
Keysha tengah duduk santai di ruang tamu, karena dia tidak berangkat ke kantor, jadi Keysha bisa sedikit bersantai. Keysha masih tidak terlalu nyaman untuk bergerak, dia masih merasa nyeri di daerah intinya, bahkan tubuhnya juga terasa kaku.
"Udah pulan, Kak?" sapa Keysha, pada Xavier yang baru saja pulang dan mendudukkan dirinya di sofa panjang. Tapi, tidak ada jawaban sama sekali, XAvier hanya memijit keningnya.
"Key? Apakah kamu sedang masa subur?" bukan tanpa alasan Xavier bertanya demikian, karena dia terus saja mencari jawaban soal pertanyaannya tentang bagaimana cara wanita hamil, dan salah satu jawaban yang Xavier dapat, berhubungan di waktu subur nya wanita.
Keysha nampak berpikir, "Iya." jawab Keysha seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kamu serius?" tanya Xavier, kali ini dia bertanya seraya menatap Keysha.
"Ya serius lah, aku baru saja selesai menstruasi empat hari lalu, jadi aku masih dalam masa subur," jawab Keysha menjelaskan.
'Apa yang Keysha katakan benar,' batin Xavier. Kini perasaan takut itu, benar-benar menghantui perasaannya.
"Kenapa sih Kak, kok tanya gituan segala?" tanya Keysha sok tidak tahu.
__ADS_1
"Minumlah ini." Xavier memberikan pil penunda kehamilan kepada Keysha. Mulanya Keysha tidak tahu, namun setelah dia membaca obat tersebut, akhirnya Keysha paham maksud Xavier.
"Aku tidak mau dan nggak akan pernah mau!" tegas Keysha melemparkan obat itu ke sembarang arah.
"Key, aku mohon, aku yakin belum terlambat untuk kita menundanya, kamu tahu kan aku-" ucapan Xavier terpotong, karena Keysha langsung bersuara.
"Iya aku tahu, kalau kakak akan meninggalkan aku dan menikahi Aira! Kalau memang Kakak akan meninggalkan aku, kenapa Kakak menyentuh ku! Bukankah di sini aku yang menjadi korban?" Keysha menatap Xavier dengan raut wajah kecewa.
"Key, kamu nggak tahu, kalau semalam di luar kendali ku," Xavier mencoba memberikan penjelasan.
"Oh ya?" Keysha tersenyum miris, "Setelah apa yang sudah terjadi antara kita, Kakak bilang itu semua di luar kendali Kakak?" Keysha semakin menyudutkan Xavier.
Setelah Xavier pergi, Keysha tersenyum dan menghapus air matanya. "Bakat acting ku ternyata masih luar biasa," gumam Keysha, tersenyum memuji bakatnya.
Saat Keysha baru saja kembali bersantai, dia mendengar suara dering ponsel. Namun, itu bukan milik Keysha. Sampai akhirnya, pandangan Keysha tertuju di kursi sofa yang baru saja di tempati oleh Xavier.
__ADS_1
"Aira?" benar saja, itu ponsel milik Xavier, dan yang menghubungi Xavier adalah Aira. Senyum licik tercetak di bibir Keysha.
["Hai Aira,"] Keysha menyapa Aira dengan ramah.
["Kok lo sih, yang angkat telepon gue?] terdengar nada bicara Aira yang tidak bersahabat.
["Kenapa? wajar dong, gue kan istri nya kak Xavier,"] Keysha menekan kata istri, bermaksud meyindir Aira.
["Nggak usah ngada-ngada, lo itu cumab istri yang nggak diharapkan sama sekali sama Xavier"] ucap Aira terdengar kesal.
["Oh iya? Lo yakin gue bukan istri yang di harapkan? Kalau memang iya, kok gue sama kak Xavier bisa dalam satu selimut ya? saling menghatkan satu sama lain, dan lo harus tahu, nada indah yang keluar dari bibir kak Xavier, terdengar sangat sexy,"] Keysha semakin memanasi Aira.
["Ma-maksud lo apa?"] tanya Aira, dia nampak syok dengan apa yang didengarnya barusan.
["Lo jelas tahu lah apa yang dimaksud sama gue, sepasang suami istri, apalagi coba?"] Keysha benar-benar gencar membuat serangan yang menyakiti hati Aira.
__ADS_1
["Nggak mungkin, lo pasti bohong!"] Aira menolak, untuk menerima semua kenyataan yang menyakitkan itu.
["Kalau nggak percaya silahkan tanyakan pada yang bersangkutan,"] hanya itu jawaban yang Keysha berikan, dia pun langsung mengakhiri panggilan telepon, karena takut nanti Xavier melihatnya.