnya pada Mila.
"Iya saya Mila tapi saya gak pesan makanan, Mas. Trus ini juga banyak banget, di rumah saya juga gak ada acara apa-apa." Mila heran dengan kantung makanan yang bertumpuk di depannya. Dia tidak merasa memesan apapun dan menolak untuk menerimanya.
"Tapi saya hanya mengantarkan sesuai pesanan aja sih, Mba. Alamatnya juga benarkan di sini dan sudah di bayar juga, Mba." Kurir makanan itu mencoba menjelaskan lagi. "Maaf Mba saya buru-buru, harus kirim makanan lagi ke tempat lain. Mohon diterima ya." memasang wajah memelas agar Mila mau menerima karna harus segera mengantarkan pesanan yang lain.
"Yasudah saya terima makanannya. Makasih ya, Mas." Mila yang tak tahan dengan terik matahari langsung saja menerimanya. Dia juga kasian melihat Kurirnya harus mengantar pesanan yang lain.
Mila masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang campur bingung. Siapa coba yang mengirim makanan ke rumahnya sampai sebanyak ini? Bagaimana juga dia menghabiskan semuanya? Mila menaruh semua makanannya di meja makan dan membukakan plastik makanan satu persatu. Dia langsung bersemangat begitu melihat isi di dalam plastik itu semua adalah makanan kesukaannya dari cemilan, minuman, makanan semua ada, paket komplit pokoknya. Seperti tertimpah rezeki nomplok rasanya.
"Asli sih ini banyak banget." katanya senang sambil bertolak pinggang. "Siapa coba yang kirim sebanyak ini? Udah gak ada nama pengirimnya lagi. Nanti kalau gue makan semua dan ternyata salah kirim gimana?" Mila duduk tertegun melihat semua makanan di depannya. Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk muncul di layar. "Selamat makan siang 😊" Tian. "Ya ampun, Tian." Mila tersipu malu dan langsung menelepon Tian namun tak di angkat.
Mila kembali ke kamarnya untuk pergi mandi sebelum memulai makan siangnya. Selesai mandi dia keluar dengan handuk di kepalanya. Membawa ponselnya lalu turun lagi ke bawah. Mila masih menatap bingung tumpukan plastik itu. "Mau makan yang mana ini? Ga ada makanan bingung mau makan apa. Giliran banyak gini malah jadi makin bingung."
Ponselnya berdering.
"Ya, Tian?" Mila menjawab teleponnya.
"Tadi kamu telepon ya. Maaf gak dijawab masih di kelas tadi." Tian menjauh diri dari teman-temannya.
"Kamu kirim makanan ya?"
__ADS_1
"Iya, sorry ya gak bilang. Kenapa memangnya, Mil?"
"Tian, ngapain sih repot-repot. Terus ini tuh banyak banget. Gimana coba caranya aku abisin semuanya?"
"Yakan katanya kalau cewek lagi stres itu butuh makan banyak ya jadi,,," ucapannya belum selesai langsung di skak oleh Mila.
"Tiaannnnnnnn! Siapa juga yang stressss, ihhh reseeeeee!" ocehnya manjaaaa.
Tian tertawa. "Pokoknya dimakan, abisin. Kalau gak, aku bawain yang lebih banyak lagi. Okeee. Yaudah aku mau makan siang dulu yaa. Dahh,,, Milaku." Tian menutup teleponnya.
"Eh,,, Tian. Aku belum selesaiiiii." Mila ngedumel melihat panggilannya terputus. "Bentar deh. Tadi dia bilang apa? Milaku?" mendengar itu pipinya langsung memerah macam kepiting rebus.
Mila memilih makanan yang ingin dia makan lalu sisanya dia simpan di kulkas. Menyilangkan kakinya di kursi dan memulai makan siangnya dengan senang hati. Sambil makan santai dia membuka akun sosialnya. Sedang asik-asiknya dia menyuap makanan. Tiba-tiba dia tersedak sampai menyemburkan makanan dari mulutnya. Mila menepuk-nepuk dadanya dan menenggak segelas air untuk melancarkan tenggorokkannya.
"Sumpah demi apa? Mereka beneran jadiannn? Seriusan? Gue cuma ngasal ngomong tadi, tapi kenapa sekarang jadi kenyataan gini?" racaunya tanpa henti. Mila terperanga melihat foto mesra Qila dan Bian di akun sosialnya. Mila langsung mengecheck akun sosial Qila dan benar saja. Mereka memasang foto yang sama. Hatinya memanas dia menyendok makanan dan melahapnya dengan beringas. Mila terbakar cemburu, dia mengetuk-ngetuk piringnya kesal. Dia berbicara dengan mulut penuh makanan. "Wah asli! Gila sih ini. Gila! Dasar cowok brengsek! Bisa-bisanya dia kasih harapan ke gue kemarin-kemarin dan sekarang dia jadian sama cewek lain. Kenapa juga gue bisa percaya omongan dia gitu aja! Brengsek! Lu udah bikin patah hati gue kedua kalinya!" Mila menengak air dan membanting gelasnya dengan keras.
Mila menyudahkan makan siangnya. Dia segera mencari kontak Arsya sahabat Bian dan segera meneleponnya. Mila ingin memastikan apa yang dia lihat di akun sosial itu benar atau tidak? "Duhhh,,, Arsyaa angkat dongggggg!" Mila berjalan mondar-mandir.
Di kantin Arsya yang sedang asik makan baso tak menghiraukan panggilan dari Mila. "Sabar, Mil. Gue makan dulu." gumamnya tanpa mengangkat telepon Mila dan melanjutkan makan.
"Aduhh, Milaaaaa. Apaan sihhhhhh? Ganggu gua makan tau gakkk!" rengeknya pada Mila. Akhirnya dia mengangkat telepon darinya. Arsya tak tahan dengan suara berisik dari ponselnya yang menyita perhatian satu kantin.
"Dari mana aja sih luhhhhh! Lama banget!" Mila yang baru saja bicara langsung menarik urat lehernya.
"Lu yang ganggu gue makan ya! Kenapa jadi elu yang ngegassss? Aduhh Mil,,,,, nanggung sumpah. Kelarin makanan gue dulu ya, nanti lu telepon lagi." Arsya merenggek.
"Diem, berisik deh luh. Jujur sama guee, mereka gak jadiann kannn, Syaaaaa?" Mila langsung tanya ke intinya.
"Hah apaan? Siapa? Lu maen nanya gitu aja tanpa cerita dulu apa." katanya terkejut. Dia menaruh lagi baso terakhir yang sudah menancap pada garpunya.
"Lu gak usah pura-pura gak tau dehhhhh. Cepetan kasih tau gueeee!" Mila makin nyolot tak karuan. Dia tak sabar mendengar kebenarannya.
"Ohhhhh diaaa?" Arsya mulai mengerti dengan alur pembahasan Mila. "Kayanya sih gitu!" sambungnya lagi. "Gue belum tanya langsung sih ke Bian tapi kayanya beneran deh. Hari ini aja mereka udah duduk barengan gitu." Arsya melahap baso terakhirnya.
"Seriusan? Gila ya temen lu!" Mila berdecak kesal lalu mematikan teleponnya.
__ADS_1
"Mil, Mil, ganggu gue makan buat nanya gituan doang. Gak ada yang lebih urgent apa?" Arsya meletakkan ponselnya di meja dan menenggak es teh manis dari gelasnya.
Arsya sendiri pun tak habis pikir dengan pikiran Bian. Baru aja satu hari pacaran sama Qila, dia udah ninggalin sahabatnya yang semata wayang buat makan sendirian di kantin. Padahal yang Arsya juga tau kalau Bian memang menaruh harapan besar pada Mila. Tapi entah kenapa pilihannya sekarang berubah pada Qila?
Mila benar-benar kecewa dengan Bian. Dia sangat membencinya saat ini. Mila jadi berpikir selama ini Bian hanya menjadikannya sebagai cadangan saja. Jika dia tidak berhasil dengan Qila. Mila pun menghapus nomor Bian di ponselnya dan menghapus juga pertemanan mereka di akun sosialnya. Mila menghapus semua pesannya dengan Bian. Mila juga yakin akan menghapus Bian dalam pikirannya. Walaupun di dalam hatinya masih tertinggal nama itu.
Bel pelajaran terakhir berdering. Tian dan yang lain masuk ke dalam kelas. Saat hendak masuk Tian berpapasan dengan Bu Siska di depan pintu. Tian bersalaman dengan Bu Siska dan membicarakan tentang masalah Mila. Dia ingin mengajak Bu Siska untuk bertemu dengan si Kakek yang waktu itu. Agar beliau bisa dengar langsung cerita yang sebenarnya dari si Kakek, sebagai salah satu bukti untuk Mila.
"Bu Siska mau kan nemenin saya ketemu si Kakek? Ibu harus kasih kesempatan untuk membuktikan yang benar." Tian memohon pada Bu Siska.
"Baiklah. Ibu akan menemuinya. Menghadap Ibu lagi sepulang sekolah." kata Bu Siska lalu bergegas pergi. Tian tersenyum senang. Akhirnya dia menemukan cara untuk membantu Mila menyelesaikan masalahnya.
Waktu berlalu dan bel pulang sekolah berbunyi. Tian langsung mendatangi Bu Siska di ruanganya dan menunggunya di depan pintu. Bu Siska keluar dari ruangan dan kaget melihat Tian sudah ada di depan pintu.
"Haduhhhh, Tian. Bikin Ibu kaget aja deh kamu. Kenapa gak ketuk aja sih?" Bu Siska mengelus dadanya, kaget. "Tian, tapi maaf yaaa. Ibu lupa ada janji dengan Anak Ibu. Besok deh ya, Tian. Ibu buru-buru sekarang." Bu Siska langsung pergi begitu saja.
Belum sempat Tian berucap apa-apa Bu Siska sudah pergi jauh dari pandangannya. Tian hanya menghela lesu. Tapi di lihat dari gerak gerik Bu Siska nampaknya mencurigakan. Seperti sengaja menghindar darinya. Entah benar atau hanya pikiran buruknya saja. Tian membuang jauh-jauh pikiran itu dan berniat menemui teman-temannya aja yang sudah menunggu di parkiran.
Tian berjalan melewati lapangan sekolah. Dia tengah memutar otak, mencari cara lain agar dapat memberikan bukti itu secepatnya pada Bu Siska. Di sela-sela itu pandangannya teralihkan pada sepasang insan yang sedang di mabuk asmara, yang sedang hangat-hangatnya seperti pantat ayam yang ingin menetaskan telurnya. Bian dan Qila berada di lapangan. Si cowok sedang asik mencetak gol ke gawang tanpa kiper dan lawan sedangkan si cewek memberikan semangat di pinggir lapangan dengan senyum sumringah.
Tian hanya berdecak dalam hati saat melihat mereka berdua. "Keputusan gue buat perjuangin dia ternyata gak salah. Kalau gak, gue pasti bakal jadi cowok pecundang yang nyerah gitu aja. Dan relain dia buat pecundang macem dia." Secepatnya Tian bergegas pergi meninggalkan pemandangan mengusik jiwa. Tian mencari teman-temannya di parkiran sekolah namun tak ada.
Lalu tak lama mobil sedan putih melintas di depannya dan terlihat Cila dan Bu Siska di dalamnya. Pikiran buruknya datang lagi dan langsung dia pergi ke motornya berniat menyusul mobil sedan putih yang di kendarai Bu Siska. Tian menarik gas dengan cepat. Tanpa dia tau jika teman-temannya sudah menunggunya dari tadi di depan gerbang sekolah. Yana dan yang lain melihat Tian pergi begitu saja meninggalkan mereka dengan terburu-buru.
"Lah si Tian ditungguin malah ninggalin." ujar Seno kesal.
"Dia buru-buru gitu sih, mau kemana?" tanya Amar heran.
"Kayanya dia ngejar mobil Bu Siska deh. Udah ayoo ikutin aja." Wahyu menyalahkan motornya di ikuti dengan yang lain.
Mobil Bu Siska melaju dengan cepat. Terjadi kejar-kejaran antara mobil Bu Siska, Tian dan yang lain tanpa mereka sadari satu sama lainnya. Tapi Tian tidak bisa menyusul mobilnya karna terhalang lampu merah. Dia kesal dan meninju speedometer motornya. Di dalam mobil Bu Siska dan Cila membahas masalah Mila. Tanpa ada yang tau ternyata Bu Siska adalah teman baik Maminya Cila. Makanya dia sering membantu jika Cila dapat masalah di sekolah. Ditambah lagi saat ini Bu Siska sedang butuh bantuan Maminya soal anaknya yang sedang dibantu untuk masuk kerja di perusahaannya.
"Cila, jangan sampai kamu buat masalah lagi seperti ini. Ini terakhir kalinya kamu buat ulah dan memfitnah temanmu. Ibu tidak bisa membantu banyak besok-besok. Jika ketahuan Ibu menutupi kebenaran, resikonya adalah jabatan Ibu di sekolah. Ibu bisa terancam dan tidak bisa dipercaya lagi. Jadi tolong kamu tidak bertindak aneh-aneh lagi lain kali." Bu Siska terlihat marah pada Cila.
"Tenang aja sih, Bu. Aman pokoknyaa. Oiya kata Mami, aku harus ambil mobil dulu di bengkel. Ibu antar aku ke bengkel dulu ya. Habis itu baru langsung ketemu Mami di tempat. Aku mau pergi sama Netha dan Diana ke cafe." Cila terlihat sangat santai seolah-olah hidupnya aman-aman saja dengan adanya Bu Siska di belakangnya.
__ADS_1
Ternyata dunia ini masih dipenuhi dengan orang yang main belakang !