
Sinar matahari samar-samar masuk ke dalam salah satu kamar hotel, membuat sang empu yang masing bergelung di dalam selimut, perlahan membuka matanya. Matanya mengerjap, menatap sekeliling. Asing, itu yang dirasakan.
"Aku di mana?" Aira, merasa asing dengan tempat ini, dia yakin ini bukan kamarnya, dia mengingat kejadian semalam, yang harusnya dia saat ini bersama dengan Xavier.
"Xavier?" Aira ingat, jika sesuai rencananya, dia seharusnya tidak mabuk. Di tengah kebingungan Aira, dia melirik di atas nakas, terdapat secarik kertas.
Hai Nona Aira.
Selamat pagi, jangan kaget jika di samping anda tidak ada Tuan Xavier. Karena itu tidak akan terjadi, rencana anda sudah terbaca. Jangan takut, tidak terjadi apapun pada diri anda, saya yakin tidur anda sangat nyenyak bukan?
Aira meremas surat tersebut, dia mengepalkan tangannya kuat. Tidak tertera nama siapa yang menulisnya, Aira yakin orang itu adalah orang yang juga membawanya ke sini. Aira membersihkan dirinya, sebelum memutuskan check out.
"Selamat pagi, Bu," resepsionist menyapa Aira, Aira pun mengatakan niatnya untuk check out.
"Kebetulan, semua biaya sudah lunas, Bu." jawaban resepsionist membuat Aira mengernyit heran.
"Siapa yang melunasinya?" tanya Aira, dia yakin dengan begini dia akan mendapatkan informasi, siapa dalang yang sudah menghancurkan rencananya.
"Atas nama Ibu Aira, ini juga KTP anda, Bu," pegawai resepsionist memberikan KTP milik Aira sendiri.
'Sial, sepertinya dia sudah sangat memperhitungkan semuanya,' batin Aira kesal, dia segera keluar dari hotel, dia yakin jika ibunya tahu rencana yang sudah mereka susun dengan rapih gagal, pasti ibunya akan sangat kesal.
Aira tidak bisa menghubungi Xavier karena ponselnya kehabisan baterai, dia hanya bisa mengumpat kesal karena rencananya sudah gagal. Aira sekarang tengah berpikir, siapa gerangan yang sudah andil besar dalam hal ini.
'Jangan-jangan, dia Leo,' batin Aira, dia yakin bukan Keysha yang andil. Karena semalam Xavier bercerita bahwa Keysha akan segera berangkat ke luar negeri.
"Siapapun dia, aku harus menemukannya, bisa saja dia juga akan menghancurkan rencanaku yang lain,' gumam Aira. Tanpa menunggu lama, Aira akhirnya sampai di kediamannya , jantungnya langsung berdegup kencang melihat ibunya yang tengah menyiram tanaman.
__ADS_1
"Wah, sudah pulang, anak Mamah?" sambut Lita.
"I-iya, Mah," jawab Aira dengan gugup.
"Ayo masuk." Lita menggandeng tangan putrinya masuk ke dalam rumah.
"Jadi, bagaimana semalam?" tanya Lita dengan raut wajah penuh binar, "kamu sudah pastikan semua berjalan lancar?" tanya Lita lagi.
"Iya, Mah. Semua berjalan dengan lancar," jawab Aira bohong.
"Bagus, Mamah sudah susah payah siapkan semuanya demi kamu, Mamah nggak mau kalau sampai semuanya berantakan. Dengar Aira, kamu harus bisa menjadi istri Xavier," tekan Lita kepada putrinya.
"Mah, kalau seandainya aku gagal gimana? Apa yang akan terjadi?" Aira tidak tahu menahu, kenapa Lita terus mewanti-wantinya untuk berhati-hati dengan obat yang semalam dia berikan dalam minuman Xavier.
"Ini obat spesial Aira, Mamah beli ini khusus, kamu tahu, obat perangsang ini seperti obat pengikat. Jika kamu memberikan obat ini kepada Xavier, dan dia berekasi, lalu berhubungan dengan kamu, maka selamanya Xavier hanya akan bisa bereaksi pada kamu, dia tidak akan pernah berpaling," (ini author ngarang ya, nggak tahu juga ada atau enggak obat beginian.)
"Aira, kamu kenapa? Kelihatannya cemas gitu?" Lita nampak curiga dengan gelagat Aira.
"Nggak apa-apa kok, Mah. Aira cuman nggak bisa bayangin aja, gimana kalau sampai gagal," Aira memberikan alasan yang nampak masuk akal, berharap ibunya akan percaya dengan perkataan Aira.
"Udahlah nggak usah berpikir terlalu jauh, Aira. Yang penting sekarang semua berjalan lancar," Lita sudah sangat percaya diri, bahwa dia akan berbesan dengan orang kaya, tanpa dia tahu, saat ini Aira tengah cemas dengan semuanya.
"Ya sudah, Mah aku ke kamar dulu," Aira memlih untuk menghindari ibunya, dia tidak mau kalau sampai ibunya curiga, bahwa Aira sudah gagal dengan misinya.
'Aku harus pastikan, kalau Xavier nggak melakukan dengan wanita lain,' batin Aira.
-//-
__ADS_1
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Xavier langsung turun ke lantai bawah, dia sudah mengenakan pakaian yang santai. Xavier mengedarkan pandangannya, saat tiba di meja makan, dia tidak menemukan Keysha.
"Di mana, Keysha?" gumam Xavier.
"Tuan, mau sarapan?" salah satu asisten rumah tangga Xavier, menawarkan sarapan kepadanya, meskipun lebih tepatnya, ini termasuk terlambat.
"Boleh," jawab Xavier, dia pun mendudukkan dirinya di salah satu kursi. "Keysha belum turun?" tanya Xavier.
"Loh, apa Tuan lupa? Nona Keysha, kan hari ini ke luar negeri," jawab sang asisten rumah tangga. Xavier terdiam, dia merutuki dirinya sendiri karena lupa dengan hari ini. Padahal semalam dia melihat sendiri, Keysha mengemas barang-barangnya.
"Dia berangkat jam berapa?" tanya Xavier.
"Dua jam lalu, Tuan," jawabnya. Xavier pun menganggukkan kepalanya paham. Selesai sarapan, Xavier merasa bosan, dia nampaknya sama sekali tidak ingat dengan Aira, buktinya Xavier justru lebih khawatir dengan dengan Keysha. Xavier mencoba mengusir rasa bosannya dengan menonton televisi, berharap bisa sedikit membuang pikirannya soal Keysha. Tapi, tiba-tiba saja, tatapan mata Xavier nampak menajam, wajahnya berubah menjadi tegang.
"Keysha?" gumam Xavier. Dia mencoba menghubungi Daniel, asisten pribadi Keysha, dia ingat pernah menyimpan nomor Daniel.
["Daniel, apa benar berita yang aku dengar?"] tanya Xavier secara langsung, dia nampak cemas.
["Be-benar Pak Xavier, itu pesawat yang ditumpangi oleh Nona, Keysha."] jawab Daniel dengan bibir nampak bergetar. Xavier lunglai, dirinya begitu lemas, berita yang sangat dia takutkan terdengar. Berita seputar pesawat yang hilang kontak, dan dinyatakan jatuh ke lautan, dan dinyatakan semua penumpang meninggal dunia.
"Keysha !!!" raung Xavier, sudut matanya mulai berair, dan dia mulai terisak. Menyesali perbuatannya selama ini, yang tidak pernah menganggap Keysha ada. Dering ponsel Xavier mulai terdengar, itu adalah panggilan dari kedua orang tuanya, Xavier yakin mereka ingin menanyakan soal kabar itu. Tapi, Xavier seolah tidak memiliki daya untuk berbicara, dia hanya bisa terisak sejadi-jadinya.
Dering telepon rumah terdengar, salah satu asisten rumah tangga mengangkatnya, ternyata itu adalah telepon dari Adelle, dia tidak bisa menghubungi Xavier, jadi memutuskan menelpone rumah.
["Di mana Xavier? apa dia sedang bersama wanita lain?"] tuduh Adelle, dia pikir Xavier sedang bersama dengan Aira, sampai tidak bisa menerima telepon darinya.
["Maaf Nyonya, Tuan Xavier sedang bersedih, bahkan sepertinya tidak memiliki tenaga,"] asisten rumah tangga Xavier menjelaskan keadaan Xavier sekarang, supaya tidak terjadi kesalah pahaman.
__ADS_1