
"Benarkah? tapi saya tidak melihat adanya perubahan pada jalan, Ibu Keysha," ucapan Edgar kali ini, memang bisa di pahami oleh Keysha, namun dia juga merasa, bahwa kali ini Edgar sudah melebihi batas.
"Saya datang ke sini, bukan untuk membahas masalah pribadi saya Pak Edgar, apalagi masalah malam pertama yang mungkin anda ragukan. Apa perlu, saya memberikan bukti bahwa saya dan suami saya melakukan hubungan? Apa sebegitu pentingnya untuk anda?" Keysha mulai tersulut, dan Daniel sudah siap siaga.
Edgar justru tersenyum, seolah memperlihatkan bahwa perkataan yang dia ucapkan, begitu enteng baginya.
"Saya hanya ingin memastikan, bahwa Ibu Keysha merasa bahagia setelah menikah, jika memang tidak, maka saya siap untuk membahagiakan Ibu Keysha," ucap Edgar dengan penuh percaya diri.
"Kebahagiaan saya, itu saya yang merasakan. Mau bahagia atau tidak, itu urusan saya," jawab Keysha dengan tegas.
"Pak Edgar, Ibu Keysha, sepertinya kita langsung bahas ke pokok pembahasan kita saja, karena setelah ini Ibu Keysha diundang makan siang oleh Pak Xavier," ucap Daniel. Apa yang dikatakan Daniel, tentu saja hanya kepura-puraan semata, padahal tidak ada undangan makan siang. Hanya saja, melihat bagaiman Edgar yang terus menyinggung pernikahan Keysha, membuat Daniel tidak tega. Daniel tahu, selama ini Xavier dan Keysha tidak pernah menjalin hubungan. Jadi, setidaknya Danie sudah bisa membayangkan, bagaimana kondisi rumah tangga Keysha.
Mendengar perkataan Daniel, membuat Edgar langsung terdiam, nampaknya dia malu karena sudah mengatakan hal-hal yang tentang rumah tangga Keysha, dan menuduh bahwa Keysha tidak bahagia dengan pernikahannya.
Akhirnya, Daniel pun langsung membahas proyek kerja sama dengan perusahaan Edgar. Sebenarnya, Keysha merasa sungkan dengan Edgar, namun dia mengingat pesan Farhan, bahwa Edgar dan Farhan sudah menjalin hubungan baik. Pembahasan kerja sama berlangsung cukup baik, kedua belah pihak sama-sama puas, dan berharap semoga kedepannya juga akan menghasilkan hal yang baik.
"Baik kalau begitu Pak Edgar, saya harus pamit sekarang, karena suami saya sudah menunggu," Keysha sengaja, menekan kata suami, supaya Edgar tahu dan ingat, bahwa sekarang Keysha sudah memiliki suami, dan supaya mematahkan argumen Edgar, yang seolah memandang bahwa Keysha tidak akan bahagia, jika tidak menikah dengan Edgar.
__ADS_1
"Baiklah Ibu Keysha, selamat menikmati makan siang, dengan suami tercinta," ucap Edgar, dengan senyum yang dipaksakan. Keysha hanya tersenyum simpul, dan berlalu pergi.
Kini, hanya ada Keysha dan Daniel di mobil. Keysha masih diam, nampaknya tengah memikirkan sesuatu. Sekarang, Daniel yang bingung, dia tidak enak jika mengatakan bahwa semua ucapannya bohong semata. Namun, bagaimana jika Keysha benar-benar berharap, bahwa siang ini dia di ajak makan sing dengan Xavier?
"Kita langsung balik ke kantor, Daniel." titah Keysha.
"Ke kantor Ibu?" tanya Daniel hati-hati.
"Ya iya, kantor siapa lagi?" tanya Keysha, menatap Daniel lucu.
"Ma-maaf Bu," ucap Daniel, merasa tidak enak.
"Saya nggak banyak berharap dengan Kak Xavier, saya tahu, dia nggak akan pernah mengajak saya untuk makan siang bersama, karena dia nggak perlu melakukan itu, sebab dia dan saya sudah sama-sama sepakat, untuk menjalankan kehidupan kami masing-masing, tanpa ikut campur urusan kami, satu sama lain. Tapi saya tetap mengucapkan terimakasih, karen berkat kamu, setidaknya saya masih bisa memiliki harga diri di depan Edgar, dan dia tidak terus menginjak harga diri saya, " ucap Keysha tersenyum tulus.
"Sama-sama Bu, saya sudah berjanji akan menjaga Ibu dalam kondisi apapun, dan harapan saya, semoga kedepannya pak Xavier bisa melihat Ibu sebagai istrinya, dan semoga saja, perasaan Pak Xavier bisa sedikit demi sedikit berubah kepada Ibu," harap Daniel, dan diangguki oleh Keysha. Selama perjalanan pulang ke kantor, Keysha terus memikirkan, sedang apa Xavier sekarang.
Mengingat bagaimana Edgar yang seolah tengah mencari celah dalam rumah tangga Keysha, membuat Keysha kembali berpikir, tidak mungkin dirinya terus menerus bisa menyembunyikan ini semua, dan Keysha juga berpikir, bagaimana nantinya kalau Aira sudah siuman, pasti Xavier akan sering bertemu dengan Aira, dan mungkin hal ini nantinya akan menjadi Boomerang bagi Keysha.
__ADS_1
'Mungkin, pada saat itu, semua orang akan menatap ku dengan iba, dan pada saat itu, aku akan semakin dipermalukan oleh orang- orang seperti Edgar,' batin Keysha.
.
.
Sedangkan kini, di kantor Xavier, dia tengah menatap foto Aira. Saat Keysha tengah memikirkan pernikahannya dengan Xavier, justru hal berbeda dilakukan oleh Xavier. Nampaknya, tidak ada hal lain selain Aira dalam pikiran Xavier, bahkan sedikit pun tidak ada terbesit dalam pikiran Xavier, memikirkan pernikahannya atau pun Keysha.
"Aira? Sedang apa kamu sekarang? Maaf ya, mulai hari ini, aku akan jarang mengunjungi kamu, karena aku harus berhati-hati dalam bertindak. Bagaimana pun, yang orang-orang tahu, aku adalah suami Keysha, jadi aku harus menjaga nama baik keluarga," gumam Xavier seraya menatap lekat wajah Aira dalam foto.
Xavier, nampaknya sangat merindukan sang kekasih hati, namun apa daya. Saat ini Aira masih terlelap dalam tidurnya.
"Kamu jangan lama-lama ya tidurnya, apa nggak bosen? Aku mohon cepatlah bangun supaya kita bisa bersama lagi," harap Xavier. Dia mencium foto Aira, dan memeluknya. Menyalurkan kerinduan yang sampai saat ini belum terobati, Xavier sangat merindukan momentum bersama Aira, momen di mana mereka biasa menghabiskan waktu berdua, dan momen di mana mereka juga terkadang harus sembunyi-sembunyi saat berkencan. Karena Aira adalah model ternama, jadi dia belum bisa mempublikasikan hubungannya dengan Xavier, padahal niat Aira dan Xavier, mereka akan mengumumkan hubungan mereka dan pernikahan mereka saat h-7 pernikahan. Namun, takdir memang belum berpihak pada mereka.
Xavier tersenyum, karena terkadang ada fans dai Aira yang mengenali Aira, dan tentu membuat kencannya dengan Aira harus gagal atau pun pindah tempat. Xavier juga sering, membooking satu restauran, ketika mereka ingin dinner berdua, supaya tidak ada paparazi ataupun tiba-tiba ada fans yang datang.
Xavier akui, menjalin hubungan dengan Aira, memang agak sulit. Karena mereka harus sering-sering bersembunyi. Untuk sekedar menonton, Aira juga harus melakukan penyamaran, supaya tidak ada yang mengenalinya. Tapi, Xavier sangat bahagia bersama sang kekasih, walau waktu bertemu dengan dirinya memang sangat jarang, karena Aira sering pergi bekerja di luar negeri.
__ADS_1
"Cepatlah sembuh, aku sudah menunggu kamu sayang," lirih Xavier. Ada ketakutan tersendiri bagi Xavier, karena Xavier tahu, jika Aira terlalu lama mengalami masa koma, maka ada kemungkinan, pihak rumah sakit akan meminta persetujuan untuk melepas alat bantu pernapasan.
"Semoga hal itu tidak akan terjadi," harap Xavier, seraya memejamkan matanya, menikmati setiap rindu yang semakin menyiksa hatinya.