
Hubungan Tian dan Mila berjalan dengan semestinya. Hubungan mereka selayaknya orang pacaran pada umumnya. Begitu juga dengan hubungan Qila dan Bian. Bian mencoba memperbaiki hubungan mereka. Dia menyadarkan dirinya untuk menerima keadaan tentang dia dan Mila yang tidak bisa bersatu. Bian juga tidak mau mengganggu hubungan Mila dan Tian lagi. Karna baginya kebahagiaan Mila yang terpenting. Melihat Tian memperlakukan Mila dengan baik, cukup baginya untuk melepaskannya dengan ikhlas. Walau dia tetap masih sesekali memantau Mila diam-diam dari kejauhan. Melupakan tidak semudah melepaskan begitu saja. Butuh proses panjang untuk melewatinya. Apalagi dia harus bertemu Mila setiap harinya.
Di sisi lain Mila juga terus berusaha melupakan bias-bias perasaan dan cerita tentang Bian dalam benaknya. Mila berusaha fokus pada hubungannya bersama Tian. Meski di hatinya masih terselip nama Bian tapi dia tidak mau terus-terusan memikirkannya. Untuk menghapus Bian dari hatinya, Mila selalu menghabiskan waktu bersama Tian dengan lebih banyak. Kadang Tian menemani Mila ke perpustakaan begitupun sebaliknya. Mila menemani Tian untuk sekedar latihan futsal atau bertanding di turnamen-turnamen. Di hari libur kadang mereka juga pergi bersama untuk menemani Mila ke toko buku dan juga menonton bioskop. Mencari film yang mereka sama-sama suka.
Perubahan di hidup Tian sangat terasa semenjak Mila menjadi pacarnya. Hari-hari yang Tian lewati penuh dengan senyum di bibirnya berbeda dari sebelumnya yang selalu dingin dan hambar. Yang semula jadi cowok pendiam dan misterius, berubah 90% jadi cowok ceria dan banyak bicara. Tian keluar dari zona nyamannya selama ini. Mila merubah hidupnya yang semulanya sunyi sekarang penuh dengan euforia tentangnya dan Mila. Yana dan teman-temannya ikut senang dengan hubungan mereka. Walau kadang sekarang mereka lebih sering berdua. Mereka merasa ada yang hilang terutama Yana. Biasanya kan Mila selalu di sampingnya. Tapi mereka juga senang dan bisa sedikit terbebas. Cewek-cewek jadi lebih mudah mendekat pada mereka dan mereka dapat lebih mudah merespon karna tidak ada singa di sampingnya. Ngerti kan singanya siapa?
Mila jalan di lorong sekolah sambil membawa dua botol minum di tangannya. Di depan terlihat Ayana yang sedang berjalan tanpa memperhatikan jalan dan menabrak dirinya. Membuat satu botol ditangannya terlepas dan jatuh.
"Eh sorry, Mil." Ana yang sadar telah menabrak Mila.
Mila hanya memasang wajah datarnya dan tak menjawab. Mila mencari kemana perginya satu botol minumnya. Yana yang selepas dari toilet melihat botol minuman tergeletak di tengah jalan. Lalu dia mengambilnya dan mencari siapa yang membuangnya. Yana melihat Mila dan Aya yang sedang terlihat berbicara. Mila pergi meninggalkan Aya tanpa berucap sepatah katapun.
"Mila." panggil Aya tapi Mila masih tak mau menjawab panggilannya. "Mil, sampe kapan sih kita kaya gini?" tiba-tiba kata-kata itu terlontar dari mulut Aya.
Mendengar itu jelas membuat Mila menghentikan langkahnya dan Yana yang ingin menghampiri mereka berdua menghentikan langkahnya lalu bersembunyi di balik tembok.
"Kita?" Mila tertawa sinis.
"Gue tau, gue salah, Mil. Tapi masalah itu udah lama banget. Bisa kan kita coba lembaran baru." dengan lirih Aya mengucapkan semua itu. "Bisa kan, Mil? Gue pengen, kita temenan lagi kaya dulu?" suaranya terdengar penuh harap.
"Temenan, lu bilang?" Mila membalikan badannya dan menatap Aya dengan tajam. Seolah kebencian terpancar dari matanya. "Terakhir kali, kita udah sepakat kan. Kalau gue maafin lu dengan syarat, kita gak bisa temenan lagi kaya dulu. Jadi gak usah maksa, dan gak usah lagi tanya dengan pertanyaan yang sama,,,!" ucapnya menohok. "Oya, dan satu lagi,,,!" Mila mendekatkan dirinya pada Aya. "Jangan pernah deketin Yana dengan berharap, lu bisa deket lagi sama gue!" bisiknya di telinga Aya lalu pergi meninggalkannya.
Ucapan Mila membuat Aya diam terpaku seperti dia baru saja di dorong dengan keras ke dasar jurang. Aya menghentakan kakinya kesal. Mendengar semua pembicaraan mereka berdua membuat Yana bingung dan bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua? Mengapa mereka seperti kenal satu sama lain sebelumnya? Bahkan Aya sampai bilang, temenan seperti dulu? Tapi selama ini Mila tidak pernah cerita apa-apa tentang Aya padanya? Apalagi tentang pertemanannya dengan Aya sebelumnya? Yana dibuat mematung dengan asumsinya sendiri.
Aya menggangkat kepalanya dan melihat ternyata sudah ada Yana di depannya. Mimik wajah Aya berubah seketika menjadi menegang. Dia takut kalau Yana mendengar pembicaraannya dengan Mila tadi. Aya menggigit bibir bawahnya dan menutup mulutnya rapat-rapat, seolah tak ingin berbicara apa-apa padanya. Yana mendekatinya dan terdiam beberapa detik sambil memandangi Aya dengan tatapan penuh tanya. Tapi dia menahan pertanyaan yang ada di kepalanya. Dia memberikan botol minum yang ditemukannya pada Aya. Yana mengira itu punyanya. Aya menolaknya dan langsung pergi tapi berucap apa-apa.
Mila datang ke kelas dengan membawa satu botol minum saja. Harusnya yang satu itu dia berikan untuk Tian tapi karna kejadian tadi Mila melupakannya. Dia memberikan minumannya pada Tian.
"Buat kamu mana? Kok cuma satu?" Tian menghapus peluh di dahinya.
"Jatuh tadi, ga tau kemana? Udah, kamu minum dulu." Mila membukakan tutup botolnya. Tian menenggaknya dengan cepat karna haus berat setelah latihan futsal untuk pertandingan selepas ujian nanti.
Tak lama Yana datang ke kelas dengan membawa botol minum di tangannya yang di temuinya tadi dan memberikannya pada Mila. "Nih,,,!"
Mila melihatnya dengan bingung karna botol itu nampak kotor seperti habis jatuh ke lantai. "Kotor banget sih, Yan." Mila meneriman dan membersihkannya di baju Yana.
"Tadi gue nemu di lorong habis dari toilet. Kayanya punya orang jatuh." jelas Yana.
Mendengar itu sontak membuat Mila yang sedang minum langsung tersedak. "Mila,,,! Pelan-pelan minumnya." Tian menepuk-nepuk punggung Mila.
"Oya, tadi gue liat lu sama Aya ngobrol gitu? Tumben banget, Ada apaan emang? Kayanya juga serius banget?" Yana bersikap seolah tidak tau apa-apa dan tidak mendengar apa-apa soal pembicaraan mereka.
Mila yang masih batuk karna tersedak terus menepuk-nepuk dadanya untuk menghentikannya. Mila menenggak lagi minumannya dengan pelan-pelan sambil mengambil nafas panjang. "Gak ngomong apa-apa. Tadi dia say sorry doang karna udah nabrak gue." Mila mengelak dan berharap Yana tak mendengar percakapannya dengan Aya.
"Ooh gitu. Gue kira kenapa?" Yana mencoba menerima jawaban dari Mila. Walau hatinya tak menerima alasannya itu.
Yana menghisap rokoknya dalam-dalam. Pikirannya masih terfokus dengan kejadian di lorong tadi. Seno yang sedang asik bermain game melirik ke arah Yana.
__ADS_1
"Mikirin apaan lu, Yan? Soal taruhan kita kemaren? Yaelah gak usah dalem banget napa mikirinnya." katanya sambil matanya tetap fokus pada layar ponsel.
"Apaan sih lu! Gue gak mikirin yang kemaren. Itu mah gue balikin ke Adek gue. Terserah dia mau atau gak diajak sama lu."
"Lah, terus lu mikirin apaan? Dalem amat tuh pikiran kek sumur?" mengakhiri permainannya dan fokus pada Yana.
"Adalah pokoknya. Gak perlu tau lu. Oya, gue balik duluan ya." Yana meninggalkan Seno dan yang lain.
"Lah, Yan lu mau kemana? Ini kerja kelompoknya gimana?" teriak Wahyu.
"Yana,,,!" Seno ikut meneriaki.
Mila dan Tian datang dan melihat Yana yang pergi dengan tergesa-gesa. "Mau kemana, Yan?" Tian menahan bahunya.
"Ada urusan bentar. Kalian duluan aja ya, gue nyusul nanti,,,!" katanya sambil berlari. Mila menatap Tian dan dia hanya mengangkat bahunya, bingung.
"Yana mau kemana buru-buru gitu?" tanya Mila pada yang lain.
"Gak tau,,,!" dumel Seno. Dia kesal ditinggalkan Yana begitu saja.
"Trus gimana ini kerja kelompoknya?" Wahyu melempar kertas materi ke meja.
"Yaudah kerjain di rumah Yana aja. Biar nanti dia kita infoin di grup aja." Mila mengambil kertas yang Wahyu lempar dan memasukkannya ke tas.
"Setuju!" teriak Seno dengan semangat.
"Tadi kesel sekarang seneng banget lu!" Amar menoyor wajah Seno sambil berjalan ke motornya. Mila dan Tian masuk ke dalam mobil. Wahyu dan Amar naik motor, boncengan.
"Naik mobil gue,,," teriak Tian.
Ternyata Yana kembali ke sekolah. Dia mencari Ayana untuk menanyakan tentang masalahnya dengan Mila yang tak diketahui olehnya. Tapi sepertinya Ayana sudah pulang bersama dengan teman-temannya. Yana meneleponnya tapi tidak diangkat. Yana berniat menemui dia di rumahnya tapi sebuah pesan masuk berbunyi di ponselnya. Mila mengirim pesan, jika mereka mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Yana menghela nafas dan mengurungkan niatnya untuk menemui Aya.
Mila memencet bel rumah Yana namun tidak ada jawaban dari dalam. Sepertinya rumahnya kosong dan Yuna juga belum pulang sekolah. Mereka memutuskan untuk menunggu saja di beranda rumah, sampai datang orang yang punya rumahnya. Cukup lama mereka menunggu sampai bosan, bahkan sampai Wahyu tertidur di kursi. Lalu akhirnya Yuna datang dengan keadaan rambut yang acak-acakan sehabis pulang sekolah dan menyapa mereka.
"Hai, kenapa di luar? Kak Yana-nya mana?" Yuna mendekati Mila.
"Tadi ada urusan jadi gak bareng. Kamu baru pulang?" Mila merapikan rambut Yuna.
"Hai, Yuna." Seno melambaikan tangannya.
"Hai, Kak Amar." Yuna malah membalas dengan menyapa Amar sambil sibuk merapikan dirinya yang sedang awut-awutan.
Mila, Tian dan Wahyu hanya menahan tawa melihat Seno yang di kacangin oleh Yuna. Seno menepuk-nepuk dadanya, hatinya serasa sakit. Yuna malah lebih memilih menyapa Amar bukan dirinya. Amar membalas sapaan Yuna dengan wajah datar dan mengangkat tanganya, serasa sedang di absen.
Yuna membukakan pintu. "Yuk masuk, Kak." Yuna secepat kilat menghilang masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung berganti baju. Yuna tak ingin cowok yang dia suka berlama-lama melihatnya dalam keadaan semrawut.
Mila merangkul Seno dan menyemangatinya. Seno menyandarkan kepalanya di bahu Mila. Tubuhnya serasa lemah tak berdaya melihat respon Yuna tadi. Tian mengangkat kepala Seno dari bahu Mila. "Please deh, Tian. Kali ini aja. Gue butuh banget sandaran. Hati gue patah!" menyingkirkan tangan Tian dan menyandarkan kepalanya lagi pada Mila.
__ADS_1
"Udah sini sama gue. Lu pasti udah tau harus bersaing dengan siapa?" Wahyu memindahkan kepala Seno di bahunya.
"Apaan sih luh, ganggu aja! Gua butuh sandaran bukannya bantalan,,,!" Seno mendorong badan Wahyu. Amar, Tian dan Mila tertawa melihat mereka berdua yang mulai berdebat.
Mereka lalu masuk ke dalam setelah Yuna keluar dari kamarnya dan menyuruh mereka untuk masuk saja sambil menunggu Yana datang. Mila masuk paling belakangan karna dia merapikan sepatu teman-temannya dulu. Tak lama terdengar suara motor Yana datang. Mila menunggu sahabatnya itu. Yana melepaskan helmnya dan menghapiri Mila yang sengaja menunggunya. Tapi ponselnya berbunyi dan itu dari Aya. Yana meminta Mila untuk masuk lebih dulu karna dia harus mengangkat teleponnya. Mila lalu masuk sambil terus menoleh ke arahnya.
"Hallo, Yan. Ada apa tadi telepon? Sorry tadi lagi di jalan jadi gak kedengeran."
"Gpp kok. Nanti gue telepon balik lagi ya. Dah,,," Yana mematikan teleponnya.
"Gak jelas banget sih ni cowok,,,!" gerutu Aya ketika Yana main memutus saja panggilannya.
Yana pun masuk ke dalam rumahnya menemui teman-temannya yang sudah menunggu. Yana berganti baju dan ikut bergabung dalam tugas kelompok mereka. Yana memperhatikan adiknya yang terus melihat ke arah Amar dan Seno melihat ke arah Yuna. Dia berdecak dalam hati, ya kali adik gue suka beneran sama Amar. Yang ada perang dingin sama si Seno. Yana pusing memikirkannya. Lalu dia menyuruh Yuna untuk membuatkan minuman dan membawa cemilan untuk teman-temannya. Setelah melakukan itu Yana menyuruhkan untuk kembali ke kamarnya. Tapi Yuna malah ngedumel tak karuan. Kali ini suaranya di pelankan karna tak ingin didengar oleh Amar dan tak mau membuatnya ilfi padanyal.
Kerja kelompok kali ini dipimpin oleh Mila. Mereka akan membuat presentasi tentang mata pelajaran kewirausahaan. Mila sudah tau apa yang akan kelompok mereka bahas nanti. Dia menulis semua materinya sambil menerangkan pada teman-temannya. Yang lain menyimak dengan baik dan mencatat apa yang Mila telah kerjakan dan jelaskan. Jika ada salah satu saja yang tidak mendengarkannya siap-siap saja dengan ngambeknya Mila. Tugas kali ini dilakukan Seno dengan baik dan tak banyak bicara. Mungkin efek hatinya yang patah. Satu jam berlalu dan mereka selesai mengerjakan tugasnya. Mereka beristirahat dan melepas dahaga usai berperang dengan tugas mereka. Mila masih memperhatikan raut wajah Seno yang kusut dan dia memberikan kode pada Yana. Mila menyuruh Yana untuk menepatkan janjinya pada Seno. Yana menghela sambil tersenyum paksa dan memanggil adiknya.
"Yunaaa,,,,," teriak Yana kencang. Mereka menutup kuping karna teriakan Yana yang bikin sakit kuping. Bahkan dia harus memanggil sampai 3 kali agar bisa di dengar oleh Yuna. Suara musik di kamarnya terlalu berisik dan susah untuk dia mendengar panggilan Yana.
"Aduh,,,, apaan sih Kak?" dibalas lagi dengan teriak Yuna. "Berisik! Lagian temen lu gak budeg apa, denger suara lu kenceng gitu?" katanya balik marah-marah.
"Makanya, suara musik lu kecilin! Yang ada lu yang budeg!" memasang muka peperangan.
Daripada harus mendengar tom and jerry berantem, Mila pun mengambil alih. "Yuna duduk deh sini bentar." Mila menepuk kursi di sebelahnya. Yuna menurunkan emosinya dan mengikuti perintah Mila. Seno melirik ke arah Mila.
Yana memberi kode ke Seno untuk bicara sendiri dengan adiknya. Seno menelan air liurnya. Sebenarnya dia enggan membicarakan ini karna hatinya masih pedih soal tadi. Dia takut kalau Yuna akan menolak dan tambah cuek padanya. Seno menatap teman-temannya, ragu. Tapi Mila dan yang lain kecuali Yana, terus menyemangatinya untuk tancap gas.
"Ada apa sih, Kak?" tanya Yuna pada Mila.
Mila menganggukkan kepala pada Seno. Seno menarik nafas dalam-dalam dan memberanikan dirinya. Dengan gantle dan di depan Yana juga. "Yuna, mau ikut gak nonton film?" seperti bisul yang akhirnya pecah, kata-kata itu keluar juga dari mulutnya.
Yuna seperti mendengar kembang api dengan jelas di atas kepalanya. Baru kali ini ada orang yang berani mengajaknya di depan kakaknya langsung. Yuna tertegun, dia tak berani menjawab, matanya langsung menatap Yana. Yuna tau sekali kakaknya tak akan mengizinkan siapapun untuk mendekatinya. Apalagi ini temannya sendiri. Nanti yang ada mereka akan baku hantam di tempat. Yana menata adiknya dan memberikan kode untuk menjawabnya sendiri. Yuna terperanga tak percaya dengan respon kakaknya yang berbeda. Apa ini atas izinya, pikirnya. Dia makin tak bisa menjawab apa-apa. Kenapa bukan Kak Amar saja yang mengajaknya nonton? Kalau dia yang mengajak, tanpa restu dari Yana pun, pasti langsung gue terima ajakannya. Pikirnya dalam hati. Yuna menjawab dengan terbata-bata sambil terus menatap kakaknya.
"Tapi aku ada tugas minggu ini. Jadi kayanya gak bisa, Kak." Yuna menolak halus ajakan Seno.
Seno yang sudah terbayang penolakkan itu dengan segala alasan, hanya bisa mengangguk pasrah menerima jawaban Yuna dan tak berani memaksanya. Wahyu menepuk pundak Seno, menegarkannya. Mila melihat ke Yana dan dia hanya mengangkat bahunya. Suasana malah menjadi menegang setelah penolakkan halus itu terjadi.
"Minggu depan gue ada acara ke Bandung. Nyambut bokap balik dari Belitung. Kalian mau ikut?" kata Tian mencoba mencairkan ketegangan ini.
"Boleh tuh. Udah lama kan kita gak jalan-jalan. Sebelum ujian kita refresh dulu gimana?" Wahyu menyambut ajakan Tian dengan senang hati.
"Setuju,,," saut Amar.
Tian berbisik pada Mila, dia berharap sekali Mila bisa ikut. Tian berencana mengenalkannya pada ayahnya. Yana juga setuju ajakan Tian. Seno menggangguk mengiyakan ajakan teman-temannya. Mendengar itu Yuna berharap sekali bisa ikut dengan mereka. Apalagi mendengar Amar akan ikut juga, tapi pasti kakaknya tak mengizinkannya untuk bergabung ke acara teman-temannya.
"Yuna mau ikut? Daripada sendirian di rumah?" ajak Tian. Dia mencoba menjadi teman yang pengertian untuk Seno dengan mengajak Yuna ikut di acaranya.
"Memangnya boleh?" tanya Yuna sambil melihat ke arah kakaknya.
__ADS_1
Yang lain ikut melihat ke arah Yana. Seno menatap Yana sambil berharap penuh, dia akan mengizinkannya. Yana mengerti maksud dari tatapan itu dan merasa dirinya terpojokkan atas tatapan mereka semua padanya. "Oke, iya. Tapi kali ini aja!" kata Yana tegas. Dia akhirnya mengizinkan adiknya untuk ikut bersamanya. Itu juga karna dia sudah kepalang janji dengan Seno. Dengan tersenyum senang Seno memeluk Wahyu di sampingnya.
Apakah ini akan jadi hal yang menyenangkan, ataukah sebaliknya?