Aku, Mendapatkan Mu

Aku, Mendapatkan Mu
Mengikuti


__ADS_3

Keysha akhrinya tiba di kediamannya, dia memasuki rumah dan sempat bertanya pada salah seorang asisten rumah tangganya. Keysha menanyakan soal Xavier, apakah dia berada di rumah atau tidak, tapi jawabannya iya, Xavier ada di rumah.


Tuk, suara gelas yang ditaruh di atas meja, tepat berada di hadapan Xavier. Wangi green tea langsung menguar masuk ke dalam hidung, membuat Xavier sempat melirik gelas tersebut. Tapi, setelah tahu siapa yang membawakannya, Xavier nampak enggan, walau hanya menyentuh cangkir miliknya.


"Aku lagi mau sendiri," ucap Xavier, dan secara tidak langsung, dia mengusir Keysha. Tapi Keysha tidak bergeming, dia masih berada di gazebo, duduk bersama dengan suaminya.


"Kamu tuli?" tanya Xavier seraya memicing.


"Enggak," jawab Keysha santai.


"Terus kenapa masih di sini?" tanya Xavier dengan nada ketus.


Keysha menghela napasnya. "Aku cuman habisin teh," Keysha mengangkat cangkirnya yang tinggal sedikit. "Aku juga mau pamitan, besok harus ke luar negeri, ada pekerjaan di sana," ucap Keysha.


"Baguslah, itu berarti aku nggak akan ketemu kamu," Xavier menyunggingkan senyumnya.


"Ya, semoga sesuai dengan doa kamu," Keysha malas berdebat, dia menyesap kembali tehnya dan setelah itu pergi dari gazebo. Xavier pun mengambil cangkirnya dan menyesap dengan perlahan.


'Rasanya masih sama,' batin Xavier, itu adalah teh yang biasa Keysha buat untuknya, saat dia tengah marah. Green tea kesukaan Keysha, dan menjadi favorit Xavier juga. Keysha tersenyum,melihat Xavier yang masih mau mencicipi teh buatannya.


Malam ini, Keysha dibantu oleh salah satu asisten rumah tangga mengemas barang-barangnya, Keysha akan berada di luar negeri selama 2 minggu, bahkan bisa lebih. Dia ada pekerjaan yang memang harus di handle olehnya secara langsung.


"Banyak sekali, Non?"


Keysha tersenyum hangat. "Iya, soalnya banyak pekerjaan di sana, mungkin bisa dua mingga atau lebih," jawab Keysha. Saat Keysha tengah berkemas, tanpa disadari oleh Keysha, Xavier melihatnya. Entah kenapa, semenjak Keysha berkata akan pergi besok, membuat perasaan Xavier menjadi tidak tenang. Xavier ingin Keysha tidak pergi, Xavier ingin menahannya, tapi gengsinya terlalu besar. Xavier yakin, jika dia meminta kepada Keysha, supaya tetap berada di rumah, maka Keysha akan melakukannya.


"Tuan, ada apa?" Xavier gelagapan saat salah satu asisten lain datang mendekatinya dan berkata, bahkan Keysha pun akhirnya menyadari keberadaan Xavier.


"Nggak apa-apa," elak Xavier, dia langsung bergegas pergi dari sana. Karena terlanjur malu. Keysha menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan sikap Xavier.


"Mungkin, Tuan Xavier nggak mau ditinggal, Non," goda salah satu art.


Keysha tertawa renyah, baginya itu tidak akan mungkin. Karena Keysha justru berpikir, mungkin saja kedatanan Xavier ke sini, untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar akan pergi.


"Nanti, kalau saya nggak ada, tolong ingatkan kak Xavier ya, untuk makan," pesan Keysha, karena dia tahu, Xavier sering kali membawa pekerjaannya ke rumah, dan terkadang bisa lupa waktu.Lupa makan dan istirahat.


"Baik, Nona."


-//-


Di dalam kamarnya, Xavier mengacak rambutnya frustasi, dia begitu malu karena ketahuan memperhatikan Keysha. Dia juga merutuki kebodohannya sendiri.


"Sekarang bukan itu yang jadi masalah. Masalahnya, gimana caranya supaya aku bisa membatalkan penerbangan Keysha," gumam Xavier, entah kenapa perasaannya selalu mengatakan tidak enak.


"Mamah dan papah," gumam Xavier menyebut kedua mertuanya, "arrgghh enggak," geleng Xavier. "Pasti mereka akan bilang, kenapa nggak aku aja yang bujuk? Sama aja bohong." Xavier kembali memikirkan, kiranya siapa yang bisa membujuk Keysha.


"Bunda," lirih Xavier, dia yakin bundanya bisa membujuk Keysha, tapi saat ini dia dan orang tuanya sedang tidak dalam hubungan yang baik. Lagi-lagi Xavier tidak bisa menggunakan bundanya, untuk membujuk Keysha. Di saat Xavier tengah berpikir keras, dia mendengar suara dering ponselnya, dan itu dari Aira.


["Kamu nggak ada inisiatif buat minta maaf?"] celetuk Aira, saat Xavier baru mengangkat teleponenya. Xavier menepuk keningnya, dia lupa kalau tadi siang, dia sudah meninggalkan Aira begitu saja.


["Sayang, aku minta maaf ya?"] ucap Xavier, mencoba membujuk kekasihnya.


["Kamu kabarin aku, bahkan kamu sama sekali nggak khawatir sama kondisi aku?"] tanya Aira dengan pertanyaan beruntun.


["Oke, sekarang kamu mau apa, sayang?"] Xavier tahu, hanya ini salah satu cara supaya bisa membujuk Aira sang kekasih.


["Aku mau kamu jemput aku sekarang juga,"] titah Aira.

__ADS_1


["Siap tuan putri, aku ke sana sekarang,"] Xavier segera bersiap, dia seolah lupa niatnya untuk mencari cara supaya bisa membatalkan keberangkatan Keysha, justru Xavier terlihat sangat bersemangat untuk bertemu dengan sang kekasih.


"Malam ini, kamu jalankan rencana yang sudah kita sepakati bersama," Lita memberikan sesuatu kepada putrinya.


"Oke, Mamah tenang aja, aku bakalan jalankan rencana dengan sangat baik," Aira sudah sangat percaya diri, bahwa rencananya pasti akan berjalan lancar.


Xavier turun ke lantai satu, saat itu Keysha tengah mengerjakan beberapa berkas, Keysha tidak bertanya apapun karena dia tahu kalau Xavier pasti akan bertemu dengan Aira. Setelah Xavier pergi, Daniel datang, dan pada saat itu Keysha segera bergegas masuk ke dala mobil asisten pribadinya. Keysha sudah menyusun rencana, dia tidak tahu ke mana Xavier akan pergi, tapi entah kenapa firasatnya meminta Keysha mengikuti sang suami. Tadi saat Xavier masuk ke dalam kamar, Keysha mendengar perbincangan Xavier dengan Aira di telepon, jadi dia bergegas menghubungi Daniel, untuk menemaninya membuntuti Xavier.


Pertama, mereka mengikuti Xavier di kediaman Aira, sepertinya mereka akn pergi ke suatu tempat. Setelah dari kediaman Aira, mereka kembalu melajukan kendaraan.


"Ini mau ke mana sih?" tanya Keysha yang tidak tahu ke mana arah mobil.


"Saya sepertinya mulai tahu ke mana mereka akan pergi, Nona," jawab Daniel, tapi terlihat tidak yakin.


"Ke mana?" tanya Keysha penasaran.


"Club malam," jawab Daniel, Keysha hampir tidak percaya, tapi jawaban Daniel benar, mobil memasuki suatu tempat yang asing bagi Keysha.


"Nona yakin mau masuk?" tanya Daniel memastikan.


"Aku semakin yakin, aku nggak mau kalau sampai suami aku ngapa-ngapain di dalam," Keysha benar-benar kesal dengan tingkah dengan tingkah Aira yang justru mengajak Xavier ke tempat seperti ini.


"Pakai ini dulu, Nona." Daniel memberikan topi untuk Keysha, setidaknya wajah Keysha tidak akan terlalu terekspose, "Nona harus selalu di samping saya," Daniel benar-benar mewanti-wanti, seolah tengah mengajak seorang anak kecil ke tempat baru, dan takut hilang.


"Iya bawel," jawab Keysha mendengus kesal. Dia dan Daniel pun segera masuk, tapi mereka kehilangan jejak Xavier dan Aira.


"Tuh, kan Daniel, kita kehilangan jejak mereka," teriak Keysha. Karena suara musik yang kencang, membuat Keysha harus menambah volume suaranya


"Nona tenang saja, pasti nanti ketemu," Daniel meyakikan Keysha,bahwa mereka akan menemukan Xavier.


Keysha akhrinya tiba di kediamannya, dia memasuki rumah dan sempat bertanya pada salah seorang asisten rumah tangganya. Keysha menanyakan soal Xavier, apakah dia berada di rumah atau tidak, tapi jawabannya iya, Xavier ada di rumah.


Tuk, suara gelas yang ditaruh di atas meja, tepat berada di hadapan Xavier. Wangi green tea langsung menguar masuk ke dalam hidung, membuat Xavier sempat melirik gelas tersebut. Tapi, setelah tahu siapa yang membawakannya, Xavier nampak enggan, walau hanya menyentuh cangkir miliknya.


"Aku lagi mau sendiri," ucap Xavier, dan secara tidak langsung, dia mengusir Keysha. Tapi Keysha tidak bergeming, dia masih berada di gazebo, duduk bersama dengan suaminya.


"Kamu tuli?" tanya Xavier seraya memicing.


"Enggak," jawab Keysha santai.


"Terus kenapa masih di sini?" tanya Xavier dengan nada ketus.


Keysha menghela napasnya. "Aku cuman habisin teh," Keysha mengangkat cangkirnya yang tinggal sedikit. "Aku juga mau pamitan, besok harus ke luar negeri, ada pekerjaan di sana," ucap Keysha.


"Baguslah, itu berarti aku nggak akan ketemu kamu," Xavier menyunggingkan senyumnya.


"Ya, semoga sesuai dengan doa kamu," Keysha malas berdebat, dia menyesap kembali tehnya dan setelah itu pergi dari gazebo. Xavier pun mengambil cangkirnya dan menyesap dengan perlahan.


'Rasanya masih sama,' batin Xavier, itu adalah teh yang biasa Keysha buat untuknya, saat dia tengah marah. Green tea kesukaan Keysha, dan menjadi favorit Xavier juga. Keysha tersenyum,melihat Xavier yang masih mau mencicipi teh buatannya.


Malam ini, Keysha dibantu oleh salah satu asisten rumah tangga mengemas barang-barangnya, Keysha akan berada di luar negeri selama 2 minggu, bahkan bisa lebih. Dia ada pekerjaan yang memang harus di handle olehnya secara langsung.


"Banyak sekali, Non?"


Keysha tersenyum hangat. "Iya, soalnya banyak pekerjaan di sana, mungkin bisa dua mingga atau lebih," jawab Keysha. Saat Keysha tengah berkemas, tanpa disadari oleh Keysha, Xavier melihatnya. Entah kenapa, semenjak Keysha berkata akan pergi besok, membuat perasaan Xavier menjadi tidak tenang. Xavier ingin Keysha tidak pergi, Xavier ingin menahannya, tapi gengsinya terlalu besar. Xavier yakin, jika dia meminta kepada Keysha, supaya tetap berada di rumah, maka Keysha akan melakukannya.


"Tuan, ada apa?" Xavier gelagapan saat salah satu asisten lain datang mendekatinya dan berkata, bahkan Keysha pun akhirnya menyadari keberadaan Xavier.

__ADS_1


"Nggak apa-apa," elak Xavier, dia langsung bergegas pergi dari sana. Karena terlanjur malu. Keysha menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan sikap Xavier.


"Mungkin, Tuan Xavier nggak mau ditinggal, Non," goda salah satu art.


Keysha tertawa renyah, baginya itu tidak akan mungkin. Karena Keysha justru berpikir, mungkin saja kedatanan Xavier ke sini, untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar akan pergi.


"Nanti, kalau saya nggak ada, tolong ingatkan kak Xavier ya, untuk makan," pesan Keysha, karena dia tahu, Xavier sering kali membawa pekerjaannya ke rumah, dan terkadang bisa lupa waktu.Lupa makan dan istirahat.


"Baik, Nona."


-//-


Di dalam kamarnya, Xavier mengacak rambutnya frustasi, dia begitu malu karena ketahuan memperhatikan Keysha. Dia juga merutuki kebodohannya sendiri.


"Sekarang bukan itu yang jadi masalah. Masalahnya, gimana caranya supaya aku bisa membatalkan penerbangan Keysha," gumam Xavier, entah kenapa perasaannya selalu mengatakan tidak enak.


"Mamah dan papah," gumam Xavier menyebut kedua mertuanya, "arrgghh enggak," geleng Xavier. "Pasti mereka akan bilang, kenapa nggak aku aja yang bujuk? Sama aja bohong." Xavier kembali memikirkan, kiranya siapa yang bisa membujuk Keysha.


"Bunda," lirih Xavier, dia yakin bundanya bisa membujuk Keysha, tapi saat ini dia dan orang tuanya sedang tidak dalam hubungan yang baik. Lagi-lagi Xavier tidak bisa menggunakan bundanya, untuk membujuk Keysha. Di saat Xavier tengah berpikir keras, dia mendengar suara dering ponselnya, dan itu dari Aira.


["Kamu nggak ada inisiatif buat minta maaf?"] celetuk Aira, saat Xavier baru mengangkat teleponenya. Xavier menepuk keningnya, dia lupa kalau tadi siang, dia sudah meninggalkan Aira begitu saja.


["Sayang, aku minta maaf ya?"] ucap Xavier, mencoba membujuk kekasihnya.


["Kamu kabarin aku, bahkan kamu sama sekali nggak khawatir sama kondisi aku?"] tanya Aira dengan pertanyaan beruntun.


["Oke, sekarang kamu mau apa, sayang?"] Xavier tahu, hanya ini salah satu cara supaya bisa membujuk Aira sang kekasih.


["Aku mau kamu jemput aku sekarang juga,"] titah Aira.


["Siap tuan putri, aku ke sana sekarang,"] Xavier segera bersiap, dia seolah lupa niatnya untuk mencari cara supaya bisa membatalkan keberangkatan Keysha, justru Xavier terlihat sangat bersemangat untuk bertemu dengan sang kekasih.


"Malam ini, kamu jalankan rencana yang sudah kita sepakati bersama," Lita memberikan sesuatu kepada putrinya.


"Oke, Mamah tenang aja, aku bakalan jalankan rencana dengan sangat baik," Aira sudah sangat percaya diri, bahwa rencananya pasti akan berjalan lancar.


Xavier turun ke lantai satu, saat itu Keysha tengah mengerjakan beberapa berkas, Keysha tidak bertanya apapun karena dia tahu kalau Xavier pasti akan bertemu dengan Aira. Setelah Xavier pergi, Daniel datang, dan pada saat itu Keysha segera bergegas masuk ke dala mobil asisten pribadinya. Keysha sudah menyusun rencana, dia tidak tahu ke mana Xavier akan pergi, tapi entah kenapa firasatnya meminta Keysha mengikuti sang suami. Tadi saat Xavier masuk ke dalam kamar, Keysha mendengar perbincangan Xavier dengan Aira di telepon, jadi dia bergegas menghubungi Daniel, untuk menemaninya membuntuti Xavier.


Pertama, mereka mengikuti Xavier di kediaman Aira, sepertinya mereka akn pergi ke suatu tempat. Setelah dari kediaman Aira, mereka kembalu melajukan kendaraan.


"Ini mau ke mana sih?" tanya Keysha yang tidak tahu ke mana arah mobil.


"Saya sepertinya mulai tahu ke mana mereka akan pergi, Nona," jawab Daniel, tapi terlihat tidak yakin.


"Ke mana?" tanya Keysha penasaran.


"Club malam," jawab Daniel, Keysha hampir tidak percaya, tapi jawaban Daniel benar, mobil memasuki suatu tempat yang asing bagi Keysha.


"Nona yakin mau masuk?" tanya Daniel memastikan.


"Aku semakin yakin, aku nggak mau kalau sampai suami aku ngapa-ngapain di dalam," Keysha benar-benar kesal dengan tingkah dengan tingkah Aira yang justru mengajak Xavier ke tempat seperti ini.


"Pakai ini dulu, Nona." Daniel memberikan topi untuk Keysha, setidaknya wajah Keysha tidak akan terlalu terekspose, "Nona harus selalu di samping saya," Daniel benar-benar mewanti-wanti, seolah tengah mengajak seorang anak kecil ke tempat baru, dan takut hilang.


"Iya bawel," jawab Keysha mendengus kesal. Dia dan Daniel pun segera masuk, tapi mereka kehilangan jejak Xavier dan Aira.


"Tuh, kan Daniel, kita kehilangan jejak mereka," teriak Keysha. Karena suara musik yang kencang, membuat Keysha harus menambah volume suaranya

__ADS_1


"Nona tenang saja, pasti nanti ketemu," Daniel meyakikan Keysha,bahwa mereka akan menemukan Xavier.


__ADS_2