Aksara Mila

Aksara Mila
Bagian Hidupmu


__ADS_3

Seperti biasa pulang sekolah mereka berkumpul di warung. Seno dan yang lain datang lebih dulu sedangkan Tian dan Mila datang belakangan. Terlihat dari gerbang sekolah Tian menggenggam tangan Mila tanpa lepas sedetikpun. Seno dan yang lain memperhatikannya dengan bingung. Perasaan tadi berantem tapi sekarang udah gandengan aja.


"Macem takut hilang aja tuh si Mila lu gandeng." celetuk Seno saat mereka berdua datang. Dibalas Tian dengan mencium tangan Mila. "Anjay,,,,,! Jadi udah resmi nih?" Seno menggebrak meja dan membuat teman-temannya double kaget.


"Astaga Senooooooo! Kaget, sialan!" Wahyu mengeteki Seno.


"Way, bau sumpahh! Lepas-lepas,,,,!" Seno yang tak tahan dengan bau ketiak Wahyu.


"Tadi ribut sekarang gandengan? Jadi yang bener yang mana nih?" Amar meminta kepastian kedua temannya.


"Yang jelas dongg,,,,,!" Yana ikut mengompori.


"Belum jelas emang ini?" Mila menggangkat tangannya yang masih digenggam Tian.


"Yoi, makan-makan kita hari ini. Huuuhhh,,,,," Seno mengepalkan tangan seraya bersuara kemenangan. Dia berdiri dan meneriaki semua anak-anak yang ada di sana. "Hari ini makan, GRATIS! Tenang ditraktir Tian." Seno berteriak tanpa berdosa.


"Yeeeee! Kenapa jadi Tian yang bayar. Lu yang ngomong!" Mila menarik baju Seno dengan gemas.


"Ahh,,, udah. Tian banyak duit ini. Udah cepet pesen makanan karna ini berlaku cuma 5 menit aja." katanya lagi.


Tian dan yang lain hanya tertawa melihat tingkah Seno. Mila menutup wajahnya, menahan gemas melihat kelakuan temannya satu ini yang rada gesrek otaknya. "Trus, lu kenapa gak ikut pesen?" melihat Seno sudah selesai mengkoordinasi anak-anak untuk memesan makanan.


"Gue gak mau ditraktir di sini. Gimana kalau kita ke mall, main game habis itu kita makan-makan." usulnya sambil merangkul Mila. Mila mondorong wajahnya jauh-jauh darinya. Seno bergegas naik ke motornya dan teman-temannya hanya mengikutinya saja.


"Seno! Kurang aja emang lu yaa,,,!" Mila geram dengan Seno yang suka seenaknya sendiri.


Tian tersenyum dan menikmati saja apa yang terjadi saat ini. Lalu dia memberikan uang ke Mang Dadang untuk membayar semua makanan yang anak-anak pesan. "Udah biarin." Tian menarik tangan Mila dan naik ke motornya.


"Nahhh kan gini seru," Seno memakai helm dan menarik gas motornya.


Saat Mila dan teman-temannya bersenang-senang. Di sisi lain Bian harus berlapang dada menerima kekalahannya kali ini. Bian masih berada di perpustakaan padahal jam sekolah telah usai. Dia merebahkan badannya di lantai dan menutupi wajahnya dengan buku sambil terpejam. Qila mencari-carinya di parkiran sekolah tapi tidak ada. Dia lalu meneleponnya tapi tidak juga diangkat. Qila masih berusaha mencarinya kemana-mana. Dia tau Bian masih ada di sekolah karna motornya masih ada di parkiran. Qila melihat ke lapangan tapi tidak ada orang di sana lalu kembali ke kelas tapi kelas juga sudah kosong. Dia melihat pintu perpustakaan yang terbuka dan mencoba masuk ke sana. Masih ada beberapa murid yang ada di sana. Ada yang masih sibuk membaca, mengerjakan tugas atau sekedar mengisi waktu sambil menunggu jemputan mereka datang. Qila menanyakan salah satu dari mereka, apakah ada yang melihat Bian dan mereka menunjuk ke arah pojok perpus. Terlihat Bian yang sedang tertidur di sana. Qila mendatanginya dan duduk di sampingnya.


"Pulang, yuk." ajaknya dan mengambil buku yang menutupi wajah Bian. Bian membuka matanya berharap yang datang adalah Mila tapi nyatanya tidak. Qila merapikan rambut Bian yang berantakan. Dia mencoba menenangkan hatinya dan juga hati Bian. Berharap hubungannya dengan Bian bisa diperbaiki lagi. Bian meraih tangan Qila dan menaruh di dadanya. Dia mencoba lebih mengerti dan merasakan ketulusan hati Qila padanya. Bian tertidur sebentar sambil menggenggam tangannya. Qila dengan setia menunggunya tidur sambil membaca buku yang tadi menutup wajah Bian. Yang ternyata buku itu adalah buku favorite Mila.


Seno membawa teman-temannya ke tempat permainan boling. Mereka asik dengan permainan mereka. Mila hanya menjadi penonton setia karna dia tak bisa memainkannya tepatnya tidak ingin. Tian asik bermain bersama yang lain mencetak skor demi skor. Mila menikmati keseruan mereka dengan tertawa melihat tingkah teman-temannya.


"Nih yah gue bakal kalahin lu, Mar!" kata Seno dengan percaya diri. Dia yakin dapat mencetak skor lebih tinggi dari Amar. Amar si manusia air memang paling jago kalau main boling daripada yang lain. Jadi Seno bertekat untuk mengalahkannya kali ini. Tapi saat bolanya meluncur di lantai, hanya dapat menyentuh tiga pin boling saja. Teman-teman menertawakannya dengan tawa mengejek.


"Udah lu jangan kebanyakan cincong, Sen. Liat nih gue bakal kalahin skor lu." giliran Wahyu yang menantang Seno dengan gaya percaya diri. Tapi apa yang terjadi? Dia justru tergelincir dan jatuh tersungkur. Bola juga melenceng jauh bahkan tak sampai menyentuh pin boling sama sekali. Betapa malunya dia karna menjadi bahan tertawaan teman-temannya dan pengunjung lain yang melihatnya terjatuh.


"Hahahaha,,," tawa Seno puas. "Way, Way. Makan tuh cincong yang ada lu nyusruk kan di situ! Lebih parah dari gua!" katanya sambil tertawa. Amar, Yana, Mila dan Tian pun menertawakan hal yang sama.


"Astaga, Wahyuuuuu! Bener-bener deh luh. Bikin sakit perut." Yana tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Tian membantu membangunkan Wahyu sambil menahan tawa. "Seneng kan lu, seneng! Temen jatuh bukannya di bangunin. Malu, sialannnn,,,!" katanya sambil ikut tertawa. "Emang kembaran gue doang yang punya hati." dumelnya menahan malu.


"Udah, udah. Sakit perut gue!" Amar kembali mencetak skor baru disusul Tian dan Yana.


Giliran Seno yang mencetak skor selanjutnya tapi tiba-tiba dia berbalik badan. "Yan, kalau gue bisa lewatin skor Amar. Gue boleh ajak adik lu ngedate, gimana?"


Ucapan Seno kali ini benar-benar bikin semua tercengang. Pasalnya baru dia yang ngomong terang-terangan dengan Yana untuk ngajak adiknya jalan berdua. Seno emang cowok sengklek, dia benar-benar jatuh cinta dengan Yuna pada pandangan pertama. Sampai-sampai membuatnya lupa ingatan kalau Yana sangat-sangat posesif dengan cowok yang akan mendekati adik semata wayangnya. Sampai-sampai Wahyu harus menutup mulutnya agar dia berhenti bergurau dan tidak asal bicara. Yang akan mengundang percekcokan di antara mereka berdua, lagi. Tapi respon dari Yana sungguh membuat mereka makin tercengang. Dia menimpali omongan Seno dengan santai.


"Oke, gue bakal izinin. Tapi, itu juga kalau adik gue mau jalan sama lu." katanya meremehkan Seno. Yana yakin Seno tidak akan bisa mengalahkan skor Amar dengan semudah itu.


Seno tersenyum dengan senang. Akhirnya keberaniannya tidak sia-sia. Yang lain melihat ke arah Yana dengan tatapan heran. Kok bisa Yana sesantai itu kali ini? Biasanya dia sangat protek soal hal-hal yang berhubungan dengan adiknya. Apa Yana sudah merasa kalau adiknya juga sudah cukup waktu itu didekati banyak cowok?


"Deal,,,!" Seno yakin dirinya bisa mengalahkan skor Amar kali ini. Demi jalan dengan tambatan hatinya. Seno memulai mengambil ancang-ancang. Dia berdoa, semoga semesta mendukungnya untuk mendapatkan kesempatan yang baik. Seno terpejam sejenak lalu dengan yakin meluncurkan bolanya. Suasana tegang terlihat di wajah enam sekawan itu. Suara drum bertabuh mengiringi bola yang melesat kencang dan, "Damn!" tangannya mengepal ke atas seraya berbangga hati dan dia berhasil mencetak skor dengan mengalahkan skor Amar.


Layar mengganti pointnya menjadi di atas Amar. Yana tak menyangka itu beneran terjadi. Dia mengucek-ngucek matanya mengira dia salah melihat. Wahyu bersorai gembira dan memeluk Seno. Seno menaikan alisnya dan mengilangnya tangannya, bangga. Tian tersenyum tak percaya, Seno dapat melakukannya dengan sempurna. Mila menepuk-nepuk Yana dan mengangkat jempolnya ke Seno dari belakang pundak Yana.


"Curang! Gak! Lu pasti curang kan?" Yana mengangkat kerah Seno.


"Yan, sportiflah. Lu harus terima man." Seno melepaskan tangan Yana dari kerahnya dan mengulurkan tangannya, "Deal?" Yana hanya menepak tangannya dengan keras.


Seno pun berjoget ke girangan bersama dengan Wahyu. Tian dan Amar tertawa melihat mereka bertiga berseteru dengan seru. Mila memberikan air minum untuk mereka. Melepas dahaga sekalian melepas ketegangan antar Seno dan Yana. Yana menenggak airnya dengan kesal. Dia masih tak percaya Seno dapat melakukannya. Seno menghampirinya dan menepuk-nepuk pundaknya. Entah untuk menenangkannya atau sekedar untuk mengejeknya karna sudah meremehkannya.


"Tenang, Kakak ipar. Adik iparmu ini akan menjaga adikmu dengan sangat baik." katanya sambil menundukkan kepala seperti adegan raja dengan ajudannya. Otaknya benar-benar sudah gesrek.


Mendengar Seno memanggilnya dengan sebutan Kakak ipar. Jelas Yana merangkul lehernya dengan kuat, membuat Seno kesulitan bergerak. Teman-temannya hanya menertawakan kelakuan mereka berdua, yang cocok menjadi peran adik dan kakak ipar yang tak akur macam di sinetron. Mereka sudah selesai bermain dan langsung menuju tempat makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan usai bermain. Mila memesankan makanan untuk teman-temannya. Tian menyusul Mila dan memberikan kartu debit untuk membayar makanan yang sudah di pesan tapi Mila menolak.


"Kali ini aku aja ya, tadi kan kamu udah bayar semuanya." Mila mendorong tangan Tian.


"Apaan sih. Udah gak usah, kamu simpan aja uang kamu." Tian mendorong lagi tangannya.


Mas-mas kasir menatap bingung. Kartu mana yang harus diambil untuk dilakukan pembayaran. "Maaf, Mas/Mba. Jadi yang mana ya?"

__ADS_1


"Ini aja, Mas." Tian menyodorkan kartunya tapi Mila mengambilnya dan menukarnya dengan kartunya.


Tanpa bertanya lagi, Mas kasir itu langsung menggesek kartu Mila. "Terimakasih. Selamat makan."


Mila mengembalikan kartu Tian dan dia menatap dengan gemas. "Udah gpp, yang ini aku yang bayar ya. Oke." Mila tersenyum dan berjalan lebih dulu.


Mila dan Tian datang dengan membawa masing-masing nampan berisikan makanan dan minuman untuk mereka semua. Tian membagikan minuman mereka satu persatu. Mereka lalu menyantap makanan mereka dengan lahap sambil bercerita dan bercanda gurau. Setelah selesai makan mereka langsung pulang karna waktu sudah menunjukkan pukul jam 7 malam. Terlalu asik bermain sampai lupa langit sudah berganti gelap. Tian mengantar Mila sampai ke depan rumahnya. Padahal jarak mall ke rumahnya jauh lebih dekat dari pada rumah Mila.


"Makasih ya. Kalau gitu aku masuk dulu. Bye, Tian. Hati-hati ya." pamitnya sambil melambaikan tangan.


"Bye, Pacar." Balasnya dengan menggoda Mila.


Mila menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Dia melihat betapa berbedanya wajah Tian hari ini. Senyum yang jarang terlihat, sekarang menjadi tak pernah absen. Mila telah mengubah hari-hari Tian menjadi lebih berwarna yang semulanya hanya ada abu-abu. Begitu juga Tian, dia telah meyakinkan Mila kalau dia adalah orang yang tepat untuknya.


Mila masuk ke rumahnya dan terlihat Ayah, Ibu dan Lana sedang berkumpul di ruang tv. Lana berlari ke arah Mila sambil memamerkan piala yang dimenangkannya hari ini.


"Teteh, Lana menang." Lana memeluk kakaknya, walau yang dipeluk hanyalah kaki Mila.


Kemudian Mila berjongkok dan memeluk adiknya. "Lana hebat! Adik Teteh, pasti jago tadi mewarnainya." Mila melihat piala yang ditunjukkan adiknya.


"Dari mana, Mil? Larut sekali pulangnya?" Ayah memulai introgasinya.


"Main dulu sebentar, Yah," Mila menyalami Ayah dan Ibunya.


"Yaudah, makan yuk," Ibu berjalan ke meja makan. Ibu sudah menyiapkan makan malam. Sebenarnya juga mereka menunggu Mila pulang untuk bisa makan bersama dalam rangka merayakan Lana yang baru saja jadi juara. Ayah menggendong Lana ke meja makan.


"Tapi Bu, Mila udah makan tadi. Maaf ya, masih kenyang banget." Mila memegang perutnya.


"Yah, Teteh. Lana sudah tunggu Teteh, dari tadi." Lana memasang wajah kecewa.


"Maaf ya, Lana. Tapi beneran deh,,,,," belum selesai Mila bicara Ayah menggedipkan matanya untuk ikuti saja keinginan adiknya. "Oke, Teteh makan, tapi dikit aja ya." Mila mengelus rambut adiknya.


Di tengah mereka makan Ayah melanjutkan introgasinya. "Tadi pulang sama siapa, Mil? Ayah lihat bukan motor Yana?"


"Tian, Ayah. Yang waktu itu ke sini." Mila menghentikan makannya. "Teteh udah kenyang banget, makasih Lana traktirannya. Teteh mandi dulu ya, udah asem banget ini." Mila mengecup adiknya dan naik ke atas.


"Ayahhhh, sih." Ibu menatap Ayah dengan sebal.


Mila menghindari perdebatan dengan Ayahnya lagi. Ayah memang segitu posesifnya dengan Mila. Maklumlah namanya juga anak perempuan. Jadi harus benar-benar dijaga banget. Mila menghempaskan tubuhnya ke kasur, menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar. Setelah moodnya terkumpul dia bergegas pergi mandi.


"Ya ampun, Tian. Bikin kaget aja." Bunda menepuk tangan anaknya itu. Tian lalu duduk di hadapan ibunya dengan senyum yang mengambang di bibirnya. "Bunda gak salah liat nih? Pulang-pulang senyam-senyum begini?"


"Maaf, Bunda." Tian menenggak segelas air.


"Alasan." Bunda menyendokkan nasi untuknya.


"Engga, Bunda. Tian udah makan tadi sama temen-temen. Tian temenin Bunda makan aja." Tian menyilangkan tangannya di meja.


"Pantes, pulang malem. Yasudah nasinya untuk Bunda aja."


Tian asik dengan ponselnya sambil tersenyum sumringah sendiri. Bunda melihatnya dengan heran. Tak lama Kian datang dengan rusuhnya.


"Bunda, Bunda aku laper banget,,,!" Kian menarik kursi dan duduk di sebelah ibunya.


"Astaga, Kian. Gak bisa apa kalau pulang tuh ucap salam dulu. Bikin kaget aja, kebiasaan deh kamu. Tadi Tian sekarang kamu." kata Bunda, ngomel.


"Aduh,,, Bunda marahinnya nanti. Aku udah laper banget." Kian mengangkat piringnya minta di ambilkan nasi.


"Lagian kamu pulang malem banget, dari mana?" Bunda memberikan piring berisi nasi untuk Kian.


"Abis tanding basket." katanya dengan mulut penuh.


"Udah-udah makan dulu. Ceritanya nanti." Bunda juga melanjutkan makannya.


Sedang lahap-lahapnya makan, Kian melihat ke arah adiknya. "Kenapa lu? Bahagia amat! Senyum-senyum sendiri?"


"Entah? Bunda juga heran. Tumben banget habis main sama temen-temennya dan pulang-pulang sebahagia itu. Main apa sih, Tian? Kamu gak main judi kan?"


"Tian mandi dulu ya, Bun" Tian mencium kening ibunya. "Mandi lu, Bau!" ledeknya pada Kian dan langsung berlari naik ke atas.


Bunda dan Kian hanya melihat satu sama lain dengan tatapan heran. Apa yang membuat adiknya berubah jadi cowok paling murah senyum hari ini? Tapi dia sedang tak memperdulikannya dan lanjut menambah porsi makannya. Bunda dibuat kenyang melihat porsi makan Kian yang seperti kuli bangunan.


Mila keluar dari bilik kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh dan juga kepalanya. Dia bergegas ke lemari pakaian dan melihat wajahnya di cermin. Sebuah jerawat kecil hadir di dahinya. Mila kesal bukan kepalang, melihat kedatangan teman setianya setiap bulan. Padahal tanggal PMS-nya masih terlalu jauh untuk dia muncul di permukaan bumi. Mila mencubit gemas.


"Jerawat apaan sih ini,,,! Baru tanggal segini udah nongol,,,!" gumamnya sambil membuka lemari dan mengambil celana serta baju tidurnya. Mila pergi ke meja belajar, dia duduk di sana sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mila memeriksa ada tugas atau tidak untuk besok. Tak lama terdengar pintu diketuk dan masuk Lana ke kamarnya.

__ADS_1


"Teteh,,," Lana masuk dan langsung duduk di tempat tidur.


"Ya. Ada apa, Lana?" Mila mengarahkan badannya ke arah adiknya.


"Lana sedih, kenapa aku cuma dapat juara 2?" raut wajahnya berubah mendung sambil memeluk pialanya.


"Loh, memangnya kenapa? Juara 2 juga sudah keren, Sayang." Mila menghampiri adiknya dan duduk di sampingnya.


"Tapi bukan harusnya bisa juara 1?" menatap wajah kakaknya dengan lugu.


"Mau juara 1 ataupun juara 2, Lana kan tetap juara. 1 atau 2 itu hanya soal angka saja. Yang terpenting adik teteh ini, sudah berusaha dengan baik. Piala ini adalah simbol untuk Lana, agar bisa lebih semangat lagi belajarnya. Jadi jangan sedih hanya karna juara 2. Oke,,,,,?" Mila memeluk adiknya.


"Baik, Teteh. Lana pasti semangat terus mewarnainya." membalas pelukan kakaknya.


Ponsel Mila berdering. Mila mengambilnya dan ternyata dari Tian. "Ya, hallo. Ada apa, Tian?"


"Gpp. Mau telepon aja. Sibuk ga?" Tian baru saja selesai mandi dan dia langsung menelepon pacarnya, yang baru saja berpisah hanya beberapa jam.


"Oh, engga kok." Mila menjauhkan ponselnya dari Lana.


"Siapa, teteh?" Lana mendongak ke atas melihat kakaknya.


"Itu siapa, Mil?" Tian mendengar suara anak laki-laki.


Mila tak menjawab pertanyaan adiknya. "Oh, Lana. Adikku, lagi main ke kamar." Mila mengelus rambut adiknya.


"Teteh." Lana merengek manja karna pertanyaannya tak dijawab.


"Temen, teteh sayang. Lana bisa kembali ke kamar?" Mila mengusir adiknya secara halus.


"Tapi Lana mau bicara dulu sama Kakak Yana." Lana memegang ponsel Mila. Mila pasrah agar adiknya bisa cepat pergi dari kamarnya. "Hallo, Kak Yana, ini Lana. Lana habis ikut lomba loh. Terus dapat juara, tapi cuma juara 2." ocehnya tanpa henti. Tanpa dia tau siapa yang sebenarnya ada dibalik telepon itu.


"Lana, tidak boleh mengeluh." Mila mengingatkan pada adiknya untuk tidak cepat menyerah dan mengeluh.


Dari balik telepon Tian tersenyum. "Oh, ya. Wah keren, dapat juara 2. Kakak juga pernah juara 2, seperti Lana. Jadi jangan sedih ya. Besok kita belajar lagi biar terus jago dan dapat juara 1." saut Tian memberi semangat.


"Oya, sama dong seperti Lana. Oke, nanti kita belajar bareng ya." semangatnya tiba-tiba naik. Wajahnya nampak ceria. Mila heran apa yang sebenarnya mereka bicarakan. "Lana tunggu ya, Kak." ocehnya lagi seperti tak ingin menyudahi obrolannya.


"Lana sudah ya." Mila mengambil ponselnya.


"Ihhhh,,,,, Teteh." rengeknya yang belum selesai dengan ocehannya.


"Lanaaa, turun sayang. Teteh mau belajar." suara Ibu memanggil Lana.


"Tuh kan, Ibu panggil. Sudah, Lana datangi Ibu sana." Mila meletakkan ponselnya di kasur lalu mengantarkan adiknya ke depan pintu.


"Bilang sama Kak Yana ya. Jangan lupa nanti kita belajar bareng." Lana melambaikan tangan pada Mila.


"Iya, nanti Teteh bilangin. Dah Lana." Mila menutup cepat pintu kamar dan menguncinya. Lalu kembali ke kasurnya sambil tertawa. Mila merebahkan tubuhnya dan melanjutkan teleponannya yang tadi terjeda.


"Kenapa ketawa?" saut Tian yang masih setia menunggu suara pacarnya di telepon.


"Tadi Lana kira kamu itu Yana. Dia itu kalau udah ngoceh gak bisa diberhentiin. Mau ngasih tau nanti malah panjang lagi. Maaf ya, jadi ke jeda."


"Gpp. Besok aku jemput ya."


"Gau usah, aku kan biasa bareng Yana." Mila masih cuek dan terbilang belum peka terhadap hubungannya.


"Emang ga mau bareng pacar?" godanya.


"Tian,,,,,!"


"Bercanda." Tian tertawa karna berhasil menggoda Mila.


"Sebenernya bukannya gak mau dijemput tapi aku males debat sama Ayah. Nanti pasti di tanya-tanya terus." Mila memberikan alasan, agar Tian tak salah mengira.


"Ayah kamu emang posesif banget ya. Ya maklumlah, namanya juga anak perempuan gitu jadi harus dijaga banget." Tian mencoba memahami sikap ayahnya Mila.


"Iya aku tau tapi kadang jadi ribet sendiri. Dia itu Cuma percaya sama Yana aja. Untuk percaya sama temen laki-laki aku yang lain tuh susahhhhhhh banget. Apalagi kalau sampe naik motor berduan, dempetan gitu. Duhhh,,, pasti bawel." Mila sekarang menggantikan posisi adiknya yang ngoceh tanpa henti macam burung beo.


"Aku jemput naik mobil kalo gitu?" masih mencari cara agar ajakannya bisa di terima.


"Bukan. Bukan gitu, Tian. Aduh,,, gimana ya jelasinnya. Oya, inget gak pas kamu anterin aku naik mobil yang habis dari klinik. Itu aja Ayah kiranya kamu taxi online tau." Tian tertawa mendengar hal itu.


Mereka bercerita sampai larut malam dan selimut menjadi teman setia mereka bercerita. Tian dengan setia mendengarkan setiap cerita yang Mila lontarkan dari mulutnya. Mendengar suara wanita yang di sayangnya saja sudah cukup untuk melengkapi mimpi indahnya malam ini. Mila juga senang karna dia merasa akhirnya sekarang ada teman selain Yana yang mendengarkan ceritanya.

__ADS_1


Senyum itu tercipta karna kamu !


__ADS_2