
"I-itu, a-arwah Keysha," ucap Aira sembari menutup wajahnya, tangan Aira juga menunjuk ke arah Keysha, sedangkan Keysha justru tertawa tanpa bersuara. Xavier yang mendengar pernyataan Aira pun, menoleh ke belakang, dia melihat Keysha yang tengah tertawa penuh kemenangan.
"Arwah apanya, sih. Itu memang Keysha," ujar Xavier seraya bersedekap dada. "Udah buka mata kamu," titahnya kepada Aira. Aira sendiri terkejut, mendengar pengakuan Xavier, bahwa itu benar Keysha, setahu dia, Keysha sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Dengan perlahan Aira membuka matanya, dan dia masih melihat Aira yang tertawa mengejeknya.
"Itu sih harapan kamu, nyatanya Yang Maha Kuasa masih memberikan aku hidup, supaya aku masih terus mendampingi suamiku," jawab Keysha dengan tatapan tajam, tidak lupa Keysha juga bergelayut manja di lengan Xavier, namun yang membuat Aira tercengang, entah Xavier yang tidak sadar tengah digelayuti manja oleh Keysha, atau memang Xavier membiarkan Keysha berlaku seenaknya. Namun, Aira begitu cemburu, karena Xavier tidak merespone apapun.
"Lepas!" tepis Aira dengan kasar di lengan Xavier, "nggak usah kegatelan ya!" kecam Aira, dia benar-benar jengkel dengan tingkah Keysha.
"Hey! Mana ada istri gatel sama suami tapi nggak dibolehin? Yang ada kamu yang jangan dekati, suami aku!" jawab Keysha dengan kesal, tidak lupa tangannya juga mendorong Aira, sampai Aira hampir terjatuh.
"Kamu!" Aira hendak membalas, namun langsung ditahan oleh Xavier.
"Stop!" seru Xavier, membuat Aira langsung terdiam di tempatnya, sedangkan Keysha memberikan tawa puasnya, karena bisa menang dari Aira.
"Aira, bukannya aku udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah kamu datang ke sini," ucap Xavier penuh penekanan.
"Kan aku datang untuk mengucapkan bela sungkawa Xavier, apa itu salah," Aira mencoba membela diri.
"Salah, karena kamu nggak bisa cek informasi itu dengan benar, aku mau sekarang kamu pulang, aku udah capek hari ini," Xavier mulai memelankan suaranya, dia tidak mau kalau Aira sampai salah paham.
"Kamu usir aku?" tanya Aira yang tidak terima.
"Aira, kamu bisa nggak sih ngertiin aku, bukannya aku udah bilang aku capek? Aku mau istirahat," jawab Xavier dengan nada memohon, dia merasa tubuhnya benar-benar lelah sekarang.
"Oke, aku akan pulang tapi ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu," ujar Aira seraya melirik Xavier dan beralih melirik Keysha, seolah memberi tanda bahwa Aira hanya ingin bicara berdua dengan Xavier.
"Apa? Kenapa kamu ngelihatin aku?" tanya Keysha seraya bersungut kesal, dia paham dengan kode yang diberikan oleh Aira.
"Key, kamu masuk dulu, nanti aku menyusul," pinta Xavier, dan mau tidak mau Keysha pun menurti apa kata suaminya.
Aira memastikan Keysha masuk ke dalam rumah, setelah aman, barulah dia mau angkat bicara.
"Semalam, kamu nggak ke mana-mana, kan? Setelah dar club?" tanya Aira hati-hati, dia hanya ingin memastikan soal semalam.
"Iya, aku langsung pulang," jawab Xavier, terlihat senyum lega yang terpancar dari wajah Aira.
"Ngomong-ngomong, semalam kamu kasih aku minuman apa?" tanya Xavier, dia tahu kondisinya semalam ada kaitannya dengan minuman yang diberikan oleh Aira.
"Hanya minuman biasa, bukan apa-apa kok, memang kenapa?" tanya Aira was-was.
"Tidak," jawab Xavier berbohong, dia tahu Aira tidak jujur menjawab pertanyaan darinya, maka dia pun melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang ya, dan kamu juga jangan lupa istirahat," pesan Aira, dan hanya diangguki oleh Xavier. Aira hendak mendekat dan mengecup pipi Xavier, hal itu pun dilihat oleh Keysha, baru saja Keysha mau bertindak, namun diluar dugaan, Xavier justru langsung menjauhkan dirinya.
"Nggak etis, Ra. Takut dilihat tetangga," alibi Xavier, dan membuat Ara mencebikkan bibirnya kesal.
"Ya udah aku pulang," Aira memutuskan untuk pergi, karena apa yang sudah dia bayangkan hanya tinggal angan. Meski begitu, setidaknya Aira sudah memastikan satu hal, bahwa Xavier masih aman, dan tidak pergi ke manapun.
Aira masih diam di temapnya, ada perasaan aneh yang bersarang di hatinya sekarang, dia merasa aneh, karena saat dekat dengan Aira, dia merasa risih. Tidak ada rasa nyaman seperti yang waktu itu dia rasakan sebelumnya.
'Apa mungkin, aku sudah tidak lagi mencintai Aira?' batin Xavier, namun dia mencoba menepisnya, yang Xavier pikirkan, mungkin saat ini dia hanya sedang lelah, ditambah dengan Aira yang datang tiba-tiba ke sini, membuatnya semakin pusing.
"Aira bahas soal apa, Kak?" tanya Keysha penasaran.
"Nggak usah kepo, aku capek," jawab Xavier seraya berlalu meninggalkan Keysha. Keysha yang ditinggal begit saja oleh sang suami, menghentakkan kakinya kesal.
"Dasar, apa salahnya istri pengen tahu," ucap Keysha seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
-//-
Aira pulang dengan keadaan kesal, dia masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa sang mamah yang tengah duduk sambil menonton acara televisi.
"Aira? Kok udah pulang?" tanya Lita, dari raut wajahnya dia begitu penasaran dengan kejadian hari ini. Lita sudah membayangkan, bagaimana rasanya berbesan dengan keluarga Xavier.
"Gimana di sana, kamu ketemu orang tua Xavier, kan?" tanya Lita.
"Enggak, Mah," jawab Aira dengan lesu.
"Loh kenapa? Apa orang tua Xavier nggak suka sama menantunya itu? Sampai-sampai menantu meninggal juga nggak datang?" tanya Lita semakin menjadi, Aira yang mendengar pertanyaan dari mamahnya bertubi-tubi merasa jengah.
"Nggak ada yang meninggal, Mah," jawab Aira, membuat Lita terkejut.
'Hah, gimana-gimana? Nggak ada yang meninggal?" tanya Lita memastikan, dia masih ingat betul waktu Aira berpamitan untuk pergi ke kediaman Xavier, yaitu niatnya untuk berkabung, karena Keysha telah meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat.
"Iya Mah, Keysha itu bukan salah satu korbannya, Keysha masih ada di rumah dan dia masih baik-baik aja," jawab Aira dengan kesal.
"Gimana sih, kamu cari info yang bener dong, Mamah itu sudah membayangkan gimana rasanya jadi besan orang kaya, bau uangnya sudah tercium Aira," gerutu Lita.
"Ya aku juga udah cari info, Mah, memang harusnya ada kok Keysha sebagai salah satu penumpang, tapi nggak tahu kenapa dia malah nggak jadi berangkat," Aira mencoba membela diri.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Aira, kamu harus ingat, hidup itu butuh uang, dan biaya hidup kamu itu mahal karena kamu seorang model. Selagi kamu masih menunggu dinikahi oleh Xavier, kamu bisa cari sampingan dulu,"ucap Lita dengan enteng.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"I-itu, a-arwah Keysha," ucap Aira sembari menutup wajahnya, tangan Aira juga menunjuk ke arah Keysha, sedangkan Keysha justru tertawa tanpa bersuara. Xavier yang mendengar pernyataan Aira pun, menoleh ke belakang, dia melihat Keysha yang tengah tertawa penuh kemenangan.
"Arwah apanya, sih. Itu memang Keysha," ujar Xavier seraya bersedekap dada. "Udah buka mata kamu," titahnya kepada Aira. Aira sendiri terkejut, mendengar pengakuan Xavier, bahwa itu benar Keysha, setahu dia, Keysha sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Dengan perlahan Aira membuka matanya, dan dia masih melihat Aira yang tertawa mengejeknya.
"Itu sih harapan kamu, nyatanya Yang Maha Kuasa masih memberikan aku hidup, supaya aku masih terus mendampingi suamiku," jawab Keysha dengan tatapan tajam, tidak lupa Keysha juga bergelayut manja di lengan Xavier, namun yang membuat Aira tercengang, entah Xavier yang tidak sadar tengah digelayuti manja oleh Keysha, atau memang Xavier membiarkan Keysha berlaku seenaknya. Namun, Aira begitu cemburu, karena Xavier tidak merespone apapun.
"Lepas!" tepis Aira dengan kasar di lengan Xavier, "nggak usah kegatelan ya!" kecam Aira, dia benar-benar jengkel dengan tingkah Keysha.
"Hey! Mana ada istri gatel sama suami tapi nggak dibolehin? Yang ada kamu yang jangan dekati, suami aku!" jawab Keysha dengan kesal, tidak lupa tangannya juga mendorong Aira, sampai Aira hampir terjatuh.
"Kamu!" Aira hendak membalas, namun langsung ditahan oleh Xavier.
"Stop!" seru Xavier, membuat Aira langsung terdiam di tempatnya, sedangkan Keysha memberikan tawa puasnya, karena bisa menang dari Aira.
"Aira, bukannya aku udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah kamu datang ke sini," ucap Xavier penuh penekanan.
"Kan aku datang untuk mengucapkan bela sungkawa Xavier, apa itu salah," Aira mencoba membela diri.
"Salah, karena kamu nggak bisa cek informasi itu dengan benar, aku mau sekarang kamu pulang, aku udah capek hari ini," Xavier mulai memelankan suaranya, dia tidak mau kalau Aira sampai salah paham.
"Kamu usir aku?" tanya Aira yang tidak terima.
"Aira, kamu bisa nggak sih ngertiin aku, bukannya aku udah bilang aku capek? Aku mau istirahat," jawab Xavier dengan nada memohon, dia merasa tubuhnya benar-benar lelah sekarang.
"Oke, aku akan pulang tapi ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu," ujar Aira seraya melirik Xavier dan beralih melirik Keysha, seolah memberi tanda bahwa Aira hanya ingin bicara berdua dengan Xavier.
"Apa? Kenapa kamu ngelihatin aku?" tanya Keysha seraya bersungut kesal, dia paham dengan kode yang diberikan oleh Aira.
"Key, kamu masuk dulu, nanti aku menyusul," pinta Xavier, dan mau tidak mau Keysha pun menurti apa kata suaminya.
__ADS_1
Aira memastikan Keysha masuk ke dalam rumah, setelah aman, barulah dia mau angkat bicara.
"Semalam, kamu nggak ke mana-mana, kan? Setelah dar club?" tanya Aira hati-hati, dia hanya ingin memastikan soal semalam.
"Iya, aku langsung pulang," jawab Xavier, terlihat senyum lega yang terpancar dari wajah Aira.
"Ngomong-ngomong, semalam kamu kasih aku minuman apa?" tanya Xavier, dia tahu kondisinya semalam ada kaitannya dengan minuman yang diberikan oleh Aira.
"Hanya minuman biasa, bukan apa-apa kok, memang kenapa?" tanya Aira was-was.
"Tidak," jawab Xavier berbohong, dia tahu Aira tidak jujur menjawab pertanyaan darinya, maka dia pun melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang ya, dan kamu juga jangan lupa istirahat," pesan Aira, dan hanya diangguki oleh Xavier. Aira hendak mendekat dan mengecup pipi Xavier, hal itu pun dilihat oleh Keysha, baru saja Keysha mau bertindak, namun diluar dugaan, Xavier justru langsung menjauhkan dirinya.
"Nggak etis, Ra. Takut dilihat tetangga," alibi Xavier, dan membuat Ara mencebikkan bibirnya kesal.
"Ya udah aku pulang," Aira memutuskan untuk pergi, karena apa yang sudah dia bayangkan hanya tinggal angan. Meski begitu, setidaknya Aira sudah memastikan satu hal, bahwa Xavier masih aman, dan tidak pergi ke manapun.
Aira masih diam di temapnya, ada perasaan aneh yang bersarang di hatinya sekarang, dia merasa aneh, karena saat dekat dengan Aira, dia merasa risih. Tidak ada rasa nyaman seperti yang waktu itu dia rasakan sebelumnya.
'Apa mungkin, aku sudah tidak lagi mencintai Aira?' batin Xavier, namun dia mencoba menepisnya, yang Xavier pikirkan, mungkin saat ini dia hanya sedang lelah, ditambah dengan Aira yang datang tiba-tiba ke sini, membuatnya semakin pusing.
"Aira bahas soal apa, Kak?" tanya Keysha penasaran.
"Nggak usah kepo, aku capek," jawab Xavier seraya berlalu meninggalkan Keysha. Keysha yang ditinggal begit saja oleh sang suami, menghentakkan kakinya kesal.
"Dasar, apa salahnya istri pengen tahu," ucap Keysha seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
-//-
Aira pulang dengan keadaan kesal, dia masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa sang mamah yang tengah duduk sambil menonton acara televisi.
"Aira? Kok udah pulang?" tanya Lita, dari raut wajahnya dia begitu penasaran dengan kejadian hari ini. Lita sudah membayangkan, bagaimana rasanya berbesan dengan keluarga Xavier.
"Gimana di sana, kamu ketemu orang tua Xavier, kan?" tanya Lita.
"Enggak, Mah," jawab Aira dengan lesu.
"Loh kenapa? Apa orang tua Xavier nggak suka sama menantunya itu? Sampai-sampai menantu meninggal juga nggak datang?" tanya Lita semakin menjadi, Aira yang mendengar pertanyaan dari mamahnya bertubi-tubi merasa jengah.
"Nggak ada yang meninggal, Mah," jawab Aira, membuat Lita terkejut.
'Hah, gimana-gimana? Nggak ada yang meninggal?" tanya Lita memastikan, dia masih ingat betul waktu Aira berpamitan untuk pergi ke kediaman Xavier, yaitu niatnya untuk berkabung, karena Keysha telah meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat.
"Iya Mah, Keysha itu bukan salah satu korbannya, Keysha masih ada di rumah dan dia masih baik-baik aja," jawab Aira dengan kesal.
"Gimana sih, kamu cari info yang bener dong, Mamah itu sudah membayangkan gimana rasanya jadi besan orang kaya, bau uangnya sudah tercium Aira," gerutu Lita.
"Ya aku juga udah cari info, Mah, memang harusnya ada kok Keysha sebagai salah satu penumpang, tapi nggak tahu kenapa dia malah nggak jadi berangkat," Aira mencoba membela diri.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Aira, kamu harus ingat, hidup itu butuh uang, dan biaya hidup kamu itu mahal karena kamu seorang model. Selagi kamu masih menunggu dinikahi oleh Xavier, kamu bisa cari sampingan dulu,"ucap Lita dengan enteng.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"I-itu, a-arwah Keysha," ucap Aira sembari menutup wajahnya, tangan Aira juga menunjuk ke arah Keysha, sedangkan Keysha justru tertawa tanpa bersuara. Xavier yang mendengar pernyataan Aira pun, menoleh ke belakang, dia melihat Keysha yang tengah tertawa penuh kemenangan.
"Arwah apanya, sih. Itu memang Keysha," ujar Xavier seraya bersedekap dada. "Udah buka mata kamu," titahnya kepada Aira. Aira sendiri terkejut, mendengar pengakuan Xavier, bahwa itu benar Keysha, setahu dia, Keysha sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Dengan perlahan Aira membuka matanya, dan dia masih melihat Aira yang tertawa mengejeknya.
"Itu sih harapan kamu, nyatanya Yang Maha Kuasa masih memberikan aku hidup, supaya aku masih terus mendampingi suamiku," jawab Keysha dengan tatapan tajam, tidak lupa Keysha juga bergelayut manja di lengan Xavier, namun yang membuat Aira tercengang, entah Xavier yang tidak sadar tengah digelayuti manja oleh Keysha, atau memang Xavier membiarkan Keysha berlaku seenaknya. Namun, Aira begitu cemburu, karena Xavier tidak merespone apapun.
"Lepas!" tepis Aira dengan kasar di lengan Xavier, "nggak usah kegatelan ya!" kecam Aira, dia benar-benar jengkel dengan tingkah Keysha.
"Hey! Mana ada istri gatel sama suami tapi nggak dibolehin? Yang ada kamu yang jangan dekati, suami aku!" jawab Keysha dengan kesal, tidak lupa tangannya juga mendorong Aira, sampai Aira hampir terjatuh.
"Kamu!" Aira hendak membalas, namun langsung ditahan oleh Xavier.
"Stop!" seru Xavier, membuat Aira langsung terdiam di tempatnya, sedangkan Keysha memberikan tawa puasnya, karena bisa menang dari Aira.
"Aira, bukannya aku udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah kamu datang ke sini," ucap Xavier penuh penekanan.
"Kan aku datang untuk mengucapkan bela sungkawa Xavier, apa itu salah," Aira mencoba membela diri.
"Salah, karena kamu nggak bisa cek informasi itu dengan benar, aku mau sekarang kamu pulang, aku udah capek hari ini," Xavier mulai memelankan suaranya, dia tidak mau kalau Aira sampai salah paham.
"Kamu usir aku?" tanya Aira yang tidak terima.
"Aira, kamu bisa nggak sih ngertiin aku, bukannya aku udah bilang aku capek? Aku mau istirahat," jawab Xavier dengan nada memohon, dia merasa tubuhnya benar-benar lelah sekarang.
"Oke, aku akan pulang tapi ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu," ujar Aira seraya melirik Xavier dan beralih melirik Keysha, seolah memberi tanda bahwa Aira hanya ingin bicara berdua dengan Xavier.
"Apa? Kenapa kamu ngelihatin aku?" tanya Keysha seraya bersungut kesal, dia paham dengan kode yang diberikan oleh Aira.
"Key, kamu masuk dulu, nanti aku menyusul," pinta Xavier, dan mau tidak mau Keysha pun menurti apa kata suaminya.
Aira memastikan Keysha masuk ke dalam rumah, setelah aman, barulah dia mau angkat bicara.
"Semalam, kamu nggak ke mana-mana, kan? Setelah dar club?" tanya Aira hati-hati, dia hanya ingin memastikan soal semalam.
"Iya, aku langsung pulang," jawab Xavier, terlihat senyum lega yang terpancar dari wajah Aira.
"Ngomong-ngomong, semalam kamu kasih aku minuman apa?" tanya Xavier, dia tahu kondisinya semalam ada kaitannya dengan minuman yang diberikan oleh Aira.
"Hanya minuman biasa, bukan apa-apa kok, memang kenapa?" tanya Aira was-was.
"Tidak," jawab Xavier berbohong, dia tahu Aira tidak jujur menjawab pertanyaan darinya, maka dia pun melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang ya, dan kamu juga jangan lupa istirahat," pesan Aira, dan hanya diangguki oleh Xavier. Aira hendak mendekat dan mengecup pipi Xavier, hal itu pun dilihat oleh Keysha, baru saja Keysha mau bertindak, namun diluar dugaan, Xavier justru langsung menjauhkan dirinya.
"Nggak etis, Ra. Takut dilihat tetangga," alibi Xavier, dan membuat Ara mencebikkan bibirnya kesal.
"Ya udah aku pulang," Aira memutuskan untuk pergi, karena apa yang sudah dia bayangkan hanya tinggal angan. Meski begitu, setidaknya Aira sudah memastikan satu hal, bahwa Xavier masih aman, dan tidak pergi ke manapun.
Aira masih diam di temapnya, ada perasaan aneh yang bersarang di hatinya sekarang, dia merasa aneh, karena saat dekat dengan Aira, dia merasa risih. Tidak ada rasa nyaman seperti yang waktu itu dia rasakan sebelumnya.
'Apa mungkin, aku sudah tidak lagi mencintai Aira?' batin Xavier, namun dia mencoba menepisnya, yang Xavier pikirkan, mungkin saat ini dia hanya sedang lelah, ditambah dengan Aira yang datang tiba-tiba ke sini, membuatnya semakin pusing.
"Aira bahas soal apa, Kak?" tanya Keysha penasaran.
"Nggak usah kepo, aku capek," jawab Xavier seraya berlalu meninggalkan Keysha. Keysha yang ditinggal begit saja oleh sang suami, menghentakkan kakinya kesal.
"Dasar, apa salahnya istri pengen tahu," ucap Keysha seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
-//-
__ADS_1
Aira pulang dengan keadaan kesal, dia masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa sang mamah yang tengah duduk sambil menonton acara televisi.
"Aira? Kok udah pulang?" tanya Lita, dari raut wajahnya dia begitu penasaran dengan kejadian hari ini. Lita sudah membayangkan, bagaimana rasanya berbesan dengan keluarga Xavier.
"Gimana di sana, kamu ketemu orang tua Xavier, kan?" tanya Lita.
"Enggak, Mah," jawab Aira dengan lesu.
"Loh kenapa? Apa orang tua Xavier nggak suka sama menantunya itu? Sampai-sampai menantu meninggal juga nggak datang?" tanya Lita semakin menjadi, Aira yang mendengar pertanyaan dari mamahnya bertubi-tubi merasa jengah.
"Nggak ada yang meninggal, Mah," jawab Aira, membuat Lita terkejut.
'Hah, gimana-gimana? Nggak ada yang meninggal?" tanya Lita memastikan, dia masih ingat betul waktu Aira berpamitan untuk pergi ke kediaman Xavier, yaitu niatnya untuk berkabung, karena Keysha telah meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat.
"Iya Mah, Keysha itu bukan salah satu korbannya, Keysha masih ada di rumah dan dia masih baik-baik aja," jawab Aira dengan kesal.
"Gimana sih, kamu cari info yang bener dong, Mamah itu sudah membayangkan gimana rasanya jadi besan orang kaya, bau uangnya sudah tercium Aira," gerutu Lita.
"Ya aku juga udah cari info, Mah, memang harusnya ada kok Keysha sebagai salah satu penumpang, tapi nggak tahu kenapa dia malah nggak jadi berangkat," Aira mencoba membela diri.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Aira, kamu harus ingat, hidup itu butuh uang, dan biaya hidup kamu itu mahal karena kamu seorang model. Selagi kamu masih menunggu dinikahi oleh Xavier, kamu bisa cari sampingan dulu,"ucap Lita dengan enteng.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"I-itu, a-arwah Keysha," ucap Aira sembari menutup wajahnya, tangan Aira juga menunjuk ke arah Keysha, sedangkan Keysha justru tertawa tanpa bersuara. Xavier yang mendengar pernyataan Aira pun, menoleh ke belakang, dia melihat Keysha yang tengah tertawa penuh kemenangan.
"Arwah apanya, sih. Itu memang Keysha," ujar Xavier seraya bersedekap dada. "Udah buka mata kamu," titahnya kepada Aira. Aira sendiri terkejut, mendengar pengakuan Xavier, bahwa itu benar Keysha, setahu dia, Keysha sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Dengan perlahan Aira membuka matanya, dan dia masih melihat Aira yang tertawa mengejeknya.
"Itu sih harapan kamu, nyatanya Yang Maha Kuasa masih memberikan aku hidup, supaya aku masih terus mendampingi suamiku," jawab Keysha dengan tatapan tajam, tidak lupa Keysha juga bergelayut manja di lengan Xavier, namun yang membuat Aira tercengang, entah Xavier yang tidak sadar tengah digelayuti manja oleh Keysha, atau memang Xavier membiarkan Keysha berlaku seenaknya. Namun, Aira begitu cemburu, karena Xavier tidak merespone apapun.
"Lepas!" tepis Aira dengan kasar di lengan Xavier, "nggak usah kegatelan ya!" kecam Aira, dia benar-benar jengkel dengan tingkah Keysha.
"Hey! Mana ada istri gatel sama suami tapi nggak dibolehin? Yang ada kamu yang jangan dekati, suami aku!" jawab Keysha dengan kesal, tidak lupa tangannya juga mendorong Aira, sampai Aira hampir terjatuh.
"Kamu!" Aira hendak membalas, namun langsung ditahan oleh Xavier.
"Stop!" seru Xavier, membuat Aira langsung terdiam di tempatnya, sedangkan Keysha memberikan tawa puasnya, karena bisa menang dari Aira.
"Aira, bukannya aku udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah kamu datang ke sini," ucap Xavier penuh penekanan.
"Kan aku datang untuk mengucapkan bela sungkawa Xavier, apa itu salah," Aira mencoba membela diri.
"Salah, karena kamu nggak bisa cek informasi itu dengan benar, aku mau sekarang kamu pulang, aku udah capek hari ini," Xavier mulai memelankan suaranya, dia tidak mau kalau Aira sampai salah paham.
"Kamu usir aku?" tanya Aira yang tidak terima.
"Aira, kamu bisa nggak sih ngertiin aku, bukannya aku udah bilang aku capek? Aku mau istirahat," jawab Xavier dengan nada memohon, dia merasa tubuhnya benar-benar lelah sekarang.
"Oke, aku akan pulang tapi ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu," ujar Aira seraya melirik Xavier dan beralih melirik Keysha, seolah memberi tanda bahwa Aira hanya ingin bicara berdua dengan Xavier.
"Apa? Kenapa kamu ngelihatin aku?" tanya Keysha seraya bersungut kesal, dia paham dengan kode yang diberikan oleh Aira.
"Key, kamu masuk dulu, nanti aku menyusul," pinta Xavier, dan mau tidak mau Keysha pun menurti apa kata suaminya.
Aira memastikan Keysha masuk ke dalam rumah, setelah aman, barulah dia mau angkat bicara.
"Semalam, kamu nggak ke mana-mana, kan? Setelah dar club?" tanya Aira hati-hati, dia hanya ingin memastikan soal semalam.
"Iya, aku langsung pulang," jawab Xavier, terlihat senyum lega yang terpancar dari wajah Aira.
"Ngomong-ngomong, semalam kamu kasih aku minuman apa?" tanya Xavier, dia tahu kondisinya semalam ada kaitannya dengan minuman yang diberikan oleh Aira.
"Hanya minuman biasa, bukan apa-apa kok, memang kenapa?" tanya Aira was-was.
"Tidak," jawab Xavier berbohong, dia tahu Aira tidak jujur menjawab pertanyaan darinya, maka dia pun melakukan hal yang sama.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang ya, dan kamu juga jangan lupa istirahat," pesan Aira, dan hanya diangguki oleh Xavier. Aira hendak mendekat dan mengecup pipi Xavier, hal itu pun dilihat oleh Keysha, baru saja Keysha mau bertindak, namun diluar dugaan, Xavier justru langsung menjauhkan dirinya.
"Nggak etis, Ra. Takut dilihat tetangga," alibi Xavier, dan membuat Ara mencebikkan bibirnya kesal.
"Ya udah aku pulang," Aira memutuskan untuk pergi, karena apa yang sudah dia bayangkan hanya tinggal angan. Meski begitu, setidaknya Aira sudah memastikan satu hal, bahwa Xavier masih aman, dan tidak pergi ke manapun.
Aira masih diam di temapnya, ada perasaan aneh yang bersarang di hatinya sekarang, dia merasa aneh, karena saat dekat dengan Aira, dia merasa risih. Tidak ada rasa nyaman seperti yang waktu itu dia rasakan sebelumnya.
'Apa mungkin, aku sudah tidak lagi mencintai Aira?' batin Xavier, namun dia mencoba menepisnya, yang Xavier pikirkan, mungkin saat ini dia hanya sedang lelah, ditambah dengan Aira yang datang tiba-tiba ke sini, membuatnya semakin pusing.
"Aira bahas soal apa, Kak?" tanya Keysha penasaran.
"Nggak usah kepo, aku capek," jawab Xavier seraya berlalu meninggalkan Keysha. Keysha yang ditinggal begit saja oleh sang suami, menghentakkan kakinya kesal.
"Dasar, apa salahnya istri pengen tahu," ucap Keysha seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
-//-
Aira pulang dengan keadaan kesal, dia masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa sang mamah yang tengah duduk sambil menonton acara televisi.
"Aira? Kok udah pulang?" tanya Lita, dari raut wajahnya dia begitu penasaran dengan kejadian hari ini. Lita sudah membayangkan, bagaimana rasanya berbesan dengan keluarga Xavier.
"Gimana di sana, kamu ketemu orang tua Xavier, kan?" tanya Lita.
"Enggak, Mah," jawab Aira dengan lesu.
"Loh kenapa? Apa orang tua Xavier nggak suka sama menantunya itu? Sampai-sampai menantu meninggal juga nggak datang?" tanya Lita semakin menjadi, Aira yang mendengar pertanyaan dari mamahnya bertubi-tubi merasa jengah.
"Nggak ada yang meninggal, Mah," jawab Aira, membuat Lita terkejut.
'Hah, gimana-gimana? Nggak ada yang meninggal?" tanya Lita memastikan, dia masih ingat betul waktu Aira berpamitan untuk pergi ke kediaman Xavier, yaitu niatnya untuk berkabung, karena Keysha telah meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat.
"Iya Mah, Keysha itu bukan salah satu korbannya, Keysha masih ada di rumah dan dia masih baik-baik aja," jawab Aira dengan kesal.
"Gimana sih, kamu cari info yang bener dong, Mamah itu sudah membayangkan gimana rasanya jadi besan orang kaya, bau uangnya sudah tercium Aira," gerutu Lita.
"Ya aku juga udah cari info, Mah, memang harusnya ada kok Keysha sebagai salah satu penumpang, tapi nggak tahu kenapa dia malah nggak jadi berangkat," Aira mencoba membela diri.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Aira, kamu harus ingat, hidup itu butuh uang, dan biaya hidup kamu itu mahal karena kamu seorang model. Selagi kamu masih menunggu dinikahi oleh Xavier, kamu bisa cari sampingan dulu,"ucap Lita dengan enteng.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
__ADS_1