
Mila menyetop taksi dan secepatnya naik, meninggalkan rumah Tian. Mila menelphone Yana berkali-kali namun tak dijawab. Sepertinya mereka belum selesai bermain booling. Mila tak mungkin menyusul mereka dengan keadaan seperti ini. Tapi ia juga tak mungkin kembali ke rumah dengan wajah seperti ini. Matanya tak bisa berbohong jika sehabis menangis. Menangis sebentar saja pasti sudah membuat mata pandanya keluar. Ia tak mau itu jadi pertanyaan orang tuanya nanti.
Mila memutuskan berhenti di rumah Yana. Mila masuk ke rumah Yana dan menunggunya di beranda rumah Yana. Tak lama dari taksi pergi. Yana datang sdan melihat Mila dalam keadaan menangis di kursi depan rumahnya. Yana melihatnya dengan binggung karna Mila hanya menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Yana menghampirinya tanpa berkata apa-apa dan Mila memeluknya, menumpahkan semua air matanya yang ia punya saat itu juga.
Yana tak mengerti apa yang terjadi padanya. Soal Tian kah? Atau orang tua Mila? Yana memeluk Mila untuk menenangkannya, membiarkan Mila mengeluarkan tangis yang ia punya. Rasa marah kah, kecewa kah, entah apakah itu namanya. Yana belum mau tau, yang terpenting Mila tenang lebih dulu.
Yuna datang dan melihat Mila yang menangis di pelukkan Kakaknya. Yana hanya menyuruhnya diam dan secepatnya masuk ke dalam. Yuna mengangguk mengiyakan. Telphone Yana berdering dan itu dari Tian. Yana mengangkat telphonenya dan Tian menanyakan Mila padanya. Mila yang mendengar itu, menahan tangisnya. Mila menggelengkan kepalanya pada Yana.
Yana mengangguk dan menjawab jika Mila tak bersama dengannya. Yana menutup telphonenya dan langsung mengerti ini tentang Tian, lagi. Yana menghapus air mata Mila dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mila ikut Yana ke kamarnya. Yana berganti baju di kamar lain dan datang lagi ke kamarnya dengan membawa minum untuk Mila.
Mila masih menangis dan tisu sudah tersebar di seluruh kamar Yana. Yana menyodorkan air padanya untuk sedikit menenangkan hatinya. Lagian air yang ada di matanya sudah keluar banyak jadi butuh di isi ulang lagi. Mata Mila sudah terlihat sangat bengkak akibat tangis yang tak henti-henti. Malahan sekarang untuk melihat saja sakit karna sangking bengkaknya.
“Udah lah, Mil. Nanti lama kempesnya. Mau sampai jam berapa lu disini? Nanti yang ada Ayah khawatir. Lagian pasti mata lu sakit kan,” Yana yang sedih melihat keadaan sahabatnya. Ia pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk mengompres mata Mila.
Mila pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya lalu membereskan tisu yang berserakkan. Yana datang membawa baskom dan handuk kecil. Yana mengompres mata Mila. Tak keluar sepatah katapun dari mulut mereka selama mengompres mata Mila. Yana setia mengompres mata Mila sampai Mila sendiri pun tertidur. Yana menatap wajah sahabatnya itu yang menyimpan kesedihan sendiri. Bahkan isak tangisnya masih terdengar meski dia sedang tertidur.
Yana mengabari Ayah Mila jika Mila ada di rumahnya dan ketiduran. Yana beralasan kalau mereka selepas ujian pergi ke mall untuk bermain melepas penat dan berjanji akan mengantar Mila pulang setelah ia bangun dari tidurnya. Yuna datang ke kamar Kakaknya untuk mengecheck Mila dan membawakan makanan untuk mereka.
Yuna melihat Kakaknya yang ikut tertidur disamping Mila karna kelelahan sehabis bermain booling. Yuna membangunkannya karna jam sudah cukup larut. Mila terbangun dari tidurnya juga dan melepaskan handuk dari matanya. Yana memberikan minum padanya dan menyuruhnya untuk makan. Mila menolak dan izin untuk pamit pulang. Namun Yana tetap memaksanya untuk makan.
Mila hanya mengaduk-ngaduk makanannya. Yana melototinya untuk memaksanya makan. Setelah melihatnya memakan beberapa suap, Yana mengantar Mila pulang dengan vespanya. Tak ada yang mereka bicarakan sama sekali tentang hal yang terjadi pada Mila. Mila masih menyimpan dalam-dalam masalahnya itu. Yana berhenti di depan rumah Mila lalu Mila berjalan masuk ke dalam rumahnya.
“Kalau begitu menyakitkan, lepaskan saja Mil. Gue gak mau liat lu kaya gini terus. Jangan merasa terbebani akan gue. Pikirin aja hati lu, jangan dipaksain, ” tiba-tiba Yana berucap dengan hati yang kecewa karna harus melihat sahabatnya dalam masalah seperti itu.
Mila menoleh dan tersenyum menahan tangis yang akan jatuh lagi. Yana melambaikan tangannya dan menyuruh Mila segera masuk ke dalam. Mila bergegas masuk dan langsung naik ke kamarnya tanpa menyapa Ayah dan Ibunya seperti biasa. Ia tak ingin mereka melihat matanya yang masih sedikit sembap sehabis menangis.
Tian termenung di kamarnya dengan wajah marah dan tangan yang mengepal kesal. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tian tak menghiraukan. Ketukkan pintu itu terdengar lagi dibarengi dengan panggilan namanya. Tian masih tak beranjak sama sekali. Ayah masuk ke dalam kamarnya karna tak mendapat respon apa-apa dari dalam kamar. Ayah menghampiri Tian dan duduk di sampingnya.
Ayah meminta maaf atas sikapnya yang ikut campur terhadap hubungannya. Ayah memberikan alasan kenapa sampai melakukannya. Ayah hanya tak ingin Tian bersikap tidak baik pada Luna. Ayah juga menceritakan jika dia lah yang mengajak Luna untuk ikut ke Jakarta menemuinya. Karna sepengetahuan Ayah, Tian pasti juga merindukan Luna yang sudah berpisah sejak lama. Ayah tak ingin jika Tian melukai perasaan Luna seperti sekarang. Ayah hanya ingin menjaga hubungan baik dengan keluarga Luna yang sudah mereka anggap kerabat dekat sejak dulu.
Dan Ayah tak tau jika anaknya ini sudah memilih kehidupan baru bersama Mila. Ayah merasa bersalah karna bersikap ikut campur bahkan mengatur kehidupan anaknya yang padahal harusnya mereka fokus untuk saling melepas rindu saja. Tapi Ayah masih bersikeras untuk Tian mau menemani Luna ke Belitung. Ayah tidak mau Tian memberikan kesan buruk pada Luna.
“Kalau itu yang Ayah inginkan, kenapa gak ngomong langsung sama Tian. Kenapa harus lewat Mila, Yah! Dia gak perlu terlibat seharusnya. Ayah malah merusak semuanya kalau gini,,,!” Tian masih tak terima dengan sikap Ayahnya yang ikut campur dengan hubungannya. “Tian udah gede Ayah. Tian bukan anak kecil lagi. Kenapa Ayah selalu nuntut semuanya sama Tian. Kenapa Kian lebih bebas nentuin pilihannya. Apa karna aku lebih diam dari Kian? Kenapa Ayah lebih mengerti Kian dari pada Aku?”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Tian. Tian merasa selama ini Ayahnya lebih mengerti Kakaknya dari pada dirinya. Ayah mendengarnya begitu terkejud. Pasalnya baru kali ini Tian berbicara seperti itu padanya. Bahkan Ayah Tian terlihat seperti kecewa pada dirinya sendiri karna tak mengetahui tentang perasaan anak bungsunya yang sebenarnya seperti apa. Ayah meninggalkan kamar Tian tanpa bicara apa-apa lagi. Tian juga langsung mengunci kamarnya karna tak ingin ada yang menganggunya lagi.
Pagi hari Tian tidak ikut sarapan bersama. Tanpa berbicara sedikitpun ia langsung meninggalkan rumah dan pergi ke sekolah. Bunda sedih melihat keadaan yang tak harmonis ini. Padahal Bunda berharap jika mereka bisa menghabiskan waktu bersama dengan baik selama suaminya pulang ke Jakarta. Keras kepala suaminya sering menjadi pertengkaran pada anak-anaknya. Mungkin karna jarang bersama mereka, jadi suaminya tak mengerti dengan baik sifat anak-anaknya.
Jam masih menunjukkan 6 lewat 20. Pagi-pagi Tian sudah bertengger di depan rumah Mila. Ibu keluar untuk menyiram tanaman kesayangannya dan melihat Tian yang sedang melihat ke arahnya dengan tersenyum. Ibu membalas senyuman itu dan memperhatikannya. Ibu bertanya dalam hati apakah itu teman Mila? Ibu menaruh kembali tanamannya dan masuk kedalam rumah untuk memanggil Mila. Ibu bertanya pada Lana. Apakah Kakaknya sudah turun dari kamarnya? Lana hanya menggelengkan kepalanya sambil melahap rotinya. Ibu kembali lagi keluar untuk menemui anak laki-laki itu.
“Kamu sedang menunggu Mila?” sapa Ibu pada Tian.
“Iyah, Bu. Saya Tian,” Tian menyalami Ibu Mila.
“Mila belum selesai rapi-rapi sepertinya. Kamu tunggu di dalam ya. Sekalian sarapan bareng,” ajak Ibu Mila.
Tian pun menerima ajakan itu dengan senang hati. Mereka pun masuk ke dalam dan Ibu langsung menyuruh Tian duduk di meja makan bersama dengan Lana yang sudah ada disana. Tian menyapa Lana dan mengajaknya berbincang. Ekspresi Tian terlihat senang karna mendapat respon yang baik dari Ibu dan juga Lana. Ibu menuangkan susu dan memberikannya pada Tian. Terdengar suara langkah kaki Mila yang turun dari kamarnya.
__ADS_1
“Ibu,,,,, Mila gak sarapan ya. Aku sarapan disekolah aja,” Mila turun dari tangan dengan cepat sambil bicara pada Ibunya.
“Mau kemana sih Mila? Buru-buru banget? Sarapan dulu sebentar, ada temanmu tuh,” Ibu menunjuk ke arah Tian.
“Tian? Kamu ngapain disini?” kaget melihat Tian ada di rumahnya. “Ayah dimana, Bu?” tanya Mila panik.
“Ayah pergi isi bensin,” Ibu menghampiri Mila dan mengajaknya duduk di meja makan. “Sudah cepat sarapan kalau gitu,” Menuangkan susu untuk Mila.
Tian melanjutkan menghabiskan roti yang sudah Ibu siapkan untuknya. Mila melirik ke arah Tian dengan tatapan acuh. Terjadi kecanggungan di meja makan pagi ini. Mila yang tak tau apa niat Tian sampai pagi-pagi seperti ini sudah ada di rumahnya. Lana dan Ibu melihat mereka berdua dengan binggung. Seperti orang yang tidak saling kenal. Tak saling sapa dan juga tak saling bicara. Lana sudah selesai dengan rotinya. Tian mengelap bibir Lana yang tersisa selai coklat disana. Lana tersenyum malu. Tian membalas dengan senyum kecil sambil merapihkan rambut Lana. Melihat pemandangan itu membuat rasa kecewa di hatinya sedikit meluntur tapi cepat-cepat Mila menyadarkan dirinya dan menenggak cepat susu di gelasnya.
“Bu, Mila berangkat dulu ya,” Mila mencium pipi Ibunya dan langsung bergegas keluar rumah.
“Mila, rotimu habiskan dulu,” teriak Ibu. Melihat sisa roti di piring Mila.
Melihat Mila pergi, Tian pun menelan cepat rotinya. “Tian pamit ya, Bu. Terimakasih sarapannya,” sambil mengusap bibirnya yang berantakan.
Ibu memberikan sisa roti yang tidak Mila habiskan pada Tian. “Titip ini ya. Suruh Mila habiskan,”
Tian mengangguk dan berpamitan. Segera ia keluar untuk mengejar Mila yang sudah tidak terlihat. Mila berjalan dengan cepat agar Tian tak bisa menyusulnya. Tapi mau dia lari sekalipun tetap aja bisa disusul. Wong Tian nyusulnya pakai motor sedangkan dia pakai kaki. Tian menghentikan motornya dan menghalangi jalan Mila. Namun Mila mengelak dan mengacuhkannya. Tian menjalankan lagi motornya mengikuti Mila dan menghalanginya lagi. Mila tetap mengelak dan tetap jalan seperti tak melihatnya. Tian dengan sabar terus melakukannya dan Mila dengan angkuhnya terus mengacuhkannya. Saat sabarnya sudah mulai diambang krisis. Tian mematikan motornya dan meninggalkannya begitu saja lalu mengejar Mila.
“Mil, kita mau sampai sekolah kaya gini terus?” Tian menghalanginya kali ini dengan merentangkan tangannya. Mila menghela nafas kelelahan namun menahannya karna gengsi. Walau nafas ngos-ngosannya terdengar. “Naik motor ya. Nanti bajumu lepek kalau jalan sampai ke sekolah,” Tian memohon.
“Aku bareng Yana. Kamu bisa berangkat sendiri,” Mila yang kekeh pada pendiriannya dan bersikap acuh pada Tian.
Tian tersungkur ke tanah. Pikirannya buntu harus bersikap bagaimana lagi agar Mila mau ikut dengannya. Mila melihat itu langsung berusaha membangunkan Tian tapi ia tidak mau bangun sebelum Mila ikut dengannya. Kali ini Tian memakai cara yang Mila lakukan padanya, kekeh pada pendiriannya yang tak akan bangun sebelum Mila ikut dengannya. Melihat Tian yang bersikap berbalik sekarang, Mila jadi binggung sendiri. Tak mungkin ia membiarkan Tian melakukan itu padanya dan dilihat orang banyak. Akhirnya Mila berjalan menuju motor Tian dan duduk disana. Tian bangun sambil tersenyum dalam hati dan berlari menuju motornya.
“Tian mau kemana sih! Ini bukan arah ke sekolah,” teriak Mila kesal.
Tian tidak menjawab sama sekali dan fokus melihat jalanan yang padat merayap. Mila melihat jam sudah jam 7 dan mereka belum juga sampai ke sekolah. Rasa khawatir dan was-was terlihat pada wajah Mila. Entah kemana Tian akan membawanya pergi sampai-sampai bolos dari sekolah. Hal yang gak pernah sama sekali Tian lakukan sebelumnya. Walapun ujian telah usai tapi pasti ada soal-soal yang akan dibahas hari ini.
Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah taman yang terdapat di dalam komplek perumahan. Tian mematikan mesin motornya dan melepas helmnya. Mila turun dari motor dan membuka helmnya. Mila mengeluarkan jaket dari dalam tasnya dan memakainya. Tian merapikan rambut Mila yang acak-acakan selepas memakai helm. Tian menggenggam tangan Mila dan mengajaknya duduk di bangku taman.
Mila menghirup kuat-kuat udara yang ada disana. Terlihat senyumnya yang mengembang karna senang berada di tempat yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Disana terdapat air mancur yang menghadirkan riuk gemericik air, juga angsa sebagai pelengkap indahnya kolam disana. Terlihat beberapa orang yang sedang asik berolahraga dan membaca buku. Mila memperhatikan mereka dengan senang. Tian menatap wajah Mila yang bahagia. Meski dia sadar itu bukan karnanya. Tian melepaskan genggaman tangannya. Mila melihat ke arah Tian.
“Kamu suka?” kata Tian dengan nada datarnya.
“Kenapa kita kesini? Kenapa kita harus bolos segala?” Mila kembali marah pada Tian.
Tiba-tiba suasana kembali menengang. Mimik wajah mereka yang beberapa detik terakhir menarik senyum sekarang kembali datar tanpa ekspresi.
“Jangan menjauh lagi ya. Jangan tinggalin aku lagi seperti kemarin. Jangan menghilang tanpa kabar. Apalagi pergi untuk merelakan,” tiba-tiba kata puitis itu terdengar dari mulut Tian.
“Kamu lagi bahas Kita?” tanya Mila.
“Memang ada orang lain disini?” menatap Mila.
“Tapi ada orang lain diantara hubungan kita, sekarang,” Mila balas menatap.
__ADS_1
“Dia bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa aku lagi,” tegas Tian.
Mila menghela nafas. Mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. “Aku gak mau ada di antara hubungan masa lalu kalian yang belum selesai,”
“Sudah selesai, Mil. Dia menghilang 5 tahun yang lalu dan sekarang tiba-tiba datang terus minta hubungan itu kembali. Sudah gak ada, Mil. Gak bisa! Sekarang hubungan aku hanya sama kamu!” Tian menggenggam tangan Mila erat.
Mila melepasnya dan cepat. “Terlambat Tian. Sekarang hubungan kita udah gak baik-baik aja,”
“Gak baik-baik gimana? Sejak kapan?” Tian merasa tidak ada masalah yang serius dalam hubungannya bersama Mila.
“Sejak dia datang! Sejak kamu gak jujur tentang dia! Sejak aku merasa kamu bukan hanya milik aku tapi juga milik dia!” Mila mengungkapkan kekecewaannya yang ia pendam sejak di Bandung.
“Mil. Aku ngerti kamu marah. Aku ngerti kamu merasa terganggu. Tapi itu bisa kita selesaikan, Mil. Tolong jangan bilang hubungan kita gak baik. Kita bisa selesaiin bareng-bareng,” Tian merubah posisi duduknya dengan menghadap Mila.
“Kamu bilang kamu ngerti tapi kenapa selama ini cuma diam, Tian. Kenapa gak coba jelasin? Kenapa malah sering menghilang tanpa kabar? Aku butuh penjelasan kamu tentang dia! Kenapa aku harus dengar penjelasan dia lebih dulu. Tian, aku tuh butuh kamu yang jelasin semua itu sama aku. Bukan dia! Aku kira kemarin kamu ngajak aku kerumah kamu karna kamu memang niat ajak aku kesana. Tapi cuma karna Ayah kamu yang mau minta izin untuk kamu,,,,”
Mila tak bisa meneruskan ucapannya karna sesak di dadanya yang membuatnya susah berkata-kata lagi. Matanya sudah berkaca-kaca tapi ia menahan agar air itu tak turun dan membasahi bumi. Mila memalingkan wajahnya untuk menyeka air matanya yang ingin terjun bebas saat ini juga. Tian mengepalkan tangannya kesal. Kesal pada dirinya sendiri yang begitu egois dan bodoh. Kenapa dia tidak peka. Kenapa dia selalu diam saja. Kenapa dia sibuk dengan emosinya. Kenapa dia hanya mengurusi egonya saja. Tanpa melihat kesebrang sana, orang yang dia sayang sedang tersakiti akan sikapnya.
“Aku rasa,,,” Mila melanjutkan ucapannya yang belum selesai. “Aku rasa, aku gak bisa berada di antara hubungan masa lalu kalian yang belum selesai. Aku gak bisa terus-terusan ada di keadaan seperti ini. Aku harap kamu bisa selesaikan masa lalu mu itu dengan baik-baik. Aku yang akan ngalah dan,,,,”
Belum selesai dengan ucapannya tangan Tian menutup mulut Mila. Dia tidak ingin mendengar hal yang tidak pernah ingin dia dengar dari seseorang yang dicintainya sekarang. Kata perpisahan itu sama sekali tidak mau dia dengar dari hubungannya bersama Mila. Bahkan untuk menatap wajah Mila sekarang saja dia tidak mampu. Tidak mampu melihat kekecewaan Mila yang selama beberapa hari ini dia pendam sendiri.
“Tolong jangan ucap apa-apa lagi,,,! Aku salah Mila. Tapi tolong jangan hukum aku dengan hubungan kita yang jadi korbannya. Kasih kesempatan aku untuk memperbaiki semuanya. Tolong, Mil. Aku memang bodoh. Aku gak tau caranya bersikap yang adil untuk kamu. Aku cuma bisa, diam, diam dan diam, ” Tian berucap dengan tertunduk dan menggenggam tangan Mila.
Mila menelan liurnya, menarik nafasnya dalam-dalam. Hatinya begitu lemah mendengar kata-kata itu dari mulut Tian. Tapi ia berpikir berpisah adalah jalan satu-satunya untuk Tian menyelesaikan ini. Mila sama sekali tidak mau ada orang lain di dalam hubungannya. Meski itu hanyalah kenangan masa lalu yang terjadi di masa kecil.
“Tapi itu jalan satu-satunya Tian. Kamu selesaikan dengan dia secara baik-baik. Aku gak mau terus-terusan di ganggu dengan hal itu. Aku gak mau Ayah mengira aku menghalangi kamu. Jadi kita break dulu aja,” Mila merasa keputusannya sudah bulat.
“MIL,,,,!” teriak Tian. “Aku gak mau! Aku sama dia udah selesai,,,! Terserah dia mau bilang dia masih sayang sama aku atau apapun itu! Aku gak peduli, Mila!”
Mila terkejud mendengar Tian yang teriak marah padanya. Mulutnya tidak bisa membantah lagi ucapan Tian. Baru kali ini ia melihat Tian yang benar-benar marah padanya. Tian menutupi wajahnya yang kalut. Dia merasa hubungannya benar-benar di ambang kekeringan. Hanya marah yang ia punya sekarang. Mereka saling terdiam dan saling memalingkan muka. mengatur emosi dan pikiran masing-masing. Sedih merasuki hati mereka berdua. Ada rasa sama-sama tak ingin pisah satu sama lainnya namun karna amarah yang merasuk salah satunya. Hal itu bisa saja tercipta tanpa persetujuan keduanya.
Awan mendung tiba-tiba memakan matahari. Merubah cerah pagi menjadi gelap seketika. Dari matahari berganti menjadi air hujan yang turun dengan rintiknya. Membasahi dua insan yang sedang dilanda kesukaran oleh keegoisan semata. Mila bangkit dari duduknya dan menarik tangan Tian untuk berteduh di rumah baca yang terdapat di pojok taman.
Mila melepas jaketnya yang sedikit basah dan mengambil sapu tangan di sakunya. Mengelap wajahnya dengan jaketnya lalu memberikan sapu tangannya pada Tian. Tian tak menerimanya, ia hanya diam saja, mematung sedih menatap hujan. Mila membersihkan wajah Tian yang terkena tampias air hujan dan mengeringkat rambutnya yang juga basah.
Mata mereka sekarang saling memandang. Mila melepaskan sapu tangannya di kepala Tian karna salah Tingkah. Tian menatap Mila tanpa lepas. Mengambil sapu tangan di kepalanya dan mengeringkan balik rambut Mila yang basah. Mila menolak tapi kepalanya ditahan tangan Tian. Mila menutup mulutnya rapat-rapat dan menurunkan pandangannya agar tak menatap mata Tian yang membuatnya makin salah tingkah.
Setelah selesai mengeringkan rambut Mila, Tian mengembalikan sapu tangannya. Mila menerimanya dan menaruhkan di jaketnya yang basah. Hujan turun makin deras dan cuaca makin terlihat gelap gulita. Angin yang tak mau kalah dengan hujan, bertiup dengan kencangnya. Suara gemuruh petir saling bersautan. Mila tak tahan mendengarnya, ia takut saat hujan yang dibarengi dengan suara petir. Mila terlihat menutup rapat matanya karna takut akan kilat. Tangannya yang tak henti memeluk diri sendiri karna dingin udara.
Tian melihat Mila yang ketakutan karna kilat dan petir, melindunginya dengan berdiri di depan Mila. Suasana mencekam karna petir dan kilat yang semakin bersautan dengan kerasnya. Kilat besar seperti memfoto mereka dan suara petir membuat Mila makin takut setengah mati. Mila yang takut langsung memeluk Tian yang ada di depannya. Tangannya bergetar kencang sangking takutnya. Tian memeluknya erat untuk memastikan pada Mila, jika ia akan baik-baik saja.
Suara petir memang terdengar sangat menyeramkan. Sama seramnya dengan kata-kata perpisahan yang Mila ucapkan tadi. Mila memeluk Tian erat tanpa lepas. Tian tersenyum, ia merasa harus berterimakasih pada semesta yang sudah menghadirkan hujan bersama dengan petir yang mencekam. Karna oleh kehadiran mereka, ia bisa merasakan pelukkan hangat kekasihnya lagi meski harus ada campur tangan semesta. Tapi setidaknya semesta mengerti perasaannya saat ini. Perasaan yang tak mau kehilangan orang yang paling di cintainya.
“Jangan takut, aku disini,” Tian memeluk erat Mila. Mendengar ucapan Tian, Mila melepaskan pelukkannya. Tapi Tian menahannya. “Tetap seperti ini. Aku mohon,” Tian memperkuat pelukkannya. Mila menangis dalam pelukkan Tian. “Aku mencintaimu Mila,” ucapnya dengan mencium rambut Mila.
Tangis Mila makin keras begitu mendengar kata-kata yang Tian ucapkan. Mila menangis sejadi-jadinya. Air matanya tumpah ke bumi bersama dengan derasnya hujan. Mengatakan pada langit bahwa ia sejujurnya tak rela dengan keadaan ini. Keadaan yang membuatnya dengan Tian menjadi seperti sekarang ini. Tian merasakan perasaan Mila yang tersakiti dengan keadaan ini. Tian berjanji pada dirinya untuk tidak melakukan hal yang akan menyakiti perasaan Mila lagi. Ia tak ingin membuat wanitanya menangis seperti ini lagi karna dirinya.
__ADS_1
Merelakan memang mudah diucap tapi melakukannya jauh lebih sulit.