Aksara Mila

Aksara Mila
Munculnya Perasaaan Itu


__ADS_3

Di mobil suasana hening. Sepanjang perjalanan pulang Tian dan Mila saling diam membisu. Tian sedikit salah tingkah dan membuatnya canggung untuk bicara pada Mila. Tapi dia membuang jauh-jauh rasa yang menjadi penghalang lalu mencoba mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan lebih dulu.


"Sorry ya, Mil. Bukan maksud menghalangi kamu sama Bian pulang bareng tadi." kata Tian dengan rasa gugup membuka pembicaraan.


"Gpp kok, Tian. Santai aja." pandangan Mila lurus ke depan.


"Aku liat kamu akrab sama Bian?" terdengar seolah tak suka saat mereka berdua terlihat akrab.


"Gak juga, tadi kesel aja sama Yana. Jadi yaudah sama Bian aja pulangnya." jelas Mila.


"Tadi Yana khawatir banget, Mil. Dia yang bawa kamu ke UKS. Bukannya aku belain Yana tapi mungkin dia punya maksud cuekkin kamu tadi pas di kantin." Tian sedikit menjelaskan maksud Yana. Agar tidak terjadi salah paham antara mereka berdua.


Mila diam tanpa kata. Mila merasa sangat bersalah pada sahabatnya dengan bersikap kasar seperti itu padanya tadi. Ternyata diam-diam Yana memang perduli padanya. Sekesal apapun dia, Yana memang selalu jadi orang pertama yang mengkhawatirkannya. Mila tertunduk resah. "Tapi kok tadi yang aku liat pertama kali Bian bukannya Yana?" tanyanya dengan suara terdengar sedih.


Tian mengelus lembut rambut Mila. "Yana tuh tau kamu masih marah sama dia. Jadi dia gak mau pas kamu buka mata yang dilihat orang yang lagi kamu sebelin."


Yana sorry ucapnya dalam hati karna sudah terlalu jahat padanya. "Awww,,,,," rintih Mila memegang perutnya. Mila merasakan sakit yang luar biasa lagi pada perutnya.


"Kenapa Mil?" Tian nge-rem mendadak. "Masih sakit? Mau kerumah sakit? Yang mana yang sakit? Kenapa gak bilang kalau masih sakit sih? Kita ke rumah sakit ya sekarang?" dengan paniknya Tian bicara tanpa jeda.


"Tiannnn, Tiannnn." Mila menepuk tangannya. "Aku gpp kok. Jangan panik gitu. Malah bikin kaget tau." Mila tertawa melihatnya panik tak karuan. Padahal yang harusnya panik adalah dirinya buka Tian.


"Malah ketawa! Panik beneran tau! Ke rumah sakit aja ya, Mil?" pintanya yang benar-benar khawatir dengan kondisi Mila.


"Gpp Tian. Gak perlu ke rumah sakit. Ke klinik aja ya. Klinik yang biasa aku datang berobat.


"Yaudah dimana?" Tian membawa kendaraannya melaju dengan cepat menembus padatnya jalanan.


Kliniknya berada tidak jauh dari depan komplek rumah Mila. Mila dan keluarganya biasanya memang pergi ke sana jika ada yang sakit. Klinik di sana milik Dokter Hilma teman ibunya Mila. Sesampainya di klinik Tian membukakan pintu untuk Mila. Tanpa sadar Tian menggenggam tangan Mila sangat erat. Memapahnya dengan hati-hati masuk ke dalam klinik.


"Eh Milaa, kenapa lagi kamuu?" Suster datang membantu Mila dan langsung membawanya masuk ke ruangan Dokter.


"Biasa, Sus. Kumat asam lambungnya." jawab Mila santai.


Suster merebahkan Mila di tempat tidur pasien. "Kamu ini hobinya kok telat makan sih, Mil." Suster memeriksa tekanan darah Mila.


"Memang Mila sering banget ke sini ya, Sus?" tanya Tian yang ingin tau tentang riwayat sakitnya Mila.


"Loh, Mas temannya ya? Eh tapi kok beda sama yang biasanya ke sini?" melihat wajahnya berbeda dari yang biasa mengantar Mila ke klinik. Ohh,, pacarnya Mila ya?" Suster melirik Mila dengan tatapan menggoda. Yang di maksud Suster adalah Yana yang biasa mengantar Mila ke klinik.


"Ih, Suster. Gosip." Mila tersipu. Begitu juga Tian yang ikut tersipu mendengar perkataan Suster.


"Tuh kan saling senyum." godanya lagi dan sudah selesai memeriksa Mila.


Tak lama mereka bergurau. Dokter datang dan menyudahi percakapan mereka. "Apa sih, Sus? Seru banget sampai terdengar ke depan?" kata Dokter Hilma yang masuk ke ruangan.


"Maaf, Dokter." Suster tersipu malu menutup mulutnya. Suster memberikan hasil tekanan darah Mila pada Dokter.


"Mila, telat makan lagi? Atau makan pedas?" Dokter menebak dan memeriksa perut Mila.


"Telat makan, Dok." mengigit bibir bawahnya.


Dokter menggelengkan kepalanya. "Suster, siapkan infusan ya." Suster segera menyiapkan infusan dan suntikan. "Makan dong, Mila. Jangan telat makan terus. Kalau kamu mau diet konsultasi dulu. Jangan main asal diet aja." Dokter mengingatkannya lagi.


"Iya, Dok. Ini gara-gara bangun telat terus kesiangan datang ke sekolah. Jadi gak sempet sarapan eh terus di hukum hormat bendera pula. Jadi makin-makin deh." dumel Mila yang sangat meratapi sekali dengan kejadian hari ini.


"Ini harus di infus segala ya, Dokter?" Tian yang sedari tadi diam berdiri di sudut ruangan. Tiba-tiba bersuara dan menyelang pembicaraan Mila dan Dokter yang terdengar sangat akrab.


"Kalau Mila sudah ke sini itu tandanya sakit sudah tak tertahankan. Harus ambil tindakan lebih cepat dari sekedar obat yang membutuhkan proses yang lebih lama. Ya caranya dengan di infus dan diberi tambahan obat melalui infusan. Agar cepat mereda sakitnya dan cepat membaik." jelas Dokter pada Tian dengan tersenyum ramah padanya.


Suster datang membawakan jarum dan infusan. Mila terlihat santai saja, tidak ada takut-takutnya pada peralatan mengerikan itu untuk sebagian orang. Dokter mulai memberikan alkohol pada tangan yang akan dimasukan jarum infusan. "Tahan ya, Mila." Dokter memberikan aba-aba padanya. Tian berjalan mendekati Mila. "Kalau sakit jangan ditarik ya. Rilex aja." Dokter dengan perlahan dan hati-hati, memasukkan jarum ke tangan Mila.


Tian menggenggam tangan dan menutup mata Mila. Mila yang diperlakukan seperti itu sontak menahan tawanya. Sebenarnya dia lebih kearah malu karna Dokter dan Suster melihat perlakuan Tian padanya. Tapi mereka juga hanya bisa tersenyum tanpa berkata. Padahal Mila sudah biasa merasakan jarum infus setiap kali sakitnya datang. Haha ketahuan sekali sering telat makannya. Bagi Mila rasanya seperti digigit semut saja. Sakit di awal lalu seterusnya hanya gatal yang tersisa.


"Tunggu sampai 1-2 jam ya. Jika sudah habis infusnya panggil suster." kata Dokter yang telah selesai memberikan penanganan pada Mila. "Ingat ya, Mila. Jangan telat makan lagi! Siapin roti atau cemilan di tas. Oke?" Dokter mengingatkannya lagi.


"Baik Dokter." Mila mengangkat tanganya, hormat. "Dok, tapi jangan sampai Ibu tau ya." Mila meminta Dokter untuk tidak memberitahu orang tuanya.


"Emang ibumu tidak tau?" Dokter mengerutkan dahinya.


Mila menggeleng. Dokter menarik nafas dan hanya menarik senyumnya seolah menyetujui permintaan Mila. "Terima kasih Dokter, Suster." Mila tersenyum lebar pada mereka yang meninggalkan ruangan.


"Kamu sering telat makan ya? Besok kalau belum sarapan bilang ya. Pokoknya gak boleh sampai langganan masuk sini lagi!" kata Tian dengan nada yang terdengar mulai perhatian pada Mila. Cerewetnya Tian sudah seperti ayahnya Mila. Membuat Mila tertawa mendengar celotehannya. "Loh kok ketawa?"


"Kamu tuh lucu ya ternyata. Bisa cerewet juga. Aku kira kamu cuma diem aja, gak banyak ngomong. Tapi ternyata engga." kata Mila masih dengan tawanya.

__ADS_1


"Ya kan, aku gak mau aja kamu sakit lagi." sedikit malu karna di bilang cerewet oleh Mila. "Aku berlebihan ya?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Engga kok, Tian." Mila menyudahi tawanya. "Makasih yah udah mau nemenin." katanya lagi dengan senyum lebar di bibirnya.


Melihat senyumnya Mila membuat tingkat jatuh cintanya naik level. Ingin rasanya secepat mungkin mengungkapkan perasaannya pada Mila. Agar tidak ada orang lain yang mendahuluinya. Tapi tidak hari ini kata Tian. Melihat kondisi Mila yang seperti ini. Tian harus benar-benar mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal yang serius ini pada Mila.


Mila terpejam, dia mencoba menikmati sakitnya yang masih terasa. Mila tak ingin mengutarakan rasa sakitnya dan membuat Tian khawatir padanya. Lama kelamaan dia pun tertidur. Tian yang dengan setia menemani di sampingnya melihat Mila yang tertidur. Dia merapikan menyelimutinya dan memastikan Mila benar-benar tertidur. Setelah yakin Mila benar-benar tertidur pulas Tian dengan ragu meraih tangan Mila. Tian mulai menyadari bahwa dia benar menyayangi Mila. Tian menatap wajahnya dan merasa tidak ingin Mila di miliki orang lain. Hatinya mulai egois untuk memiliki Mila di dalam kehidupannya. Memilikinya lebih dari sekedar teman biasa.


Mil, entah kenapa perasaan ini gak bisa aku tutupin lagi? Entah perasaan berlebihan ini salah atau benar? Entah kamu menyukainya atau tidak? Yang jelas aku menyayangimu lebih dari sekedar teman? Hatiku mulai egois untuk memiliki kamu. Wanita yang aku sayangi setelah dia. Ucap Tian dalam hati sambil menggenggam tangan Mila lalu menciumnya hangat. Tian menggenggamnya seperti tak ingin melepaskannya lagi. Lalu dia ikut tertidur di samping Mila.


Kringgg!!


Ponsel Yana berdering. "Halo,,," sapa Yana.


"Yana, kamu dimana? Kenapa belum pulang? Sudah mau gelap ini?" suara laki-laki parubaya.


"Iya, Yah. Bentar lagi pulang." kata Yana dengan bingung. Dalam hati bertanya, kenapa Ayah Mila meneleponnya? Padahal Mila sedang tak bersamanya.


"Mila mana? Ayah mau bicara?"


Ternyata yang menelepone Yana adalah ayahnya Mila. Ayah khawatir pada anak gadisnya. Kenapa belum pulang sampai larut malam begini? Yana justru bingung harus beralasan apa pada ayahnya? Yana sendiri juga tidak tau dimana Mila sekarang? Yana mengira Mila sudah sampai rumah? Yana berpikir keras, memutar otaknya agar menemukan alasan untuk menjawab pertanyaan ayahnya Mila.


"Mila lagi ke toilet, Yah." Yana menemukan alasan yang setidaknya terdengar masuk akal.


"Kalian dimana? kenapa belum pulang?" tanya lagi dengan nada sedikit meninggi terdengar.


"Kita di perpus, Yah. Lagi nemenin Mila baca tapi bentar lagi pulang kok, Yah." alasan yang sering dilakukan oleh mereka berdua ketika jam segini belum sampai rumah.


"Bilang Mila, sudahkan membacanya lanjutkan dirumah. Sudah mau malam, cepat pulang." kata Ayah dengan tegas.


"Baik, Yah. Siap!" Yana segera menutup teleponnya.


Yana menghela nafasnya. Jadi mereka berdua kemana? Mana Tian gak ngabarin lagi? Gumam Yana dalam hati. Yana bingung harus cari mereka kemana. Yana mencoba menelepon Mila namun tak diangkat. Lalu beralih menelepon Tian. Tapi tak juga mendapatkan jawaban. "Duhh,, Tiann angkat dongggg!" Yana berjalan mondar mandir kebingungan.


Suara ponsel Tian membangunkan Mila. Dia membuka matanya dan mencari asal suara dering itu. Ternyata ponsel Tian berbunyi. Mila kaget melihat Tian yang juga ikut tertidur di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Mila melepaskan genggaman tangan Tian tapi malah membuatnya terbangun.


"Eh, Tian. Sorry, kebangun ya?" kata Mila melihat Tian terbangun.


"Maaf aku ketiduran." Tian membasuh wajahnya.


Yana terus meneleponnya. Tian keluar ruangan dan mengangkat teleponnya. "Halo, Yan."


"Astaga Tian! Kemana aja sih lu? Dari tadi gue telepon gak diangkat-angkat!" suara Yana terdengar setengah berteriak sampai Tian harus menjauhkan ponsel dari kupingnya.


"Sorry, Yan. Gue lupa kabarin, ketiduran tadi. Lagi di klinik, Yan." ujar Tian menjelaskan.


"Kok di klinik, Mila pingsan lagi? Klinik mana?" tanya Yana khawatir.


"Engga, tadi di mobil dia ngerasain sakit lagi jadi dia minta diantar ke klinik. Dia gak mau pulang katanya kalau masih sakit, takut orangtuanya cemas. Tapi ini udah mau pulang kayanya, infusannya udah mau habis." Tian melihat infusan Mila dari pintu kamar yang di tengahnya ada kaca yang menembus ke dalam.


"Ngilang gini juga udah bikin cemas Tian. Gak ngabarin gue lagi. Orangtua Mila kan taunya dia sma gue. Yaudah bilang Mila, kalau orangtuanya tanya. Habis dari perpus bareng gue ya. Tadi ayahnya telepon soalnya. Lu berdua cepet balik kalau emang keadaan Mila udah bener-bener sehat." Yana menutup teleponnya.


Suster datang ke ruangan Mila. Memeriksa keadaannya yang terlihat sudah lebih baik. "Sudah membaik Mila?" tanya Suster.


"Sudah." jawabnya sambil tersenyum pada Suster.


"Kamu sudah bisa pulang ya." Suster melepas infusan Mila. "Suster tunggu di depan ya untuk ambil obat." Setelah memeriksa keadaan Mila dan merapikan infusannya. Suster keluar dari ruangan.


Mila merapikan seragam dan mengikat rambutnya. Mila bercemin dan melihat wajahnya yang sudah terlihat lebih sehat. Mila melakukan senam wajah melatih senyumnya agar tidak terlihat habis sakit. Tian masuk ke ruangan dan melihat Mila sedang berdiri di depan cermin dengan tangan yang sudah terbebas dari infusan.


"Udah bisa pulang, Mil?"


"Udah. Yuk!" ajaknya dengan senyum yang mengambang di bibirnya.


"Jangan diulangi lagi ya." kata Tian dengan nada mengancam halus.


"Siappp Boooss!" katanya dengan tangan yang hormat ke Tian.


Tian dan Mila keluar dari ruangan. Tian membayar dan mengambil obat Mila. Saat mereka baru saja duduk di dalam mobil. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Untung saja naik mobil kalau tidak bisa-bisa mereka harus menunggu lagi di klinik sampai hujan reda. Di tengah perjalanan terdengar suara dari perut Mila yang lapar. Mila mengigit bibir bawahnya karna malu. Dia sadar perutnya berbunyi kencang.


"Kamu laper?" kata Tian yang juga mendengar suara perut Mila.


"Hiiiii. Iya, kedengeran ya." Mila tersenyum malu.


Tian mengelus lembut rambut Mila. "Yaudah sebelum pulang kita makan dulu. Aku juga laper. Mau makan apa?"

__ADS_1


"Makan bubur, yuk! Ada bubur enak di depan sana." Mila menunjuk ke sebrang jalan.


"Oke." Tian memutar balik arah mobilnya. "Oiya, kamu di dalam aja ya. Aku yang pesenin." melihat hujan masih turun dengan deras. Tian keluar dari mobil dan berlari kecil. Tian memesan bubur untuk Mila dan dirinya. Saat ingin memesan tiba-tiba Mila teriak dari dalam mobil.


"Abangggg! Mila kaya biasa ya." teriak Mila dan membuka kaca mobilnya.


Sontak membuat Tian, penjual bubur dan mereka yang sedang makan di sana terkaget mendengar teriakan Mila. Penjual bubur hanya mengacungkan jempolnya. Dia sudah mengerti betul dengan pesanan Mila. Bagaimana tidak kalau setiap hari minggu setelah lari pagi keliling komplek. Mila selalu mampir ke warungnya untuk makan bubur. Bubur ayam ini sudah berdiri 18 tahun lamanya. Selisih umur dengan Mila hanya 1 tahun saja.


"Jangan dikasih sambel, Bang." kata Tian sambil tangannya menahan tangan si penjual bubur.


"Biasanya mbanya minta pedas , Mas." kata si penjual menjelaskan kebiasaan Mila yang selalu makan bubur dengan level pedas diluar nalar.


"Jangan!" kata Tian dengan singkat, padat dan penuh penekanan.


"Oke. Tapi Mas yang tanggung jawab ya kalo mbanya ngomel." kata si penjual bubur.


Tian membawa dua mangkuk bubur ayam ke dalam mobilnya. Di dalam mobil Mila sedang sibuk mengisi daya ponselnya. Tanpa dia sadari Tian sedang menunggunya membukakan pintu untuknya. Secara tangan dia penuh dengan mangkuk.


"Sorry, Tian." Mila membukakan pintu untuknya setelah beberapa detik Tian menunggunya.


"Sibuk apa sih?" memberikan satu mangkuk buburnya ke Mila.


"Mau charger." Mila menyodorkan ponselnya yang habis baterai.


"Oiya. Tadi kata Yana, Ayah kamu telepon dia. Trus Yana kasih alasan kalau kamu sama dia lagi di perpus," kata Tian yang hampir lupa pesan Yana padanya.


"Tuh kan, pasti Ayah khawatir deh." kata Mila sambil fokus mengaduk buburnya.


"Yaudah telepone dulu. Pakai ponsel aku." Tian memberikan ponselnya.


Mila menerima ponsel Tian sambil mengunyah bubur di mulutnya. Mila mencari-cari rasa pedas di buburnya tapi tidak ada sama sekali. Lalu dia menyuap lagi buburnya tapi tak ketemu juga rasa pedas itu. Saat Mila hendak komplain dan menurunkan kaca jendela. Tian segera mengunci jendelanya. Tian tau Mila akan melakukannya. Marah-marah pada penjual bubur karna lupa menaruh sambal di buburnya.


"Ihh, Tian. Buka dong. Abangnya lupa nih pasti. Gak di kasih sambel." celotehnya kesal.


"Baru juga infusnya dilepas, Mil." ujar Tian menyindir Mila.


"Hiii. Lupa." katanya dengan senyum memaksa. Mila mengalihkan pembicaraan mereka dengan menelepon ayahnya. "Halo, Yah."


"Dimana sih, Mil? Belum sampai rumah juga? Sudah jam 6 malam, Mila." suara Ayah terdengar kesal karna Mila tak kunjung pulang.


"Ini aku di depan komplek, Ayah. Lagi makan bubur dulu sambil nunggu hujan reda. Bentar lagi selesai kok makannya. Nanti langsung pulang, serius." kata Mila dengan mulut yang mengunyah bubur untuk meyakinkan ayahnya.


"Bener ya, jangan bohong. Langsung pulang habis makan. Dengar ya, Milaaaa!" kata Ayah dengan tegas.


"Oke, Ayah. Dah." Mila menutup teleponnya.


Setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Tian mengantar Mila sampai di depan rumahnya. Ternyata di depan rumah sudah ada Ayah yang menunggu Mila. Ayah heran kenapa Mila pulang dengan mobil? Mila bilang tadi dia makan bubur karna menunggu hujan reda. Tapi kenapa sekarang dia pulang dengan mobil dan sepertinya juga itu bukan mobil Yana. Ayah hanya bisa bertanya di dalam hatinya.


"Thank's banget ya, Tian. Udah mau di repotin banget hari ini. Pulangnya hati-hati ya. Dah, Tian." Mila memasukkan obat ke dalam tasnya dan langsung keluar dari mobil.


"Bentar, Mil." Tian menahan Mila.


Tian berniat keluar dari mobil untuk mengantar Mila sampai di depan pintu rumahnya. Tapi Mila mencegahnya."Jangan, Tian." Mila tidak sengaja memegang tangan Tian.


"Ya, kenapa emang?" Tian mengurungkan niatnya untuk keluar lalu mencari payung untuk diberikannya pada Mila.


"Aduh nanti panjang. Nanti kamu diintrogasi Ayah. Yaudah ya. Thanks banget pokoknya." Mila keluar dari mobil Tian dengan buru-buru.


Mila melambaikan tangannya seolah menyuruh Tian untuk cepat pergi. Padahal Tian sedang mencari payung untuknya. Sebelum memberikannya payung, Mila sudah buru-buru keluar dan berlari kecil menuju rumahnya. Tian hanya menghela nafas. Membiarkannya kehujanan dengan berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum, Ayah." Mila datang dengan berlari kecil ke hadapan ayahnya.


"Wa'alaikumsalam. Malem banget sih, Nak?" Ayah yang terlihat gelisah.


"Basah, Yah." Menunjukkan bajunya yang basah. "Nanti aja ya ceritanya." Mila langsung masuk ke dalam rumah.


Ayah masih bertanya dalam hati dengan siapa Mila pulang? Mengapa bilangnya berteduh tapi pulang naik mobil? Apakah di dalam mobil itu Yana? Tapi mengapa mobil itu tak tampak familiar dan mengapa belum juga pergi? Apakah Mila pakai transportasi online? Ayah terus menatap ke arah mobil itu.


"Mila, itu mobilnya belum pergi? Kamu sudah bayar belum?" teriak Ayah sambil masuk ke dalam dan mengira anaknya naik taksi online.


"Udah kok, Yah." Mila berlari menuju kamarnya.


Mila masuk ke kamarnya dan langsung pergi ke balkon kamarnya dan memberikan tanda ke Tian untuk segera pergi. Tian menatap kamar Mila. Dia memang sengaja menunggu Mila sampai di kamarnya. Tian melihat Mila sudah ada di sana. Tian menarik persneling dan pergi dari rumah Mila. Tiba-tiba senyum itu hadir di bibir Tian. Dia merasa hari ini moment indah bersama dengan Mila. Bisa menghabiskan waktu berdua dan tak ada yang mengganggunya.


Perasaanya yang muncul jadi semakin kuat dan semakin membuatnya yakin pada perasaannya pada Mila.

__ADS_1


Munculnya perasaan itu!


__ADS_2