Aksara Mila

Aksara Mila
Datang Dari Masa Lalu


__ADS_3

Terlihat kabut sudah menghilang Tian membuka pintu ruang tengah. Dengan sergap udara dingin menerpa


tubuhnya. Yana menyusul Tian keluar. Kian dan Amar terlihat akrab membicarakan musik, sepertinya mereka satu hobi. Wahyu dan Seno membantu Mang Dadang mempersiapkan kayu bakar untuk api unggun yang akan menghangatnya tubuh mereka malam ini. Para wanita terlihat masih sibuk membereskan makanan dan piring-piring kotor setelah makan. Mila dan Febby bertugas mencuci piring, dan Yuna membersihkan meja dan kursi. Mereka membagi tugas dengan adil agar Mbo Darmi tidak terlalu lelah. Bunda dan Mbo Darmi menyiapkan makanan untuk barbeque nanti malam.


Setelah selesai bersih-bersih Febby menghampiri Kian yang asik ngobrol dengan Amar. Mila pergi keluar untuk melihat kolam renang yang cukup menyita perhatiannya. Mila berdiri dipinggir kolam dan memastikan dengan jari kakinya seberapa dingin air disana. Dinginnya air kolam membuat ia cukup terkejut dan hampir membuatnya masuk kedalam kolam. Untung saja Yuna memeganginya dari belakang.


“Hati-hati Ka,” menarik baju belakang Mila. Mila tersenyum malu lalu memeluk Yuna karna udara yang sangat


dingin. Tian tersenyum melihat Mila. “Tadi aku liat Ka Tian cium Ka Mila di kamar. Maaf ya, gak sengaja,” bisik Yuna ditelinga Mila saat Tian melihat ke arah mereka. Lalu mereka tertawa bersama. Mila hanya menaruh telunjuknya di bibir, agar Yuna tak bicara ke siapa-siapa. “Aku bingung mau ngobrol sama siapa?” melihat sekitarnya yang sedang


asik dengan pasangan ngobrolnya masing-masing.


“Loh kan ada aku,” Mila makin memeluk Yuna karna dinginnya udara.


“Yakan gak mungkin aku nempel terus sama Kakak. Liat tuh Ka Tian udah ngeliat kesini terus,” Yuna memberi kode


pada Mila.


“Ih,,, kamu ini godain aku terus!” Mila mencubit hidung Yuna.


“Sana pergi, aku gpp kok,” Yuna memberikan kode pada Kakaknya untuk pergi dari Tian.


“Gak usah ih. Kamu kasih kode apa sama Yana?” melihat Yuna terus menatap Kakaknya.


Yuna terus menyuruh Kakaknya untuk pergi tapi Yana tak sadar akan kode dari adiknya itu. Tian dan Yana yang melihat Yuna hanya bingung dengan maksudnya. Mila tertawa melihat tingkah Yuna. “Yuna kamu bisa ngobrol sama Amar loh. Dia juga suka musik, jadi pasti kamu nyambung ngomong sama dia. Gabung aja deh,” kali ini Mila yang menggoda Yuna.


“Kakak, rese deh,” rengek Yuna.


Tiba-tiba Yana datang dan langsung merangkul adiknya itu untuk pergi meninggalkan Mila. “Lu tuh gak peka banget sih!” bisiknya sambil menyeret adiknya.


“Ada juga lu yang gak peka. Kan dari tadi gue kasih kode,” bisiknya sambil menepuk-nepuk tangan kakaknya agar segera lepas dari lehernya.


“Eh Yana, Yuna mau kemana?” Mila yang ditinggal oleh kakak beradik itu.


 


 


Mila ditinggal begitu saja oleh mereka. Tian masih berdiri diujung sana tanpa berniat menghampirinya. Mila tak tau harus menghampirinya lebih dulu atau tidak. Ia sepertinya malu untuk menemuinya lebih dulu. Mila berjongkok memainkan air kolam yang sedingin es dan melihat kearah Tian tapi tiba-tiba ia menghilang dari sana. Mila celingak-celinguk mencari keberadaannya namun tak ketemu. Mila menunduk lesu dan bangun dari jongkoknya.


Seseorang mendekap hangat tubuhnya dari belakang dan ia tersenyum. Tian memang si misterius. Datang dan pergi tanpa bersuara.


“Cari aku ya?” Tian memakaikan selimut untuk menghangatkan Mila. Ia melihat Mila yang celingak-celinguk mencarinya. Tian menggenggam tangan Mila dan membawanya duduk di kursi tepi kolam. “Kenapa canggung? Malu ya?” pertanyaan Tian cukup membuat pipi Mila merah di cuaca sedingin ini.


“Engga,” jawabnya singkat. Lalu membuang muka untuk menutupi rasa canggung nya itu. MiLA ketahuan oleh pacarnya.


“Nanti aku kenalin sama Ayah ya,” Tian mengalihkan pembicaraan untuk mengusir kecanggungan itu.


Mila menggangguk yakin. Dingin membuat mulutnya terkunci rapat dan selalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Segugup itukah dirinya kali ini. Terlihat dari tangannya yang terus tergenggam untuk menutupi kegelisahannya. Mila bergidik kuat karna dinginnya angin yang menerpa wajahnya. Melihat Mila yang begitu canggung kali ini membuat Tian tersenyum. Tak biasanya Mila seperti ini.


Tian meraih tangan Mila dan menggenggamnya. Tian terkejut karna tangannya sedingin es. “Tanganmu dingin banget?” Mila buru-buru melepaskan tangannya dari Tian. Tapi Tian menggenggamnya lagi dan menggosok-gosok tanganya pada tangan Mila untuk menghangatkannya.


Bunda melihat Tian dan Mila dari balik jendela dengan bahagia. Bunda masih tak menyangka jika Tian sudah bisa


melupakan teman masa kecilnya itu dan menemukan teman baru dihatinya. Bunda berharap jika Mila mampu membuat senyum di wajah anaknya tidak padam lagi. Pandangannya beralih pada Kian dan juga Febby yang sedang asik bermain dengan gitarnya. Febby juga mampu membuat Kian lebih peduli pada orang lain. Sifatnya


yang keras kepala dan angkuh seperti Ayahnya membuatnya dijauhkan oleh teman-temannya. Tapi semenjak kenal Febby, rasa empatinya pada orang lain mulai muncul.


Bunda memeriksa ponselnya namun tak ada satupun pesan dari suaminya. Ia mencoba menelphonenya tapi tidak


diangkat. “Sudah sampai mana dia?” tanyanya dalam hati.


 


 


Suara mobil memasuki halaman terdengar. Mang Dadang meninggalkan pekerjaannya dan berlari keluar. Melihat


Mang Dadang berlari membuat Bunda bingung? Siapa yang datang? Apakah suaminya sudah datang? Bunda berjalan keluar sambil terus menelphone suaminya.


Seorang lelaki tampan nan gagah keluar dari mobilnya. Disambut Mang Dadang yang membukakan pintu mobil


untuknya. Bunda tersenyum bahagia dari depan pintu, melihat wajah suaminya yang sudah lama tak ia lihat. Ya, dia adalah Ayahnya Tian. Lelaki itu memeluk hangat istrinya dengan erat dan begitu lama. Bunda memeluk haru suaminya itu. Rindu yang selama ini terpendam akhirnya berakhir sudah. Mang Dadang dan Mbo Darmi melihat kehangatan mereka dengan bahagia.


“Kau sengaja tak memberi kabar? Tak menjawab telphoneku?” Bunda menggoyangkan ponselnya. Suaminya hanya tersenyum dan memeluknya kembali. Bunda pun menepuk pundak suaminya itu karna selalu saja membuatnya cemas tanpa kabar.


Suara pintu mobil terbuka membuat acara kangen-kangenan itu usai. Seorang wanita muda dan cantik keluar dari sana. Bunda menatap dengan bingung. Wanita itu mendekat dan menghampiri mereka lalu menyapa.


“Halo Bunda. Masih inget aku?” ia menyapa dengan ramah.


Bunda terlihat bingung tapi mencoba mengingat-ngingat wajah itu. Wajahnya tampak tak asing. Mang Dadang dan Mbo Darmi menyapanya dan mereka malah yang lebih dulu mengenali wanita itu.


“Temannya Mas Tian kan?” Mbo Darmi menebak.


“Iya Mbo. Luna. Temannya Tian kecil,” tuturnya pada Bunda dan memeluknya.


Mendengar nama itu Bunda langsung mengingatnya dan membalas pelukkan itu. Bunda tak menyangka wanita yang baru saja ia bicarakan tadi sekarang ada dihadapannya. Wanita yang membuat anak bungsunya itu jatuh

__ADS_1


cinta untuk pertama kalinya.


“Bunda apa kabar? Bunda tak mengingatku?” Luna melepaskan pelukannya.


“Iya maaf, Bunda hampir lupa. Sekarang kamu tumbuh besar dan cantik. Sampai Bunda tak mengenalimu,”


“Aku bertemu dengan Pak Gunawan sewaktu di Belitung dan kami saling berhubungan kembali. Ternyata selama ini mereka menghilang dan bersembunyi disana,” Ayah menjelaskan pertemuan mereka dengan keluarga Luna.


“Sebaiknya cerita didalam saja Bapak, Ibu. Disini dingin,” Mang Dadang mempersilahkan mereka untuk masuk lebih dulu karna pasti Kian dan Tian sudah menunggu mereka.


“Aku diluar dulu ya Ayah, Bunda. Mau kasih kejutan Tian,” Luna menunggu diluar sampai selesai mereka melepas rindu.


Suasana didalam sudah cukup bising dengan musik yang di setel Kian. Mereka sudah memulai ke seruan malam ini. Sampai tak dengar seseorang sudah menyapa mereka. Tiba-tiba lampu dimatikan agar mereka menyadari


kedatangannya. Mereka kaget melihat lampu padam. Mila cukup terkejut karna ia takut kegelapan. Tian menggenggam tangannya erat sampai lampu dinyalakan kembali. Kian berteriak memanggil Mang Dadang namun apa yang ia lihat setelah lampu menyalah adalah sosok yang selama ini ditunggu-tunggunya.


“Ayahhhhhhhh,,,,,!” Kian berlari meninggalkan gitarnya dan langsung memeluk dengan erat Ayahnya. Kian tak menyadari kedatangannya dan gagal membuat kejutan untuk menyanyikan lagu kesukaan mereka berdua. Malah


Ayahnya yang membuat ia terkejut.


Mendengar Kian berteriak dan memanggil “Ayah” membuat Tian menyadari bahwa Ayahnya sudah datang. Tian pun mendatanginya dengan menggenggam tangan Mila. Ayah melihat kedatangan Tian dengan seorang wanita


yang digenggamnya. Mila menganggukkan kepalanya seraya memberi salam. Ayah tersenyum pada Tian dan melepas pelukannya pada anak sulungnya itu lalu berganti pada anak bungsunya. Mila sedikit menjauhkan diri dengan mereka yang sedang melepas rindu dan bergabung dengan teman-temannya.


“Kamu sudah besar sekarang,” Ayah mengelus rambut putra bungsunya itu.


“Kenapa Ayah gak kabarin dulu. Aku gagal sambut Ayah,” Kian merengek kesal.


“Bukannya kamu selalu gagal buat Ayah terkejut,” Ayah tertawa. “Cukup ramai ternyata disini? Siapa mereka?” melihat wajah-wajah yang tak pernah ia kenal sebelumnya.


“Ini teman-teman Tian. Tian yang mengundangnya untuk menyambutmu dan melepas penat sebelum mereka memulai ujian,” Bunda memperkenalkan mereka.


“Terimakasih sudah mau datang dan ikut bergabung. Bersenang-senanglah sebelum kalian berperang dengan soal-soal,” Ayah Tian menyambut mereka dengan hangat dan ramah.


Pandangnya teralihkan pada wanita yang digenggam oleh Tian sebelumnya dan juga wanita yang berdiri disebelah Kian. Anak-anaknya kini sudah tumbuh dewasa dan sudah bisa menunjukkan rasa sayangnya pada wanita.


Namun ia tak mau membahasnya sekarang karna sudah ada yang menunggu diluar sana.


“Ayah punya kejutan untuk Tian,” Ayah tersenyum. Tian bingung dengan kejutan yang Ayahnya maksud. Tian melihat ke arah Bunda dan ia hanya membalas dengan senyuman.


“Aku, gak Ayah kasih kejutan?” Kian protes pada Ayahnya.


“Kejutan untuk kita semua,” Ayah meralat kata-katanya lalu memanggil kejutan itu untuk masuk kedalam.


Wanita itu masuk kedalam dan cukup mengagetkan mereka. Mengagetkan Tian terutama. Mengapa tidak, wanita yang selalu ia rindukan dulu tiba-tiba muncul dihadapannya. Bersama dengan kedatangan Ayahnya. Wanita yang


dulu selalu membuatnya menunggu kabar darinya. Wanita yang pertama kali menariknya dari dalam dunia yang sepi. Wanita yang mengenalkan padanya apa itu cinta pertama. Meski itu terjadi pada masa kecilnya tapi itu cukup berbekas dan berpengaruh dalam hidupnya.


“Kamu masih inget aku,” Luna mengulurkan tangannya pada Kian.


Kian menjabatnya dengan senang dan memeluknya. Beda hal dengan Tian yang masih diam mematung seolah tak percaya akan yang ia lihatnya sekarang. Seseorang yang dari masa lalu datang kembali dalam hidupnya. Luna melepaskan pelukannya pada Kian dan berjalan ke arah Tian. Dia tersenyum seolah-olah tak ada masalah.


“Hai Tian. Masih inget aku?” Luna tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya pada Tian.


Tian masih diam mematung dan tak membalas uluran tangan itu. Mila yang melihat Tian terdiam seperti itu heran. Siapakah wanita itu?


“Sepertinya kamu melupakanku,” karna uluran tangannya tak dibahas. Luna pun memberikan pelukkan untuk Tian. Ia mengenal Tian yang cukup dingin dalam bersikap dari dulu. Maka ia melakukannya lebih dulu untuk


melepas kerinduannya. “Senang bertemu denganmu lagi, Tian,” Luna memeluknya dengan erat.


Melihat hal itu membuat Mila dan yang lain kaget. Pasalnya tidak ada yang pernah berani memeluk Tian sebelumnya. Mila menundukkan pandangannya untuk mengusir rasa kaget itu. Bunda melihat ke arah Mila. Bunda


melihat reaksi terkejut pada dirinya dan mencoba mengakhiri ketegangan ini.


“Baiklah, sudah cukup kangen-kangennya sekarang kalian istirahat lebih dulu. Habis itu kita mulai acara penyambutannya. Luna istirahat dikamar,” Bunda terdiam karna kamar diatas tidak ada yang kosong. “Febby bisa sekamar dengan Luna?”


“Febby gak bisa sekamar sama orang lain, Bun,” mendengar pacarnya harus bertemu dengan orang baru yang pasti akan membuatnya tidak nyaman. Kian langsung menolaknya. “Tidur dikamar Tian aja. Kamarnya kosong kok, dia tidur bareng teman-temannya,” Kian melihat kearah adiknya.


“Boleh Tian?” Luna berharap jawabannya adalah iya.


“Naiklah kamu pasti sudah lelah. Istirahatlah,”


Ayah menyuruh Luna untuk segera bergegas membersihkan diri. Tanpa menunggu izin Tian, Ayah mempersilahkan Luna. Tian pun pergi dan meninggalkan mereka semua. Suasana tegang terjadi karna Tian tak berucap apa-apa semenjak wanita itu datang. Ayah dan Bunda pergi ke kamar mereka. Sedangkan Luna diantar Mbo Darmi pergi ke kamar Tian untuk beristirahat. Wajah Mila terlihat bingung dengan yang terjadi sekarang begitu pula dengan teman-temannya. Yuna merangkul Mila, ia mencoba menenangkannya. Yuna mengerti perasaan Mila saat ini.


Setelah api unggun jadi Kian mengajak yang lain untuk menghangatkan badan. Mereka duduk mengelilingi api unggun. Yuna menyandarkan kepalanya pada Mila. Yana melihat wajah Mila yang terlihat kebingungan. Walau


matanya menatap api unggun tapi pikirannya mencari keberadaan Tian. Seno dan Wahyu seperti biasa membuat suasana lebih hidup dengan leluconnya. Febby yang selalu dengan wajah kakunya kali ini pipinya cukup tertarik karna lelucon mereka.


Kehangatan kali tak sehangat saat mereka ada di meja makan. Di hati Mila dan Tian terselip rasa dingin karna wanita yang tiba-tiba hadir ditengah mereka.


Luna selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya. Luna melihat-lihat kamar Tian yang sudah lama tak ia kunjungi. Kamar ini tak ada yang berubah, masih sama dulu. Luna teringat pernah menulis nama mereka


berdua dibawah meja, saat mereka sedang main petak umpat. Luna teringat kenangan terindah bersama Tian. Ia pun memeriksa bawah meja, apakah masih ada nama itu disana.


Tian mengetuk pintu kamarnya dan tak ada jawaban dari dalam. Ia mengira Luna sudah keluar dari kamarnya dan ia masuk ke dalam kamarnya. Saat ia ingin membuka lemari untuk mengambil sesuatu yang ia simpan disana. Luna keluar dari kolong meja dan hampir saja terkejut meja namun tangan Tian melindungi kepalanya.


“Oh, sedang apa?” Luna terkejut melihat Tian dikamarnya. Tian tak menjawab dan melanjutkan mencari sesuatu dari dalam lemari.

__ADS_1


Bunda dan Ayah keluar dari kamar mereka. Melihat anak-anak sudah berkumpul di halaman mereka mendatanginya untuk ikut berkumpul. Kian memberikan tempat duduknya untuk Ayahnya. Febby pun melakukan hal yang sama pada Bunda. Kian pun memulai acara barbeque ditemani Febby untuk


menyiapkan makanannya.


“Kemana Tian?” Bunda melihat Tian belum kembali. “Mila bisa cari Tian? Acaranya mau dimulai,” Bunda mengusulkan Mila agar mereka bisa bicara berdua.


Mila pun mengangguk dan pergi mencari Tian. Entah harus mencari dimana tapi Mila berpikir Tian sedang ada dikamarnya.


“Kamu cari sesuatu?” terlihat Tian tidak menemukan barang yang dicarinya. “Mau aku bantu?” Luna tak menyerah untuk membuat Tian bicara padanya. Tian menemukan apa yang dicarinya lalu hendak pergi namun Luna


menahan tangannya. “Apa kamu tidak senang dengan kedatanganku?”


Saat Mila sampai diatas suara Luna terdengar sedang berbicara dengan seseorang. Tidak bermaksud menguping tapi kamar Tian memang dekat dengan kamarnya yang bersama dengan teman-temannya. Mila berdiri didepan


kamar Tian untuk memanggilnya tapi sepertinya pembicaraan didalam terdengar serius. Pintu itu tidak tertutup rapat dan Mila bisa melihat dari luar siapa yang ada didalam. Tian dan Luna yang sedang berbicara.


“Sampai kapan kamu tak menyapaku? Apakah hubungan kita berakhir begitu saja?” ucapan yang keluar dari mulut Luna bak petir yang menggelegar di kuping Mila. Menutup mulutnya untuk tidak bersuara dan melangkah mundur menjauh dari kamar Tian.


“Setelah menghilang begitu saja selama ini, tanpa kabar! Kamu bilang hubungan kita berakhir begitu saja? Bukankah itu yang seharusnya aku tanyakan?” Tian membalas ucapan Luna dengan kata-kata yang menohok. Akhirnya ia mengungkapkan kekecewaannya pada wanita yang selama ini ia tunggu kabarnya.


“Ka Mila, kakak lama banget. Ayo cepetan,” teriak Yuna yang menyusulnya.


Mendengar nama Mila dipanggil, Tian pun keluar dari kamarnya dan mendapati Mila yang berdiri diluar bersama dengan Yuna.


“Kayanya aku gak bisa gabung Yuna. Tiba-tiba gak enak badan, maaf ya. Aku istirahat di kamar aja oke, kamu bisa balik turun kebawah ya,” Mila beralasan tak enak badan padahal hatinya tiba-tiba sakit tak terkira mendengar percakapan Tian dan Luna.


“Kakak oke? Tangan Kakak dingin banget,” Yuna menggenggam tangan Mila. “Hidung Kakak juga merah banget. Kakak flu ya?” Yuna memeriksa kening Mila.


“Achew,,,,” Mila bersin dengan kencang.


“Kamu gpp? Kamu sakit?” Tian mendatangi Mila.


“Aku gpp. Mau istirahat aja,” Mila tak ingin membuat Tian khawatir.


Luna keluar dari kamarnya lalu melihat mereka bertiga dan mendatanginya. “Ada apa?”


“Iyah Ka Mila kayanya sakit deh. Yaudah Kakak istirahat aja ya, Yuna balik kebawah dulu,”


“Aku anter ke kamar ya,” Tian memegang lengan Mila.


Luna yang melihat Tian peduli terhadap teman wanitanya menaruh tanya. Apakah Tian menyukainya? Karna Tian selalu bersikap dingin pada wanita kecuali dirinya. Apalagi melihat Tian sampai memegang tangannya. Penasaran seberapa dekat mereka, Luna pun berbasa-basi untuk bisa bertanya padanya. “Aku aja yang temenin kamu. Kasian kan kalau kamu sendirian,”


“Anak-anak turunlah makanan sudah siap,” teriak Bunda dari bawah.


“Aku gpp kok sendiri. Kalian bisa lanjutin acaranya,” Mila melepaskan tangan Tian dan langsung masuk kedalam kamar lalu menguncinya.


Mereka turun kebawah dan bergabung bersama yang lainnya. Bunda tidak melihat Mila bersama meraka.


“Loh Mila kemana?”


“Kak Mila gak enak badan Bunda. Tiba-tiba flu,” Yuna memberitahu keadaan Mila.


“Pasti karna adaptasi cuaca Bun,” Luna mencoba menenangkan, untuk tidak perlu terlalu khawatir.


Tapi tidak dengan Yana, ia cukup cemas akan keadaan Mila dari tadi. Mukanya tidak bisa berbohong jika ada


masalah dalam hatinya. Tapi ia tidak enak hati kalau harus meninggalkan acara ini dan menemui Mila. Tapi disisi lain, ia juga sudah berjanji pada Ayahnya Mila untuk menjaganya. Saat ini Tian juga tidak bisa meninggalkan acara karna ini adalah acara penyambutan Ayahnya.


Setelah Ayah Tian sudah selesai bicara dan bercerita lalu waktunya mereka untuk menyantap hidangan yang sudah


ada. Kian dan Febby bersusah payah memasak daging steak ini untuk mereka. Disela-sela mereka makan, Yana izin ke toilet. Tian melihat Yana yang meninggalkan meja makan. Tian tau pasti ia akan menemui Mila. Tian berharap Mila baik-baik saja.


Mila bersembunyi dibalik selimut tebalnya. Flu berat tiba-tiba menderanya. Ia lupa membawa minyak angin untuk


menghangatkan tubuhnya. Terdengar suara pintu diketuk dan ia enggan untuk membukanya. Takut-takut itu Tian. Ia tak ingin membicarakan apa-apa sekarang padanya. Tapi ia juga takut kalau itu adalah Yuna yang ingin masuk ke kamarnya.


“Siapa?” teriak Mila.


“Yana, Mil,” Yana mengetuk pintunya lagi. Mila pun membukakan pintu untuknya. “Bisa flu gitu?”


“Gak tau, perubahan cuaca kali ya,” Mila kembali bergulat dengan selimut tebalnya.


“Perubahan cuaca apa perubahan hati?” Yana menebak perasaan sahabatnya itu.


“Apaan sih Yan! Ngaco!” Tepis Mila.


“Tunggu sampai dia jelasin. Jangan gampang terpancing emosi terus, Mil. Nanti salah paham,” Yana mencoba menasihati Mila untuk bersikap bijak kali ini. Mila tak ingin menceritakan apa yang barusan ia dengar karna ia merasa tak ingin dijelaskan disini. Mila hanya diam dan mendengarkan ucapan Yana. “Yaudah tunggu sini, gue ambilin minyak angin dulu ya. Istirahat aja udah,” Yana merapikan selimut Mila.


Yana mendatangi Mbo Darmi untuk menanyakan apa dia punya minyak angin namun saat di tangga ia berpapasan dengan Tian yang sengaja menyusulnya dengan membawa minyak angin yang ia butuhkan untuk Mila. Tian memberikannya pada Yana.


“Gak lu aja yang kasih? Kayanya dia butuh lu sekarang,” Yana menepuk pundak Tian. Yana percaya pada temannya satu ini kalau dia pasti punya alasan untuk ini semua. “Samperin deh, kasian dia butuh luh,” Yana kembali turun kebawah.


Luna melihat dari kejauhan jika Tian menemui teman wanitanya itu. Firasat di hatinya sepertinya tak salah. Bahwa


Tian dan teman wanitanya memiliki hubungan dari sekedar teman.


 

__ADS_1


 


Seseorang itu hadir dari masa lalu ku,,,!


__ADS_2