
Bel berbunyi tanda kelas telah usai. Aya berjalan dengan menggandeng tangan Qila. Badan Qila masih terasa sedikit sakit akibat insiden di kelas tadi. Cila dan yang lain pulang lebih dulu. Katanya mereka mau pergi ke salon untuk merapikan dan perawatan rambut mereka, yang acak-acakan sehabis bermain jambak-jambakan dengan Mila. Aya sendiri tidak ikut karna alasan ingin menemani Qila pulang. Kasian kalau pulang sendirian katanya.
"Udah gpp kok, Ay. Lu ikut Cila aja, gue bisa pulang sendiri kok." Qila berjalan di samping Ayana yang setia menggandeng disampingnya tanpa berkata apa-apa dari tadi.
"Kita tuh harusnya gak ngelakuin sampe sejauh ini tau!" kata Ayana dengan kesal.
Qila kaget dengan ucapan Aya dan menghentikan langkahnya. "Ay, bisa pelan gak sihh! Nanti ada yang denger gimana?" Qila melihat keadaan di sekitarnya.
"Gue tuh udah paling males kalau Cila berulah sama Mila. Gini nih jadinya, ngaco!" Ayana menghentakan kakinya ke lantai dan tak sengaja melepas gandengan tangannya dari Qila.
"Ehh Ehhhh," Qila hampir saja jatuh tapi tertolong karna ada yang menangkapnya.
Melihat orang itu sontak membuat Ayana dan Asty kaget. "Qila, sorry. Gpp kan?" Ayana membangunkan Asty dari pangkuan Yana.
"Gimana sih, Ayyyyyyy!" Qila ngomel. "Thanks, Yan." kata Qila pada Yana.
"Kenapa, Qil?" Bian datang dan melihat Yana ada bersama dengan mereka.
"Gpp kok." Qila langsung menjauhkan diri dari Yana.
"Gue anter pulang ya, masih sakit kan?" Bian meraih tangan Qila.
"Ayana gimana?" tanyanya yang tak enak hati jika meninggalkan Aya sendirian.
"Biar Aya sama gue." jawab Yana.
Jelas sangat membuat Qila dan Aya kaget. Mereka saling menatap heran. Ada angin apa nih? Tiba-tiba Yana menawarkan diri untuk mengantar Aya pulang. Ingin sekali menolak tapi keadaan memaksa. Bian dan Qila berpamitan pulang lebih dulu dan meninggalkan Aya dan Yana berdua. Qila menatap Aya tanpa lepas seperti mengisyaratkan padanya untuk tidak membuka mulut sama sekali ke Yana soal kejadian Mila dan Cila.
Yana sudah siap dan duduk di motornya menunggu Aya. Dia berjalan dengan rasa gugup dan juga cemas sambil menggenggam tali tasnya erat-erat. "Gpp kan naik motor?" Yana memberikan helmnya pada Aya.
"Gpp." Aya menerima helm dan memakainya.
Aya duduk di ujung motor. Dia benar-benar menjaga jarak dengan Yana. Sepanjang jalan mereka tak berbicara sama sekali. Hanya membisu sampai mereka sampai di rumah Aya. Yana tak berniat mengintrogasinya karna itu akan membuat Aya curiga dengannya. Yana hanya berniat membuatnya merasa tidak nyaman karna telah menyembunyikan sesuatu darinya. Yana memang cukup pandai dalam membaca karakter seseorang. Dia tau saat ini Aya sangat gelisah dan juga cemas. Terlihat dari tangannya yang tak lepas menggenggam tali tasnya.
"Stop, ini rumah gue." Yana menghentikan motornya. "Makasih ya." Aya langsung berlari masuk ke rumahnya. Tapi dia lupa melepas sesuatu di kepalanya.
"Ehem!" Yana memberikan kode padanya. Aya membawa helmnya ikut masuk ke dalam rumahnya. Ana menengok bingung. "Helm" Yana menunjuk kepalanya.
"Ya ampunn." Aya memegang kepalanya yang masih memakai helm. "Maaf lupa." Aya memberikannya.
Yana tersenyum. "Gugup banget? Kenapa emang? Grogi ya jalan sama gue?" kata Yana menggodanya. Aya salah tingkah dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Yana hanya tersenyum dan langsung menarik gas motornya lalu pergi.
Di pinggir kolam renang Mila dan Tian duduk dengan kaki yang berada di dalam kolam. Mereka saling diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Bunda melihat mereka berdua dari balik gorden. Dia hanya tersenyum senang melihat Tian, anaknya yang sudah bisa jatuh cinta dengan orang lain dan tidak menutup diri lagi. Tian ingin memecah kecanggungan ini dengan memulai pembicaraan lebih dulu, tapi ponsel Mila tiba-tiba berdering.
"Halo, Ibu." Mila menjawab teleponnya dan diam sejenak menyimak apa yang ibunya katakan. "Iya, Bu. Yasudah Ibu sama Bapak hati-hati ya." Mila menutup teleponnya.
"Ibu telepon?" tanya Tian.
"Iya, Ibu sama Ayah pergi ke rumah teman ayah. Ada urusan katanya." jelas Mila.
"Mil,,," mulutnya terasa berat melanjutkan ucapannya. Tian menatap kosong kedepan.
"Yaa," Mila melihat ke arah Tian.
"Soal kejadian yang di rumah kamu kemarin, aku minta maaf ya."
"Iya. Ga usah dibahas lagi." Mila tersenyum.
"Besok kamu masuk sekolah?" Tian menengok kearahnya.
"Engga, kan diskors." Mila tersenyum pahit.
"Kalau mereka tau kamu,,,,," sebelum Tian selesai dengan ucapannya. Mila sudah langsung menjawabnya.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu pergi sampai lusa. Gak ada yang bisa datang ke sekolah. Mungkin kali ini aku beruntung. Tapi gak tau setelahnya?" kata-katanya terasa getir. Mila menatap lagi air kolam yang dirasa hanya dia yang mengerti perasaannya saat ini.
"Aku sama yang lain bantu cari caranya ya. Kamu sabar."
"Ga usah Tian, kalian udah banyak bantu aku. Aku bakal selesain sendiri kali ini, aku gak mau buat kalian kecewa lagi gara-gara masalah aku. Doain aja biar aku bisa nemuin bukti kalau aku gak sepenuhnya salah." Mila meyakinkan Tian kalau dia baik-baik saja. Meski dalam hatinya dia merasakan dia sangat membutuhkan teman-temannya.
"Oke. Besok istirahat aja di rumah. Anggap aja ini extra libur untuk kamu baca novel seharian." Tian mengelus kepala Mila dan mereka tertawa kecil.
Tiba-tiba dari belakang ada yang mendorong Tian dan membuatnya harus masuk ke dalam kolam renang.
BYUURRRR!!!
"HAHAHA, rasain! Itu karna lu udah bikin gue telat hari ini." kata Kian dengan tertawa puas.
"Kiaannnn! Lu tuh rese ya, gak bisa apa liat situasi." teriak Tian kesal.
Mila kaget melihat mereka. Dia bengong melihat Kian. Pertama kalinya dia melihat kembaran Tian dengan versi yang sedikit berbeda. Wajah yang sama-sama tampan. Bedanya Kian lebih terlihat bad boy. Kebayangkan?
Kian melihat wanita yang tadi di samping adiknya. "Ohhh,,, jadi ini yang bikin adik gue galau tadi pagi?" Kian merangkul Mila.
Mila mematung saat Kian merangkulnya dengan erat. Melihat kakaknya berani menyentuh Mila. Tian buru-buru naik untuk menjauhkan Mila dari kakaknya. Kian sengaja membuat adiknya naik darah dengan menyentuh wanita yang disukainya. Bunda datang karna mendengar suara ribut-ribut di belakang dan melihat Kian yang sedang tertawa senang sedangkan Tian basah kuyup. Sebelum ribut-ribut berubah menjadi baku hantam, Bunda menghampiri Kian dan menjewernya.
"Aaaaaaaaaa,,, Bunda, Bundaaaaaa." Kian melepaskan rangkulannya dari Mila. "Iya, iya. Ampunnn, Bunda."
Bunda melepaskan tangannya dari kuping anak sulungnya. "Baru juga pulang, Kiannnn. Sudah buat adiknya basah kuyup begitu. Kamu gak lihat, sedang ada temannya?"
"Tian duluan, Bun! Dia ngerjain aku tadi pagi. Aku telat dan di hukum lari lapangan 10 kali. Gara-gara aku harus anterin dia dulu ke sekolah. Kan aku malu, Bunda. Cewek-cewek jadi ngeliatin aku di hukum." protesnya.
"Maaf ya, Mila. Mereka tuh kadang masih kaya anak kecil. Senangnya berantem aja. Padahal cuma berdua." Bunda malu pada Mila karna harus melihat tingkah mereka berdua. Tian dan Kian hanya diam dengan tatapan mengejek.
"Gpp, Bunda." Mila tersenyum malu.
"Sudah kalian ganti baju sana, pergi mandi." perintahnya tegas, tapi mereka masih saja sikut-sikutaan. "Sekarang, Radittt!" Bunda memanggil nama depan mereka lalu secepatnya mereka berdua lari dari sana. Bunda dan Mila tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Bunda tersenyum, "Itu hanya terjadi di rumah ini. Saat Bunda sudah beneran marah dengan mereka."
Bunda menemani Mila di ruang tamu. Mereka asik bercerita tentang kakak beradik yang sedang di atas. Mila sebenarnya menunggu Tian turun karna ingin berpamitan pulang. Mila menunggu cukup lama, namun dia tak kunjung turun dari kamarnya. Sampai tidak ada lagi yang harus diceritakannya pada bunda. Mila terlihat bosan dan celingak-celinguk menunggu Tian.
"Mila cari Tian ya?" Bunda memperhatikan Mila.
"Hmm iyah, Bun. Tian kok gak turun-turun ya? Aku mau pamit pulang."
"Hai. Mau kemana sih? Kan kita belum ngobrol." saut Kian yang sedang menuruni anak tangga.
"Hai." sapa Mila dengan wajah datar begitu Kian sudah sampai dihadapanya.
Kian tertawa. "Ekspresi lu mirip Tian." Mila tersipu malu dan melihat Bunda yang juga ikut tertawa. Seperti mengiyakan ucapan Kian. "Nunggu Tian yaa. Dia mah lama kalau mandi." Kian duduk di samping bundanya.
"Memang kamu cepet kalau mandi?" Sindir balik bunda.
"Aih, Bunda. Buka kartu aja deh." Kian menyenderkan kepalanya ke sofa.
"Adikmu mana? Belum selesai atau kamu isengin lagi?" tanyanya curiga.
"Mana aku tau?" Kian membuka ponselnya. "Ketik nomor lo dong." Tian menyodorkan ponselnya. Mila menatapnya bingung. Dia bingung harus memberikannya atau tidak. "Boleh. Udah tenang aja pasti boleh sama Tian." katanya menebak pikiran Mila.
Mila meraih ponsel Kian tapi tiba-tiba ponsel Mila berdering dan tak jadi memberikan nomornya pada Kian. Mila melihat panggilan di ponselnya dan itu dari Tian. "Iya, Tian." jawabnya.
"Aihh lupa lagi." gumam Kian. Dia lupa tidak mengambil ponsel Tian sebelum mengunci pintunya dari luar. Bunda menggelengkan kepala seperti sudah menebak ulahnya.
"Tian kekunci dari luar katanya, Bunda." Mila memberitahunya setelah menutup telepon.
"Kiaaaannnn. Kamu tuh ya. Iseng banget sama adiknya. Bukain, cepetan. Mila mau pamitan pulang." Kian kabur sebelum bunda menjewernya lagi. "Kian, bukain pintu adiknya." teriaknya melihat Kian sudah lari pergi.
__ADS_1
"Kuncinya ngegantung, Bunda." Kian masuk ke ruang musik.
"Maaf ya, Mila. Mereka tuh gitu, gak bisa berhenti jahil. Mila bisa tolong bukain ya. Bunda harus siram tanaman di depan. Kamarnya di atas, pintu pertama ya." katanya dan langsung pergi meninggalkan Mila.
"Tapi Bund,,," Mila bingung harus apaa setelah ditinggal sendirian
Mila melihat ke atas, batuan marmer mengiasi lantai dan juga tangga menuju lantai atas. Mila menelan liurnya dengan gugup dia melangkah menaiki anak tangga. Entah mengapa Bunda harus menyuruhnya yang membukakan pintu kamar Tian. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Melihat betapa bagusnya rumah Tian. Dia tak percaya Tian yang selalu tampil sederhana ternyata kehidupan keluarganya sangat mapan. Mila sampai di lantai atas dan dia melihat lorong panjang di depannya. Ada dua pintu yang terletak berseberangan. Mungkin saja itu pintu kamar Tian dan Kian.
"Bundaaaa, bukain pintu.," Tian menggedor-gedor pintu kamarnya. Mila mendengar teriakan itu. Tian sudah dari tadi menggedor-gedor pintu kamarnya tapi tak ada yang mendengarnya. Kunci pintu menggantung di lubang kunci. Tian diam karna mendengar langkah kaki mendekati kamarnya. "Kiaaaan! Bukain gak!" teriaknya kesal. Terdengar suara kunci di putar. Tian buru-buru membuka pintunya. "Lu rese ya!" teriaknya tanpa dia tau siapa yang di depan pintu. Mila berdiri di sana dihadapannya dan di depan kamarnya. "Milaa? Kok kamu? Kian sama Bunda mana?" Tian buru-buru menutup pintu kamarnya dan memegangi gagang pintunya.
Mila tertegun heran melihat gelagat Tian yang seperti menutupi sesuatu darinya. "Kian di bawah, Bunda siram tanaman katanya. Aku di suruh Bunda untuk bukain pintu karna Kian gak mauu."
Selama ini tak ada yang berani ke kamar Tian kecuali Kian. Itu pun tanpa izin darinya. Dia lancang diam-diam masuk ke dalam kamar adiknya tanpa sepengetahuannya. Dia memang sangat usil pada adik semata wayangnya. Untuk urusan membersihkan kamar, Tian melakukannya sendiri tanpa bantuan Bibi. Tian tak mengizinkan satu orang pun masuk ke kamarnya termasuk Bunda. Entah apa yang disembunyikannya belakangan ini.
Kian keluar dari studio musiknya dan mendengar Tian sudah keluar dari kamarnya. Lalu dia dengan santai naik ke lantai atas tanpa rasa bersalah dan bersuil seperti tidak habis melakukan apa-apa. "Hai, Adik." sapanya dengan tersenyum penuh maksud.
Tian melihatnya dengan tatapan sinis. Lalu Kian menarik tangan Mila dan membuat dia ada dipelukkannya. "Kiannn!" Tian melepas tangannya dari gagang pintu dan menarik Mila dari pelukkan kakaknya. "Lu bisa gak,,,,,." tanpa Tian sadari maksud Kian sebenarnya. Dia sengaja melakukan itu untuk mendorong mereka berdua masuk ke kamar Tian. Sebab dorongan keras dari Kian, mereka berdua jadi jatuh ke lantai dengan posisi yang sangat membuat keduanya canggung.
Kian tertawa melihat mereka. Tanpa rasa bersalah dia pun mengunci mereka berdua dari luar. "Selamat bersenang-senang, Adik." dengan tertawa jahil.
Sadar dengan posisinya, Mila cepat-cepat bangun dan berdiri. "Sorry Tian, kamu gpp?" Mila membangunkan Tian.
"Gpp kok." Tian melihat tangan Mila yang berdarah lagi. "Tuh kan jadi berdarah lagi. Kian nih suka gak tau kondisi kalau bercanda. Keterlaluan!" Tian mendudukan Mila ke sofa yang ada di kamarnya. Dia mencari kotak obat di laci tempat tidurnya dan lupa soal kamarnya yang tadi di tutup-tutupinya.
Mila melihat sekeliling kamar Tian. Tak ada yang aneh dengan kamarnya tapi kenapa Tian terlihat penutupinya tadi? Tapi pandangan matanya jadi teralihkan pada satu foto yang ada di meja belajar Tian. Foto yang terlihat sangat femiliar baginya. Mila bangun dari duduknya dan menghampiri meja belajar itu.
"Sini, Mil. Di obatin lagi." kata Tian setelah menemukan obat merah dari lacinya. Tapi terlambat Mila sudah ada di depan meja belajarnya dan memegang foto yang terbingkai cantik di sana. "Jangan liat!" Tian merampas foto dari tangan Mila dan menyembunyikan di belakang badannya.
"Itu aku kan?" Mila menyadari fotonya. "Tian?" Mila menunggu jawaban Tian.
"Iya,,," Tian tertunduk.
"Kapan?" Mila menanyakan kapan itu di potret.
"Waktu di klinik." Tian menatap mata Mila.
Mila mendekap mulutnya kaget mendengar jawaban dari Tian. Lantas matanya mencari-cari di setiap sudut kamar Tian. Pandanganya lagi-lagi teralihkan pada satu ruang yang ada di depannya sekarang. Mila melangkah dengan hati berdetak kencang, mendengkap mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Di dinding kamar itu berbaris foto-fotonya, Tian memotret dirinya di setiap moment.
Foto saat dirinya sedang marah, sedih, tertawa, tertidur, belajar maupun berkeringat saat olahraga. Tian hanya terdiam pasrah saat semua rahasianya di lihat oleh orang yang menjadi rahasia di balik itu semua. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya objek untuk koleksi fotonya. Menyimpan semuanya rapat-rapat tanpa dunia pun mengetahuinya.
"Sejak kapan Tian?" air matanya metes melihat ada seseorang yang benar-benar menyayanginya dalam kesunyiannya.
"Sejak awal tahun ajaran baru, sejak melihat kamu untuk pertama kalinya, sejak Yana ngenalin kamu ke aku, sejak kamu panggil aku si muka datar, sejak saat itu Mila, sejak itu aku,,," belum selesai Tian mengutarakan semuanya. Mila langsung memeluknya dengan erat sambil menangis.
"Kenapa gak bilang, Tian?" Mila mendekap penuh haru dan air matanya tak henti mengalir.
"Aku takut, Mil." Tian memeluk erat balik Mila. "Aku takut. Aku gak pantes buat punya perasaan lebih ke kamu." Tian juga tak kuasa menitihkan air matanya.
Akhirnya Mila menyadari tentang perasaan Tian yang sebenarnya hari ini. Tian menyimpan semuanya dalam diamnya. Selama ini Mila hanya dilema akan perasaanya pada Bian. Sampai dia melupakan perasaan Tian padanya. Hatinya luluh seketika, saat melihat kesungguhan hati Tian padanya. Bukti yang dia dapat hari ini bukan sekedar bukti dari kejahatan Cila saja. Tapi juga bukti yang sebenarnya tentang Tian yang teramat menyayanginya selama ini.
Mila melepaskan pelukkanya dan menyeka air matanya. Mila berjingjit dan mengecup hidung Tian. "Aku mau jadi model foto kamu. Tanpa kamu perlu sembunyi-sembunyi untuk motretnya. Aku mau bukan hanya foto aku aja yang kamu pajang di dinding ini tapi foto kita. Aku juga mau kamu gak sembunyi-sembunyi lagi suka sama aku." kata Mila dengan tangan yang memegang pipi Tian.
Seperti tersambar petir Tian mendengar ucapan panjang Mila. Jantungnya mendadak berhenti seketika lalu berdetak kembali dengan cepat, seperti sadar dari koma.
"Tiann?" Mila menggoncangkan badan Tian yang mendadak membeku.
"Aku gak salah denger kan, Mil?" Tian berkata setelah beberapa detik bibirnya kelu untuk berucap apapun. Mila hanya tersenyum.
Dari balik pintu Kian tersenyum bahagia mendengar pengakuan mereka berdua. Lalu pergi ke kamarnya dengan menyanyikan lagu favorite dia dan Tian. Ternyata keisengnya hari ini membawa kebahagiaan untuk adiknya. Sebenarnya dia memang mengetahui adiknya sudah lama menyayangi Mila. Meski Tian tidak pernah cerita apa-apa padanya. Wanita yang berani dibawanya hari ini ke rumah. Semua jelas terlihat dari sikapnya yang selalu memperhatikan Mila tanpa lepas. Dari tatapan matanya yang tak pernah berbohong saat menatapnya dan dari cara dia memperlakukan Mila dengan berbeda.
Kian sudah lama menunggu moment-moment ini. Menunggu adiknya membawa Mila ke rumah dengan alasan apapun. Untung saja semesta mengabulkan keinginannya hari ini. Jadi dia bisa menunjukkan semuanya. Sesuatu yang selama ini, Tian tutupi pada semua orang, termasuk ibunya sendiri. Menunjukkan juga pada Mila, jika adiknya sungguh-sungguh menyayanginya dalam kesendirian dan tanpa suara.
Tapi ini bukan awal hubungan mereka.
__ADS_1
Kita adalah kata dalam ikatan.