
Mila berangkat ke sekolah dengan terburu-buru. Dia takut terlambat datang untuk upacara bendera. Sangking buru-buru dia tak memeriksa lagi rok yang dipakainya. Di angkot dia sudah merasa tidak nyaman dengan mata cowok-cowok yang jelalatan melihat ke arahnya. Dia gelisah dan terus menarik-narik roknya. Dia salah menggunakan rok lamanya yang sudah terlalu pendek di atas dengkul. Mila turun dari angkot dan berlari masuk ke sekolah. Untungnya gerbang belum ditutup dan dia datang di waktu yang tepat. Yana tak menjemputnya hari ini. Ayah juga tidak bisa mengantarnya karna harus mengantar Lana lomba. Sampai di kelas, dia langsung mencari topi dan berlari ke lapangan untuk mengikuti upacara.
Mereka semua mengikuti upacara dengan hikmat. Yana terlihat celingak-celinguk ke depan dan belakang mencari Mila, tapi dia tak terlihat. Yana mengira pasti dia datang terlambat lagi. Padahal Mila sedang sibuk mengunting kukunya di barisan paling belakang. Dia tak mau Pak Hamzah memukulnya dengan penggaris karna kuku yang belum di potong. Dia lupa tak menguntingnya kemarin tapi untungnya dia selalu membawa gunting kuku di tasnya.
"Mil, pinjem dong." bisik Arsya yang berdiri di sebelah Mila.
"Bentar,,,!" Mila hampir selesai merapikan kukunya.
"Mila,,,!" teriak Arsya lagi dengan tak sabaran dan menarik lengan baju Mila.
"Berisik lu! Sabar!" Mila memberikan gunting kuku padanya.
Dari belakang kuping Arsya di jewer oleh Pak Rizal. Yang bertugas menjaga barisan belakang. "Kamu udah minjem, berisik lagi. Jangan berisik atau saya tarik ke depan." Tegurnya.
"Iya, Pak." kata Arsya, nyengir.
Untung saja Pak Rizal santai orangnya. Tapi kalau di luar jam pelajarannya saja. Setelah menyanyikan lagu daerah, upacara hari ini selesai. Murid-murid dibubarkan untuk kembali ke kelas. Namun sebelum mereka dibubarkan guru piket yang bertugas hari ini mengambil kendali. Setelah kepala sekolah dan juga guru-guru bubar barisan. Entah ada sidak dadakan apa hari ini?
Guru piket mengambil mikropon. "Untuk para siswi yang menggunakan rok di atas dengkul harap ke depan."
Seketika raut wajah para cewek berubah menjadi panik. Mereka sibuk menurunkan rok mereka yang sebelumnya sengaja mereka naikan agar terlihat lebih pendek dan sexy. Ada juga yang memang sengaja dipotong lebih pendek di atas dengkul. Terlihat tidak ada yang jujur untuk maju ke depan. Membuat Bu Tati, guru piket hari ini harus turun tangan sendiri. Turun ke barisan dan memeriksanya sendiri.
Mila tertunduk lemas, "Kenapa harus hari ini sihhh,,,?" gumamnya kesal.
Mila hanya bisa pasrah kalau kalau dia harus di pejeng di lapangan karna salah memakai rok. Mila masih terlihat santai dan aman karna dia berada di barisan belakang. Satu persatu murid cewek mulai maju ke depan dan itu tak luput dari Cila, Netha, dan Diana. Padahal masa hukuman skorsing mereka baru saja selesai tapi sudah memulai hukuman baru lagi hari ini. Sedangkan Qila dan Ayana selamat karna memang rok mereka tidak terlalu pendek dan sesuai standart peraturan dari sekolah. Setelah selesai dengan sidaknya, guru piket kembali ke depan. Mila menarik nafas lega, dia tak terlihat olehnya dan berhasil lewat dari hukuman tapi sayang, hari ini bukan hari keberuntungannya. Pak Rizal menepuk pundak Mila dan melihat ke arah roknya. Ternyata beliau masih ada di belakangnya. Mila mengigit bibirnya dan Pak Rizal menyuruhnya untuk ikut baris ke depan. Mila memohon dengan menempelkan kedua tanganya tapi dijawab dengan gelengan kepala oleh Pak Rizal. Mila melangkah lesu ke barisan depan. Yana dan Tian melihat Mila datang. Dia ikut terkena sidak dadakan dan maju ke depan.
Mereka yang menggunakan rok di atas dengkul, dihukum jalan jongkok keliling lapangan selama 5 kali dengan rok yang sebelumnya sudah di gunting oleh Bu Tati. Tidak ada yang berani protes pada Bu Tati. Guru perempuan yang satu ini emang terkenal killernya. Mereka mulai melakukan hukumannya. Murid-murid yang lain dibubarkan dan kembali ke kelas mereka. Tapi ada yang masih menunggu di depan kelas untuk melihat teman-temannya yang sedang dihukum. Sorak-sorai mereka mengiringi teman-temannya menjalani hukuman jalan jongkok dengan rok yang pendek dan tergunting.
Melihat murid-muridnya kesusahan berjalan jongkok karna malu roknya naik cukup tinggi dan dilihat teman-teman cowoknya, membuat Bu Tati geram. "Susah kan? Malu gak kalian? Makanya rok itu jangan di pendek-pendekin. Kalian ini ada-ada saja kelakuannya. Besok kalau masih ada yang pakai rok pendek akan ibu robek langsung roknya. Biar tidak bisa kalian pakai lagi. Mengerti,,,!" teriak Bu Tati tegas.
"Mengerti, Bu,,,!" teriak mereka kompak.
Yana dan Tian memperhatikan Mila yang kelelahan. Mereka bersamaan menggelengkan kepala. Pandangan Bian juga tak luput dari Mila. Ingin sekali dia berlari kelapangan dan memberikan jaketnya untuk menutupi rok Mila yang robek. Dia tak rela Mila dilihat oleh cowok lain. Tapi sebelum dia menjadi pahlawan untuknya, pasti sudah ada teman-temannya yang membentengi dan menghalanginya.
Saat Mila melintas di depan kelasnya. Seno dan Wahyu meneriakinya dengan kuat, berniat memberikan semangat padanya. Tapi itu hanya membuat Mila semakin malu. Dia menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan pada mereka berdua untuk berhenti menyemangatinya dan diam. Tapi bukan Seno namanya kalau tidak membuat kegaduhan. Seno dan Wahyu malah sengaja, semakin keras menyemangati Mila.
5 putaran telah usai. Hukuman mereka akhirnya selesai dengan susah payah. Untuk berdiri saja mereka tak sanggup lagi. Ada yang meluruskan kaki mereka lebih dulu sebelum kembali ke kelas mereka masing-masing. Cila, Diana dan Netha saling berpegangan tangan agar dapat berdiri dan berjalan. Mereka berjalan sempoyongan karna seluruh kaki mereka seakan mati rasa sangking pegalnya. Terlihat Mila sudah berdiri tapi masih berpegangan pada pagar tanaman yang ada di lapangan. Dia sedang stretching kakinya yang kram sehabis jalan jongkok. Bian melihatnya dan segera menghampirinya. Dia langsung mengikatkan jaket yang sedang di pakainya ke pinggang Mila tanpa aba-aba lebih dulu.
"Eh, Bian." Mila menoleh kaget melihat Bian ada di belakangnya.
"Biar nyaman. Biar gak di liatin orang juga." tersenyum dengan khasnya. Seolah mereka sudah berbaikan dan tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
__ADS_1
Senyumannya membuat jantung Mila berdegup makin kencang. Padahal dia masih berdebar karna kelelahan jalan jongkok. Eh sekarang sudah ditambah pula dengan senyuman si pemburu bayangan. Tian keluar dari toilet usai mengganti baju olahraganya. Dia melihat Mila yang sedang berduaan dengan Bian di lapangan. Hatinya seketika terbakar api cemburu.
Yana menepuk bahunya. "Ngapain sih, berhenti tengah jalan?" matanya tertuju dengan apa yang dilihat oleh Tian.
"Masih aja." decaknya dan menghampiri mereka berdua.
Mila mencoba menghindar darinya dan melepaskan jaket Bian dari pinggangnya. Tapi tanganya ditahan oleh Bian. "Gpp pake aja."
"Engga,,," belum selesai berucap, Bian memotong ucapannya.
"Udah gpp, Mil." Bian menahan tangan Mila lagi dan dengan sengaja memegangnya.
Tian datang dan langsung melepaskan tangannya dan menarik Mila ke belakangnya. "Mila bilang kan engga. Ga usah dipaksa," tuturnya setengah kesal.
Bian tersenyum sinis, dia tak suka dengan sikap Tian yang tiba-tiba datang dan main tarik tangan Mila darinya. "Bukan urusan lu!" Bian menarik lagi tangan Mila.
"Aduh udah apaan sih! Sakit tahu! Udah deh ya, jangan mulai. Gue capek habis dihukum jangan ditambah capek sama ribut-ribut gak jelas kaya gini." keluh Mila. Dia tak siap dengan keributan pagi ini yang sudah melelahkan baginya.
Tian menarik Mila masuk ke dalam kelas. Bian yang tak mau menambah masalah Mila mencoba merelakannya pergi begitu saja. Tapi Tian berhenti dan berbalik melihat Mila. Mila bingung Tian menatapnya. Tian melepaskan jaket yang ada di pinggang Mila lalu melemparkannya ke Bian. "Mila itu urusan gue! Lu urus aja cewek lu! Cewek gue, biar gue yang urus!" katanya dengan penuh penekanan.
Mendengar ucapan itu membuat seluruh anak-anak yang keluar dari kelas menjadi terkejut atas ucapan Tian. Terutama Mila, Bian, Yana dan teman-temannya. Bian mengepalkan tangannya marah. Dia tak percaya jika Mila sudah benar jadian dengan Tian. Dia patah hati meski bukan haknya dia untuk patah hati.
Ya, seluruh kelas sekarang tau akhirnya. Jika Tian juga menyukai Mila. Mungkin Tian tak sadar saat mengucapkannya tadi dan tersulut emosi karna Bian selalu saja berusaha mendekati Mila. Padahal dia sudah punya hubungan dengan Qila.
Mila hanya diam membeku. Dia menahan semua ucapan di bibirnya. Menggenggam balik tangan Tian dengan erat. Kakinya bergetar, hatinya gugup tak percaya. Tian mengumumkan hal itu di depan teman-temannya. Rasa tak enak hati pada Bian itu muncul. Peduli apa dia dengan Bian sekarang? Apa perasaannya mendadak kembali hanya karna senyum dan perhatian Bian di lapangan tadi? Seharusnya dia senang Bian mengetahui hal itu. Jadi kedudukan mereka sama sekarang. Sama-sama milik orang lain. Kenapa perasaanya menjadi pendendam? Mila bingung dengan apa yang ada di pikirannya.
Bian yang masih tak percaya akan ucapan Tian, menyusul Mila ke kelas. Dia ingin meminta penjelasan dari mulutnya sendiri. "Itu bohong kan Mil,,,? Yang gue denger tadi bohong kan!" katanya dengan mulut bergetar, menyimpan kekecewaan. Tian memejamkan matanya, mencoba mengatur emosinya. Dia tak mau terpancing emosi tak terkendali untuk menghadapi Bian yang bersikap tak tau malu sekarang. Mila menatap Bian penuh pertimbangan dan mengatur nafasnya. "Jawab Mil,,,!" nada suaranya semakin meninggi.
Mila melepaskan tangannya dari Tian dan berdiri. Saat ingin berucap, Qila masuk ke dalam kelas dan menarik tangan Bian. "Kamu tuh kenapa sih?" dia sangat kecewa dengan sikap Bian. Diam tanpa sebab dan sekarang seperti tak punya perasaan dengan mengabaikan hubungan mereka. Lalu kembali mengejar Mila.
"Ini bukan urusan lu! Mau gue jadian atau engga, gak ada hubungannya sama lu. Kita urus hubungan kita masing-masing dan tolong jangan tarik gue dalam hubungan lu, lagi!" kata Mila sebelum perdebatan ini makin panjang.
Kata-kata dari mulut Mila seolah menampar keras Bian. Dia diam tak berkutik dan Qila menariknya keluar. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Mila duduk tersungkur dan menutupi wajahnya dengan kesal. Kenapa masalah tak kunjung usai dalam hidupnya. Dia hanya ingin sekolah dan tak ingin terlibat dalam problematika percintaan macam ini. Posisinya saat ini benar-benar lelah dengan masalah yang selalu datang dan pergi. Baru saja masalahnya selesai sudah datang lagi masalah yang lain.
Tian masih berlutut tapi tangannya terlihat bergetar setelah mendengar ucapan Mila. Dia sedikit kecewa dan merasa tak puas dengan jawaban Mila. Dia merasa Mila tak jujur dan mengambangkan kejelasan hubungan mereka. Tian bangkit dan meninggalkan Mila sendiri di kelas. Melihat Tian pergi begitu saja, Mila merasa ada yang salah dengan kata-katanya tadi. Tapi dia tak mengejarnya karna sudah terlalu lelah dan akan menjadi pembahasan teman-temannya juga nantinya. Biarlah sekalian saja dia menjelaskannya nanti. Sekarang dia hanya ingin menyimpan sisa energinya.
Pelajaran olahraga kali ini tidak di lapangan melainkan di kelas dikarnakan Pak Rizal harus mengikuti rapat bulanan. Jadi beliau memberikan tugas mengerjakan LKS saja. Baguslah, pikir Mila. Jadi dia tak harus mengeluarkan tenaga extra lagi untuk olahraga. Jalan jongkok sudah cukup membuatnya kelelahan dan menguras tenaganya. Ditambah lagi dengan Bian dan Tian yang juga cukup menguras emosi jiwanya.
Istirahat kali ini menjadi situasi menegangkan untuk mereka semua. Mereka memasang wajah serius. Yang biasanya selalu di penuhi canda tawa berubah menjadi serius. Mereka canggung satu sama lainnya. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Yana juga masih mengatur kata untuk memulainya. Tian dan Mila duduk saling berseberangan. Seno melihat ke arah teman-temannya lalu menggelengkan kepala.
"Situasi macem apa sih ini,,,! Kita kan gak lagi berantem? Come on lah. Gak asik sumpah,,,,," ucapannya memecahkan keheningan. Seno paling tak tahan kalau sudah diem-dieman kaya gini.
__ADS_1
"Kalian beneran jadian?" tanya Amar memberanikan diri menanyakan ini. Dia tak tahan ingin sekali mendengar penjelasan dari mereka. Wahyu menyenggol tangannya. Bermaksud untuk komplen tapi Amar malah menyenggol balik. "Biar jelas! Kitakan temennya masa kita gak tau?" katanya setengah berbisik pada Wahyu. Amar yang biasanya cuek. Kali ini cukup peduli dan penasaran.
Mila melirik ke arah Tian tapi dia fokus dengan gelasnya. Di sibuk mengaduk-aduk minumannya. Yana melihat Mila, Mila melihat Tian, Tian melihat Yana. Lalu dia merubah pandangannya dan melihat teman-temannya. Wahyu menaikkan alisnya menunggu jawaban dari Tian. Namun jawabannya sungguh diluar ekspetasi mereka semua.
"Tanya aja sama Mila. Jawabannya ada di Mila dan itu juga tergantung Mila." kali ini dia terlihat sangat cupu seperti tak percaya diri. Tidak biasanya Tian seperti itu.
Semuanya terkejut mendengar ucapan Tian termasuk juga Mila. Sepertinya benar ada yang salah dengan ucapannya tadi di kelas. Sampai membuat nyalinya jadi ciut seperti itu. "Aku salah ngomong ya, Tian, tadi?" Mila mencoba bertanya tentang keresahannya.
"Engga. Aku yang takutnya salah ngomong nanti dan lebih takut lagi kalau aku cuma kepedean aja." Tian berdiri dan pergi.
Mereka saling berpandangan dan menatap Mila. Mila mengerti maksud mereka, dia menghela nafas dan pergi menyusul Tian.
"Jadi gini? Sebenernya ini kabar bahagia atau gimana sih? Kita harus gimana? Kok gue malah bingung?" Wahyu pusing dengan hubungan kedua temannya itu.
"Tadi si Bian sempet nyusul Mila ke kelas. Mungkin mereka bertiga berdebat?" Amar memberikan info yang mereka tak tau.
"Si Bian tuh gak tau malu atau ga punya otak sih? Udah punya Qila masih aja ngejar si Mila. Gila kali,,,,,!" Seno tak habis pikir ada cowok yang tak tau malu macem Bian.
"Kayanya dia mulai meresahkan. Mulai ganggu!" kata Yana kesal.
Tian pergi ke taman belakang sekolah, merebahkan badan di kursi yang ada di sana. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya yang kalut. Emosi dan cemburu terus menggelegar bak petir menyambar. Mila mencari-carinya keseluruh pelosok sekolah tapi tidak ketemu. Yang dia temukan malah Bian. Saat Mila ingin menarik mundur langkahnya, Bian sudah terlanjur melihatnya.
Melihat Mila ada dihadapannya, Bian langsung berdiri dan menghampirinya. Bian masih tak puas dengan jawabannya di kelas tadi. Dia berharap jawaban itu bisa berubah kalau dia menanyakannya sekali lagi. "Mil, yang tadi dikelas itu gak bener kan? Gue salah dengarkan, Mil? Please, kali ini jawab gue dengan sejujur-jujurnya." Bian sangat memaksakan kehendaknya. Dia berharap Mila tidak bersama dengan Tian melainkan harus dengan dirinya.
"Bi, udah stop. Cukup. Semuanya udah jelas. Tolonglah, jangan ganggu gue lagi. Lu jaga hati yang semestinya elu jaga untuk Qila. Jangan ngerusak hati orang lain lagi dengan keegoisan diri elu. Lagian bukannya yang mulai hubungan duluan itu elu, ya? Jadi kenapa sekarang, saat gue mau memulai hubungan dengan orang lain, lu malah kaya gini? Mau lu apa sih?" Mila mencoba menyadarkan Bian kalau mulai sekarang dia harus menjaga sikapnya.
"Tapi hati gue gak bisa bohong, Mil. Gue sayangnya sama lu!" Bian memegang bahu Mila.
Langsung dadanya serasa sesak setelah Bian bilang kalau dia juga sayang dengannya. Tapi kenapa? Kenapa kata-kata itu terlambat? Seharusnya itu dia bilang sebelum memulai hubungan dengan Qila. Nasi sudah menjadi bubur. Kayu sudah menjadi bara. Semuanya sudah terlewat. Hati Mila juga sudah milik orang lain sekarang. Walau belum sepenuhnya.
"Ada hati yang terlanjur harus lu jaga, Bi. Lu gak bisa telantarin begitu aja. Lu yang mulai semuanya. Lu juga yang harus tanggung jawab. Kalau bener, lu sayang sama gue. Please, jaga hati Qila. Dia sayang sama lu. Gue jaga hati Tian karna gue sayang," lagi-lagi kata-katanya di jeda.
Bian tak siap mendengar lanjutan ucapannya. Tangannya menutup mulut Mila. "Ini bukan main jaga-jagaan, Mil. Ini soal sayang atau engga!"
"Kalau lu sayang sama gue, kenapa lu pacaran sama Qila!" teriak Mila kesal. Unek-uneknya akhirnya keluar juga. Bian memulai semua perdebatan gak jelas ini. Yang seharusnya mereka tidak debatkan. Karna, percuma.
"Qila yang bilang sayang duluan ke gue. Bukan gue, Mila!" teriak balik Bian.
Lagi-lagi jawaban Bian membuat spot jantung di hati Mila terhentak. Dia tak percaya dengan alasan Bian barusan. Masa dengan tak tau malunya Qila nembak Bian lebih dulu. Alasan Bian sangat sulit di terima menurutnya. Dia langsung ilfil pada Bian karna dengan sesuka hati memainkan perasaan cewek. Kalau gak sayang, ya ngapain pacaran. Aneh, pikirnya.
"Bi, gue sayang,,," Bian lagi-lagi memotong ucapannya yang belum selesai dengan langsung memeluknya. Bian tau Mila akan menolaknya lagi. Tapi dia tidak mau mendengarnya. Lalu Tian datang dari balik tembok dan melihat mereka. Kali ini dia benar-benar sudah salah sangka dengan mereka berdua. Tian mengira Mila masih menyayangi Bian karna melihat mereka berpelukan. Tian dengan cuek berjalan melewati mereka berdua dengan bersikap seolah tak melihat apa-apa. Melihat Tian melintas Mila langsung manahan tangannya. "Sorry, Bi. Gue sayang sama Tian dan bener gue udah jadian sama dia." Mila merubah posisi tangannya dan menggenggam tangan Tian. Kata-kata itu akhirnya terdengar juga. Bian langsung melepaskan pelukannya. Dia melangkah mundur dan melihat Mila menggenggam tangan Tian. Tian pun kaget mendengar pernyataan Mila dan seketika senyum simpul mengembang di bibirnya. "Gue harap kita gak ganggu hubungan kita masing-masing. Lu Jaga hubungan lu dengan Qila. Gue jaga hubungan gue dengan Tian. Jangan sia-siain orang yang sayang sama lu, Bi." Mila mengusap bahu Bian dan meninggalkannya pergi.
__ADS_1
Tian tak percaya Mila melakukannya. Sekarang dia berjalan dengan lebih percaya diri. Mereka tersenyum bahagia. Akhirnya mereka memulai cerita barunya hari ini. Terkadang semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tapi Tuhan pasti akan menyiapkan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika itu tidak baik untuk kita, pasti Tuhan punya cara tersendiri untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Yes! Mila dan Tian. Eithh ini baru awal permulaan, masih ada kejutan di dalamnya.