Aksara Mila

Aksara Mila
Karma


__ADS_3

Untuk merayakan Mila kembali ke sekolah Tian mentraktir mereka makan mie ayam Bang Asoy. Mendengar kata ditraktir membuat Seno bersemangat dan memesan dua mangkok mie ayam sekaligus. Amar dan Wahyu hanya menggeleng kepala melihat kelakuan temannya satu ini. Tawa canda tak lepas dari wajah mereka hari ini, seperti baru bertemu kembali setelah lama berpisah. Padahal cuma tiga hari doang! Pernah ngerasa gak sih kalau dekat berantem kalau jauh rindu. Ya begitulah mereka. Jadi seburuk apapun temen lu kalau dia gak ada di sisi pasti kita tetap merasa kehilangan dan seburuk apapun juga temen lu, pasti mereka punya sisi baiknya juga, walaupun itu hanya secuil saja. Selagi masih bersama manfaatkan waktu untuk saling menyayangi dan juga mengasihi sebelum di pisahkan oleh waktu ataupun jarak.


Selagi mereka asik makan Cila dan genxnya lewat di depan mereka. Dua genx itu saling pandangan satu sama lain. Mila dengan bodyguardnya dan Cila dengan dayang-dayangnya. Cila ingin sekali melemparkan mangkok baso yang sedang dipegangnya ke muka Mila. Namun bayangan hukuman sudah di depan mata. Tidak mungkin untuknya menambah masalah baru. Dia harus mengakui kalau kali ini dia kalah lagi dengan Mila. Cila pun pergi menjauh dan mencari meja lain. Dia tak ingin lama-lama melihat wajah Mila dan teman-temannya. Mila hanya menarik senyumnya begitu melihat mimik wajah Cila yang menyimpan kesumat dengannya.


Usai makan Mila dan teman-temannya pergi meninggalkan kantin. Cila masih menatap mereka dengan tatapan penuh kemarahan. Dia mengenggam sendoknya kuat-kuat seperti ingin menusukkannya pada Mila. Diana, Netha dan Qila melihat Cila dengan prihatin. Mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Aya yang dari tadi hanya diam tak menghiraukan apapun. Dia sibuk dengan hatinya sendiri yang juga kecewa dengan Yana. Mengapa sebegitu kecewa hatinya, dia pun tak mengerti.


Cila melihat Aya, dia mulai sadar dengan apa yang terjadi dan mulai mengintrogasinya. "Bukan lu kan, Ay?" Cila menatanya. Aya tak menjawab dan fokus dengan mangkoknya. "Jawab, Ay!" kemarahannya tiba-tiba memuncak. Dia yakin ini karna Aya. Fillingnya kuat! Pasti Aya yang telah merekam suaranya karna hanya dia yang berani melakukan itu padanya. "Pengkhianat!" teriaknya sambil menggebrak meja. Cila pergi meninggalkan kantin di susul oleh Netha dan Diana.


Qila masih duduk dihadapan Aya dan menatapnya. "Bener lu yang lakuin itu, Ay? Kenapa Aya?" katanya dengan penuh kecewa. Aya masih tak mau menjelaskan dan memilih pergi. Qila yang kini sendiri hanya menahan kekecewaaannya dan ingin menangis. Mengapa sekarang teman-temannya jadi kacau seperti ini. Bukan hanya pertemanannya tapi hubungannya dengan Bian juga kena imbasnya.


Mila dan yang lain sedang bersenda gurau di depan kelas sambil mereka menunggu bel istirahat berakhir. Seno, Amar dan Wahyu asik berbincang bertiga. Mila dan Tian sedang membicarakan film yang akan tayang minggu depan di bioskop. Sedangkan Yana termenung menatap ke arah lapangan. Pikirannya kacau semenjak mendengar kata-kata Aya yang terdengar kecewa dengannya karna telah memanfaatan dirinya. Tak lama Aya melintas di tengah lapangan dari arah kantin. Yana ingin menghampirinya tapi dia mendengar suara Bian di belakangnya.


"Mil, bisa bicara sebentar?" Bian datang di hadapan Mila.


Mila melangkah mundur. Dia menolak bicara padanya. Bian datang tanpa rasa malu sedikitpun. Dia lupa kemarin sudah mencaci maki Mila tanpa tau kebenarannya seperti apa. Kalau gue jadi Mila udah gue rauk mukanya! Wkwkwk jadi gue yang kesel. Tian dengan sigap menghadangnya. Dia Berdiri di depan Mila, menghalangin Bian bicara dengannya.


"Gak bisa." kata Tian.


Bian tak menghiraukan ucapan Tian. Dia mencoba meraih tangan Mila tapi di tepis oleh Yana. "Mau ngapain lagi?" Yana berdiri sejajar dengan Tian untuk lebih menghalangi Bian bicara dengan Mila.


Bian menghela nafasnya, dia tak dapat bicara dengan Mila karna dinding besar terbentang di depannya. Mila tak bersuara sama sekali, dia mengumpat di belakang mereka berdua. Mila juga enggan bicara dengannya karna sudah tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi. Aya lewat di hadapan mereka dan pandangan Yana teralihkan. Dia menyusul Aya untuk bicara padanya tapi Aya menolak. Qila juga datang menghampiri Bian untuk bicara tapi penolak yang didapatnya. Mila mengintip dari balik bahu Tian. Seno dan yang lain hanya berbisik.


"Kenapa kita bertiga doang yang gak ada cewek buat diajak ngobrol?" celetuk Seno melihat teman-temannya asik dengan pasangan wanitanya.


"Iya, mereka udah pada pasangan?" saut Amar sambil gigit dasi.


"Kita masih gini-gini aja." Wahyu ikut-ikutan lemes ngeliat mereka yang lagi pada kasmaran.


"Nasib! Nasib!" kata mereka bersamaan.


Istirahat telah usai. Mereka tak sempat bicarakan masalah mereka karna harus kembali ke kelas melanjutkan pelajaran. Bian berharap bisa bicara dengan Mila untuk minta maaf padanya. Yana juga berharap bisa bicara dengan Aya untuk meminta maaf juga padanya. Dan Qila juga berharap bisa menjelaskan pembelaannya pada Bian. .


Cila melempar tas Aya ke depan kelas. "Mending lu gak usah duduk sama gue deh! Gue lagi males sama lu!" katanya dengan lantang, macam yang punya sekolahan.


Anak-anak sekelas melihatnya dengan jengkel dan geram. Masalah apa lagi yang mau di buat Cila kali ini. Bak anak pejabat, dia bisa bertingkah sesukanya. Dengan temannya sendiri saja dia bisa bersikap begitu culasnya. Melihat ketidakadilan seperti itu, Yana maju ke depan mengambil tas Aya yang dilempar oleh Cila. Mila sangat heran dengan sahabatnya. Kenapa bisa Yana berubah menjadi sangat peduli dengan Aya? Aya masih berdiri mematung di kursinya. Dia sudah menebak Cila akan melakukan itu padanya.


"Merasa berkuasa lu!" dengan nada tinggi Yana bicara di depan muka Cila.


"Oh jadi lu udah mulai peduli sama dia? Lu pacarnya, sekarang? Oh pantes, jangan-jangan dia yang beneran kasih lu rekaman itu? Tenyata emang lu berdua pengkhianat ya. Ngejual temen buat teman. Gila!" dia bertepuk tangan di depan Aya lalu mendorongnya.


Aya hampir saja terjatuh tapi Yana memeganginya. "Keterlaluan lu ya!" Yana mendorong Cila. Emosinya terpancing.


"Beraninya sama cewe lu, BANCI!" Cila makin emosi. Ucapannya makin tak terkontrol hingga membuat semua orang yang mendengarnya ingin sekali menyumpal mulutnya dengan kaus kaki.


Mila mulai kesal dan terpancing, ingin sekali dia menghampiri Cila dan mengajaknya duel lagi. Tapi Tian tak ingin Mila mendapat masalah lagi. Dia menahannya dan memeganggi tangannya. Seno, dan Wahyu mencoba menahan Yana untuk tidak terpancing emosi. Apalagi sampai main fisik pada Cila. Qila dan Diana juga menahan Cila untuk tidak berbuat yang aneh-aneh lagi.

__ADS_1


"Cila udah dong, cukup! Kita udah dapet hukuman gara-gara lu! Jangan ditambah lagi!" Netha mengingatkan Cila.


"Yan, udah jangan di ladenin. Nanti lu malah dapet masalah." Wahyu menenangkan Yana.


Aya merebut tasnya dari tangan Yana dan pergi dari kelas. Yana menahannya untuk tidak pergi tapi tak disangka Aya malah membentaknya. "Gue bukan Mila! Gak usah jadi PAHLAWAN gue!"


Semuanya terkaget mendengar ucapan Aya, terutama Yana. Dia tak menyangka Aya akan sekecewa itu padanya. Mila makin kesal dengan Aya setelah mendengar ucapannya barusan. Padahal Yana sudah membelanya tulus tapi dia malah mempermalukan Yana. Mila tak memperdulikan ucapannya yang menyinggung dirinya karna itu memang benar adanya. Mila sendiri pun tak bisa melarang mereka untuk tidak menjadi Pahlawannya.


Cila yang sudah selesai dengan argumennya duduk kembali dengan tenang setelah Aya mempermalukan Yana dan Mila. Cila menyuruh Qila untuk duduk dengannya. Bian bersikap acuh pada mereka yang selalu membuat kegaduhan di kelas. Anak-anak yang lain juga makin hilang filling dengan genx Cila. Yana duduk kembali ke kursinya dan masih memikirkan ucapan Aya. Mila melirik ke Yana, dia ingin sekali minta penjelasannya. Tentang hubungan dia dan Aya, tapi ini bukan waktu yang tepat.


Ana pergi ke perpustakaan, dia membolos pelajaran. Untungnya penjaga perpustakaan sedang tidak ada. Jadi dia dengan mudahnya masuk ke perpustakaan tanpa beralasan. Aya memilih tempat paling pojok untuk dia mengeluarkan kekesalannya. Dia menangis. Hatinya kecewa, kecewa akan sikap Yana dan juga teman-temannya. Aya berpikir mereka tak pernah sedikitpun memikirkan perasaannya. Mereka selalu saja memikirkan perasaan mereka sendiri dan selalu saja dia yang jadi korbannya. Aya menangis dengan membekap mulutnya. Dia tak ingin ada yang mendengarnya menangis.


Qila merasa cemas dengan Aya. Pikirannnya tak karuan dan ingin sekali menyusul Aya. Tapi dia tak tau sekarang Ana dimana? Dan kalau dia menyusulnya pasti Cila juga akan marah. Yana juga memikirkan hal yang sama. Ingin sekali dia menyusul Aya. Entah apa yang membuatnya sekarang sepeduli itu dengan Aya. Apakah dia sudah menaruh perasaan padanya atau hanya rasa bersalah saja?


Yana pun izin ke guru untuk pergi ke toilet. Yana ingin membasuh mukanya agar bisa fokus dengan pelajaran. Sambil dia pergi ke toilet, dia juga pergi mencari Aya tapi dia tak terlihat dimana-mana. Setelah membasuh mukanya Yana kembali ke kelas dan dia berpapasan dengan Bu Yanti.


"Loh, Yana dari mana?" melihat Yana berkeliaran di luar kelas pada jam pelajaran.


"Dari toilet, Bu. Cuci muka, ngantuk." Katanya memegang wajah yang basah. Meyakinkan Bu Yanti.


"Kirain bolos. Oya, boleh bantu Ibu sebentar?" pintanya. "Tolong kembalikan buku-buku ini ke perpustakaan ya." Bu Yanti meminta tolong untuk mengembalikan buku pelajaran karna buku yang dibawanya cukup banyak dan sangat berat.


"Baik, Bu." Yana mengambil buku-buku dari tangan Bu Yanti. Kasian juga kalau Bu Yanti membawanya sendirian apalagi buku sebanyak ini, pikirnya.


Yana membawa buku-buku itu kembali ke perpustakaan dan pintu perpustakaan tertutup rapat. "Tumben?" pikirnya. "Pak Harry kemana?" tanya. Yana menekan gagang pintu dengan siku dan membukanya dengan kaki. Dia sulit membukanya karna tangannya penuh dengan tumpukkan buku. "Untung aja gue yang bawa. Coba Bu Yanti, apa gak kesusahan?" katanya lirih. Yana membuka sepatunya. Peraturan perpustakaan adalah tidak menggunakan alas kaki saat masuk ke sana. Tema perpus memang lesehan gitu. Yana mencari lemari buku pelajaran untuk menaruh buku-buku itu kembali. Tapi saat dia sedang mencari, tiba-tiba dia mendengar suara isak tangis. Seketika bulu kuduknya berdiri, merinding. "Yakali di perpus ada hantu? Dia nangis kenapa? Terharu baca novel? Apa gak bisa ngerjain soal?" decaknya lirih, menenangkan dirinya sendiri. Yana melangkah pelan mencari sumber tangis itu dan benar suara tangis itu makin terdengar. Ternyata asalnya dari pojok perpus. Yana kaget karna benar ada seseorang menangis di sana dan itu cewek. Saat dia makin dekat, semakin dia mengenali cewek itu. Yana mengenalinya dari tas yang berada di sampingnya. Yana menaruh pelan buku-bukunya ke lantai, dan duduk membelakangi wanita itu. "Sorry ya, karna gue lu jadi di perlakuin kaya gitu sama temen lu. Gue tau gue salah karna udah manfaatin lu." Yana enggan menyebutkan nama Cila sangking kesalnya dengan cewek itu!


Aya kaget mendengar suara di depannnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Yana yang membelakanginya. "Ngapain ada di sini?" Aya sibuk menghapus air matanya. Yana menyimpan sapu tangannya di dalam saku celananya. Sapu tangan yang Aya berikan padanya untuk menyeka air hujan di wajahnya kemarin. Sekarang dia kembalikan kepada pemiliknya, untuk menyeka air mata pemiliknya. Tanpa bersuara Yana memberikannya dari belakang pundaknya. Aya melihat sapu tangannya dan menerimanya. "Kenapa belakangin?" tanyanya di sela-sela isak tangisnya.


Yana tersenyum mendengar Aya sudah mulai mencair padanya. "Gak mau liat lu nangis" katanya asal.


"Kenapa?" aya merapikan rambutnya yang berantakan.


"Katanya kalau cewek nangis tuh jelek." Yana mencoba mencairkan suasana.


"Jadi gue jelek?" tanya Aya polos.


"Becanda kali." Yana membalikkan badannya dan sekarang menghadap Ana sambil tertawa.


"Emang semua lu anggap becanda ya?" tiba-tiba Aya menjadi serius.


"Bukan gitu. Aduh, gimana ya? Maksud gue,,," Yana termakan oleh ucapannya sendiri.


Giliran Aya yang tertawa, "Becanda kali,,,!" membalikkan ucapan Yana. Yana pun tertawa mendengar itu. Spontan hatinya lega mendengar Aya sudah mau bicara dengannnya. Aya pun tak mengerti mengapa dia tiba-tiba melunak dan tak bisa marah lagi dengan Yana. "Apakah perasaan ini benar nyata?" gumamnya dalam hati.


Lalu mereka saling terdiam. Yana mengulang permintaan maafnya. "Sorry ya karna gue, lu jadi ribut sama temen lu." Yana mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Aya menepis tangan Yana. Auranya langsung berubah menjadi datar kembali setelah mendengar Yana kembali meminta maaf. "Gak usah minta maaf terus! Gue dengernya jadi malu! Gue sama temen-temen gue emang salah, jadi buat apa lu yang minta maaf. Gue kasih rekaman itu emang atas dasar keinginan gue sendiri kok. Jadi lu jangan ngerasa bersalah gitu. Tanpa lu pinta pun gue emang bakal kasih itu ke Pak Hamzah." tuturnya dengan wajah tertunduk malu.


"Kenapa?" tanyanya heran setelah mendengar pernyataan Aya.


"Gue gak suka aja. Cila emang keterlaluan dari awal. Makanya gue sengaja rekam suaranya. Tadinya buat ngancem dia untuk gak bertindak makin aneh tapi gak sempet. Udah terlanjur masuk ke ruang BK masalahnya." jelasnya


"Terus kenapa tadi marah sama gue?" merasa masih tertampar dengan ucapan Aya.


"Oh, yang lu belain gue tadi? Ya emang gue gak mau dibela aja. Gengsi kali dibelain sama musuh bebuyutan. Ya walaupun yang musuhan itu sebenernya Cila sama Mila. Tapikan kita dayang-dayangnya mereka. Mau gak mau ya jadi ke bawa juga." tutur Aya dengan santai.


"Bukan, bukan itu! Yang lu bilang gue nolongin lu gak tulus dan ada maksudnya?"


"Oh,,, yang itu. Ya gue kecewa aja sih. Ternyata gak ada orang lain yang bener-bener tulus nolongin gue selain temen-temen genx gue."


"Gue tulus kok! Ya walaupun awalnya engga sih. Tapi oke gue minta maaf untuk pertolongan gue yang gak tulus itu!" Yana mengulurkan tangannya.


Aya hanya tertawa melihat tingkah kocak Yana dan menjabat tangannya, "Gue juga minta maaf ya. Tepatnya maafin kelakuan temen-temen gue."


Bu Wati menyadari Yana lama sekali pergi ke toilet dan belum juga kembali sampai saat ini. Dia pergi keluar kelas untuk mengechecknya dan bertemu dengan Bu Yanti.


"Bu Yanti, lihat Yana?" tanyanya. Saat Bu Yanti lewat di depan kelasnya.


"Oiya, maaf. Tadi Yana saya minta tolong untuk bantu saya. Dia saya minta kembalikan buku-buku pelajaran ke perpustakaan karna terlalu banyak dan berat. Maaf ya, Bu." jelas Bu Yanti.


"Oh, begitu. Pantas saja dia belum kembali."


"Tapi dari tadi loh saya menyuruhnya. Sekarang belum kembali juga dia?" Bu Yanti heran mengapa Yana belum juga kembali. Padahal seharusnya sudah kembali dari tadi. "Saya sudah bilangin jangan kelayaban setelah itu!" gumamnya.


"Iya, makanya saya mau mengechecknya ke toilet niatnya." Bu Wati melihat Pak Harry baru saja lewat. "Loh itu, Pak Harry?" Bu Wati menunjuknya.


"Oh mungkin Yana menunggu Pak Harry. Dia tidak bisa masuk ke dalam perputakaan, makanya lama." pikir Bu Yanti.


"Walah, Pak Harry gimana sih? Baiklah, Bu. Terimakasih ya." Bu Wati masuk lagi ke dalam kelas.


"Dasar Yana." decak Bu Yanti sambil berjalan.


Pak Harry masuk ke perpustakaan dan mendengar suara dari pojok belakang. Dia pun menghampiri anak yang sedang membolos itu. "Kalian ngapain?" suara Pak Harry mengangetkan Yana dan Aya yang sedang asik mengobrol.


"Pak Harry, dari mana aja sih?" kata Yana terkejut. "Saya cariin dari tadi. Ini saya mau kembaliin buku di suruh, Bu Yanti." mengambil buku yang dia letakkan di lantai.


"Oh kirain, kalian bolos pelajaran. Letakkan di sana, Yana." Pak Harry menunjuk rak depan tempat buku-buku pelajaran sekolah di simpan.


Yana memberikan setengah bukunya ke Aya. Yana minta bantuannya menaruh di rak buku, agar Pak Harry tak curiga kalau Aya keluar dari kelas dan sedang bolos pelajaran. Aya menuruti permintaannya. Setelah menaruh buku-buku itu Yana kembali ke belakang untuk menyembunyikan tas Aya di tempat biasa Mila menaruh buku yang sedang dibacanya dan tak boleh seorang pun meminjamnya. Pasti dia akan sembunyikannya di sana. Yana dan Aya keluar dari perpus. Yana kembali ke kelas sedangkan Aya melanjutkan bolos di ruang UKS. Aya meminta izin guru piket karna alasan sakit. Guru piket percaya karna mata Aya yang sembab.


Karma, ketika benci jadi cinta ~

__ADS_1


__ADS_2