Aku, Mendapatkan Mu

Aku, Mendapatkan Mu
Khawatir


__ADS_3

"Aira," lirih Keysha, dia menyebut nama itu seraya tersenyum sinis, "aku akan buktikan kepada Xavier, betapa rendahannya dirimu," ucap Keysha.


Keysha segera membereskan barang-barangnya, rasanya tidak tenang terus berada di kantor, setelah dia mendapatkan laporan dari ibu mertuanya. Keysha ingin melihat bagaimana keadaan Xavier sekarang. Keysha juga takut kalau Xavier benar-benar akan mengambil tindakan bodoh, dengan meningalkannya dan meninggalkan semua kesuksesan yang sudah dia raih, demi bersama dengan Aira.


"Mau ke mana, Nona?" Daniel, yang baru saja masuk ke ruangan Keysha karena ingin menyampaikan beberapa berkas, heran dengan Keysha yang sudah bersiap akan pulang. Padahal jam pulang kantor masih dua jam lagi.


"Ada masalah dengan Xavier, aku nggak tenang kalau terus di kantor, aku akan bawa semua berkas ke rumah, supaya bisa aku kerjakan," jelas Keysha.


"Baiklah, mari saya antar, Nona." Daniel hendak meraih tas Keysha, tapi di tolak oleh Keysha dengan begitu halus.


"Aku bisa pulang sendiri, aku minta tolong, supaya kamu urus dulu perusahaan," terang Keysha, dia sudah terlalu sering bekerja dari rumah, kalau Daniel mengikutinya bisa-bisa jadwal yang sudah dibuat akan berantakan. Karena seingat hari ini sepulang kantor dia harus bertemu dengan client, dan tentunya Daniel yang harus menggantikan.


"Baiklah, mari saya antar sapa lobby." Daniel membawakan tas milik Keysha, dia sudah meminta supir kantor untuk bersiap mengantar Keysha.


"Hati-hati di jalan, Nona," pesan Daniel.

__ADS_1


"Terimakasih ya," Keysha mengambil alih tasnya, setelah dia masuk ke dalam mobil.


-//-


Saat ini, Aira sudah tiba di kediamannya, dia langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah, menumpahkan semua emosinya. Lita, yang tengah bersantai seraya membaca buku majalah, menatap heran ke arah putrinya.


"Kamu kenapa sih, pulang-pulang marah-marah," dengus Lita.


"Aku tuh kesel, Mah," Aira memukul kursi sofa, membuat Lita semakin tajam menatap sang putri.


"Kamu bukannya, habis makan siang sama, Xavier? Terus kenapa pulang-pulang malah begini, diganggu lagi sama Keysha?" tebak Lita, sebab beberapa waktu lalu, Aira bercerita soal Keysha yang sengaja menganggu waktu Aira bersama Xavier.


"Hah? Kenapa sih, coba cerita," Lita nampak penasaran, hal apa yang bisa membuat AIra begitu kesalnya.


"Aku ketahuan sama orang tuanya, Xavier. Dan lebih parahnya, mereka terlihat melemparkan tatapan tajam ke aku, bahkan mereka secara nggak sungkan, bersikap ketus ke aku," terang Aira dengan menggebu.

__ADS_1


"Itu berarti, orang tua Xavier, nggak menyukai kamu lagi?" tanya Lita yang terlihat ikut cemas.


"Iya, mereka beralasan karena Xavier sudah menikah, dan mereka juga menyinggung aku adalah wanita yang nggak tahu diri. Karena masih mau jalan sama pria bersuami," adu Aira.


Lita melemparkan buku majalahnya dengan cukup kerasĀ  ke atas meja. "Mereka keterlaluan, mereka sadar nggak sih, kenapa hubungan kamu dan Xavier jadi begini. Itu karena mereka, andai mereka nggak egois dan nggak cuman memikirkan nama baik mereka, mungkin sekarang hubungan kamu nggak begini sama Xavier," Lita ikut tersulut emosi, dia tidak terima mendengar anaknya dihina.


"Terus, gimana sama Xavier? Dia belain kamu, kan?" tanya Lita penuh harap.


Aira menggelengkan kepalanya lemah. "Enggak, Mah."


"Bodoh kamu!" bentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.


"Kamu sadar nggak sih, itu bisa membahayakan posisi kamu, itu berarti, Xavier sudah tidak lagi mementingkan kamu, dan bisa saja, Xavier menuruti perkataan kedua orang tuanya untuk meninggalkan kamu," ucap Lita, semua perkataan Lita nyatanya membuat Aira nampak ketakutan.


"Mah, aku nggak mau kehilangan Xavier," rengek Aira.

__ADS_1


"Makanya, buat Xavier semakin jatuh cinta sama kamu, meskipun itu harus menggunakan cara kotor, jadi dia juga nggak akan sadar dengan semua rahasia yang sudah kita simpan rapat-rapat," Lita tersenyum licik, dan Aira paham dengan apa maksud ibunya.


"Iya Mah, Aira paham," Aira menganggukkan kepalanya.


__ADS_2