
Saat Keysha tengah berbincang dengan kedua sahabatnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Saat Keysha melihatnya, ternyata itu adalah panggilan telepon dari ibu mertuanya.
"Bunda Adelle telepon," ucap Keysha menatap kedua sahabatnya.
"Ya udah Lo angkat dulu aja," ujar Sandrina.
"Tapi ....gimana kalau Bunda Adelle tanya soal kak Xavier?" Keysha tidak mau kalau sampai keluarga nya dan keluarga Xavier tahu, bahwa pernikahan mereka tidak berjalan baik.
"Lo bilang aja, lo lagi nggak di rumah, karena ada janji temu sama client," Soffia memberikan alasan yang cukup masuk akal. Akhirnya Keysha pun menerima panggilan telepon tersebut.
["Halo Bunda?"] Keysha mulai menyapa Adelle.
["Sayang, kamu baik-baik saja kan, Nak?"] tanya Adelle dengan penuh perhatian.
["Keysha baik kok Bunda,"] jawab Keysha dengan hati-hati.
["Bunda khawatir sama keadaan kamu, Xavier memperlakukan kamu dengan baik kan?"] Adelle tahu, pernikahan ini terpaksa bagi Xavier, jadi satu hal yang ditakutkan oleh Adelle, dia takut sang putra tidak memperlakukan Keysha dengan baik. Namun setelah mendengar jawaban dari Keysha bahwa Xavier memperlakukan Keysha dengan sangat baik, hati Adelle menjadi lebih baik.
["Oh iyaa sekarang Xavier di mana, Keysha?"] akhirnya, Adelle menanyakan apa yang Keysha takutkan.
["Kak Xavier ada di rumah Bun, ini Keysha lagi ada di luar soalnya lagi ketemu sama client, nggak enak udah bikin janji sejak 2 Minggu lalu,"] jawab Keysha bohong. Namun, Keysha beruntung karena Adelle percaya dan memaklumi Keysha yang seorang pebisnis.
["Ya sudah, Bunda tutup dulu teleponnya ya? Salam untuk Xavier, dan jaga diri kalian baik-baik,"] Adelle selalu saja tidak lupa mengingat kan Keysha untuk selalu menjaga kesehatannya. Keysha pun hanya bisa mengiyakan ucapan sang ibu mertua.
"Nyokap Xavier udah cocok banget kayaknya sama Lo," Soffia melihat, bahwa Adelle nampaknya lebih nyaman saat berbicara dengan Keysha.
"Ya mungkin karena gue dari dulu udah deket sama keluarga mereka," jawab Keysha.
"Ini bisa jadi senjata dan tameng Lo Key," ujar Sandrina memberikan ide.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Keysha masih tidak paham.
"Lo harus terus deketin mertua lo dan pastikan mereka akan semakin sayang sama Lo, gue yakin mereka nggak akan rela kalau sampai Lo beneran pisah sama Xavier, dan dengan begitu, itu bisa jadi tameng buat Lo untuk mempertahankan rumah tangga lo. Soal Aira, dia harus sadar diri, dia bakalan sulit untuk mendapatkan restu dari kedua orangtua Xavier," jelas Sandrina panjang lebar.
Keysha nampak menimang semua masukan dari sahabatnya. Apa yang mereka katakan, memang dibenarkan oleh Keysha. Keysha mungkin tidak bisa mendapatkan cinta Xavier, namun Keysha sudah memenangkan hati kedua orangtua Xavier, dengan begini langkah Keysha sudah semaki maju di depan. Dengan bantuan kedua mertuanya, pasti Xavier akan lebih menurut.
.
.
Makan malam sudah tiba, Keysha masih menunggu dengan harap cemas, karena Xavier belum juga pulang. Menurut Keysha, Xavier juga sudah keterlaluan, meskipun pernikahan ini bukanlah yang diinginkan oleh Xavier, namun Keysha berharap kalau Xavier juga bisa memahami dirinya dan menghargai keberadaannya.
"Nyonya mau ke mana?" tanya pelayan rumah, sebab Keysha belum menyentuh makanan apapun.
"Saya mau tidur, saya nggak nafsu makan," jawab Keysha, dia pun berlalu menuju lantai dua. Pelayan tidak berani menghentikan langkah Keysha, karena biar bagaimana pun Keysha adalah nyonya di rumah ini.
"Aku pikir, setelah aku menikah dengan kamu, aku akan merasakan kasih sayang dan perhatian kamu kak, nyatanya sampai saat ini aku masih belum dianggap oleh kamu," gumam Keysha, air mata itu akhirnya jatuh membasahi pipinya. Apakah Keysha menyesal menikah dengan Xavier? Tentu saja tidak, dia justru semakin bertekad untuk bisa membuat Xavier jatuh cinta padanya. Keysha lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mencoba memejamkan matanya dan mengistirahatkan pikirannya yang saat ini tengah tertuju pada Xavier.
Pukul 22.00 malam, Xavier akhirnya pulang, dia langsung mendudukkan dirinya di atas sofa. Xavier memijit pelipisnya, merasa lelah dan juga khawatir dengan kondisi sang kekasih. Sampai detik ini, Aira belum juga menunjukkan kemajuan, dia masih saja terlelap mengarungi mimpinya dan entah kapan akan terbangun.
"Malam Tuan, apa Tuan akan makan malam?" pelayan rumah menghampiri Xavier yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Tidak, saya sudah makan malam," tolak Xavier. Namun, dia akhirnya teringat dengan Keysha.
"Keysha sudah makan malam?" tanya Xavier.
"Be-belum Tuan," jawab pelayan dengan takut-takut.
"Belum? Kok belum?" tanya Xavier heran.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Nyonya tadinya sudah turun ke meja makan, tapi akhirnya kembali masuk ke dalam kamar. Katanya tidak nafsu makan," jawab pelayan menjelaskan yang sebenernya. Xavier nampak menghela napasnya dalam, dia merasa bersalah karena seharian ini dia tidak di rumah. Xavier menyesal, karena seharusnya dia juga menghargai Keysha, karena biar bagaimanapun Keysha sekarang adalah istrinya, meskipun sampai detik ini Xavier hanya menganggap Keysha sebagai seorang adik, tidak lebih. Karena perasaan Xavier kepada Aira masih belum berubah.
Xavier bangkit dari duduknya, dia melangkah menuju lantai dua, dan berhenti tepat di depan pintu kamar Keysha. Nampak Xavier yang ragu-ragu untuk mengetuk pintu kamar Keysha.
Tok ... Tok ... Akhirnya, Xavier mengetuk pintu kamar Keysha, dia khawatir dengan kondisi Keysha, apalagi tadi pelayan rumah juga mengatakan bahwa Keysha pergi saat siang dan tidak memakan apapun di rumah.
"Keysha??" Xavier, mulai memanggil nama Keysha, namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Keysha?" sekali lagi Xavier mengetuk pintu kamar Keysha dan masih sama. Akhirnya Xavier mencoba masuk ke dalam kamar Keysha, dia menatap ranjang yang di mana ada Keysha di sana, tengah tertidur lelap.
Xavier melangkah dengan ragu, dia ragu untuk membangunkan Keysha, karena nampaknya Keysha sudah sangat lelap dalam tidurnya.
'Keysha sepertinya sangat lelap, aku jadi ragu untuk membangunkan dia,' batin Xavier.
"Tapi Keysha punya riwayat sakit magh, dan kalau dia tidak makan, bisa-bisa sakit magh nya kambuh," gumam Xavier, dia tengah berperang dengan pemikirannya sendiri.
"Keysha ???" Xavier menepuk pelan pipi Keysha, berharap Keysha akan terbangun. Biar bagaimanapun, Xavier merasa Keysha adalah tanggung jawabnya sekarang.
"Keysha??" sekali lagi Xavier mencoba membangun kan Keysha, dan terlihat mata Keysha yang mulai mengerjap.
Keysha membuka matanya, menatap sekeliling. Satu yang membuat Keysha terkejut dan sempat berpikir dia tengah bermimpi, itu karena Keysha melihat ada Xavier di hadapannya.
'Ini gue ngigau?' batin Keysha.
"Keysha? Kamu belum makan kan?" pertanyaan yang pertama kali terlontar dari bibir Xavier. Dan akhirnya Keysha sadar, bahwa ini bukanlah mimpi.
"Kak Xavier?" lirih Keysha.
"Iya ini aku, maaf aku membangunkan kamu, aku dengar dari pelayan, kamu belum makan," ujar Xavier nampak tidak enak.
__ADS_1