
Di ruang guru, Tian dan si Kakek sedang berbincang dengan Pak Hamzah. Nama Kakek itu adalah Rahmat. Tian akhirnya berhasil menemuinya di tempat kemarin mereka bertemu. Memang kesehariannya melewati jalanan itu setiap pagi dan sore. Kebetulan juga jalanan itu menuju rumahnya. Tian menjelaskan pada Pak Hamzah perihal dia membawa Kakek Rahmat ke sekolah. Kakek Rahmat pun menjelaskan apa yang dilihatnya pada saat kejadian mobil Cila menabrak pohon. Setelah mendengar hal itu membuat Pak Hamzah jelas kaget dan kecewa. Kenapa bisa sampai Cila dan teman-temannya melakukan hal seburuk itu pada Mila.
"Baiklah, Tian dan Pak Rahmat. Terima kasih banyak sudah menjelaskan ini semua pada saya. Saya akan bicarakan lagi dengan Bu Siska karna memang masalah ini sudah masuk ke ruang BK."
"sama-sama, Pak. Semoga penjelasan saya bisa membantu, Nak Mila. Dia anak yang baik, Pak." tutur Kakek Rahmat tulus dari dalam hatinya.
Setelah saling berjabat tangan, Kakek dan Tian keluar dari ruang guru. Tian langsung mengantar Kakek sampai ke depan gerbang sekolah. Dia merasa sedikit lega setelah Kakek Rahmat menjelaskan semuanya pada wali kelasnya. Dia juga berharap masalah ini segera terselesaikan.
"Terima kasih banyak ya, Kek. Semoga hukuman Mila bisa segera dihapus dan secepatnya dia bisa kembali lagi ke sekolah."
"Nak Tian, kenapa gak bilang dari kemarin? Biar Kakek langsung bisa jelaskan ke guru kalian hari itu juga. Kasian juga Nak Mila difitnah seperti itu sama teman-teman sendiri." Wajahnya terlihat kecewa dengan perlakukan teman-temannya Mila.
"Ceritanya panjang, Kek. Tapi semoga setelah penjelasan dari Kakek masalah Mila bisa selesai dengan cepat." katanya dengan penuh harap.
Kakek pun berpamitan dan melanjutkan pekerjaannya mencari kardus-kardus bekas sebagai mata pencariannya setiap hari. "Kalau begitu Kakek pamit. Kalau penjelasan Kakek masih dibutuhkan temuin Kakek lagi di tempat biasa ya, Nak."
"Baik, Kek. Pokoknya sekali lagi terima kasih banyak." Tian menyalaminya.
Yana datang menghampiri Tian dan bertanya. "Siapa dia? Lu kenal dimana?"
Tian tersenyum, "Penyelamat, Mila."
Pak Hamzah sedang berkutik dengan telepon di mejanya. Sudah beberapa kali mencoba menelepon orang tua Mila namun tak ada jawaban sama sekali, dan selalu di luar jangkauan. Akhirnya dia beralih ke telepon rumah Mila dan berhasil di angkat.
"Assalamualaikum, benar dengan orang tua Aksara Mila?"
"Wa'alaikumsalam. Ini Mila, Pak. Orang tua Mila sedang ke luar kota dari kemarin."
"Pantas saja Bapak telepon tidak tersambung terus? Lalu kamu sendirian di rumah?"
"Iya, Pak. Maaf, orang tua saya belum bisa datang ke sekolah."
"Kalau begitu besok kamu masuk sekolah. Ada yang ingin Bapak bicarakan dengan kamu."
Perbincangan singkat itu pun berakhir. Mila menjadi gelisah dengan apa yang akan Pak Hamzah bicarakan besok dengannya. Tapi dia mencoba berpikir positif dan berdoa agar tak muncul masalah baru yang akan menambah penderitaannya. Mila lalu menelepon Ayah dan Ibunya namun panggilan berada di luar jangkauan. Entah kapan mereka akan kembali. Mila tak tau harus berbuat apa, jika mereka kembali dan mengetahui tentang masalahnya di sekolah.
Hari kedua di skors Mila merasa bosan di rumah. Dia berniat pergi ke toko buku hari ini. Koleksi novelnya sudah semua dibaca. Sebenarnya dia tak biasa pergi sendirian tapi karna ini masih jam sekolah, pasti teman-temannya juga sedang belajar di sekolah. Gak mungkin dia menyuruh salah satu temannya untuk bolos pelajaran hanya untuk menemaninya ke toko buku. Jadinya dia pergi sendirian ke toko buku dengan naik angkutan umum. Sekalian dia ingin berjalan kaki melatih otot kaki yang sudah terlalu dimanjakan turun naik motor Yana.
Baru berjalan beberapa langkah ke depan komplek, kakinya sudah berteriak manja. "Asli pegel juga! Panas pula! Ngarang juga gue tengah hari gini jalan kaki." keluh Mila dengan peluh yang mengalir deras di dahinya. Untung saja tak lama angkot datang dan dia segera naik.
Sudah lama sekali dia tidak menggunakan angkutan umum. Sedikit panas dan berdesakan. Dia juga salah kostum dengan menggunakan jaket jeans yang cukup membuat bajunya basah kuyup karna keringatan. Mila turun dari angkot dan membayar ongkosnya. Sambil berjalan masuk ke toko buku, di memasukkan dompetnya ke dalam tasnya. Tapi tak disangka oleh Mila, seseorang menabraknya dengan sengaja yang membuat dia tak sadar jika dompetnya terjatuh dan di ambil.
"Hati-hati dong, Mas." tegur Mila.
"Maaf, Mba." laki-laki itu menundukkan kepalanya dan segera pergi dengan terburu-buru.
Mila merasa ada yang aneh. Dia memeriksa tasnya dan benar saja dia tak melihat dompetnya. Dia melihat ke jalan tapi tidak ada juga. Lalu dia berteriak, "JAMBRET,,,,,,,,!"
Mila berlari mengejar orang yang tadi menabraknya. Cowok itu sadar jika ada yang mengejarnya lalu dia berlari dengan cepat secepat kilat. Mila tak mau kalah, dia terus mengejarnya sampai kehabisan nafas dan hanya bisa teriak jambret. Tiba-tiba seorang cewek dengan gaya rock n roll berlari dan mengejar si jambret itu. Untungnya dia jago lari dan dapat menyusulnya. Terjadi kejar-kejaran dan membuat si jambret cukup kelelahan hingga bisa di tangkap oleh cewek itu.
__ADS_1
"Maling luu,,,,,!" cewek itu menarik kerahnya.
"Ampun, Mba." Dia berjongkok dan melepaskan dompetnya.
Mila datang dengan nafas yang terengah-engah. Dia kelelahan mengejar mereka berdua. Cewek itu memberikan dompetnya ke Mila. Namun saat melihat ada celah si jambret, mendorong cewek itu sampai terjatuh dan dia berhasil kabur. Mila sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengejarnya dan membiarkanya lolos begitu saja.
"Jambret Sialan!" cewek itu kesal karna tak berhasil membawanya ke kantor polisi. Kondisi jalanan pada saat itu juga tak terlalu ramai karna masih pagi juga.
Melihat cewek itu terluka membuatnya merasa bersalah. "Maaf ya, Kak. Gara-gara tolongin aku tangannya jadi luka." Mila memegang tangannya.
"Ah gpp, santai aja. Dompetnya aman kan? Coba check?" kata dia cuek, tak memperdulikan luka di tangannya.
"Aman kok, makasih ya. Oya di obatin dulu sini tangannya. Aku bawa plester." Mila membuka tasnya.
"Gak usah nanti juga baik sendiri." Melepaskan tangannya dari Mila.
"Jangan gitu nanti infeksi." Mila menarik lagi tangannya dan membersihkannya dengan tisu. Mila meniup-niup lukanya agar tak terasa perih saat dibersihkan. Lalu memasangkan plester pada lukanya. Melihat tingkah Mila membuat wanita itu tersenyum simpul. "Oke, sudah."
"Thank you." dengan santainya cewek itu langsung pergi.
Mila dengan cepat mencegahnya. "Mau kemana? Aku belum balas pertolongan kamu?"
"Gak perlu, ini udah cukup." dia mengangkat tangannya yang terpasang plester dari Mila. Lalu mereka tertawa bersama.
"Gimana kalau aku traktir makan?" usul Mila.
"Makan ini ya, kamu suka gak?" Mila menunjukkan menu yang dipilihnya.
"Oke." jawabnya singkat.
"Oya kita belum kenalan. Aku, Mila." Mila mengulurkan tangannya.
"Febby." menjabat tangan Mila.
Pesanan sudah siap dan Mila membawa baki berisi pesanan mereka berdua. Sepanjang mereka makan, mereka saling berkenalan dan bercerita tentang sekolah mereka. Usai makan Mila mengajaknya ke toko buku tapi Febby menolak. Dia tak bisa karna ada urusan lain. Setelah keluar dari Resto, Mila berterimakasih lagi pada Febby dan mereka pun saling berpamitan. Saat Mila menoleh ke belakang ternyata Febby sudah menghilang dengan cepat. Mila tersenyum dan bersyukur bisa bertemu dengannya hari ini. Mila berpikir beberapa hari ini Tuhan sudah sangat baik dengan mengirim orang-orang baik untuk menolong dirinya.
Mila masuk ke toko buku dan seperti biasa memilih spot favoritenya. Tapi tidak sampai setengah jam, moodnya tiba-tiba hilang untuk berlama-lama di toko buku. Dia membawa satu buku untuk dibacanya di rumah. Mila pergi ke kasir dan membayarnya. Dia langsung ingin pulang tapi rasa takutnya datang. Akibat kejadian tadi membuatnya enggan untuk naik angkot lagi. Mila merogoh tasnya dan berniat menelepon Yana untuk menjemputnya. Namun ponsel Yana tak dapat di hubungi begitu juga dengan ponsel Tian. Entah sedang sibuk apa mereka berdua. Mila tak menelepon yang lain dan memutuskan untuk pulang naik taksi.
Cila and the genx berjalan menuju parkiran sekolah. Yana sedang menunggu Aya di depan gerbang sekolah. Qila tak terlihat bersama dengan mereka. Dia sudah pulang lebih dulu bersama dengan Bian. Aya berjalan dengan tak bersemangat dan berjalan paling belakangan dengan wajah lesu.
"Eh kita ke salon dulu ya. Gue pengen keriting rambut. Besokan ada pertandingan futsal. Gue pengen tampil cantik sebagai ketua cheerleader." kata Cila masuk ke mobilnya.
"Tapi Cil, kita kan udah janjian ama Qila buat ngerjain tugas di rumahnya." Aya mengingatkan janji mereka tadi di kelas.
"Bentaran doang napa sih, Ay,,," kata Netha kesal dengan prinsip Ana yang selalu tepat waktu.
"Tau nih Aya, gak seru banget deh ah. Lagian juga si Qila paling pacaran dulu sama si Bian." kata Diana mulai mengompori.
Membuat Cila yang mendengar itu jadi kesal. "Udah-udah, kenapa pada ribut sih? Lagian lu ya, Ay. Kaku banget sih. Nanti tinggal telepon Qila." kata Cila memarahi Aya. Dia cemburu karna sekarang Aya lebih condong ke Qila ketimbang dirinya.
__ADS_1
"Gue naik ojek aja deh. Gue mau langsung ke rumah Qila aja." Aya keluar dari mobil Cila.
"Eh Ay,,," Diana menahannya.
"Udah biarin aja lah, Dian. Udah tutup cepet, keburu rame salonnya." kata Cila. Dia marah pada Aya yang sangat menyebalkan. Mereka pun pergi meninggalkan Aya sendirian di parkiran sekolah.
Aya kecewa dengan teman-temannya. Mereka selalu saja bertingkah sesuka mereka, terutama Cila. Selalu mengorbankan perasaan Ayana ataupun Aqila. Diana dan Netha yang dirasa Aya, telah merebut Cila darinya. Cila selalu terlihat jalan bersama mereka berdua tanpa memberitahu dia dan juga Qila. Itu yang membuat Aya sekarang lebih condong ke Qila dari pada Cila. Sepertinya terjadi saling cemburu di pertemanan mereka. Cila memang seperti itu, jika sudah dekat dengan teman yang baru. Maka dia akan melupakan yang lama. Pasti kalian juga pernah punya temen yang kaya gitu kan? Cila dan Aya sudah kenal dekat lebih dulu. Sejak mereka pernah satu sekolah di bangku sekolah dasar. Jadi mereka sudah jauh berteman sebelum kenal dengan Netha, Diana dan Qila.
Yana melihat Aya yang turun dari mobil Cila dan berjalan keluar sekolah. Dia langsung buru-buru menghidupkan motornya. Aya sendiri masih bingung, dengan apa dia bisa sampai ke rumah Qila. Aya bingung saat Yana melintas di hadapannya dan menghentikan motor vespa andalanya lalu menyapanya.
"Kenapa sendirian?" seolah tak mengetahui situasi.
"Emm,,, iya." jawabnya singkat.
Yana mematikan mesin motornya. "Mau tumpangan?" katanya menawarkan diri.
"Gak usah." tolaknya langsung. Takut tolaknya menyinggung hati Yana, dia pun melaratnya. "maksudnya gue naik ojek aja." tolaknya lebih halus.
"Kayanya sih bentar lagi hujan." Yana mengalihkan pandangannya ke atas.
Aya melihat awan yang memang tiba-tiba memendung seketika. Lalu dia berpikir untuk menerima lagi tawaran Yana atau tidak.
"Yuk,,," ajaknya sebelum Aya menolak lagi tawarannya. Dia buru-buru memberikan helmnya pada Aya.
Aya dengan ragu-ragu menerima helm dari Yana. Dia masih mencari cara agar bisa menolak tawarannya kali ini. Tapi tetesan air dari langit mulai turun membasahi bumi. Aya tak punya pilihan lain. Dia langsung memakai helm dan naik ke motor. Yana pun menarik gas motornya dengan cepat karna tak ingin hujan menyerbu mereka dengan derasnya. Yana mengendarai vespa secepat mungkin agar bisa mengocek air hujan. Namun gerimis berubah menjadi hujan deras membuatnya tak mungkin melanjutkan perjalanan. Yana tak memikirkan dirinya sendiri. Ada Aya dan buku-buku sekolah mereka yang harus di pikirkan. Jika di paksakan maka percuma. Semuanya akan basah kuyup. Yana melihat halte di depan dan menghentikan motornya di sana. Aya dan Yana langsung turun dari motor dan berteduh di halte.
"Sorry ya, Aya. Jadi kebasahan." kata Yana melihat Aya membersihkan air dari tangannya.
"Gpp kok." Aya mengambil sapu tangan di tasnya. "Nih lap dulu, basahkan." Memberikan sapu tangannya pada Yana.
Yana menerimanya dan langsung membersihkan wajah dan juga bajunya. Setelah selesai dia mengembalikan sapu tangan itu tapi Aya terdiam dan tidak mau menerima sapu tangannya. Melihat ekspresi Aya, membuatnya mengerti. "Oh sorry, kotor ya. Nanti gue cuci dulu ya." memasukkan sapu tangan ke saku celananya.
Hujan deras sudah turun hampir setengah jam lamanya, membuat perut mereka berdua keroncongan. Suara cacing-cacing di perut Aya juga saling bersautan sampai terdengar di kupingnya dan Yana. Mereka berpandang dan tertawa malu. Suara di perut Aya membuat kecanggungan di antara mereka luntur seketika.
"Laper ya?" tanyanya sambil masih tertawa.
"Iya" dibalas senyum manis Aya yang sangat jarang terlihat dan cukup membuat Yana terkesima. Sadar dirinya sedang diperhatikan, Aya menjadi salah tingkah. "Kayanya masih lama ya hujannya?" mengulurkan tangannya ke air hujan yang sedang turun.
"Kayanya bakalan awet sih. Lu gpp telat pulang? Atau mau coba nerobos hujan aja?" katanya memberi saran. Dia siap jika harus mengantar Aya walau harus menerobos hujan yang deras ini.
"Masalahnya gue bukan mau pulang. Gue harus ke rumah Qila buat ngerjain tugas bareng. Hp gue juga mati, gak bisa kabarin dia kalo gue dateng telat." Aya mengecheck daya ponselnya yang tinggal 3%. "Tunggu bentaran lagi deh, kalo gak reda juga gue naik taksi aja." katanya lagi.
"Yaudah gue tungguin deh, kalau lu emang mau naik taksi ke rumah Qila."
Sepertinya semesta memang tak mendukung rencana Yana kali ini. Hujan masih saja turun dengan derasnya membuat Aya mengambil keputusan untuk naik taksi saja ke rumah Qila. Aya sebenarnya tak tega harus meninggalkan Yana yang setia menemaninya menunggu hujan reda. Tapi dia juga tak ingin membuat Qila menunggunya lama tanpa kabar. Yana menghentikan taksi yang lewat dan Aya berpamitan padanya. Lalu masuk ke taksi dan berlalu pergi.
Dalam hatinya ada rasa tak enak hati pada Yana yang sudah sangat baik padanya. Yana melihat Aya pergi hanya bisa pasrah. Jika rencananya kali ini gagal untuk mencari informasi darinya lagi. Yana terduduk lesu di halte sambil masih menunggu hujan yang tak kunjung reda. Belum lagi cacing-cacing yang ada di perutnya terus berteriak meminta jatah makan mereka.
Di bawah basahnya langit pasti Tuhan punya rencana yang lebih baik.
__ADS_1