
Mila mengikat tali sepatunya di teras rumah. Dia sudah terlihat rapi dan bersiap untuk pergi. Yana juga sudah datang untuk menjemputnya. Mila melihat Yana datang sendiri tanpa Yuna. Pikirnya, mungkin Yuna menunggu di dalam mobil dan malas turun.
"Udah siap, Mil?" menghampiri Mila yang sibuk mengikat tali sepatunya.
"Udah,,,! Ayah, Ibu, Mila pergi ya. Yana udah jemput." teriak Mila.
Ayah keluar menghampiri suara anak perempuannya. "Sudah mau berangkat? Yana titip Mila ya. Kalian hati-hati. Jangan telat makan ya, Mil." pesannya.
Ibu datang membawakan kotak makan berisi roti lapis untuk dimakan saat di perjalanan nanti. "Titip Mila ya, Yana. Ini roti untuk teman-temanmu." Ibu memberikannya pada Yana.
"Makasih, Ibu. Yana pasti jagain Mila. Ayah sama Ibu tenang aja." Yana bersalaman dengan orangtua Mila.
Tidak lama mereka berbincang karna harus langsung berpamitan agar yang lain tidak kelamaan menunggu. Mila berpamitan dan mencium pipi Ayah dan ibunya. Yana membawakan tas Mila dan menaruhnya di bagasi belakang. Mila melambaikan tangannya ke Ayah dan ibunya lalu masuk ke dalam mobil.
Mila mengenakan seat belt. "Yuna mana?" tidak melihat Yuna di kursi belakang.
"Masih molor! Dia tuh kebo banget asli,,,! Cape gue banguninnya." menunjukkan wajah kesal.
"Terus di tinggal gitu? Lu kan udah janji, Yan?" Mila balik menunjukkan wajah kesalnya juga.
Ponsel Yana Berdering.
"Ka,,,,,,! Kenapa ninggalin gue sih! Gue kan udah packing! Jahat luh,,,!" teriak Yuna dari balik telepon.
Yana menjauhkan ponselnya dari kuping. Teriakan Yuna membuat rusak gendang telinganya. Yana menarik nafas dalam-dalam untuk menyemprot balik teriakan adiknya. Mila sudah melihat ekpresi kemarahan itu dan segera dia merebut ponsel dari Yana.
"Yaudah, Yuna cepet mandi. Nanti kita balik lagi. Jangan lama-lama ya." Mila mematikkan teleponnya.
Mila menepuk-nepuk pundak Yana, menenangkannya dan menyuruhnya untuk putar balik lagi ke rumahnya. Adik kakak yang satu ini emang parah sih kalau udah berantem. Lebih-lebih tom and jerry. Mila sudah hafal betul dengan karakter mereka kalau sedang debat. Gak ada yang mau kalah sama sekali. Mila harus menjadi penengah di antara mereka agar salah satunya bisa mengolah emosidan mau mengalah.
Saat sampai di rumahnya lagi. Yuna sudah berada di luar rumah. Dia segera masuk ke dalam mobil. Kakak beradik itu langsung memasang wajah perang. Mila tak mau membahas apa-apa karna tak ingin ada perdebatan panjang. Suasana cukup tegang sampai mereka sampai di rumah Seno.
"Lama banget sih, Yan!" teriak Seno, saat Yana menurunkan kaca mobilnya.
"Ampe buluk tau gue di sini." Wahyu ikut mengomeli Yana. Dia bahkan sudah menghabiskan setengah kantong cemilan yang dibawanya.
"Tuh,,,! Kelamaan nunggu kurcaci satu itu." melirik adiknya dari kaca depan dan dibalas dengan lirikkan tajam Yuna.
Mila pindah ke kursi tengah bersama Yuna, Amar di kursi depan bersama Yana, sedangkan Wahyu dan Seno di kursi belakang. Mereka langsung bergegas dengan cepat ke rumah Tian.
Yana berhenti di depan gerbang yang terbentang cukup tinggi. Seseorang lalu datang membukakan pintu untuk mereka masuk. Seno dan yang lain melihat dengan takjub. Siapa sangka rumah Tian bak istana pangerang kodok. Mereka terperangah, tak percaya melihatnya. Terlihat Tian sudah menunggu mereka di depan pintu. Mengenakan kemeja putih seraya dengan warna dress yang Mila kenakan juga. Mereka tampak sangat serasi. Tian menyambut mereka dan tersenyum pada Mila. Seno dan Wahyu memeluknya erat. Mereka bahagia memiliki teman yang kaya tapi selalu terlihat sederhana di depan mereka. Tian bingung tak mengerti mengapa mereka memeluknya. Lalu dia mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya.
"Ini Villanya, Tian? Deket banget? Katanya di Bandung, lah ini masih Jakarta?" Seno dan Wahyu masih terpukau akan rumah yang sedang dilihatnya sekarang. Amar dan Yana hanya tertawa melihat temannya yang cukup udik. Maklumlah rumah mereka hanya seperempat dari rumah Tian.
"Rumah gue, Sen. Dah ayo masuk." Tian membawa teman-temannya untuk bertemu dengan ibunya.
Bunda, Kian dan seorang wanita di sebelahnya sudah menunggu kedatangan mereka semua. Bunda menyambut Mila dengan pelukkan hangat. Kian mengikuti ibunya dengan berniat memeluk Mila tapi langsung dihalangi oleh Tian. Mereka tertawa melihat kelakuan adik kakak ini. Ternyata bukan hanya Yana dan Yuna yang berulah seperti itu. Ada satu pasang adik kakak lagi. Lalu mereka saling memperkenalkan satu sama lain.
"Oh ini teman-teman Tian ya. Bunda senang sekali kalian bisa ikut kami. Jadi makin rame dan pasti seru. Semoga kalian have fun nanti." dengan suara lembut dan senyuman hangat Bunda menyapa mereka semua. "Kenalin juga ini Febby temannya Kian." Febby tersenyum kecil.
Melihat wajah dan namanya seperti tak asing bagi Mila. Tapi dia ragu apa Febby juga mengingatnya. Melihat dari responnya yang seperti itu sepertinya dia lupa akan Mila. Febby tampak tak mengenalinya dan Mila ragu bertanya padanya. Penampilannya juga sangat berbeda. Mila takut salah orang.
"Ini pacar gue! Awas ya kalian deketin." ancam Kian pada teman-teman adiknya sambil mengepalkan tangannya.
Bunda menepuk pundak Kian. "Yaudah kita berangkat ya sekarang, sudah kesiangan. Mila bareng di mobil Bunda ya."
__ADS_1
Permintaan Bunda membuat Mila kaget. "Tapi Bun," belum selesai dengan ucapannya, Tian menganggukkan kepalanya dan Mila mengerti maksudnya untuk mengikuti keinginan Bunda.
Mobil Tian berjalan lebih dulu dan diikuti oleh mobil Yana. Jalanan menuju bandung hari ini cukup lenggang. Tian yang menyetir mobil di temani oleh kakaknya yang duduk di sampingnya. Mila, Febby dan Bunda duduk di belakang bertiga. Terlihat dari raut wajah Bunda sepertinya dia sangat bahagia sekali hari ini. Entah karna akan bertemu dengan suaminya yang sudah lama berpisah karna pekerjaan atau ada hal lain juga. Tian terus melihat ke arah Mila dari kaca depan. Mila tak sadar kalau dirinya sedang di perhatikan. Dia asik menikmati pemandangan jalan tol yang lapang. Bunda yang duduk di tengah menyadari anaknya sedang memperhatikan kekasihnya dari kaca depan.
"Tian perhatikan jalan atau perhatikan Mila?" suara Bunda memecah keheningan.
Merasa ketahuan oleh ibunya, Tian pun gugup dan salah tingkah. Kian dan Febby hanya tersenyum melihat Tian yang sedang bucin pada pacarnya. Mila hanya tersipu malu, dia terlihat canggung untuk merespon dan tak tau harus bersikap bagaimana. Kecanggungan itu cukup menyelimuti dirinya selama perjalanan. Sangat berbeda dengan suasana di mobil Yana. Di sana suasananya sangat seru dan menyenangkan. Mereka seperti sedang karaoke berjalan. Yuna terlihat sangat senang karna bisa ikut bergabung bersama teman-teman kakaknya. Matanya selalu memandang satu arah yaitu Amar yang duduk di belakangnya dari kaca depan. Yuna ganti tempat duduk di depan bersama kakaknya. Yana tak ingin adiknya dekat-dekat dengan temannya. Seno mencoba mendekati Yuna dengan perlahan dan tidak terlihat memaksakan karna tidak ingin membuatnya ilfil duluan sebelum mengenalnya lebih dekat. Sepertinya perasaan Seno serius kali ini, tidak sekedar hanya taruhan belaka. Walaupun dirinya tau Yuna lebih menyukai Amar tapi dia tidak menyerah begitu saja.
"Pasti Mila kaku di sana. Dia ga bisa seru-seruan kaya kita." kata Wahyu di sela-sela mereka bernyanyi.
"Hahaha pastinya dia banyakan diem." sambung Amar.
"Biarin aja. Kali-kali dia puasa ngomong." Seno menimpali obrolan teman-temannya.
Yana mengambil kotak makan Mila dan membuka bekal yang Ibu Mila berikan. Yana mengambil sepotong roti dan memakannya. Melihat makanan di depannya langsung saja Wahyu merebutnya, Amar juga ikut mencomot satu.
"Bagi dong, Way. Sendirian aja!" Seno merebutnya. Dia mengambil 2 potong roti untuk di bagi pada Yuna. "Yuna sarapan dulu, belum sarapan kan?"
Yuna mengambil roti itu. "Makasih, Kak. Tapi aku gak biasa sarapan. Buat Kak Amar aja," Yuna memberikannya pada Amar.
Amar yang sedang mengunyah roti di mulutnya hanya melirik ke arah Seno. Wahyu dan Yana menahan tawa melihat adegan cinta segitiga itu. Amar pun mengambil roti dari Yuna dan tersenyum padanya. Yuna menahan senyum bahagianya karna Amar tak sengaja menyentuh jemarinya. Seno membantingkan badannya ke kursi mobil. Hatinya luluh lantah Yuna terus saja menolaknya. Amar dan Wahyu menepuk-nepuk pundaknya. Seno merebut lagi roti dari tangan Amar tapi rotinya malah di caplok Wahyu. Mereka jadi gelut di dalam mobil dan menjadi bahan tertawa Yana, Yuna dan Amar.
Sampailah mereka di Villa Keluarga Tian di Bandung. Suasana asri, dingin dan kabut menyambut mereka begitu sampai di sana. Terlihat sepasang paruh baya menanti mereka di halaman Villa. Mereka adalah Mang Dadang dan Mbo Darmi, pasangan suami istri yang sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga Tian. Selain mengurus Villa pribadi, mereka juga mengurus Villa-villa lain yang disewakan untuk para wisatawan. Setelah menyapa Ibu, Kian dan Tian, Mang Dadang langsung membawa barang-barang mereka untuk dibawa masuk ke dalam, dibantu dengan para cowok-cowok.
"Ini buat Mbo." Bunda memberikan beberapa bingkisan padanya.
"Terimakasih banyak. Bu." menerima oleh-oleh yang dibawakan khusus untuknya dan keluarga.
Setelah menaruh barang-barang Mbo Darmi mengantar Febby, Yuna dan Mila ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Villa terdiri dari lantai 2, kamar atas yang akan di tempatkan oleh anak-anak dan kamar di lantai bawah yang akan di tempatkan oleh Bunda. Suhu di atas lebih dingin jika malam datang dan Bunda tak sanggup jika terlalu dingin. Di atas terdapat beberapa kamar dengan ukuran yang sangat luas. Mereka bebas memilih kamar mana yang akan mereka tempati. Tak ingin tidur sendirian Yuna memilih tidur bersama Mila. Febby memilih tidur sendiri karna memang pribadinya yang cukup tertutup. Sebenarnya Kian dan Tian mempunyai kamarnya sendiri-sendiri. Tapi kali ini, Tian memilih untuk tidur bersama dengan teman-temannya dan dia memilihkan kamar yang paling luas.
"Punya orangtua gue. Gua mah gak punya apa-apa." Tian sedang merapikan tasnya.
"Lu norak de, Sen." teriak Wahyu yang sedang kebele. Dia mencari kamar mandi dan menapaki jejaknya lebih dulu di sana.
"Way! Ah, elu kebiasaan deh. Kamar mandi kalo udh dipake lu bau, Way!" Amar menggedor-gedor kamar mandi. Dia juga sudah menahan rasa buang air kecilnya dari perjalanan. Rasanya sudah ada di ujung dan tak bisa menahannya lebih lama lagi. Amar tak mau memakai bekas Wahyu yang terkenal gas beracunnya kalau di kamar mandi.
"Gak di sekolah, gak di sini masih aja perebutan kamar mandi lu berdua." Yana menyusul Seno ke balkon kamar. "Gokil,,,,! Keren banget viewnya." menepuk pundak Seno dan seketika matanya menjelajah liar pemandangan yang ada di depannya.
"Keren kan, Yan." Seno duduk dan bersantai di kursi santai yang ada di sana. Menaruh tangannya di kepalanya sebagai bantal.
"Wahyu,,,,,! Gue dulu,,,,!!!" teriak Amar sambil terus menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Suasana kamar mereka sangat kisruh dengan perdebatan kamar mandi ini. Tian tersenyum melihat dua temannya yang berebut kamar mandi. "Di luar ada kamar mandi, Mar. Lu lurus belok kiri." katanya menunjukkan arah.
"Bilang dari tadi kenapa, Tian." Amar berlari secepat mungkin.
"Masih aja mereka berdua berantem kamar mandi." Seno menaikan kakinya satu. Menikmati udara segar dengan rakus yang sangat susah didapat saat di Jakarta.
Tian keluar kamar dan kembali dengan membawa pengharum ruangan lalu menaruhnya di depan pintu kamar mandi. Dia menyusul Seno dan Yana ke balkon kamar. Mereka asik berbincang sambil menikmati teh yang dibawakan Mbo Darmi ke kamar. Amar kembali ke kamar dan melihat Wahyu belum juga keluar dari kamar mandi. Amar menyusul teman-temannya di balkon yang sedang asik menikmati pemandangan indah di temani teh hangat. Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Sontak mereka menutup hidung dan juga pintu balkon. Benar saja gas beracun itu langsung memenuhi udara kamar. Tak sengaja Wahyu menendang kaleng pengharum yang ditaruh Tian tadi. Segera dia menyemprotkannya ke kamar mandi yang habis digunakannya. Sejujurnya dia pun tak sanggup menghirup gasnya yang di keluarkannya sendiri. Setelah menyemprotkannya Wahyu membuka pintu balkon dan bau masih saja mengikutinya sampai sana. Sontak membuat teman-temannya berteriak!
"WAY,,,,,!" teriak Seno, Yana, Amar dan Tian bersamaan.
"Udah,,,!" Wahyu tau apa maksud teman-temannya.
"Gila kali ya, Way. Kamar seluas ini aja baunya kek begini,,,,,!" Seno mencoba mengusir bau itu dengan mengipas-ngipas udara disekitarnya.
__ADS_1
"Semuanya, Way. Lu semprot sampai isinya habisssss." kata Tian dengan hidung yang terhimpit jarinya.
"Cepet, Way!," Amar menendang bokong Wahyu. Dia sudah yakin hal ini akan terjadi.
"Iya, iya. Sialan lu semua. Gas gua tuh wangi lavender kali,,,!" Wahyu dengan kesal berjalan ke kamar mandi dan menyemprotkan semua isi kaleng pewangi itu sampai habis. Sambil menutup hidungnya dengan bajunya dan membuka pintu kamar agar udara keluar.
"Makan tuh lavender! Lu tutup juga tuh hidung!" Yana tak habis pikir dengan gas beracun temannya itu.
Mila membuka pintu balkon kamarnya. Suasana sejuk nan dingin langsung menerpa wajahnya. Yuna melihat pemandangan indah dari balkon kamar dan berjalan menyusul Mila ke sana. Mereka menghirup udara segar itu sepuas-puasnya. Mila merangkul Yuna dan bersama menikmati indahnya pemandangan yang terhampar luas. Yuna menyandarkan kepalanya pada Mila. Tiba-tiba rasa kantuk datang menghampiri mereka. Yuna masuk lagi ke dalam dan berbaring di ranjangnya. Mila merapikan barang-barangnya lebih dulu sebelum ikut tidur. Udara dingin menyelimuti kamar mereka, menghadirkan suasana tenang dan nyaman. Untung saja selimut tebal menemani mereka untuk tertidur lebih nyaman lagi.
Seno dan yang lain juga sudah tertidur pulas sejak tadi. Mereka kelelahan karna perjalanan, ditambah lagi udara yang mendukung untuk merebahkan badan dan memejamkan mata. Hanya Tian yang masih menikmati udara segar itu dalam diamnya. Sepertinya dia sedang asik dengan pikirannya sendiri. Tian mengecheck ponselnya dan mengirim pesan pada Mila, tapi tidak ada jawaban. Dia pun bangun dari duduknya dan mendatangi kamar Mila.
Tian mengetuk pintu kamar Mila tapi tidak ada suara dari dalam. Mungkin Mila sedang tidur, pikirnya. Tian mengetuk pintunya sekali lagi untuk memastikan dan tak ada jawaban sama sekali. Namun pintu kamarnya terbuka sedikit dan ternyata pintunya tidak terkunci. Karna sudah terlanjur terbuka, Tian masuk ke dalam untuk memastikan apakah Mila benar-benar tertidur? Dan benar Mila dan Yuna sedang tertidur di tempat tidur yang terpisah. Melihat selimut yang dipakai Mila terbuka, Tian berniat merapihkannya. Dia melangkah perlahan karna tak ingin membangunkan keduanya. Mila tertidur pulas dengan wajah yang terlihat menyejukkan. Tian merapikan rambut Mila, mengelusnya lembut rambutnya lalu mendaratkan kecupan manis di keningnya. Setelah merapikan selimut Mila, Tian pun keluar dari kamar.
Tanpa dia sadari, ternyata Yuna terbangun dan tersenyum melihat adegan romantis itu dari balik selimutnya. Yuna tak ingin membuatnya malu karna telah memergokinya. Jadi dia memilih berpura-pura masih tidur saja. Yuna yang tidak merasakan itu saja, senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau itu di lakukan Amar padanya nanti, hayalnya. Betapa beruntungnya Kak Mila mendapatkan orang yang sangat mencintainya, gumam Yuna
Saat keluar dari kamar Mila ternyata di depan pintu sudah ada Kian dan Febby yang sedang memergokinya.
"Astaga, adik gue bucin banget! Ngapain lu di kamar Mila? Jangan-jangan,,," Kian tersenyum menggoda adiknya.
"Apaan sih lu,,,!" Tian pergi dan tak menghiraukan kakaknya.
Saat ingin menggoda adiknya lagi, Febby menutup mulut pacarnya. "Berisik! Kasian mereka yang lagi tidur." bisiknya.
Mereka lalu turun ke bawah untuk melihat keadaan di sana. Mbo Darmi dan Bunda sedang sibuk mempersiapkan makanan untuk mereka semua. Mang Dadang sedang menyiapkan perlengkapan barbeque untuk nanti malam. Febby ikut membantu Bunda dan Mbo menata makanan di meja makan. Tian pergi keluar melihat pemandangan di kolam renang. Kian memilih untuk mengecheck sound untuk dipakainya berkaraoke nanti malam dan menyambut Ayahnya nanti.
"Ayah sampai jam berapa, Bun?" tanya Kian saat menyetel alat musiknya.
"Belum ada kabar. Mungkin masih di pesawat." Bunda memeriksa ponselnya dan mengirim pesan lagi pada suaminya..
Malam menjelang
Mereka semua sudah berkumpul di ruang makan dengan meja makan yang terbentang luas. Makan malam yang dingin di selimuti kabut yang cukup tebal di luar. Menyantap makanan dengan senda gurau dan juga tawa yang seru serta hangat. Ya pastinya si Wahyu sang pencipta tawa yang menghadirkan tawa di sela-sela makan mereka. Bunda sangat menikmati moment makan malam kali ini. Ini kali pertama Villa terasa hidup dan hangat karna kehadiran mereka semua, teman-teman Tian yang menemani. Bukan lagi, hanya dirinya dan anak-anaknya saja. Bunda melihat tawa canda yang mereka telah hadirkan untuknya dan untuk anak-anaknya. Tian yang setiap harinya selalu kelihatan dingin dan pendiam kali ini tersenyum lebar bersama teman-temannya. Kian yang juga biasanya sibuk sendiri dengan dunianya sekarang menikmati dunia yang lain bersama teman-teman adiknya. Kehadiran Mila dan Febby jelas memberikan hal baru dan juga pelengkap untuk kehidupan kedua anak-anaknya.
Villa terasa benar-benar tempat berkumpul dengan suara ramai melengkapi. Sampai Mbo Darmi dan Mang Dadang saja, ikut menikmati suasana kali ini, ikut berkumpul dan makan bersama. Mbo Darmi senang melihat wajah Bunda yang terlihat sangat bahagia. Sudah lama senyum lebar itu tak hadir di wajah cantiknya yang terlihat awet muda dari dulu sampai sekarang.
"Bunda senang sekali kalian bisa ikut ke sini. Sudah lama Villa ini terasa sunyi. Yakan, Mbo?" katanya di sela-sela mereka sedang bergurau. Si Mbo mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
"Tenang aja, Bun. Kalau Bunda kesepian panggil aja kita." kata Wahyu dengan santainya dengan tangan memegang paha ayam. Yana menepuk Wahyu karna bicaranya yang terlalu santai. Alhasil paha ayam yang ada digenggamannya terlempar dan mengenai Seno.
"Apaan sih, Way." Seno yang sedang asik makan sampai tersedak
"Nih si, Yana! Nepuk-nepuk segala. Maaf ya, sayang." Wahyu mendekati Seno dan membersihkan bajunya.
Sontak membuat Seno bergidik geli. Dia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan bajunya sendiri. Jelas membuat semuanya tertawa melihat mereka selalu ribut dan mengundang gelak tawa. Seno keluar dari kamar mandi setelah membersihkan bajunya tapi sepertinya dia harus mengganti bajunya karna noda itu tak bisa hilang. Seno pergi ke kamarnya dan di atas dia bertemu Yuna yang baru saja keluar dari kamarnya. Rasa gugup dan salah tingkah membuat Seno berjalan menunduk melewati Yuna begitu saja.
"Kak Seno." panggilnya. Tapi karna Seno tak yakin Yuna akan memanggilnya, dia memilih berjalan terus saja. Sampai Yuna memanggilnya lagi. "Kak,,,,"
Kali ini dia yakin Yuna benar memanggilnya dan secepatnya menoleh ke arahnya. "Ya,,, Yuna panggil Seno?" hatinya bersorak sorai senang, tapi dia berusaha menahan senangnya itu.
"Ini,,," Yuna menyodorkan sesuatu. "Pakai ini buat noda bajunya, biar cepet hilang" Yuna memberikan sabun pada Seno. Dia memang berniat memberikan itu padanya karna noda di bajunya pasti akan susah hilang jika kelamaan didiamkan.
Dengan raut bahagia dan senyum yang tak bisa dibendung lagi Seno menerimanya dengan wajah sumringah seperti dapat Jekpot. "Makasih ya,,," katanya.
Setelah memberikannya Yuna langsung pergi. Seno masih diam di tempat. Dia senyum-senyum sendiri melihat sabun di tangannya. Sabun yang pastinya sering Yuna gunakan. Seno berjingkrak kegirangan. Yuna menoleh kebelakang dan melihat tingkah anehnya. Dia mengira pribadi Seno benar-benar aneh. Hanya karna sabun saja dia bisa sebahagia itu.
__ADS_1
Apakah Seno berhasil memenangkan hati Yuna?