
Mila berpakaian rapi dan berdandan cantik. Dia duduk di ruang tv dan menggoyang-goyangkan kaki menutupi rasa gugupnya. Sangking gugupnya dia hanya memutar-mutar channel tv. Entah siaran apa yang sedang dicarinya. Hatinya masih bertanya-tanya, ada angin apa Tian mengajaknya jalan hanya berdua? Apa Tian ingin membicarakan hal serius antara mereka berdua? Tiba-tiba senyumnya mengembang di bibirnya.
"Anak Ayah mau kemana lagi?" Ayah menghampiri Mila dan duduk di sebelahnya.
"Mau pergi, Yah." jawabnya singkat.
"Kenapa channel tvnya kamu putar-putar terus? Cari siaran apa sih? Ayah pusing lihatnya." protes Ayah.
"Gak ada yang seru kalau hari minggu." Mila meletakkan remote tvnya.
"Mau pergi kemana kamu? Bukannya kemarin sudah pergi?" Ayah mulai mengintrogasi.
"Mau ke toko buku lagi. Kemarin tuh Mila lupa beli novelnya." Mila melihat ponselnya dan belum ada kabar dari Tian.
"Oke. Sama Yana kan perginya?" tanya Ayah lagi.
"Bukan, sama temen." Mila mulai gelisah karna pertanyaan ayahnya.
Bel rumah Mila berbunyi.
"Teteh Mila, ada temennya." Terdengar suara anak kecil memanggilnya. Dia adalah Lana adik laki-laki Mila yang berumur 6 tahun.
Mila mendatanginya dan kaget melihat Tian sudah ada di depan pintu rumahnya. "Tian, kenapa gak ngabarin dulu?" katanya dengan suara lirih.
"Siapa, Mil?" Ayah berjalan keluar menemui tamu yang datang.
"Assalamualaikum, Om." Tian menyapa ayahnya Mila dan menyalaminya.
"Wa'alaikumsalam, temennya Mila?" Ayah Mila menyambutnya dengan senyuman ramah. Lalu melihat Tian dari ujung kepala sampai kaki.
"Tian, Om." dia memperkenalkan dirinya.
Setelah acara perkenalan itu Mila langsung bergegas untuk pergi. Dia tidak mau acara kencannya hari ini berubah menjadi acara introgasi. "Ayah, Mila pergi dulu ya. Dahhh, Ayah. Assalamualaikum." dengan cepat dia menyalami ayahnya dan langsung menarik tangan Tian untuk keluar dari rumahnya. Tian bingung kenapa Mila terburu-buru seperti itu. Sampai dia saja tak sempat berpamitan pada ayahnya.
Ayah menatap bingung melihat tingkah anaknya. "Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, Nak. Sore sudah harus pulang ya. Dengar Milaaaa." Teriaknya pada Mila.
"Teteh,,,,," panggil Lana. Namun tak dihiraukan kakaknya yang sudah masuk ke dalam mobil. Ayah menggendong Lana. "Yah, teteh salah pakai sendal." Lana menunjuk ke sendal Mila yang terpasang berbeda. Ayah menggelengkan kepalanya sambil terus memandang jauh ke arah mobil yang melesat meninggalkan rumahnya.
Suasana jalanan cukup padat merayap menuju mall yang berbeda dari kemarin. Dengan terik matahari yang menyerot tajam menyilaukan pandangan mata. Di mobil Tian dan Mila saling berdiam diri. Menatap lurus ke depan jalan yang dihiasi oleh kemacetan ibu kota di hari minggu. Jalanan menuju mall yang akan mereka kunjungi, tak absen dari kata macet. Mau itu hari biasa ataupun hari libur. Jika jalanan terlihat tampak ramai tapi tidak di dalam mobil mereka. Di sini sunyi sangking sunyinya sampai suara degup jantung mereka saja terdengar. Suara yang saling memanggil. Sikap mereka tiba-tiba canggung dan juga gugup untuk memulai obrolan. Sesekali Tian memperhatikan Mila yang terlihat berbeda hari ini. Dia terlihat sangat cantik dengan dandanan tipis dan balutan dress yang sederhana. Begitupun Mila yang memperhatikan Tian dengan curi-curi pandang. Tian mengenakan celana jeans dan kaus berwana senada dengannya. Mereka kepergok saat saling melihat satu sama lain.
"Kenapa sih, Tian? Ada yang aneh ya?" Mila melihat bajunya, memastikan apa ada yang salah dengan penampilannya hari ini.
"Ah engga, Mil. Cuma hari ini kamu beda aja gitu," Tian memasuki bashment Mall.
"Beda gimana?" Mila makin bingung dengan kalimat Tian.
Tian tak melanjutkan pembicaraannya, dia mematikan mesin mobil dan keluar. Ketika Mila ingin turun dari mobil, dia baru menyadari keanehan dari dirinya.
"Ya ampunnnn, Milaaaaa! Begok banget sihhh gueeeeee!" Mila menutupi muka dengan tasnya dan menutup kembali pintu mobil.
Tian jelas bingung melihat Mila masuk lagi ke dalam mobil. Tian mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Tian sedikit panik karna Mila tak juga membukakan pintu mobilnya. Tian mencoba membuka pintunya namun ditahan dari dalam. "Milaaaa, Mil. Kenapa sihhh, Mila? Jangan bikin panik donggg. Milaaaaaa!" Tian terus menggedor kaca mobil. Mila masih menutupi mukanya, dia sangat malu dengan dirinya sendiri. Tapi lebih malu lagi kalau Tian bikin semua orang yang ada di basement melihat ke arah mereka. "Mila ada apa?" Tian masuk lagi ke dalam mobil setelah Mila membuka pintunya. Mila hanya menggangkat kakinya. Ternyata dia salah memakai sendal, pasangan kiri dan kanannya berbeda. Tian menghela sambil menahan tawa melihatnya dan menurunkan tas dari wajah Mila. "Makanya lain kali jangan buru-buru," Tian mengelus rambut panjang Mila yang terurai.
"Aaaaaaa, Tiannnnnn. Mila maluuuuuu!" rengeknya. "Kenapa gak bilang sih?" dia menutupi wajahnya lagi.
"Aku aja baru tau ini, sumpah!" Tian mengangkat jarinya sambil tertawa.
"Tuhkannnn ketawaaa. Aah udahlah balik aja yukk!" Mila ngambek.
"Loh kok gitu, janganlah! Yaudah kamu tunggu sini dulu." Tian mengambil sebelah sendal Mila dan keluar dari mobil.
"Eh Tiannn, mau kemanaaaa??" Mila bingung, Tian membawa sendalnya dan pergi.
Sudah 20 menit berlalu namun Tian belum juga kembali. Mila mencoba menelepon Tian tapi dia tidak membawa ponselnya. "Duhh,,, Tian kemana sihhh? Ponselnya gak dibawa lagi!" Mila ngedumel kesal sendiri.
__ADS_1
Tak lama Tian datang dengan membawa kardus sepatu di tangannya. "Sorry ya, Mil. Kelamaan ya? Nih coba." Tian mengeluarkan sepatu dari dalam kardus.
"Ih,,,Tian. Ngapain repot-repot sih." Mila mencoba sepatu yang Tian berikan. Ternyata Tian keluar tadi untuk membelikan sepatu untuknya.
"Muat gak?" Tian menunggu Mila mencoba sepatunya.
"Sukaaaaaa! Pas banget lagi. Tiannn, makasih." Mila tersenyum senang.
Akhirnya mereka melanjutkan nge-Date-nya hari ini. Masalah di selesaikan dengan mudah oleh Tian. Dia sudah sangat berharap sekali hari ini untuk melakukan apa yang sudah dia rencanakan semalam. Tian juga melatih bicaranya agar tidak gugup saat nanti dia nyatakan pada Mila. Dia sudah berlatih dari pagi di depan kaca kamarnya. Apakah Tian akan berhasil dengan rencananya? Apakah hari ini akan berjalan sesuai dengan keinginannya? Mila yang berjalan di sebelahnya sedang tersenyum manis sepanjang parkiran sampai ke dalam mall. Sepertinya Mila sangat terkesima dengan perlakuan Tian yang rela mencarikan sepatu untuknya.
"Mil, mau kesana?" Tian menunjuk ke area ice skating.
"Ah ngapain? Aku gak bisa." Mila menolak. Dia berpikir memakai sepatu roda saja tidak pernah. Ini lagi harus memakainya di es.
"Udahh gpp nanti aku ajarin yah!" Tian menarik tangan Mila.
Mereka memasuki area ice skating. Mila berpegang erat pada Tian. Dia tidak ingin jatuh dan malah bikin malu. Tian mulai mengajari Mila menyeimbangkan dirinya. Mila menggengam tangan Tian dengan erat tanpa ingin dia lepas sekejap pun. Perlahan dan pasti Mila mulai bisa menguasainya. Tian juga sedikit demi sedikit mulai melepaskan genggamanya. Tian membiarkan Mila merasakannya sendiri. Terlihat dari wajah yang bahagia, Mila sangat menikmati permainannya sekarang. Senyum manis yang dia lemparkan pada Tian membuatnya terpaku terpesona. Tian memperhatikan wajah bahagia itu tanpa lepas. Mila berputar kesana dan kemari dengan bahagia. Tian menikmati pemandangan langka itu dengan tatapan penuh cinta. Mila melambaikan tangannya pada Tian. Tian sadar dari lamunannya dan berjalan ke arah Mila. Mereka saling kejar, saling tertawa dan menikmati kebersamaan bersama. Sampai di saat Mila ingin menggapai Tian yang ada di depannya, dia kehilangan keseimbangan dan tak sengaja menabrak seseorang.
"Awaaassss!" teriak Mila.
Bruukkkkkkkkkkkkkkk,,,,,!!!
Dan mereka berdua terjatuh. Terdengar seseorang merintih kesakitan setelah ditabrak oleh Mila. Tian menenggok ke belakang dan melihat Mila terjatuh. Secepatnya dia menghampiri Mila. Namun karna kondisi yang sudah cukup ramai Tian kesulitan berbalik arah. Di sekeliling Mila sudah banyak orang yang membantu mereka berdua untuk bangun namun tidak dengan Mila. Dia tidak dapat bangun karna kakinya terkilir akibat tertindih seseorang.
"Heh, Mba! Lain kali kalau gak bisa main gak usah sosoan main! Jadi nabrak ginikan, sakit tau gak!" teriak wanita itu dengan kasar ke Mila.
"Aduh maaf banget ya, Mbaaa. Maaf banget!" dengan tulus dia meminta maaf karna merasa dia memang salah. Sambil merasakan sakit pada kakinya.
"Gak usah sosoan kesakitan deh! Udah tau gue yang ditabrak! Malah lo yang kesakitan!" teriak wanita itu yang masih sewot dan terus memaki-maki Mila. Walaupun Mila sudah meminta maaf berulang kali.
"Iya, Mbaaa. Maaf yaa, maaf banget!" Mila mengelus-elus kakinya.
"Milaa! Kamu gpp kan? Sakit yaaa? Mana yang sakitt?" Tian panik melihat Mila masih terduduk di lantai es itu. Sedangkan wanita itu sudah dapat berdiri dengan tegak sambil memaki-maki Mila.
"Lain kali juga, Mbanya hati-hati jangan main sambil kebanyakan salfie!" kata Tian menohok.
"Loh kamu,,,? Kamu Tian kan? Radit Tiandra?" suara wanita itu melembut. Dia seperti mengenali lelaki yang sedang menggendong Mila ke tepi.
Tian tidak menjawab dan langsung pergi membawa Mila keluar dari area ice skating. Mereka jadi tontonan banyak orang karna teriakan wanita itu. Tian menaruh Mila dikursi dan membuka sepatu Mila. Ternyata benar saja kakinya merah terkilir. Mila meringis kesakitan. Dia terus menahan sakitnya dari tadi dengan mengigit bibir bawahnya.
"Awww pelan-pelan, Tian." rintih Mila kesakitan.
"Sorry, sakit banget ya?" Tian meniup-niup kaki Mila.
Di area ice skating wanita itu masih memperhatikan Tian, sambil tangannya terus mencari-cari foto masa SMP di ponselnya. "Nah ketemu! Tuh kan bener dia Tiann!" katanya. Wanita yang tadi memaki-maki Mila, ternyata adalah Ayu, teman Tian waktu SMP. Ayu pernah satu kelas dengan Tian di kelas 8 dan dia sempat menyukainya.
"Siapa sihh, Yu?" tanya Riska teman Ayu yang sedari tadi hanya diam melihat temannya ngomong sendiri setelah memaki-maki orang.
"Pas banget ketemu disini. Dia tuh gebetan gue waktu SMP. Gila gak nyangka banget ketemu dia lagi di sini. Makin ganteng pula!" Ayu mesem-mesem melihat ke arah Tian.
"Heh gila lu ya, masih aja! Liat tuh dia udah punya cewek! Lu maki-maki pula!.Udah tau lu yang salah mundur-mundur pas selfie." kata Riska menyadarkan temannya.
"Iiiihhh,,, lu bawel banget sih! Lagian gue yakin dia bukan ceweknya. Tian tuh dingin banget jadi cowok dan susah buat dideketin. Paling juga tuh cewek yang kegatelan! Lagian cantikan juga gue kemana-mana daripada tuh cewek" kata Ayu dengan PD-nya sambil terus melihat ke arah Tian.
Tian mengoleskan kaki Mila dengan minyak yang dibawanya di tas. Dengan hati-hati dia mengurut kaki Mila. "Tahan ya, Mil. Sakit sedikit kok."
Mila menahan rasa sakitnya, dia meremas kursi yang didudukinya "Awwww,,, Tiannn pelan-pelan."
Tian mengambil sapu tangan di saku celananya dan menyumpal mulut Mila. Tian mulai memutar-mutar kaki Mila. Dia paham apa yang harus dilakukannya. Dia sudah sering membantu teman-temannya yang terkilir saat bermain futsal. Keahlian itu dia dapat dari Bunda yang selalu menjadi tukang urutnya ketika dia cidera setelah pertandingan.
"Aaaaaaaaaaa,,," teriak Mila yang tersumpal sapu tangan. Tangannya meremas kursi sejadi-jadinya dan menepuk-nepuk bahu Tian.
"Sorry ya, Mil. Kalo gak gitu kamu pasti teriakk kenceng." Tian melepas sumpalan mulut Mila.
__ADS_1
"Tian, jahat banget deh! Gak bilang-bilang lagi." Mila mengusap bibir dan matanya yang menitihkan air mata.
"Jangan nangis. Gimana udah mendingan belum?" mengelus kepala Mila.
"Udah enakan sih, gak terlalu sakit kalo di gerakin." Mila dengan perlahan memutar-mutar kakinya. Tian membereskan ice skate mereka lalu memasangkan sepatu Mila.
"Yaudah langsung pulang aja deh ya." Lalu dia memakai tas Mila dan ingin menggendongnya.
"Eh,,, mau ngapain?" Mila menolak di gendong Tian. "Aduhh Tian, aku tuh udah gpp. Udah bisa jalan kok sekarang," Mila bangkit dari duduknya dan berjalan. Tapi baru saja selangkah wajahnya langsung menyerngit kesakitan.
"Tuh kan. Orang masih sakit juga?" Tian bertolak pinggang kesal.
"Dipapah aja deh yaa. Maluu diliatin orang." Mila melihat sekeliling mereka.
Sedang terjadinya perdebatan itu. Tiba-tiba wanita itu datang lagi menyapa mereka.
"Hai, Tiannn!" Ayu datang lagi menghampiri mereka.
"Ada apa lagi?" jawab Tian langsung dengan ketusnya.
"Galak banget sih. Kamu gak inget aku? Aku Ayu, Tiann. Temen sekelas kamu waktu SMP," Ayu mencoba mengingatkan Tian.
"Oh,,," jawabnya singkat.
"Oh doang??" Oya ini pacar kamu? Yang gak bisa main ice skating tadi?" nyinyir Ayu. Dia melihat Mila dari atas kepala sampai mata kaki, dengan tatapan meremehkan.
"Iya! Yang lu maki-maki tadi seenak jidat lu. Padahal itu juga karna kesalahan lu yang salfie sembarangan!" kata Tian sinis.
"Loh, Tian. Kenapa marahin aku, kan dia juga yang salah gak bisa ngrem?" Ayu membela diri. Tian mencoba mengacuhkan Ayu dan pergi bersama Mila namun Ayu menghalangi. "Aduhhh, Tian. Kok pergi gitu aja siihhh?" Ayuu memegang tangan Tiann.
"Apaan sih pegang-pegang!" Tian melepas tangan Ayu. "Stop, jangan ikutin gue!" Tian memapah Mila dan meninggalkannya.
"Udahlah, Yu. Pergi aja. Jangan muka tembok deh lu. Udah di tolak mentah-mentah gitu!" bisik Riska sambil menarik tangan Ayu pergi meninggalkan mereka. Dengan kesal dan juga malu, Ayu pun mengikuti perkataan temannya.
Mila hanya memperhatikannya dengan bingung tanpa berusaha membela Ayu. Mila sebenarnya merasa tidak enak hati dengan Ayu tapi dia juga sudah kelewatan memaki-maki dirinya seenaknya di depan umum. Baru kali ini Mila melihat wajah marah Tian yang membelanya. Dua kali Tian membuat hatinya terkesima dengan perlakuannya.
"Bentar ya, Mil." Tian merogoh kantong celananya lalu membuang tiket nonton yang sudah dipesannya tanpa sepengetahuan Mila.
"Loh kok dibuang?" Mila menghampiri Tian dan mengambil kertas yang dibuangnya. "Tiket nonton? Kenapa dibuang Tian?"
"Kita pulang aja deh ya. Kasian juga kaki kamu sakit gitu?"
"Mubajir, Tian. Udah dibeli malah dibuang gitu aja. Lagian kenapa kalau nonton bioskop? Toh bukan nonton konser yang harus jingkrak-jingkrakan? Dah ayoo!" Mila menarik tangan Tian.
"Tapikan, Mil?" Tian mengikuti Mila dengan cemas.
Mila memutuskan untuk melanjutkan kencan mereka. Walaupun dia harus menahan rasa sakit pada kakinya. Mila tak tega harus menyudahi kencannya hari ini hanya karna kecerobohannya sendiri. Mila berpikir Tian pasti sudah menyiapkan semua ini untuknya. Dia tak ingin mengecewakannya. Tak apa harus menahan sedikit rasa sakitnya asal kencannya hari ini berjalan dengan semestinya.
"Udah gak usah cemas gitu. Gpp kok. Lagian kan sambil nonton bisa istirahat juga." Mila menenangkan hati Tian. "Senyum donggg!" pintanya sambil tersenyum.
"Oke tapi kalau makin parah sakitnya bilang yaaa." Tian mencubit manja pipi Mila.
Mila mengangguk mengiyakan ucapan Tian. Mereka memasuki Lobi Bioskop. Tian mengantar Mila untuk duduk di sofa. Tian menghela nafasnya, tak yakin harus melanjutkan kencannya dengan keadaan kaki Mila yang sakit. Tapi Mila terus meyakinkannya. Tian tertunduk lesu. Sepertinya bukan saatnya untuk dia mengutarakan isi hatinya saat ini pada Mila. Di sela-sela pikirannya yang sibuk memikirkan rencananya yang gagal. Mila menunjuk stand makanan.
"Mau french fries." dengan suara khas manja Mila.
"Siap Bosss." Tian langsung pergi membelinya.
Mila mengeluarkan lotion dari dalam tasnya dan mulai mengurut pelan kakinya yang masih terasa nyeri. Itu hanya alasannya saja meminta french fries. Padahal sakit di kakinya mulai nyut-nyutan terasa. Tapi dia harus menahannya sampai pulang nanti. Agar tidak mengecewakan Tian yang sudah menyiapkan semua ini. Setelah memesan dan menunggu makanannya jadi, Tian menghela napas panjang dan bergumam dalam hati. Gagal lagi aja gue ngomong sama Mila. Dia hanya berharap semoga semesta menciptakan ruang dan waktu yang tepat untuknya menyatakan isi hatinya pada wanita yang dicintainya dalam diam. Melihat Tian datang, Mila buru-buru menyudahi aktivitas mengurut kakinya.
"Kayanya udah bisa masuk deh Mil, yuk!" Tian melihat pintu bioskop yang sudah dibuka dan mereka berdua memasuki teater 1.
Kencan, Ketika kamu dan kamu menjadi candu.
__ADS_1