Aksara Mila

Aksara Mila
Badai Setelah Hujan


__ADS_3

            Hujan masih mengguyur dengan setianya. Seperti Tian yang setia menggenggam tangan Mila. Petir dan kilat sepertinya sudah berdamai dengan hujan. Sekarang hanya menunggu hujan berhenti saja. Tapi sepertinya cacing-cacing di perut Mila sudah mulai demo kelaparan. Bahkan suaranya sampai terdengar di telinga Tian. Mila menutup wajahnya karna malu. Tian tersenyum mendengarnya.


            “Oya, tadi Ibu kasih aku roti yang belum kamu habisin,” Tian membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makan Mila.


            Mila membukanya dan memakan roti yang belum ia habiskan tadi pagi. Ibu memberikan tambahan sepotong roti didalamnya. Mila memberikan sepotongnya itu pada Tian. Tian menggelengkan kepalanya, menyuruh Mila menghabiskan semuanya. Tapi Mila memaksa Tian membuka mulutnya dan menyuapi roti untuknya.


            Roti sudah habis dan baju sudah sedikit kering tapi hujan masih saja awet. Mila berjalan kesana kemari mengusir bosannya. Tian melihat Mila yang mondar-mandir seperti gosokkan. Tian menarik tangan Mila dan mengajaknya berdansa untuk mengusir bosan. Mila menggelengkan kepalanya, menolak namun Tian memaksanya,


            “Aku gak bisa Tian,” menarik tangannya.


            “Coba dulu,” memeluk pinggang Mila.


            Tian melangkahkan kakinya perlahan diikuti dengan langkah kaki Mila. Mila begitu kaku dan membuat Tian tertawa kecil karna dia selalu fokus pada langkahnya.


            “Aaaa, tuh kan di ketawain. Gak mau ah,” Mila ngambek karna Tian menertawainya.


            “Kamu fokus lihat aku aja. Jangan liat kaki aku,” goda Tian.


            Mereka tertawa dan melanjutkan berdansa menanti hujan reda. Terkadang semesta menyelipkan tawa di balik tangis. Apa kebahagiaan ini bisa bertahan lebih lama? Apa kita tidak bisa membiarkan ini baik-baik saja tanpa masalah? Selepas ini apakah masalah akan datang lagi? Ataukah bahagia yang terus menyertai mereka.


            Ponsel Tian berdering,


            “Dimana? Mila sama lu?” suara Yana terdengar.


            “Iya, sorry gue ngajak dia bolos,”


            “Yaudah, selesain deh masalah lu berdua. Jangan bikin dia nangis terus. Gue gak mau liat dia kaya kemaren lagi ya. Kalau lu gak sanggup, lepasin dia aja,” ucapan Yana terdengar seperti ancaman bagi Tian.


            Tian mematikan telphonenya. Mila melihat Tian yang melemah setelah menerima telphone.


            “Siapa?” tanya Mila.


            “Yana. Dia tanya, aku sama kamu atau engga?” jelas Tian dengan tersenyum.


            Hujan sudah reda, Mila mengajak Tian untuk pulang. Sebelum pulang, Tian mengajak Mila ke toko buku sambil menunggu waktu jam makan siang baru Tian akan mengantarnya pulang.


“Jadi mereka berdua?” tanya Amar setelah Yana menyelesaikan menelphone Tian.


Yana mengangguk.


“Untung aja hari ini gak ada pembahasan apa-apa. Yaudahlah abis istirahat kedua kita balik aja,” usul Wahyu.


            Ana mendekati mereka yang sedang ngobrol berempat.  “Yan, bisa ngobrol sebentar?”


            Ekspresi Yana seketika gugup namun berusaha stay cool lalu pergi keluar kelas bersama Ana. Wahyu, dan Amar saling berpandangan.


            “Sejak kapan Yana ngobrol sama Ana?” mata Wahyu terus mengikuti ke arah mereka berdua.


            “Siapa?” Seno yang dari tadi sibuk main games.


            Amar menepuk pipi Seno dan mengarahkan kepalanya kearah Yana dan Ana yang sedang berbicara di luar kelas.


            “Waduh gawat juga Yana. Ngegebet personil genx kampak. Kalau Mila tau bisa perang,,,,,” kata Seno dengan asal.


            “Makanya nanti mulut lu di jaga! Jangan sampe Mila tau!” Wahyu menepuk bibir Seno.


            “Apaan sih lu! Emang gue suka ngadu, apa?” Seno yang tak terima Wahyu menuduhnya bermulut ember.


            Wahyu dan Amar hanya saling menggelengkan kepala sambil menatapnya. Tak lama Yana kembali ke kelas. Teman-temannya memandang ke arahnya dengan pandangan penuh tanya? Yana mengelak dengan tak memberikan penjelasan apa-apa.


            Wali kelas mereka datang ke kelas dan memberikan pengumuman kalau mereka bisa pulang lebih cepat dan besok adalah class meeting. Anak-anak bersorai ke girangan. Berarti tandanya sudah tak ada pelajaran yang harus dibahas dan mereka bebas sampai menunggu tanggal pembagian rapot. Biasanya untuk mengisi waktu akan diadakan lomba antar kelas maupun antar senior maupun junior. Setelah memberikan pengumuman wali kelas keluar dari kelas dan mereka langsung pulang.


            Yana secepat kilat menghilang dari kelas. Seno mencari-cari keberadaan Yana tapi tidak terlihat dimana-mana. Wahyu dan Amar juga mencarinya ke toilet tapi tidak ada juga disana.


            “Lah kemana perginya tuh bocah?” Seno menggaruk-garuk kepalanya.


            “Yaudahlah langsung balik aja yuk! Mau maen PS gue,” Amar mengajak mereka untuk berhenti mencari Yana yang sekarang tidak tau dimana.


            “Lah gue balik sama siapa?” oceh Seno karna teman boncengannya menghilang.


            “Jalan kaki,,,!” teriak Wahyu sambil lari meninggalkan Seno.


            Seno mengejar Wahyu yang membuatnya kesal. Amar ikut berlari menyusul mereka. Yana melihat mereka sudah pergi keluar dari sekolah. Yana keluar dari persembunyiannya. Yana sengaja sembunyi karna tak ingin mereka tau jika ia akan pulang bersama dengan Ana. Ana mengagetkan Yana dengan menepuk pundaknya dari belakang.


            “Ngapain ngumpet? Takut ketauan ya?” kata Ana yang muncul tiba-tiba.


            “Ah engga juga. Takut mereka minta ikut aja,” Yana mengeles.


            Mereka pun pergi juga meninggalkan sekolah. Yana mengajak Ana ke suatu tempat untuk bicara. Tadi di sekolah belum sempat berbicara banyak karna Yana merasa itu bukan tempat yang bebas untuk mereka saling bicara. Jadi Yana mengajak Ana untuk berbicara di luar sekolah agar lebih lama juga lebih bebas.


            Hari ini teman-teman Ana juga tidak ada yang masuk sekolah. Hanya dirinya dan Asty yang masuk ke sekolah. Tapi Asty sibuk dengan Bian. Ana teringat pada pembicaraannya dengan Yana yang belum selesai waktu itu. Jadi Ana sengaja menemui Yana hari ini untuk menyelesaikannya. Ya karna Mila juga sedang tak bersama dengan Yan ajadi Ana lebih berani mendekatinya.


            Yana mengajak Ana ke taman dekat


danau yang sering ia kunjungi bersama teman-temannya. Ana duduk di tempat yang Yana tunjukkan. Sedangkan Yana pergi sebentar membeli minum untuk mereka. Suasana siang hari ini tak terlalu terik karna sehabis hujan. Awan mendung bahkan masih belum berganti dengan awan cerah. Yana datang dengan membawa dua botol minuman ditangannya.

__ADS_1


            “Yah, Na. Itukan basah,” kata Yana melihat bangku yang di duduki Ana basah sehabis terkena tampias hujan.


            “Udah di lap kok,” Ana bangun dari duduknya. “Yah,” melihat roknya basah meski tempat duduknya sudah di lap olehnya.


            Yana pergi ke motornya dan mengambil lap motornya untuk mengelap kering tempat duduk mereka.


            “Nanti pake jaket gue aja pas pulang. Buat nutupin roknya yang basah,” Yana memberikan perhatian.


            Ana mengangguk sambil menyedot minumannya. Ana melihat pemandangan danau yang asri dan tenang selepas hujan. Senyuman manis tercipta di bibirnya. Yana memperhatikannya dengan tersenyum juga pada indahnya ciptaan Tuhan itu. Tapi segera ia menyadarkan diri dan tidak berlama-lama memandangnya.


            Sambil memandang ke arah danau, Ana memulai pembicaraan mereka. Anak bercerita panjang lebar tentang pertanyaan Yana padanya. Tentang kedekatannya dengan Mila sebelum mereka bertemu lagi di


sekolah yang sama. Mila dan Isyana pernah satu sekolah juga di sekolah tingkat pertama. Mereka dekat sejak satu eksul di sana. Isyana dekat selayaknya Yana dekat dengan Mila sekarang. Tapi itu tak berlangsung lama, hanya sekitar satu tahun. Mila dan Ana bertengkar karna Ana yang kala itu pernah dekat dengan Mahen, sepupu Mila.


            “Lu kenal Mahen? Mahendra maksud lu?” Yana memastikan.


            “Iya. Lu, kenal juga?” Ana kaget Yana mengetahui Mahen.


            “Ya kenal lah. Semua yang deket sama Mila juga pasti deket juga sama Mahen. Kalian pacara?” Yana langsung menebak.


            “Belum sempet. Gue ninggalin dia untuk orang lain. Dari situ Mila marah banget sama gue dan pershabatan kita putus begitu aja. Gue tau gue salah banget. Saat itu, saat dimana sifat remaja kita paling gak bisa di kontrol soal perasaan. Gue  juga udah minta maaf sama Mahen dan dia udah maafin gue. Tapi kayanya engga dengan Mila saat itu,” jelas Ana dengan wajah yang melihat ke tanah yang basah.


            “Mila emang sesayang itu sama Mahen. Mereka dari kecil tumbuh bersama. Mila menganggap Mahen udah kaya Kakak sendiri. Lu pasti tau lah ceritanya, gak perlu gue jelasin juga,” sambung Yana.


             “Lu tau gak, Yan. Kenapa gue masuk sekolah yang sama dengan Mila, sekarang? Itu karna gue mau deket lagi sama Mila,,,! Tapi kayanya gak bisa,” Ana tertunduk kecewa. “Gue berharap banget bisa deket lagi kaya dulu. Sahabatan lagi sama dia. Lu tau gimana senengnya gue pas tau Mila daftar juga di sekolah yang sama lagi,” Ana yang begitu menaruh harap untuk bisa dekat lagi dengan Mila.


              “Mungkin butuh waktu, untuk Mila kasih kepercayaan itu lagi sama lu. Mila gak gampang percaya sekarang. Apalagi udah pernah di kecewain gitu. Sabar ya,” Yana menepuk punggung Ana.


               “Bantuin gue ya. Bantuin gue untuk deket lagi sama Mila,” Ana tiba-tiba memohon pada Yana dengan tatapan penuh harap.


                “Kok gue?” seolah tak siap dengan permintaan Ana.


                “Ya karna lu sekarang yang deket banget sama Mila,”


                “Terus genx lu gimana? Yang ada lu malah ciptain peperangan,,,!” Yana menggeser duduknya menjauh dari Ana.


                “Lu gak mau liat kita semua damai? Temenan baik semuanya? Masa sampe kita lulus, kita musuhan terus!” Ana menarik lengan baju Yana seperti memberi ancaman padanya.


                “Kenapa lu jadi galak?” kaget melihat Ana yang bisa galak juga.


                Ana melepaskan tangannya dari Yana. Lalu tertawa bersama dengan Yana. Ponsel Ana berbunyi karna pesan masuk dari Asty.


                “Na dimana? Gue butuh lu ☹. Gue di rumah lu, sekarang”


Yana langsung mengantar pulang Ana karna dia terlihat buru-buru sekali setelah membaca pesan dari Asty. Yana mengantar Ana sampai di depan rumahnya. Setelah memberikan helmnya pada Yana dan berpamitan. Ana


bergegas masuk ke dalam rumahnya menemui Asty. Yana melihat kepergian Ana sambil menghela nafas panjangnya. Yana langsung menarik gas motornya dan pergi.


Ana masuk ke rumahnya dengan berlari dan menemui Asty dalam keadaan dia sedang menangis. Ana memeluk Asty dan mengajaknya ke kamarnya. Ana berganti baju dan menemani Asty lagi yang masih terus menangis.


Ana memeluknya sampai ia selesai dengan tangisnya. Setelah lebih tenang Ana melepas pelukkannya dan menghapus air mata Asty.


“Kenapa? Ada apa?” Ana yang khawatir melihat Asty menangis seperti ini.


“Bian, Na. Bian mutusin gue,” Asty menangis lagi.


“Jangan nangis lagi. Kenapa bisa? Bukannya tadi baik-baik aja?” Ana memeluk Asty lagi.


“Bian baca chat gue sama mantan gue. Dia marah dan mutusin gue,” Asty memberikan isi pesan itu yang membuat Bian memutuskan sahabatnya.


Ana membaca semua pesan Asty dengan Michael, mantan Asty. Ana sedikit marah setelah membaca semua isi pesan itu. “Maksud lu juga gimana sih, Ty? Aneh deh, bisa-bisanya lu chat mesra gitu sama Michael? Lu pacaran lagi sama dia, dibelakang Bian?”


“Gak gitu, Na. Gue cuma kesepian aja akhir-akhir ini. Bian tuh sibuk sama turnament futsalnya. Dia cuekkin gue terus! Gue juga butuh perhatian, Na. Bukan urusin futsalnya terus!” Asty mengungkapkan alasannya.


“Tapikan di sekolah? Kalian keliatan baik-baik aja. Ngomong ty, ngomong yang sejujurnya sama Bian. Kalau lu butuh dia! Bukannya lu malah cerita ke orang lain! Apalagi mantan lu. Itu sama aja lu nyari ribut,” Ana yang berusaha meluruskan pikiran sahabatnya itu.


“Iya, gue tau gue salah Na. Tapi Bian gak kasih gue kesempatan buat jelasin. Dia nyuruh gue pergi dan mutusin gue. Dia marah sama seperti marahnya lu sekarang sama gue,” Asty menangis lagi dengan lebih keras.


Ana mengontrol emosinya dan memeluk Asty lagi untuk menenangkannya lagi. “Kalau ada masalah di bicarain, ty. Jangan malah berpaling ke orang lain. Jangan kaya gue dulu. Gue ngomong gini karna gue gak mau lu kaya


gue dulu. Nyesel,,,!” mengingat perlakuannya dulu pada Mahen.


Asty tak bisa menjawab lagi dan hanya menangis mendengar kata-kata Ana. Ana memeluknya sambil menyeka air matanya yang juga menetes tanpa ia sadar.


Setelah dari toko buku dan makan siang, Tian mengantar Mila untuk pulang. Tapi Mila masih belum mau pulang dan meminta Tian untuk mengantarnya ke rumah Yana. Sampai di rumah Yana ternyata dia tidak ada di


rumah. Yuna bilang kalau Kakaknya pergi latihan futsal dengan teman-teman sekolahnya. Mila menelphone Yana tapi tak di angkat. Tian pun mengajak Mila ke tempat anak-anak kelasnya latihan futsal dan benar Yana ada disana bersama dengan teman-teman sekelasnya.


Seno, Amar, Wahyu, Yana, Arsya, Gani (ketua kelas, dan ada Bian. Sisanya Mila tak tau karna mereka adalah adik kelasnya dan tak mengenal nama mereka tapi tau wajahnya. Tian menggandeng Mila dan duduk di depan lapangan melihat teman-temannya yang sedang bermain. Arsya yang sadar mereka berdua datang dan meneriaki mereka.


“Yang bolos sekolah tapi pakai baju sekolah. Kemana aja wey,,,,,!” teriak Arsya dari dalam lapangan.


Permainan berhenti dan pandangan teralihkan pada sejoli yang baru saja datang. Mila tersenyum pada teman-temannya. Mereka melanjutkan permainan yang sedang seru karna tim senior sedang kalah dengan tim junior. Kaki Tian gatal untuk bisa ikut bermain dengan mereka dan menciptakan gol agar bisa menyusul kekalahan. Tapi badannya juga masih betah berdekat-dekatan dengan Mila.


Mata Mila terfokus pada Bian yang terlihat sangat menggebu-gebu dalam mendapatkan gol. Tapi tendangannya selalu meleset tak seperti biasanya. Dia terlihat sangat kesal saat berkali-kali gagal mencetak gol. Padahal biasanya tendangan dia selalu tepat masuk ke gawang. Tim mereka juga kekurangan Tian sebagai si penyumbang gol sama dengan Bian. Makanya timnya kalah jauh kali ini.

__ADS_1


Alasan Bian mainnya kacau kali ini, pasti karna kandasnya hubungan dia dengan Asty karna orang ketiga. Ditambah lagi hadirnya Mila dan Tian yang bermesraan di depannya. Makin tak karuan sudah pikirannya.


Kalau di luar permainan Yana dan Bian cuek, tapi tidak saat bermain futsal. Mereka cukup kompak sebagai satu tim. Yana melihat permainan yang kacau karna tendangan Bian yang terus meleset.


“Bi yang bener dong lu mainnya!” teriak Yana.


Bian hanya mengacungkan jempolnya pada Yana. Amar melipir ke pinggir lapangan menemui Tian.


“Main dong lu! Kalah jauh nih kita,” kata Amar pada Tian yang nafasnya sudah ngos-ngosan.


“Gak bawa baju gue,” teriak Tian.


“Pakai baju gue di tas! Gue bawa dua,” Amar menunjuk tasnya sambil bertolak pinggang. Tian melihat ke Mila meminta izinnya dan Mila mengangguk. “Buru, Tian!” teriak Amar lagi.


“Mar, ngapain!” teriak Seno.


Amar berlari lagi ke lapangan dan Tian mengganti bajunya di toilet. Tian melambaikan tangannya pada Mila dan langsung masuk ke lapangan untuk bergabung dengan teman-temannya. Mila duduk sendiri di pinggir lapang. Menikmati serunya permainan mereka. Dengan tingkat lucu Wahyu yang selalu berselebrasi setelah timnya mencetak gol. Tawa Mila tak henti ketika melihat itu.


Bian berganti posisi dengan Tian. Tenaganya sudah keluar extra untuk menyusul skor. Sekarang giliran Tian yang melanjutkan perjuangannya menambah skor untuk tim mereka. Agar kedudukan bisa sama minimal.


Bian keluar lapangan dan duduk lima jengkal dari tempat duduk Mila. Bian menenggak air minumnya sampai habis dan membuka bajunya yang lepek karena basah. Mila yang tak sengaja melihat ke arahnya langsung secepat mungkin memalingkah wajahnya.


Bian tersenyum sinis padanya. “Emangnya harus banget nemenin pacarnya main futsal,,,!” ucapnya kasar seperti tak suka melihat kehadiran Mila disini.


“Emang ada aturan kalau orang yang gak main, gak boleh ada disini,,,! Balasnya ketus.


“Sengaja mau bikin gue iri sama kalian?” kata-kata Bian makin ngelantur tak berarah.


“Lu kenapa sih? Aneh!” Mila pergi meninggalkan Bian yang menganggunya dengan kata-katanya.


Dari lapangan Tian memperhatikan mereka berdua. Meski asik bermain tapi pandangannya tak lepas melihat Mila. Karna bagi Tian, Bian adalah ancaman baginya.


“Tian, fokus!” teriak Yana.


            Bian meremas botol minumnya dan pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Bian keluar dari toilet dan melihat Mila juga ada toilet wanita yang bersebelahan dengan toilet pria. Bian menunggu Mila keluar dari sana. Mila keluar dari toilet dan mendapati Bian yang berdiri disana. Mila melihatnya dan mengabaikannya karna masih kesal dengan ucapannya tadi.


            “Mila,” Bian memegang tangan Mila.


            “Ada apaan lagi sih Bi,” suaranya seperti kesal Bian terus mengganggunya.


            Mila melepaskan tangan Bian tapi bukannya di lepas malah Bian menariknya dengan keras sampai Mila tak sengaja memeluknya. Sepertinya Bian sengaja melakukannya. Mila melepaskan pelukkannya dari Bian. Namun Bian menahannya dengan memeluknya erat. Mila berontak tapi Bian tetap memaksanya pada posisi seperti itu.


            “Tetap seperti ini, Mil. Sebentar aja!” kata Bian dengan lembutnya.


            Nada suara Bian berubah, berbeda dengan suaranya yang tadi kasar pada Mila. Bian memejamkan matanya dan memeluk hangat Mila. Ia melepaskan rindu yang tertahan selama ini pada Mila. Tapi hari ini tak bisa ia bendung lagi. Mungkin hari ini yang tepat baginya untuk melepaskan rindu itu. Hatinya yang runtuh karna


perlakuan Asty padanya membuatnya nekat melakukan ini pada Mila. Yang jelas-jelas pacar orang lain. Saat Bian membuka matanya, dia melihat Tian di hadapannya. Bian malah sengaja mengelus lembut rambut Mila dan tersenyum padanya. Tian mengepal tangannya menahan kesal.


            Mila yang merasa ada masalah pada Bian,  membiarkannya memeluk dirinya untuk beberapa detik saja. Mila melepaskan pelukkan Bian dan bertanya padanya, “Ada apa? Ada masalah?”


            “Ga ada. Cuma kangen aja,” kata Bian mengelak sambil tersenyum.


            Mila kesal mendengar jawaban Bian dan langsung pergi. Tapi apa yang Mila lihat? Tian ada di belakangnya. Melihat kejadian itu. Melihat Bian yang memeluk pacarnya. Wajah Tian memerah menahan


kesal pada Bian. Mila menahan Tian untuk tidak memukul Bian. Tapi tak bisa karna amarahnya sudah di ujung tanduk.


            Tian menghajar Bian tanpa jeda. Awalnya Bian menerima beberapa pukulan itu tapi tidak untuk yang selanjutnya. Bian membalas pukulan Tian dan perkelahian makin memanas. Mila berusaha melerai mereka tapi tenaga mereka jauh lebih kuat. Mila berteriak untuk menghentikan mereka sampai terdengar oleh teman-temannya yang lain. Yana yang mendengar teriakan Mila langsung keluar dari lapangan dan mencari dimana Mila, di susul dengan anak-anak yang lain. Yana menemukan Mila dan melihat Tian yang sedang berkelahi sengit dengan Bian. Yana langsung melerai mereka begitu juga dengan yang lain. Mila meneriaki mereka dengan sangat marah.


            “CUKUP! Apa-apaan sih kalian. Mau jadi preman. HAH,,,,,!” teriaknya pada Tian dan Bian. Bian hanya tertawa melihat Tian. Tian yang masih kesal dengan Bian, masih ingin meninjunya lagi. “Tian, Cukup!” Mila menahan pacarnya itu.


            “Kalian ngapain sih! Ini sparring futsal bukan tinju! Kalau mau berantem di ring, sana! Bukan di sini,,,!” teriak Gani pada mereka.


            Yana menenangkan Tian dan membawanya pergi menjauh dari Bian. Tapi saat Tian dan teman-temannya melangkah pergi. Bian


berteriak pada mereka semua.


            “GUE SAYANG SAMA MILA!”teriak Bian tanpa rasa bersalah dan rasa malu sama sekali.


            Mendengar itu membuat amarah Tian makin memuncak padanya dan langsung melayangkan satu tinju lagi padanya sampai Bian tersungkur ke lantai. Anak-anak yang mendengar ucapan Bian yang begitu berani,


tak bisa lagi menahan marahnya Tian. Siapa yang tak marah jika ada orang lain yang dengan berani mengungkapkan sayangnya pada kekasihnya sendiri. Bahkan Mila sendiri tak bisa lagi menahan Tian. Tian berhak marah pada Bian yang sudah kelewatan kali ini.


            Mila berjalan ke arah Bian dan


menamparnya. “Cukup gue bilang!”


            Mila menarik tangan Tian membawanya pergi meninggalkan tempat itu, bersama dengan teman-temannya. Bian merusak permainan hari ini. Gani dan Adik kelas mereka juga pergi dari sana. Tersisa


hanya Bian dan Arsya yang setia di sampingnya. Arsya memberikan botol minum pada Bian. Bian menerimanya dan menghabiskan semuanya untuk menguyur wajahnya yang habis babak belur.


            Arsya tertawa pada sahabat semata wayangnya itu, “Gila luh!”


            “Cuma gila yang gue punya sekarang!” ucap Bian dan merentangkan badannya ke lantai.


            Hal Gila apa yang pernah kalian lakukan untuk merebutnya?

__ADS_1


__ADS_2