
Mila terlihat mondar-mandir di pojok kantin sekolah. Dia gelisah akan sesuatu. Mila terus berjalan ke sana kemari sambil sibuk memainkan lolipop di mulutnya. Seno dan Amar sampai pusing melihatnya yang terus saja bergerak macam gangsing.
"Mil,,,! Ngapain sih? Puyeng tau gak liatnya!" Amar menggebrak meja, membuat Tian dan Wahyu yang sedang makan jadi tersedak.
"Weh,,,Mar! Bikin kaget lu. Gak liat apa gua lagi makan?" Wahyu segera membuka tutup botolnya dan dengan cepat menenggak air. Untuk menyelamatkan kerongkongannya yang perih. Sedangkan Tian berusaha menelan pelan-pelan makanannya.
Seno masih memperhatikan Mila dengan menaruh dagunya di tangan, macam personil cerrybell. "Mil, kenapa lagi emang?" sambil matanya berkedip seperti kelilipan serangga. Tian menoleh dan langsung menutup mata Seno dengan tangannya.
"Berisik dah luhhh!" Mila melepas lolipopnya dan menyumpal mulut Seno. "Cerita deh sama gue! Ada apa sebenernya dengan Yana dan si Ayana? Kalian tau kan? Gak usah tutup-tutupin!" Mila bertolak pinggang sambil matanya melototi teman-temannya. Tidak ada yang berani menjawab. Mereka semua bungkam dan mengalihkan pandangannya. Mila memperhatikan teman-temannya dengan curiga. Mereka seperti sengaja menutupi itu darinya.
Yana datang menghampiri mereka. "Wey! Berlimaan bae." katanya sambil cengar-cengir dan mencomot gorengan dari tangan Tian. Tak ada yang menyauti ucapan Yana. Mereka semua membisu, Yana melihat teman-temannya yang memasang muka tegang. Yana melihat Seno dan dia memberikan kode alis ke Yana sambil melirik ke Mila. Yana menutup mulutnya rapat-rapat dan duduk di sampingnya.
Seno dan yang lainnya mengepalkan tangan dan bersuara lirih, "Fighting"!
Yana menelan ludah dan setengah berbirik. "Mila,,,," menoel tangan Mila.
Mila sudah berancang-ancang berteriak, dia menarik napasnya dalam-dalam. "APA,,,!" Yana yang sudah menduga itu secepatnya menutup telinganya diikuti dengan yang lain. Mila nyerocos tanpa henti menanyakan ada apa sebenarnya dengan dia dan Aya. Kenapa dia bisa dekat dengannya sekarang? Kenapa dia membelanya tadi? Kenapa kemarin Aya bersamanya, di rumahnya? Apa yang Mila tak ketahui? Kenapa Yana tak cerita dengannya? "JAWAB,,,,,!" teriak Mila setelah selesai dengan pertanyaan panjangnya.
Penderitaan kuping mereka akhirnya berakhir. Yana menenggak air minumnya dulu sebelum menjelaskan. Ketika mulutnya sudah terbuka untuk mengucap, sayangnya bel masuk berbunyi. Yana memilih untuk kabur ke kelas dan tidak jadi menjelaskan semuanya. Melihatnya pergi membuat Mila naik darah dan langsung mengejarnya. Tian dan yang lain sangat menyayangkan ini, harusnya mereka bisa melihat Yana di semprot oleh ocehan Mila yang sangat bawel bak beo itu kalau sedang marah.
Terjadi kejar-kejaran antara Yana dan Mila. Yana sengaja menggoda Mila agar tidak terlalu fokus dengan masalahnya dengan Aya. Mereka kejar-kejaran dari lorong-lorong sekolah sampai lapangan. Menjadi pusat perhatian anak-anak yang masih ada di luar kelas.
"Mil,,, ampun! Engap gue!" Yana mencoba bernegosiasi sambil terus berlari.
Mila yang sudah mulai kehabisan nafas tapi masih gencar mengejarnya dan menolak untuk menyerah. "Jelasin dulu!"
Tian dan yang lain melihat mereka dari depan kelas. Mereka masih terus saling mengejar. Bian keluar dari kamar mandi, dia melihat Yana dan Mila berlarian di lapangan. Malihat Mila masih semangat mengejarnya, Yana makin mengerjai Mila dengan menambah kecepatannya. Mila sudah mulai kelelahan, dia mengurangi kecepatannya. Saat ingin berhenti kakinya tergelincir dan jatuh di lapangan. Sontak membuat anak-anak yang melihatnya berteriak kaget.
"Awas,,,,," teriak mereka yang melihat Mila terjatuh.
Mendengar teriakan itu membuat Bian melihat ke arah lapangan lagi dan benar Mila terjatuh. Buru-buru dia berlari ke arah Mila. Yana yang sadar Mila sudah tak mengejarnya, berhenti dan menarik napas. Bian datang pada Mila dan menanyakan keadaannya. Yana melihat Bian mendekati Mila sontak langsung berlari. Tian yang cemburu melihat wanitanya didekati Bian langsung berlari juga ke Mila.
Mila meringis kesakitan, dia mengusap-ngusap bokongnya. "Aduhhhhhhh,,,! Yana brengsek!" teriaknya.
Bian dengan sigap datang, "Mil, gpp? Sini gue bantu." Bian menarik tangan Mila dan menaruh di pundaknya bersiap untuk mengangkatnya tapi tangannya ditepis oleh Yana.
"Gak usah gue aja!" Yana mengambil alih tangan Mila. Bian masih belum melepaskan tangannya dari Mila. "Lepas! Ngapain masih di pegang!" tak terima tangan sahabatnya di pegang oleh Bian.
"Aduh udah dongggg, sakit nih!" Mila merintih kesakitan.
Genx AxePink yang kepo ikut keluar kelas dan melihat drama perebutan di lapangan. "Liat Tuan Putri kelas kita macem Cinderella di siang bolong!" kata Cila dengan menyilangkan tangannya. Aqila melihat Bian yang masih peduli dengan Mila.
Tian mendengar mereka cekcok mengambil alih Mila dari tangan Yana dan Bian. "Gue aja ya." sambil tersenyum ke Bian. Yana melepaskannya dengan senang hati tapi tidak dengan Bian. Dia masih bersih kukuh ingin dirinya saja yang menolong Mila. Terjadi tatap menatap antara keduanya.
Mila yang melihat mereka hanya bisa menghela napasnya dan hanya mengucap."Tian" dan dia cukup mengerti maksud Mila. Tian langsung menggendong Mila agar secepatnya bisa lepas dari Bian.
Seluruh anak-anak bersorai senang melihat gentlenya Tian. Mila merangkul Tian untuk meyakinkan mereka semua terutama Bian. Jika dia sudah tidak peduli padanya. Yana tersenyum sinis ke arah Bian dan meninggalkannya sendiri di lapangan. Tian mendudukan Mila di kursinya lalu memberikan air untuknya. Anak-anak masuk ke dalam kelas. Qila masih memperhatikan Bian yang masih berdiri di lapangan. Kenapa cinta segiempat ini selalu saja terjadi. Duhhhh,,,,!
Jam sekolah telah usai
Mila masih merasakan sakit pada bokongnya, Tian memperhatikannya dengan cemas. Dia masih geram dengan Bian yang masih saja mendekati Mila. Tanpa malu sedikit pun. Dia harus bicara dengan Bian untuk tidak terus mendekati Mila. Melihat mimik wajah Tian seperti itu, Yana cukup mengerti yang dirasakannya. Yana mencoba mencairkan suasana tegang ini.
"Hari ini nonton yuk! Udah lama kita gak nonton." Yana membuka obrolan.
"Ayoooooo! Kita nonton di rumah lu ya, Yan. Sekalian gue mau ketemu sama adik lu." kata Wahyu bersemangat.
"Yeeeeee! Kampret! Gak ada! Ade gue kerja kelompok!" Yana sebagai kakak yang posesif membentengi laki-laki yang ingin mendekati adiknya.
"Tau lu, Way. Dah ayoo, Yan. Tenang gue yang jagain ade lu!" saut Seno seperti pahlawan bertopeng.
"Lu lagi,,,!" menoyor wajah Seno. "Mending sama si Amar!" mengetahui Amar yang lebih baik daripada mereka berdua. Mila dan Amar hanya tertawa melihat pembicaraan teman-temannya. Tian masih diam tak mengikuti obrolan teman-temannya.
"Yaudah ayooo,,,!" Yana menuruti permintaan teman-temannya untuk nonton di rumahnya. Lalu mereka dengan senang hati menerima tawaran itu tapi tidak dengan Tian.
"Gue nyusul ya." Tian pergi sambil menarik tangan Mila masuk ke mobilnya.
"Eh, Tian mau kemana?" Mila tidak mengerti mau di bawa kemana dia.
"Tian,,,, mau kemana lu?" teriak Seno.
"Udah biarin aja. Nanti juga dia dateng bawa makanan." Yana merangkul Seno untuk segera naik ke motornya diikuti oleh Amar dan juga Wahyu.
__ADS_1
Entah kemana Tian akan membawa Mila. Raut wajahnya sangat serius membuat Mila saja takut untuk menanyakan kemana mereka akan pergi. Mila pasrah kemana Tian akan membawanya. Tian membelokkan mobilnya ke sebuah toko sepatu tua. Walaupun terlihat tua tapi sepatu-sepatu di sana mempunyai kualitas yang oke banget. Mobil Tian berhenti di depan toko. Mila bingung mengapa Tian membawanya ke toko sepatu. Padahal belum lama ini dia sudah membeli sepatu futsal dan juga membelikannya sepatu.
"Tian, mau beli sepatu lagi?" tanyanya saat turun dari mobil. Tian tak menjawab dan segera masuk ke dalam toko. Mila mengikutinya masuk ke dalam.
Melihat isi dalam toko sepatu itu membuat Mila takjub. Deretan sepatu bagus dengan kualitas terbaik ada di sana. Memang ya kita gak bisa melihat apapun dari luarnya saja. Mila berkeliling melihat-lihat sepatu. Tian mencari pemilik toko tapi tidak terlihat mungkin sedang keluar. Tian mencari sepatu untuk dia berikan pada Mila. Tian menemukan sepatu yang cocok untuknya dan menarik Mila duduk di sofa.
"Tian, mau ngapain?" Tian membuka sepatu Mila dan mencoba memasangkan sepatu yang di pilihnya. Tian menggelengkan kepalanya, ternyata sepatu itu tak cocok untuknya. Mila hanya diam melihat tingkah Tian yang menjejerkan sepatu untuk dia coba. Saat Tian ingin memasangkan sepatu yang lain, Mila menolak. "Tian! Ngapain sih? Masa aku coba semua? Lagian buat apa sih?" sebenarnya lama-lama Mila sungkan karna di perlakukan bak cinderella olehnya.
"Sepatu kamu kayanya udah licin deh. Aku gak mau kamu jatuh kepleset lagi kaya tadi." Tian bertolak pinggang sambil ngedumel tak karuan.
Mila membalasnya dengan tawa. "Tian, Tian. Ini sepatu juga masih bagus, udahlah gak usah. Tadi mungkin kecapean ngejar Yana jadi oleng trus kepleset deh." Mila memasangkan sepatu lamanya lagi.
"Pokoknya sepatu kamu harus ganti. Terserah deh kamu pilih yang mana." Tian kekeh Mila harus mengganti sepatunya. Sebenarnya itu hanya alasan karna dia cemburu karna Bian tadi menolong Mila.
"Lagian kan, kamu baru beliin aku sepatu kemarin. Masa udah beliin aku sepatu lagi?"
Terdengar suara pintu bergeser dan pemilik toko sepatu itu datang. "Eh ada pengunjung? Cari sepatu apa?" seorang lelaki paruh baya datang dari balik ruangan tersembunyi.
"Hallo." sapa Mila melambaikan tangannya ke pemilik toko.
"Sore, Om Bima." Tian menghampirinya dan bersalaman dengannya.
"Oh, Tiandra toh. Apa kabar kamu?" melihat anak temannya datang berkunjung. "Sudah lama sekali kamu tidak mampir ke sini." Om Bima menepuk bahu Tian.
"Baik. Om, bagaimana, sehatkan? Iya kebetulan lagi cari sepatu untuk teman." Tian menunjukkan pandangannya ke Mila.
"Oh iya, iya. Om, baik. Sudah temukan yang cocok?" Om Bima menghampiri Mila dan dia menyalaminya.
"Mmmh,,, belum, Om." Mila tersenyum padanya.
"Oya, Om baru aja dapat koleksi yang bagus. Sepertinya cocok untuk kamu. Sebentar ya," Om Bima masuk ke dalam ruangan tersembunyi itu lagi.
Mila dan Tian diam di sofa sambil menunggu. Tak lama Om Bima datang dengan membawa tas. Lalu dia membuka tas yang berisi sepatu itu di depan Mila dan Tian. Mereka terpukau begitu melihat sepatu yang di pilihkan oleh Om Bima. Begitu cantik dan elegan. Di belakang sepatu ada inisial huruf M yang membentuk hati.
"Ini bagus banget! Ada inisialnya juga." kata Mila yang terlihat senang dengan sepatu itu. Dia meraba inisial tersebut dan sangat menyukai sepatu pilihan Om Bima.
"Coba dong." pinta Om Bima untuk dicoba Mila.
Mila sedikit sungkan karna dia yakin sepatu ini pasti mahal. Dari segi Om Bima menyimpannya saja sudah berbeda dari sepatu-sepatunya yang lain. Belum lagi packagingnya yang cantik dibalut dengan rapi. Mila ragu-ragu untuk mencobanya. Dia merasa kakinya tak pantas ada di sepatu itu.
"Iya, coba dulu." Om Bima pun menantinya.
Tian tau Mila sungkan lalu dia memutuskan untuk memasangkan sepatunya. Mila sedikit menolak tapi Tian memaksanya. Setelah sepatu itu terpasang juga di kaki Mila. Tian tersenyum puas karna sepatunya sangat cocok untuk Mila. Senyum Om Bima juga mengambang puas. Mila pun sangat menyukainya. Dia tersenyum melihat betapa cantiknya sepatu itu ada di kakinya. Di berkaca dan berputar. Mungkin itu jadi kali pertama dia mencoba sepatu mahal.
"Wah cocok sekali. Kamu suka?" Om Bima menanyakan apakah Mila menyukainya. Dijawab senyuman puas dari Mila.
"Aku beli ya, Om." Tian mengeluarkan debit dari dompetnya.
"Tian. Apaan sih? Gak usah. Kemarin kan udah beliin aku sepatu." Mila menahan tangan Tian yang memberikan kartu debitnya ke Om Bima.
"Udah gpp. Ini kan buat sekolah. Kemarin kan buat sepatu main." Tian melepaskan tangan Mila dan memberikannya ke Om Bima untuk segera digesek.
"Tian,,,! Ini pasti mahal." Mila menahannya lagi dan keceplosan.
Membuat Om Bima tertawa melihat mereka berdebat. Mila jadi tersipu malu. "Kalian ini. Ya sudah gini aja, Om kasih diskon ya." Om Bima mengambil kartu dari tangan Tian yang di tahan Mila. "Jarang-jarang loh, Mila. Tian bawa teman wanitanya ke sini. Biasanya datang bareng ayahnya atau bundanya. Om sama Ayahnya Tian itu sudah kenal lama. Ayahnya Tian teman Om waktu kuliah sampai sekarang." Om Bima menceritakan sedikit sejarah pertemanannya dengan Ayah Tian. "Nah ini sepatunya dan sudah Om diskon. Jadi Mila tenang aja gak akan kemahalan." Om Bima memberikan sepatunya ke Mila dan mengembalikan kartunya pada Tian. Om Bima lalu memberikan sebuah petuah. "Wanita cantik itu harus pakai sepatu cantik juga. Supaya itu jadi pendorong dan penyemangat untuk hari-harinya menjadi cantik juga." katanya sambil merangkul Mila.
"Terimakasih, Om." katanya sambil tersenyum.
"Kalau gitu, Tian pamit ya, Om. Makasih sepatunya." Tian dan Mila menyalami Om Bima.
"Salam untuk Ayah dan Bunda ya, Tian. Lain kali mampir lagi." Om Bima mengantar mereka sampai keluar toko. Mereka naik ke mobil dan melambaikan tangannya ke Om Bima.
Sebelum pergi ke rumah Yana, Tian mampir dulu untuk membeli pizza. Teman-temannya pasti sudah menunggu mereka lama dengan perut keroncongan. Tian memesan 3 loyang pizza berukuran besar untuk teman makan menonton film. Mila menunggu di dalam mobil karna harus telepon ibunya untuk izin pulang telat. Setelah memesan Tian memilih menunggu pesanannya jadi di dalam mobil saja.
"Tunggu bentar ya, Mil." Tian masuk ke dalam mobil.
"Iya, gpp." Mila sudah selesai menelepon ibunya.
"Sudah izin?" Tian menyenderkan badannya di kursi mobil.
"Udah. Makasih ya sepatunya." katanya sambil tersenyum. Tian mengelus kepalanya. Mila membuka lagi tas sepatu itu dan melihat bon di dalamnya. "Astaga Tian! Ini udah di diskon aja masih segini?" Mila terperangga dengan nominal yang harusnya bisa membeli lima sepatu sekolahnya.
__ADS_1
"Udah gpp." Tian merebut bonnya dan membuagnya. Dia lupa membuang itu sebelumnya. Jarang-jarang juga kan aku beliinnya. Yang penting kamu aman gak akan jatuh kepleset lagi."
Sebelum mereka berdebat lebih panjang, pelayan pizza datang membawakan pizza pesanan Tian. Mereka berdua melanjutkan pergi ke rumah Yana. Mila juga membelikan minuman untuk teman makan mereka. Tak lupa membelikan untuk Yuna. Macam orang tua yang pulang kerja dan membelikan makanan untuk anak-anaknya yang menunggu di rumah. Sampai juga mereka dirumah Yana. Sebelum turun dari mobil Tian menahan tangan Mila untuk menanyakan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Mila.
"Boleh gak kamu jangan deket-deket lagi sama Bian?" pinta Tian.
"Kamu cemburu?" goda Mila sambil tertawa.
Tian terdiam tak menjawab. Mila hanya menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan permintaannya. Lalu mereka masuk ke rumah Yana dengan menenteng makanan dan minuman untuk mereka semua. Dan disambut penuh semangat oleh mereka yang sudah menunggu lama.
"Weyyy! Dateng juga lu berdua. Lama banget!" Seno rusuh karna sudah kelaparan.
Dalam sekejap dua loyang habis seketika. Tim makan macam Seno, Wahyu dan Yana paling juara soal menghabiskan makanan yang ada. Film yang ditonton cukup seru sampai membuat mereka fokus menonton dan melupakan tugas yang akan di kumpulkan besok. Mila terlihat lelah dan tertidur di sofa. Tian meluruskan badannya dan menyelimutinya. Setelah film berakhir mereka terlihat mengantuk.
"Assalamualaikum, Yuna pulang." teriak Yuna datang dengan muka lelah.
Mendengar suara Yuna, Wahyu dan Seno merapikan penampilanya yang sudah berantakan.
"Kok telat?" kata Yana dengan nada posesifnya.
"Ngerjain tugas! Berantakan banget sih, Bang? Beresin lu yah, awas aja!" ancam Yuna dengan cuek tak memperdulikan teman-teman kakaknya. Lalu menggeloyor pergi ke kamarnya.
"Siap, Yuna." teriak Wahyu dan Seno kompak.
"Yeeee!" Yana menutupi wajah Wahyu dan Seno yang menatap adiknya dengan bantal.
"Napa sih lu, Yan?" Seno kesal Yana tak merestuinya untuk mendekati adiknya.
"Tau lu. Kan enak kalo kita iparan." celetuk Wahyu.
Membuat Yana yang sedang minum menyemburkannya ke muka Seno dan mereka menertawakan hal ini. Yana meminta maaf karna tak sengaja melakukannya.
"Sorry, Sen. Gak sengaja." katanya sambil tertawa melihat wajah Seno.
"Asli, Yan! Bau, sialan!" Seno segera mengusap wajahnya dengan Tisu. Wahyu, Amar dan Tian tertawa terbahak-bahak.
Yuna keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka. Seno dan Wahyu melihat ke arah Yuna dengan tatapan terpesona. Kenapa tidak! Yuna keluar dari kamarnya hanya menggunakan baju tali satu dengan celana hawai. Menampilkan lekuk tubuhnya yang sexy dan juga rambut yang dicepol membuat leher panjangnya terlihat. Kulit putih mulus menjadi pelengkapnya. Melihat Wahyu dan Seno yang diam bengong, Yana pun melihat ke arah sumbernya dan itu ternyata dari Yuna.
"Ada makanan gak? Laper nih." Yuna datang meminta makanan.
"Lu bisa gak, pake baju yang bener dikit kalo ada temen gue! Gak tau apa di sini banyak setan!" melototi adiknya dan menyuruh dia masuk lagi ke kemarnya.
"Yaudah bagi sini. Mau lanjutin tugas juga gue." bersikap cuek tak peduli.
"Hai, Yuna." sapa Seno dan Wahyu yang melambaikan tangan padanya. Lalu di balas Yuna dengan santai. Mereka berdua pun langsung klepek-klepek begitu dibalas oleh Yuna.
"Nah kan! Setannya nyapa! Nih udah sana masuk, cepet!" Yana memberikan setengah loyang pizza pada adiknya
"Aku setan baik kok, Yun." guyon Wahyu diiringi tawa teman-temannya.
"Nih, minumannya. Tadi Mila bilang ini untuk kamu." Amar memberikannya pada Yuna dan dia menerimanya dengan tersenyum manis padanya. Sepertinya Yuna menyukai Amar pada pandangan pertama.
"Udah gak usah pake senyam-senyum! Dia udah punya pacar! Udah cepetan masuk sana!" Yana mendorong adiknya untuk segera masuk ke kamarnya.
Yuna berbalik badan untuk melihat ke arah Amar lagi. Tapi Amar sudah tak melihat ke arahnya yang terlihat malah Seno dan Wahyu. Setelah Yuna masuk ke dalam Yana memperingatkan Seno dan Wahyu dengan mengepalkan tangannya pada mereka berdua.
"Yan, gue DP lah adek lu." Wahyu lagi-lagi mengeluarkan celutakkannya membuat mereka semua tertawa terkekeh.
"Lu kira ade gue Motor!" Yana duduk lagi dengan mereka.
"Yaudah lu mau DP berapa?" Seno ikut-ikutan.
"Ahhh, udah lu pada pulang dah! Udah soreeee. Cabut-cabut!" Yana menyuruh mereka segera pulang dari rumahnya.
"Yah, Yan belom juga makan malem." Wahyu yang tak rela meninggalkan rumah Yana.
"Ga ada!" Yana mendorong dia keluar dari rumahnya.
"Pamitan dulu bentar, Yan." Seno ingin masuk lagi ke rumah Yana untuk berpamitan ke Yuna. Namun ditahan oleh Yana dan Amar yang juga menarik kerahnya.
__ADS_1
Seno, Wahyu dan Amar akhirnya pulang duluan. Tian masih di rumah Yana karna menunggu Mila bangun dari tidurnya.
Persahabatan seru itu jika kalian menjalaninya dari hati,,,!