
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
__ADS_1
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
__ADS_1
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.
Bruukkk! Awwwww!
Lita mendorong tubuh Aira, sampai Aira tepekik kesakitan, karena perutnya mendabrak sofa. Saat ini, bukan rasa sakit yang Aira perduilkan, tapia tatapan mata amarah Lita yang terus tertuju kepada Aira.
"Berani-beraninya kamu berbohong!" bentak Lita membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Mah, Aira takut kalau Mamah marah," lirih Aira, dia tida berani menatap wajah Lita, karena saat ini Lita tengah tersulut emosi.
"Tapi setidaknya hal ini tidak akan terjadi, Aira!" sentak Lita, membuat Aira semakin menundukkan wajahnya.
"Maafkan Aira, Mah," isak Aira, hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Sekarang, kamu akhiri saja hubungan kamu dengan Xavier," kata Lita, membuat Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia yakin dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Xavier.
"Enggak, Mah. Aku nggak mau," tolak Aira.
"Jangan bodoh Aira, kamu pikir Devan masih mau kembali ke kamu, setelah apa yang terjadi? Apa kamu pikir dengan kata-kata maaf, semua bisa merubah segalanya?" ujar Lita.
"Aku yakin, Mah. Aku bisa mempertahankan hubungan ini, aku yakin Xavier mau memaafkan aku," ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"Mungkin kamu lupa, dengan obat perangsang yang kamu berikan untuk Xavier, bukankah kamu dengar sendiri, Xavier melakukan hubungan itu dengan Keysha?" ucap Lita, membuat Aira seketika tersadar.
'Bodoh, bagaimana bisa aku lupa. Obat itu, Mamah pernah bilang kalau obat itu akan membuat Xavier seolah terikat dengan tubuh yang disentuhnya pada saat efek obat itu bekerja. Dan Xavier, melakukan hubungan itu dengan Keysha?' batin Aira, dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa itu bearti?" Aira tidak bisa melanjutkan ucapannya, itu sangat berat bagi Aira.
"Berarti tidak akan ada tempat lagi buat kamu!" sentak Lita.
"Kamu sudah tidak punya harapan lagi Aira, kamu tidak bisa bersama dengan Xavier. Ibu sarankan kamu untuk menikah dengan pak Harun, dia jelas akan menjadikan kamu seorang ratu, dari pada kamu menunggu yang tidak tepat," saran Lita.
"Enggak, lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki tua bangka itu!" tolak Aira mentah-mentah, dia tidak mau menikah dengan Harun, karena yang Aira cintai adalah Xavier.
"Bodoh, terserah apa yang akan kamu lakukan," Lita sudah lelah menghadapi sikap Aira, dia pun memilih untuk melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Aira yang masih terisak di tempatnya semula.
-//-
Sedangkan kini, Daniel tengah menikmati satu hari terakhirnya Amerika, ya perjalanan dinas yang seharusnya dilakukan oleh Keysha, akhirnya digantikan oleh Daniel. Sebenarnya, ada seseorang juga yang tengah Daniel tunggu, yaitu kawan lamanya.
"Hai Daniel," seorang lelaki dengan rambut dikuncir satu, mendatangi Daniel.
"Hai Ben." dengan ramah, Daniel menyambut kawan lamanya, banyak perubahan yang Daniel lihat pada diri Ben. Badannya yang sixpack serta rambutnya yang panjang sebahu, dan selalu di kuncir itu, membuat para kaum hawa seolah semakin mengidolakannya.
"Jadi, lo lagi ada kerjaan di sini?" tanya Ben, seraya menyesap kopi pesanannya.
"Iya, dan besok gue mau balik, soalnya tugas udah selesai. Ya, sebenarnya dari pihak atasan memberikan gue waktu beberapa hari supaya gue bisa liburan di sini, tapi rasanya nggak enak ninggalin kerjaan lama-lama," terang Felix seraya terkekeh.
"Lo masih nggak berubah, masih sama seperti Felix yang dulu, ulet dan tekun. Gue yakin, atasan loe pasti bangga punya karyawan kaya lo," kata Daniel.
"Ya, rasanya cukup berat mengemban tugas yang di mana kita sudah menajadi keprcayaan," Daniel memang menjadi kepercayaan Farhan, dan Keysha, jadi sebisa mungkin Daniel bekerja dengan sungguh-sungguh. Daniel juga bertugas untuk menjaga Keysha, karena Farhan tahu, Xavier tidak mencintai Keysha.
__ADS_1
"Oh iya, lo kenal model yang di Indonesia, namanya Aira?" tanya Ben tiba-tiba, membuat Daniel mengernyit heran.
"Kenal, kok lo tahu dia?" tanya Daniel heran.