Aksara Mila

Aksara Mila
Persahabatan Yang Sederhana


__ADS_3

Murid-murid berhamburan keluar dari sekolah. Ada yang bergegas untuk langsung pulang on time, ada yang melanjutkan kegiatan osisnya dan ada juga yang nongkrong dulu di warung sekolah seperti yang dilakukan Seno dan teman-temannya. Mila hari ini berniat untuk pulang on time karna moodnya yang lagi hancur berantakan.


Mila melihat Bu Yanti yang sedang menunggu angkot di depan gerbang sekolah dan berniat menemuinya.


"Mil, tunggu di warung ya. Gue ambil motor dulu," Yana pergi ke parkiran sekolah.


"Iya." katanya. Lalu berjalan menghampiri Bu Yanti untuk meminta maaf atas kejadian di kelas tadi. "Hai, Bu." sapa Mila.


"Eh Mila. Ada apa sayang?"


"Mila mau minta maaf soal kejadian tadi di kelas. Maafin Mila ya, Bu."


"Iya. Lain kali fokus ya. Kalau ada masalah cerita sama Ibu, oke?" katanya dengan sangat perhatian.


"Oke, siap." jawabnya dengan senyum manis dibibirnya.


"Nah gitu senyum. Jangan cemberut terus. Nanti cantiknya hilang loh." mencolek hidung Mila.


Mila melihat angkot yang biasanya dinaiki Bu Yanti. Dia buru-buru melambaikan tangannya. "Stop Bang!" teriak Mila menghentikan angkot.


"Terima kasih, Mila. Kamu langsung pulang ya." perintah Bu Yanti.


"Baik, Ibu. Hati-hati di jalan." Mila melambaikan tangannya.


Di belakang ternyata ada Bian yang memperhatikannya sejak tadi. Bian menghampiri Mila, dia ingin membicarakan soal semalam. Mengapa dia tidak mengangkat telepon dari Mila? Namun sebelum Bian melangkah lebih dekat. Yana sudah datang lebih dulu dengan motornya.


"Yeh, si Mila masih di sini aja. Di bilang tunggu di warung." melihat Mila masih di tempat yang sama.


"Tadi abis ngobrol sebentar sama Bu Yanti. Yaudah ayo pulang." Mila naik ke motor.


"Ke warung dulu bentar ambil tas gue. Dibawa Wahyu tadi." pintanya.


"Jangan lama ya. Gue mau langsung pulang."


Yana mengarahkan motornya ke warung. Bian gagal lagi bicara dengan Mila. Dia pun berjalan menyusul Mila ke warung. Yana turun dari motornya untuk mengambil tas yang dititipkannya pada Wahyu. Mila memilih menunggunya di atas motor dan enggan untuk turun.


Mila melihat Yana yang malah ngobrol dengan Wahyu. "Yanaaaaa, cepetttttt!!!" teriaknya.


"Mau kemana sih, Mil. Buru-buru banget. Sini dulu, turun!" kata Seno yang sedang seru main game di ponselnya.


"Gak, males!" kata Mila dengan ketus.


"Jehhhh, masih ngambek aja." kata Seno sambil melirik kearah Mila.


Sesampainya di warung, Bian langsung menghampiri Mila yang sedang duduk di motor Yana.


Bian memegang lengan Mila. "Mil, bisa ngomong sebentar?" tanyanya.

__ADS_1


Mila menoleh kaget. "Mau ngomong apa?"


Bian menunjuk ke ujung jalan. Memintanya untuk bicara agak jauh dari teman-temannya. Mila mengikuti keinginan Bian dan pergi bersamanya. Mila berjalan dengan hati gugup tak karuan. Dari warung Tian memperhatian mereka berdua dengan rasa cemburu. Sedangkan Wahyu dan Yana masih sibuk dengan obrolan mereka. Amar dan Seno fokus dengan game mereka. Hanya Tian yang melihat mereka pergi berdua.


Bian melepaskan tangan Mila. "Sorry ya, Mil. Semalam teleponnya gak keangkat." katanya dengan nada menyesal.


"Gpp kok, lagian itu cuma salah pencet." Mila berbohong.


"Tapi kok sampe dua kali?" katanya dengan bingung.


"Emh,, iya," jawabnya ikutan bingung.


"Mau pulang bareng gak?" tanyanya penuh harap.


Membuat Mila makin bingung untuk menjawabnya. Mila melihat kearah Yana. Berharap dia melihat kearahnya dan segera menjemputnya.


"Yeh, si Mila kemana?" tanya Yana melihat Mila tidak ada di motornya.


"Pergi sama Bian tadi kesana." tunjuk Tian kearah Mila dan Bian.


Melihat Yana mencarinya, Mila melambaikan tangan padanya. Memberitahunya jika dia ada di sana. Melihat mereka sedang berduaan, Yana langsung pergi dan menyalahkan motornya.


"Beh,,, bener-bener tuh si Bian." gumam Seno dan menghentikan gamenya. Seno berniat menemui Bian tapi tidak jadi karna melihat Yana sudah naik ke motornya untuk menjemput Mila.


Yana menarik gas motornya dengan cepat dan berhenti di depan mereka. "Hai, Bi." sapa Yana.


"Duluan ya, Bian." ujar Yana dengan melihat sinis kearahnya.


"Oke, hati-hati." kata Bian dengan menyimpan perasaan kecewa karna ajakannya ditolak halus oleh Mila.


Seno yang melihat itu dari kejauhan. Tertawa sinis pada Bian yang pergi melangkah pulang dengan kecewa. "Kapan ngomong sama Mila. Keburu diserobot noh!" tutur Seno pada Tian.


Seno mengingatkan Tian untuk secepatnya mengungkapkan pada Mila soal perasaannya. Jangan terlalu lama diam dan hanya memendam perasaannya saja. Sampai-sampai nanti keduluan dan direbut orang lain. Tian yang melihat hal itu dan mendengar Seno bicara seperti itu tak bicara apa-apa. Dia langsung bergegas menyalahkan motornya dan pulang meninggalkan tongkrongan. Ada rasa marah di dalam dirinya, melihat kedekatan Bian dan Mila. Tian mengendarai motornya dengan kecepatan penuh dan menghilang secepat kilat. Cowok sedingin es itu hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada aspal jalanan.


Radit Tiandra, yang lebih sering disapa Tian. Dipanggil Tian karna Radit itu nama yang sama dengan nama kakaknya. Kakaknya bernama Radit Kiandra. Mereka hanya beda umur 1 tahun. Untuk membedakannya, mereka dipanggil Kian dan Tian. Wajah mereka berdua juga sekilas tampak mirip seperti kembar. Keduanya sama-sama tampan hanya saja Kian lebih expresif sedangkan Tian tidak. Kian lebih banyak bicara dan Tian lebih sedikit bicara.


Tian sudah memiliki rasa dengan Mila sejak awal kelas 11. Sejak pertama kali Yana mengenalkan Mila padanya. Cewek pertama yang berani menyapanya dengan sebutan muka datar. Sedatar itulah Tian, sampai senyum saja jarang singgah di bibirnya. Sejak saat itu dia mulai sering memperhatikan Mila diam-diam. Senyumnya, tawanya, juteknya, galaknya, manjanya, keras kepalanya, semuanya dia perhatikan dalam diam. Mila yang selalu tampak ceria dan perhatian telah menyita pikirannya. Dia adalah cewe yang gak pernah bosen mengajaknya bicara meski jarang juga di respon oleh Tian.


Kedekatan Yana dan Tian bermula saat mereka satu ekskul futsal dari awal kelas 10. Lalu dekat sampai mereka disatukan di kelas 11. Saat Yana mempercayakannya untuk menjaga Mila. Tian menyambutnya dengan senang meski tanpa mengeluarkan ekspresi di wajahnya. Tian semakin senang saat Yana bicara akan mendekatkannya dengan Mila. Yana merasa Tian dapat dipercaya untuk menjaga Mila dengan baik jika mereka berpacaran. Yana juga merasa jika Mila dapat merubah Tian menjadi lebih hangat dan tak sedingin es lagi.


Tian memang tidak pandai mengekspresikan sesuatu, dia terlalu pendiam, dan dingin bahkan cuek. Padahal di dalam hatinya dia menyimpan semua itu rapat-rapat. Sampai menunggu waktu yang tepat untuk dia benar-benar yakin akan dirinya sendiri. Yang mampu membuat Mila bahagia. Tian menunggu waktu yang baik untuk mengutarakan perasaannya pada Mila. Tian takut nantinya dia tidak sengaja menyakiti hati Mila karna terlalu terburu-buru. Dan malah membuat pertemanannya dengan Yana menjadi jauh. Karna dia tau kalau Yana sangat menyayangi Mila seperti adiknya sendiri. Hal itulah yang selalu menjadi pikiran dibenaknya.


Diperjalanan pulang Yana menanyakan tentang apa yang tadi Mila dan Bian bicarakan.


"Tadi sama Bian mau ngapain, Mil?" tanyanya dengan nada yang terdengar posesif.


"Gak ngapa-ngapain." jawab Mila singkat.

__ADS_1


"Tadi gue denger, kayanya dia mau ngajak lu pulang bareng?" tanyanya lagi.


"Ahh engga. Salah denger kali lu." Mila mengelak.


"Gak usah bohong, Mil." Yana tak yakin dengan jawaban Mila.


"Beneran!" teriak Mila.


"Buset deh, Mil. Berisik tau. Diliatin orang tuh!" menarik senyum terpaksa ke orang-orang yang melihat kearah mereka.


"Gue diem ditanyain. Sekarang teriak diomelin." pura-pura ngambek.


"Bukan gitu juga, Aksara Mila!"


Dengan gemes tangan kirinya menggoyang-goyangkan kepala Mila di belakangnya. Akibatnya motor mereka oleng dan hampir menabrak pengendara di sampingnya. Akhirnya percekcokan pun terjadi di atas motor.


"Weh, Mas. Bawa motornya yang bener dong! Jangan sambil pacaran,,,!" teriak pengendara itu marah.


"Mas, juga ga liat-liat nyetirnya!" saut Yana lebih marah karna tak ingin kalah.


"Maaf ya, Mas." Mila turun dari motor dan membuka kaca helmnya.


"Eh, Mba cantik. Iya gpp kok. Hati-hati Mas bawa motornya! Nanti Mbanya lecet," menurunkan nada suaranya karna terpana pada Mila.


"Santai dong, ngeliatnya!" Yana yang tak suka dia menatap Mila dengan tatapan menggoda.


"Kalau udah putus sama saya aja, Mba." kata pengendara motor itu lalu menarik gasnya dan melaju dengan cepat meninggalkan mereka.


"Jehhhhhh, Kampret!!! Liat yang bening jadi lembut luhh!!!" teriak Yana kesal dan berniat mengejarnya.


"Ih udah sih, Yan." Mila menarik baju Yana. "Orang kita juga kan yang salah," Mila menyuruh Yana untuk tidak memperpanjang hal itu. Mila sangat takut jika ribut-ribut seperti itu di jalanan.


"Iya, sorry." mereka lalu melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah Mila, Yana menanyakan pada Mila. Ada apa dengannya hari ini? Mengapa Mila lesu? Dan mengapa dia menangis di kamar mandi?


"Masih belum mau cerita?" Yana membukakan helm Mila.


"Nanti ya. Gue masih belum mau bahas." Mila merapikan rambutnya.


"Baik, Nyonya Mila," mengacak-ngacak rambut Mila lagi.


"Ihhhhhhh, Yanaaaaaaaaa. Rese Lo!" Mila mencabut kunci motor Yana dan hendak membuangnya.


"Eeeettt jangan!" Yana merebut kuncinya dari tangan Mila. "Yaudah sana masuk. Dahhhhhhhh Jutekk!" Yana melambaikan tangannya dan pergi.


Mila melambaikan tangannya pada Yana dan masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Seperti itulah persahabatan mereka yang sederhana.


__ADS_2