
PagiĀ ini matahari terlihat enggan menampakkan dirinya. Sama seperti Tian yang juga enggan untuk berangkat ke sekolah hari ini. Hatinya masih dilanda kecewa akibat semalam. Sudah setengah jam dia memandang foto wanita di kamarnya. Foto itu sudah cukup lama menghiasi setiap dinding kamarnya. Sekarang dia bingung harus bersikap bagaimana dengan Mila.
Kian duduk di meja makan, menunggu adiknya turun dari kamarnya. "Tian mana, Bun?" tanyanya.
"Entah? Biasanya sudah di meja makan. Tapi sekarang sudah jam segini belum juga turun." kata Bunda memberikan roti lapis untuk Kian.
Tak lama Tian turun ke bawah dengan wajah dinginnya. Sikapnya hari ini berubah lagi seperti dulu, dingin dan datar. Padahal belakangan ini sikapnya sedikit berubah menjadi lebih hangat dan sedikit terselip senyum di bibirnya. Semangatnya selalu hadir dengan senyum yang menghiasi wajahnya setiap kali berangkat ke sekolah.
"Bunda gak salah liat nih? Kok wajahnya balik lagi ke yang dulu?" kata Bunda melihat wajah anak bungsunya kembali dingin.
"Kenapa habis ditolak cewek lu?" ledek Kian.
"Engga, Bun." jawab singkat Tian pada ibunya dan mengabaikan ucapan kakaknya.
"Siapa sih cewenya yang bikin adek gue berubah 100% hangat terus berubah lagi jadi 100% dingin kaya dulu?" sambung Kian lagi.
"Bun, aku makan roti di mobil aja ya." Tian mengambil roti dan membalutnya dengan tisu. Mengecup pipi ibunya dan pergi. Tak menghiraukan lagi ucapan Kian.
"Loh Tian?" Bunda heran Tian tak jadi sarapan bersama. Padahal dia sudah menuangkan susu untuknya.
"Heh, Tian! Gue nunggu lu dari tadi. Malah pergi gitu aja." Kian menghabiskan rotinya dengan cepat, mengecup pipi ibunya dan menyusul adiknya keluar. "Dahhh Bundaaa!" teriaknya dengan mulut penuh.
Bunda menggeleng kepala melihat kedua anaknya pergi tanpa sarapan bersamanya hari ini. Tian bersiap menarik gas mobilnya namun dicegah Kian yang menghadangnya di depan mobil.
Kian pun berlari masuk ke dalam mobil. "Lu maen pergi aja! Udah tau gue nungguin lu dari tadi." oceh Kian.
Masih dengan diamnya, Tian tak menjawab sekalipun ucapan kakaknya. Mereka pergi ke sekolah bersama. Biasanya Tian naik motor tapi hari ini dia memakai mobilnya ke sekolah. Kian memang sesekali pergi ke sekolah diantar Tian jika mereka berangkat dengan mobil. Kian memang cenderung lebih senang memakai fasilitas yang ada ketimbang Tian yang lagi-lagi cuek untuk hal macam itu. Dia lebih suka naik motor karna dia bisa konfoy motor-motoran dengan teman-temannya. Sebenarnya sekolah Kian jauh lebih dekat dari pada sekolah Tian. Tapi hari ini Tian tidak berniat mengantar kakaknya ke sekolahnya melainkan sebaliknya. Kian dipaksa mengantarkannya ke sekolahnya lantaran dia tak mau membawa mobilnya. Tanpa berkata apa-apa dia menyetir sampai ke sekolahnya.
"Eh, ini kan bukan arah sekolah gue, Tian! Wah ngaco asli. Tian!" protesnya kesal. "Tian masa gue yang nganterin lu sih! Sekolah lu aja lebih jauh. Yang ada gue yang telat." protesnya lagi.
"Sekali-sekali." kata Tian dengan santai. Tian menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah. Dia mematikan mesin mobil dan turun. Kian juga ikut turun menukar posisi duduknya. Padahal biasanya dia hanya perlu melangkah ke samping tanpa harus keluar mobil. Sepertinya dia memang sengaja ingin tebar pesona pada teman-teman sekolah adiknya.
"Hai girls!" sapa Kian ke teman sekolah Tian. Disambut dengan suara riuh cewek-cewek yang histeris kegirangan.
"Gak usah tebar pesona! Cepet pergi." kata Tian dengan sinis lalu pergi meninggalkan kakaknya.
Di sebrang jalan Genx Axepink melihat ketampanan Kian dengan wajah cengonya. "OMG! Gue baru tau kalau Tian punya Kakak yang gak kalah ganteng sama dia!" kata Cila dengan wajah mupeng. Dia paling gak tahan kalau soal cowok ganteng.
"Sumpah ganteng banget!" saut Netha terpana.
"Kayanya dia cocok sama gue deh!" kata Diana percaya diri. Namun kepalanya langsung di toyor oleh Netha. Ayana dan Qila hanya diam melihat tiga temannya yang sedang halu itu.
Lalu Kian melintas di depan mereka sambil melambaikan tanganya. Sontak mereka bertiga histeris dan berjingkrak kegirangan. Ya seperti itulah perbedaan kakak beradik ini. Yang satu stay cool dan yang satu stay calm. Karakter mereka sangat berbeda. Yang sama hanya satu, mereka sama-sama di gandrungi banyak cewek karna pribadi masing-masing.
Mila menyambut pagi ini dengan ceria. Dia tak sabar melihat ekspresi muka Cila yang kesal lantaran bannya kempes kemarin. Namun di sisi lain hatinya juga dilanda bimbang atas kejadian dirinya dengan Tian kemarin. Perasaannya campur aduk pagi ini, entah harus senang atau sedih. Yana dan Mila sampai di warung tongkrongan mereka tepat waktu. Mila melepas helm yang dipakainya dan mengibaskan rambutnya yang masih basah. Seno, Amar dan Wahyu melihatnya dengan tatapan penuh hasrat. Ke-sexy-an Mila terdapat pada rambut panjangnya yang terurai. Apalagi saat basah levelnya naik.
"Mil, Mil. Masih pagi ini udah bikin mupeng aja." suara Seno menyapa mereka berdua yang baru datang.
"Ah elu, Sen! Apa-apa mupeng!" saut Amar.
Wahyu masih terperanga oleh Mila. "Wehhh! Santai dong liatinnya!" Yana menggagetkan Wahyu.
"Tau apaan sih! Besok gue gak usah mandi sekalian. Biar pada jijik ngeliat gue." kata Mila dengan ketus lalu duduk disamping Seno.
"Duh, Mil sonoan kek. Gak tahan gue kalau deket lu." Seno menggeser duduknya.
Tian datang ke warung dan langsung menyalahkan rokok tanpa menyapa mereka seperti biasa. "Gue gak salah liat nih?" kata Seno melihat tingkah aneh Tian. "Kenapa dengan lu sama Mila hari ini ? Pagi-pagi udah bikin bengong begini?" Seno melihat ke arah mereka berdua.
"Ngerokok lagi?" tanya Yana. Mila ikut kaget melihat Tian hari ini berubah, menjadi merokok lagi. Dia berpikir itu pasti karnanya. Tian pasti sangat kecewa padanya. Sampai-sampai dia frustasi dan kembali merokok lagi.
"Butuh yang bikin tenang pagi ini." katanya datar.
"Emang Mila udah gak bisa bikin lu tenang?" saut Wahyu bercanda.
"Atau Mila yang bikin lu gak tenang?" Amar menyambar.
Yana melihat ke arah mereka berdua dan mereka sama-sama tak saling memandang. Seperti ada masalah di antara mereka dan mereka sedikit menjauh.
"Setuju!" saut Seno. "Mila juga bikin gue gak tenang pagi ini. Lain kali rambutnya di keringin dulu deh, Mil. Bikin suges deh lu." katanya yang merasa sangat resah dengan penampilan Mila pagi ini.
"Yeeeeeee! Itu mah elu aja yang mupeng!" Wahyu menoyor kepala Seno.
Mila hanya diam dan tidak membalas candaan dari teman-temannya. Dia merasa tak enak hati dengan Tian. Dia pun berpamitan untuk masuk ke sekolah lebih dulu. Mila sengaja menghindar agar tak di tanya lebih jauh perihal ke canggungan dia dan Tian. Jujur dia sedikit kecewa melihat Tian yang merokok lagi. Tapi dia juga sadar itu pasti karna dirinya juga. Tian itu bukan tipe perokok yang aktif. Dia hanya sesekali saja merokok jika ada masalah. Makanya teman-temannya heran melihatnya pagi ini merokok lagi. Mereka berpikir pasti ada masalah yang terjadi padanya. Yana tak menanyakan langsung pada Tian. Dia hanya mengamati saja keadaannya dan mengambil ke simpulan. Jika ini ada hubungannya dengan Mila?
Mila sampai di kelas, Cila and the genx ternyata sudah menunggu kedatangannya. Mereka tak sabar untuk memberikan kejutan untuknya. Mila bergontai santai menghampiri Cila. Dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya hari ini. Cila menyiapkan hal yang akan membuatnya amat sangat terkejud dan membuat harinya jauh lebih buruk dari pada dirinya kemarin.
Mila menyapa Cila dengan senyuman manis di bibirnya. "Hai,,, Quuen! Did you have a good day yesterday?" katanya mengejek.
Cila tak membalas hanya memberikan senyuman sinis pada Mila. Teman-teman Cila hanya menahan tawa mendengar perkataan Mila. Mila lalu duduk di kursinya dan melihat kearah Bian. Mereka saling melempar senyuman. Sepertinya kemarin menjadi hal yang baik untuk mereka berdua. Tak lama Yana dan yang lain masuk ke dalam kelas. Mila langsung membuang pandanganya dari Bian.
Cila berbisik ke teman-temannya. "Tunggu aja kejutannya,,,!" dan mereka tertawa lirih.
__ADS_1
Pelajaran di mulai...
Hari ini kelas terlihat tentram di awal pelajaran. Mungkin efek langit yang sedang mendung. Angin berhembus sangat sejuk membawa wangi tanah naik ke atas bumi. Mereka menikmati pelajaran yang diberikan dengan mata setengah mengantuk. Tapi seketika kantuk mereka hilang saat terdengar suara pintu kelas diketuk. Lalu muncul dari balik pintu Bu Siska, guru BK sekolah. Beliau datang ke dalam kelas dan menyapa mereka semua. Biasanya kalau guru BK datang ke kelas, pertanda ada masalah di kelas mereka.
"Selamat pagi semuanya?" sapa Bu Siska, guru bimbingan konseling.
"Pagi, Bu." jawab murid kelas 11 serempak.
"Permisi, Pak Andri." Bu Siska meminta izin.
"Silahkan, Ibu." Pak Andri mempersilahkan.
"Aksara Mila, bisa ikut Ibu sebentar." panggil Bu Siska dengan wajah tegas.
Mila bingung kenapa namanya bisa di panggil guru BK? Mila bangun dari kursinya dan menghampiri Bu Siska, lalu mereka keluar dari kelas. Yana bingung dengan apa yang terjadi pada Mila. Pandangannya langsung tertuju ke arah Cila dan teman-temannya. Pikirnya pasti ada sesuatu yang terjadi setelah mereka berseteru kemarin.
"Enjoy the show, Honey!" kata Cila setengah berbisik pada teman-temannya.
Mila masuk ke ruangan BK, dia duduk di kursi berhadapan dengan Bu Siska. Setelah mereka duduk Bu Siska langsung pada intinya. Alasan dia sampai memanggil Mila ke ruangannya.
"Ibu dapat laporan dari teman sekelas kamu pagi ini. Kalau kamu kemarin membuat kempes ban mobil Cila. Benar begitu, Mila?" tanyanya dengan nada mengintrogasi.
Mila kaget mendengar ucapan Bu Siska. Lidahnya mendadak keluh, tak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan padanya. Dia berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa menyangkal pertanyaan itu. Dan kenapa juga Bu Siska bisa sampai tau tentang ulahnya kemarin?
"Mila. Kenapa kamu diam saja? Apa itu benar, Mila?" Bu Siska bertanya Lagi.
"Engga, Bu." jawab Mila ragu.
"Bohong. Kamu berbohongkan Mila? Jawab Ibu dengan jujur." katanya semakin mendesak Mila.
"Tidak, Bu." Jawabnya lagi terus menyangkal.
"Kalau kamu tidak berbohong, kenapa kamu menjawab Ibu dengan ragu dan tertunduk seperti itu?"
"Apa ada buktinya kalau saya berbohong, Bu?" kata Mila dengan percaya diri jika itu hanya tuduhan pada dirinya saja tanpa disertai bukti.
Bu Siska tersenyum kecewa mendengar perkataannya. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video yang membuktikannya melakukan perbuatan itu. Video yang di rekam oleh Netha tanpa Mila tau. Mila makin kaget melihat dirinya terekam saat kemarin sedang membuat kempes ban mobil Cila.
"Tapi, Bu. Saya punya alasan." Mila membela diri.
"Kamu sudah berbohong, Mila. Ibu dari awal tanya baik-baik sama kamu dan menyuruh kamu untuk jujur." Bu Siska merasa kecewa sekali dengan Mila.
"Mila minta maaf, Bu. Mila salah. Tapi Mila punya alasan, Bu." Mila masih bersikukuh membela dirinya.
"Bu, tapi ini gak masuk akal. Cila tuh picik, Bu! Dia pasti ngerencanain ini semua." Mila merasa jika tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.
"Cukup, Mila. Cukup kamu mencelakakan temanmu dan sekarang kamu menuduhnya." Bu Siska tidak memberikan kesempatan Mila lagi untuk melanjutkan pembelaannya. "Besok tolong kamu bawa orangtua kamu ke sekolah. Ibu ingin bertemu dengan mereka." Bu Siska menyudahi pembicaraannya.
"Bu, Mila mohon. Kasih Mila kesempatan buat buktiin kalau ini semua juga ulah Cila, Bu." Mila memohon dengan suara yang terdengar sedih.
"Mila, kamu boleh ke kelas sekarang." Bu Siska tidak ingin mendengar pembelaannya lagi dan menyudahi pembicaraan ini dengan keputusan beliau ingin bertemu dengan kedua orangtua Mila.
Mila kembali ke kelasnya dengan rasa kecewa dan marah yang memuncak. Kali ini Cila benar-benar keterlaluan, dia benar-benar mengajaknya berperang. Permainannya kali ini sangat picik. Mila berjalan dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya berkaca-kaca. Dalam hatinya dia bertekad akan membalas perbuatan Cila dan membuktikan kalau semua ini pasti rencana busuknya.
Sebelum masuk ke dalam kelas Mila menghela nafas panjang. Menyeka air matanya yang ingin sekali jatuh dan sengaja menunggu di depan pintu sampai pelajaran selesai. Dia ingin sekali mendobrak pintu kelas dan mendamprat Cila habis-habisan. Tapi di kelas masih ada guru yang sedang mengajar. Tak lama bel pelajaran selesai. Pak Andri keluar dari kelas dan melihatnya yang berdiri di depan pintu.
"Mila, nanti kerjakan tugasnya. Bapak sudah menulis di papan tulis." katanya dan berlalu pergi.
Mila mengangguk tanpa bicara. Setelah beberapa langkah Pak Andri pergi, Mila masuk ke dalam dan langsung mendamprat Cila yang sedang tertawa bahagia bersama teman-temannya. Emosinya memuncak dan tak terkendali lagi. Membuat teman-temannya kaget dan melihat ke arahnya.
"Heh!" Mila menggebrak meja Cila. "Rencana busuk apa yang lu lakuin ke gue. Bisa-bisanya main fitnah lu!" teriak Mila.
"Uwww,,,,, santai dong, Sayang. Jangan kesel gitu." kata Cila dengan menyilangkan tangannya dan tersenyum sinis pada Mila.
"Picik lu yaaaa!" Mila menarik kerah Cila.
Melihat hal itu Yana berlari ke Mila, melerai mereka dan menjauhkannya dari Cila. Yana mengingatkannya untuk tidak bertindak gegabah di dalam kelas seperti ini dan jam pelajaran yang masih berjalan. "Mila, udah! Ini kelas. Ada apaan sih?"
Suasana rius kelas membuat suasana hati Mila dan Cila makin memanas. Sorak sorai teman-teman meramaikan seisi kelas. Yana memegangi Mila terus tanpa sedikitpun akan melepaskannya. Yana tau sekarang Mila sangat emosi. Badannya bergetar kuat karna marah. Seno, Amar dan Wahyu menghalangi Mila untuk tidak main fisik ke Cila. Sedangnya Aqila, Ayana dan Bian menghalangi Cila. Netha dan Diana memegangi Cila. Tian hanya berdiam diri di kursinya tak beranjak sedikitpun.
"Elu bisanya maen fitnah kaya gini. Lu kira gue bakal takut sama lu, hah!" teriak Mila penuh emosi dan terus berontak karna dipegangi Yana.
"Kalau kalah bilang aja kalah, PecunDang!" Cila makin menjadi-jadi dengan ucapannya.
"SIALAAANN!" Mila yang tak tahan lagi menahan emosi hampir saja menjambak rambut Cila tapi tangannya ditahan oleh Tian dari belakang. Ternyata Tian tak tahan juga untuk tidak peduli terhadapnya. Tapi karna kelewat emosi, Mila tak melihat lagi keadaan. Dia berontak dan membuat Tian terdorong ke dinding dengan kerasnya.
Bukkk!
Suara tubuh Tian yang terpental ke dinding. Terkadang marah membuat seseorang menjadi monster seketika. Emosinya sudah tak terbendung lagi karna tingkah picik Cila yang menurutnya sudah sangat keterlaluan padanya. Membuat dia harus masuk ke ruang BK yang sudah sekian abad dihindarinya. Mila hanya mencubit ujung ekornya namun Cila membalasnya dengan mengigit seluruh tubuhnya. Semua orang teriak kaget melihat Tian terpental ke tembok.
"Tian." Seno dan Amar melepaskan pegangannya dari Mila dan menghampiri Tian yang kesakitan.
__ADS_1
Mila tak tahu kalau Tian terluka karnanya. Dia masih dengan amarahnya yang berhasil menjambak Cila. Jambak-jambakkan akhirnya terjadi antara Cila, Mila, Diana dan Netha. Mila di keroyok 3 orang sekaligus. Yana dan Wahyu masih mencoba melerai mereka. Bian, Aqila dan Ayana juga masih berusaha keras memisahkan Netha dan Diana. Kelas mereka terletak jauh dari ruang guru, jadi suara ribut itu tak terdengar sampai ke sana.
"Mila, udah cukuppppppp!" Yana berteriak tanpa henti namun tak didengar oleh Mila yang posisinya terpojokkan akibat ulah Netha dan Diana yang ikutan menjambaknya.
"Ehh,,, udahh dongg!" Aqila melerai teman-temannya.
Diana dan Netha berhasil di pegangi oleh Bian dan Ayana. Aqila dan Yana menahan Mila dan Cila yang masih sama-sama geregetan satu sama lain.
"UDAH CUKUP!" teriak Tian. Suara Tian yang jarang terdengar di kelas membuat mereka semua tersentak kaget saat mendengarnya. Teriaknya membuat Mila dan Cila akhirnya berhenti. "Cukup, Mila! Cukup, Cila! Ini kelas bukan ring tinju!" teriaknya lagi.
Cila yang melihat Mila membelakanginya karna dia melihat ke arah Tian, menjambaknya lagi dan membuat Mila sangat kesakitan. Gani sebagai ketua kelas mengambil keputusan untuk lapor ke guru karna melihat teman-temannya sudah makin keterlaluan dan keadaan semakin tidak kondusif. Aqila dan Yana mencoba melepaskan tangan Cila dari rambut Mila namun tidak berhasil. Cila menjambaknya dengan sangat kuat. Mila masih berusaha melepaskan tangan Cila dari rambutnya. Saat berhasil melepaskannya Mila sontak mendorong keras Cila. Aqila yang saat itu sedang ada di belakang Cila ikut terdorong dan membuatnya terjatuh ke lantai dengan kerasnya akibat dorongan dari Mila .
Bian yang melihat Aqila terjatuh ke lantai berlari ke arahnya. "Qila, gpp kan?" Bian marah melihat Qila merintih kesakitan lalu membentak Mila. "MILA! Kasar banget sih! Di bilang cukup ya cukup! Mau berapa orang lagi yang lu sakitin!" dengan wajah marahnya.
Mila merasa bersalah melihat Qila terjatuh. Dia juga kaget mendengar Bian membentaknya untuk pertama kali dengan suara lantang. "Maaf Qila. Maaf,,,"
"Gak usah bentak-bentak juga kali! Temen-temen cewek lu juga yang ngeroyok Mila!" Yana memberikan pembelaan untuk sahabatnya juga.
"Urus aja sahabat lu yang kasar itu!" katanya lagi dengan teriak sambil membangunkan Aqila.
"Bian, maaf gue gak sengaja." Mila menyesali perbuatannya dan memohon maaf dari Bian yang jelas-jelas sudah membentaknya dengan kasar. Mila seperti kehilangan akal. Jelas perbuatannya ini malah membuat teman-temannya merasa kecewa padanya.
"MILA!" Yana berteriak. Dia kesal pada Mila yang mengemis maaf dari Bian. Padahal dia jelas-jelas sudah membentaknya dengan keras dan kasar. Seno, Wahyu, Tian dan Amar juga kecewa melihat Mila.
Guru datang ke kelas mereka dan mengentikan perdebatan mereka. "MILA! CILA! Apa-apaan kalian, bikin kelas berantakan seperti ini. Rambut kalian acak-acakan macem singa seperti itu!" Bu Siska datang lagi ke kelas.
"Mila, Bu. Dateng-dateng ngejambak saya," Cila memfitnah Mila, LAGI.
"Bohong, Bu!" teriak Mila.
"Cukup ya, Mila. Tidak usah membela diri lagi. Sekarang, kamu Ibu skorsing!" kata Bu Siska dengan tegas dan mata melotot.
"Tapi, Bu." Mila tak percaya dengan ucapan Bu Siska.
"Ini bukan salah Mila, Bu!" Yana membela.
"Cukup. Cukup. Besok kamu bawa orang tua kamu Mila!" lalu Bu Siska pergi meninggalkan kelas.
Cila, Netha dan Diana segera pergi ke toilet. Ayana, Aqila dan Bian pergi ke ruang UKS. Yana dan yang lainnya membawa Mila ke luar sekolah. Mila tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar perkataan Bu Siska yang tidak adil padanya. Dia ingin menangis sejadi-jadinya. Kebenciannya pada Cila teramat besar sekarang. Matanya sudah berkaca-kaca sepanjang jalan ke tongkrongan mereka. Anak-anak yang lainnya membereskan kursi-kursi yang tergeser akibat melerai Mila dan Cila tadi.
Mila menangis kencang dipangkuan Yana. Petaka apa ini? Dia tak percaya bahwa mendung hari ini adalah isyarat untuknya. Cuaca tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita sesuai dengan hatinya saat ini. Apa yang harus dia bilang ke orangtuanya nanti? Ayah pasti akan marah besar padanya. Apalagi kalau sampai mendapat hukuman skorsing.
"Udah, Mil. Udahan nangisnyaaa,,," Yana menenangkan Mila.
Tian, Seno, Amar dan Wahyu hanya diam dan mendengarkan saja Mila menangis. Seno memperhatikan Tian yang masih kesakitan. Tian membakar sebatang rokok tapi langsung di ambil Seno dan membuangnya. "Udahlah Tian jangan dipaksa!" kata Seno kesal. "Sini punggungnya!" Seno menyeka kerah baju Tian dan melihat ruam merah di punggungnya.
"Merah banget itu," kata Wahyu kaget.
Mendengar itu membuat Mila berhenti menangis dan melihat punggung Tian yang sedang di olesi minyak oleh Seno. Mila baru menyadari itu, jika Tian terdorong karna dia mencoba melerainya dengan Cila tadi. "Itu gara-gara gue ya." katanya di sela-sela tangisnya. "Maaf ya, Tian." Mila memegang bahu Tian tapi dia menghindar.
"Gue, gpp." Katanya dengan dingin.
"Lu juga sih, Mil. Lu kan yang bilang ke kita kalau lu sama Cila berantem kita semua gak boleh ikut campur. Tapi kalau kejadiannya kaya tadi gimana? Mau gak mau kita ikut campur! Emosi lu itu meledak-ledak, gak bisa dikontrol. Kenapa sih Mil? Sampai semua orang harus ngelerai lu gitu. Sampai Tian luka kaya gini?" kata Seno terbawa emosi.
"Sen, apaan sih luh! Lu tau kan tadi gimana posisi Mila!" Yana membela.
"Cukup Yan. Cukup lu belain Mila. Biar lain kali Mila sadar akan sikapnya. Yang gampang emosian, gak bisa berpikir jernih kalau marah! Kita tuh bukan bodyguardnya, yang harus selalu lindungin dia terus!" Emosi Seno yang makin meluap-luap.
Mila masih diam mendengar Seno yang sedang marah padanya. Dia sadar kalau memang tadi dia sudah keterlaluan sampai bikin Qila dan Tian luka karnanya.
"Ya tapikan kita juga belum denger penjelasannya dari Mila. Pasti ada alasannya kenapa dia sampai kaya gitu tadi." Amar menengahi perdebatan teman-temannya.
"Percuma kita belain lu mati-matian tadi. Tapi apa? Lu malah bela Bian buka kita, Mil! Bian yang udah jelas-jelas bentak-bentak lu! Tapi lu malah ngemis maaf dari dia?" alasan sebenarnya kekesalan Seno. "Lu liat,,," Seno menunjuk Tian. "Liat dia, Mila. Dia terluka karna siapa? Dia belain siapa, Mila? Tapi apa balesan lu? Lu malah mohon-mohon maaf ke Bian! Lu pikir gak sih Mil. Gimana perasaannya dia? Lu lebih mikirin Bian yang marah dari pada Tian yang lagi kesakitan!" Seno mengungkapkan semua amarahnya. Mila, Yana dan lainnya hanya diam mendengar Seno bena-benar serius marah kali ini. Kita semua tau kalau Seno itu tipe orang yang humoris jadi kalian taulah kalau orang humoris lagi marah.
"CUKUP! Gue tau gue salah. Gue tau gue emosian. Gue tau gue kasar. Tapi gue gak bisa diem gitu aja kalau gue di fitnah kaya gini. Sorry, Tian. Gue salah, gue gak mikirin lu tadi. " Mila berdiri tak terima dengan ucapan Seno. Pikirannya makin gak bisa di kendalikan karna Seno membawa-bawa Bian dalam urusannya kali ini. Padahal Mila gak bermaksud seperti itu tadi.
"Nah ini kan. Jelas kan sekarang? Lu masih Belain, si Bian!" Seno berhadapan dengan Mila.
"Apaan sih, Sen!" teriak Mila.
"Cukup, Seno." Tian angkat suara dan melerai mereka yang beradu argumen.
"Lu sayang sama Bian?" kata Yana.
Kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulut Yana yang membuat mereka semua terdiam. Mila membisu seribu bahasa. Air matanya menetes di pipinya. Tian seakan tak rela melihat air mata Mila mengalir untuk orang lain. Ingin sekali dia segera menghapusnya tapi tangannya pun terasa berat. Masalah seolah datang bertubi-tubi pada Mila. Dia merasa mereka tak mengerti masalah yang sedang dihadapinya. Sekarang sudah timbul lagi saja masalah lain yang membuat pertemanan mereka berantakan. Mila merasa teman-temannya tak mengertikan perasaan dan posisinya sekarang. Percuma di jelaskan pikirnya. Jadi dia memilih meninggalkan mereka saja.
"Kalau lu pergi berarti ucapan gue tadi benar?" kata Yana lagi.
Mila tak menjawab dan langsung pergi. Dia merasa tak penting menjawab pertanyaan itu. Semuanya akan tetap salah baginya. Mila juga tak mau terus bersembunyi di bawah ketiak teman-temannya. Yana dan yang lain melihat Mila pergi dengan kecewa. Mereka tak menyangka Mila akan berbuat seperti itu. Tak menyangka Mila lebih memilih Bian daripada mereka. Yang merasa paling kecewa adalah Tian. Dia berpikir ini adalah alasan Mila tak menjawabnya semalam. Alasan jika dia benar menyayangi Bian.
Yana hanya tertunduk lesu dan Seno menonjok meja mengungkapkan kekesalannya. Tian merapihkan bajunya dan berniat masuk lagi ke dalam sekolah. Melihat Tian melangkah pergi Yana berucap lirih. "Ketakutan yang gue khawatirkan selama ini terjadi juga."
__ADS_1
Mendengar hal itu menghentikan langkahnya dan berbalik menepuk bahu Yana. "Gue bakal rebut dia!"
Apakah Mila dapat membuktikan bahwa ini rencana busuk Cila?