
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"Udahlah, Mah. Aira mau ke kamar istirahat." Aira hendak melangkah menuju kamarnya, namunlangsung ditahan oleh Lita.
"Nggak bisa, hari ini kamu harus ketemu sama om Harun, dia udah nanyain kamu terus bahwa nunggu kamu. Masih jam segini, sebaiknya kamu susul om Harun ke tempat biasa," titah Lita. Aira tidak kuasa menolak perintah ibunya, dia hanya bisa pasrah dan menuruti apapun perkataan sang Mamah. Dengan langkah gontai, Aira menuju mobil dan kembali melajukannya menuju tempat di mana dia biasa bertemu dengan Harun.
Sepanjang jalan, dia terus merutuki dirinya sendiri, yang mana Aira menyesal karena harus hidup dan menjadi anak Lita, seandainya Aira menjadi anak orang lain, mungkin dirinya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Menjadi wanita penghibur lelaki hidung belang. Ya, Aira memang seorang model, namun tidak ada yang tahu bahwa di balik itu semua, dia juga menjadi wanita idaman om-om dan sering di bawa ke ranjang hangat mereka. Uang yang didapat oleh Aira, jauh lebih banyak dari pada uang yang dia dapatkan menjadi seorang model.
Aira ingin lepas dari semua ini, kehidupannya yang melelahkan dan dirinya yang merasa lelah jika terus melayani para lelaki itu, dengan imajinasi **** nya yang terlampau tinggi. Aira tahu, hanya dengan menjadi istri Xavier lah, dia bisa lepas dari belenggu ibunya, dan bisa menjalani kehidupan Aira yang sangat dia inginkan selama ini.
Beberapa bulan lalu, Aira sudah bisa membayangkan, hidupnya akan sangat sempurna jika dia menjadi istri Xavier, namun semua itu harus pupu, karena Aira nyatanya masuk ke rumah sakit dan koma. Pernikahan Xavier dan Keysha, jelas membuat Aira menjadi semakin jauh menggapai apa yang dia inginkan, yaitu menjadi istri Xavier, dan bisa memberikan uang yang banyak kepada Lita, tanpa harus Aira berpeluh di atas pelukan dan ranjang para pria hidung belang itu.
Takut, jelas Aira takut, dia takut jika suatu saat nanti pekerjaan gelapnya ini akan diketahui oleh orang lain dan terdengar oleh Xavier, maka pupus sudah harapan Aira untuk menjadi istri Xavier, dan yang lebih buruknya, Aira akan terus menjadi wanita malam.
'Andai aku masih punya papa, pasti ini semua nggak akan terjadi. Kehidupan kami akan tercukupi, tanpa aku harus bekerja dua kali lipat,' batin Aira. Aira tidak pernah tahu bagaimana rupa mendiang ayahnya, ya menurut Lita, ayah Aira meninggal pada saat Aira masih dalam kandungan, karena kejadian kebakaran. Itulah mengapa, tidak ada foto kenangan yang bisa Lita tunjukkan pada Aira, untuk sekedar tahu, seperti apa wajah ayahnya walau hanya foto.
Terus memikirkan nasibnya, tanpa sadar Aira sudah sampai di depan sebuah villa. Villa ini adalah tempat biasa di mana Harun biasanya ingin bertemu dengan Aira. Aira mencoba melihat riasannya dan terlihat masih sangat rapi, Aira hanya menambahkan parfum di tubuhnya. Aroma parfum dengan wangi yang sexy membuat Aira semakin percaya diri.
"Selamat datang, Nona." sapa penjaga yang memang bertugas di sana, mereka sudah mengenal Aira, karena memang dia sering bolak-balik ke villa itu.
"Om Harun udah di dalam?" tanya Aira.
"Sudah, Nona. Tuan sudah menunggu sejak tadi," jelas anak buah Harun. Aira pun melangkah dengan melenggak-lenggok.
"Malam Om," sapa Aira ketika dia memasuki villa Harun, suaranya yang sensasional sangat menggoda telinga Harun.
"Malam sayang," Harun, lelaki paruh baya namun masih memiliki tubuh kekar dan atletis, karena memang dirinya masih rutin olah raga. Walau usia tak lagi muda, namun tubuhnya masih terlihat muda. Bul halus yang ada di sekitar wajahnya menambah kesan maskulin, rambutnya yang sudah setengah butih itu nampak berkharisma.
Harun yang tengah duduk santai segera mengdekati sang wanita yang sudah ditunggunya, dikecupnya singkat bibir Aira, lalu membawa Aira untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu ke mana aja sih, Om udah nunggu loh dari tadi," tanya Harun, seraya mulai mengendus ceruk leher Aira, daerah sesnsitif bagi Aira. Benar saja, hal itu sudah membangkitkan gairahnya. Aira akui, meski usia Harun tidak lagi muda, namun karena masih rutin olahraga, kekuatan Harun di atas ranjang, tidak boleh diragukan.
"Maaf ya Om, Aira ada keperluan di luar, Aira lagi jalan-jalan sama temen," bohong Aira.
"Wah, pasti keluar uang banyak ya?" tanya Harun, Aira tidak mau menghilangkah kesempatan. Aira langsung bangkit dari tempat pangkuan Harun. Tidak lama, Aira hanya mengubah posisinya, dia kembali duduk di pangkuan Harun namun dengan posisi menghadap wajah Harun.
"Aira beli lingeria baru Om," ucap Aira seraya mengedipkan matanya nakal.
"Om mau lihat?" bisik Aira tepat di telinga Harun, suaranya dibuat sensual dan sedikit mendesah, tidak lupa dia juga mejilat sedikit daut telinga Harun, sontak gairah Harun langsung terpancing. Tanpa menjawab panjang lebar, dengan posisi Aira masih dalam pangkuannya, Harun membawa Aira masuk ke dalam kamar, Aira seperti koala yang tengah bergelayut pada sang induk. Dalam posisi ini, Harun meraup bibir Aira dan mereka saling berpagut sampai dalam kamar. Kamar dengan ac yang sudah cukup dingin itu, namun tidak terasa oleh dua manusia dalam kamar, mereka berkeringat bersama, Aira benar-benar kewalahan mengimbangi permainan Harun, dia tidak bisa membayangkan, seperti apa dulu Harun, jika sudah diusinya yang sekarang saja, Harun masih begitu kuat di atas ranjang.
Aira yang tengah dalam dekapan Harun, sejujurnya merasa bersalah pada Xavier, tidak seharusnya dia mengkhianati Xavier yang begitu tulus padanya. Setiap Aira tengah melayani clientnya, dia selalu saja mengucapkan maaf untukk Xavier dalam hati, dan dia berharap semoga rahasia ini akan terus tersimpan rapat tanpa Xavier tahu. Aira tidak mau kalau sampai Xavier kecewa padanya dan meninggalkan Aira, hanya Xavier yang Aira yakini bisa membebaskan Aira dari lubang hitam ini.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"Udahlah, Mah. Aira mau ke kamar istirahat." Aira hendak melangkah menuju kamarnya, namunlangsung ditahan oleh Lita.
"Nggak bisa, hari ini kamu harus ketemu sama om Harun, dia udah nanyain kamu terus bahwa nunggu kamu. Masih jam segini, sebaiknya kamu susul om Harun ke tempat biasa," titah Lita. Aira tidak kuasa menolak perintah ibunya, dia hanya bisa pasrah dan menuruti apapun perkataan sang Mamah. Dengan langkah gontai, Aira menuju mobil dan kembali melajukannya menuju tempat di mana dia biasa bertemu dengan Harun.
Sepanjang jalan, dia terus merutuki dirinya sendiri, yang mana Aira menyesal karena harus hidup dan menjadi anak Lita, seandainya Aira menjadi anak orang lain, mungkin dirinya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Menjadi wanita penghibur lelaki hidung belang. Ya, Aira memang seorang model, namun tidak ada yang tahu bahwa di balik itu semua, dia juga menjadi wanita idaman om-om dan sering di bawa ke ranjang hangat mereka. Uang yang didapat oleh Aira, jauh lebih banyak dari pada uang yang dia dapatkan menjadi seorang model.
Aira ingin lepas dari semua ini, kehidupannya yang melelahkan dan dirinya yang merasa lelah jika terus melayani para lelaki itu, dengan imajinasi **** nya yang terlampau tinggi. Aira tahu, hanya dengan menjadi istri Xavier lah, dia bisa lepas dari belenggu ibunya, dan bisa menjalani kehidupan Aira yang sangat dia inginkan selama ini.
__ADS_1
Beberapa bulan lalu, Aira sudah bisa membayangkan, hidupnya akan sangat sempurna jika dia menjadi istri Xavier, namun semua itu harus pupu, karena Aira nyatanya masuk ke rumah sakit dan koma. Pernikahan Xavier dan Keysha, jelas membuat Aira menjadi semakin jauh menggapai apa yang dia inginkan, yaitu menjadi istri Xavier, dan bisa memberikan uang yang banyak kepada Lita, tanpa harus Aira berpeluh di atas pelukan dan ranjang para pria hidung belang itu.
Takut, jelas Aira takut, dia takut jika suatu saat nanti pekerjaan gelapnya ini akan diketahui oleh orang lain dan terdengar oleh Xavier, maka pupus sudah harapan Aira untuk menjadi istri Xavier, dan yang lebih buruknya, Aira akan terus menjadi wanita malam.
'Andai aku masih punya papa, pasti ini semua nggak akan terjadi. Kehidupan kami akan tercukupi, tanpa aku harus bekerja dua kali lipat,' batin Aira. Aira tidak pernah tahu bagaimana rupa mendiang ayahnya, ya menurut Lita, ayah Aira meninggal pada saat Aira masih dalam kandungan, karena kejadian kebakaran. Itulah mengapa, tidak ada foto kenangan yang bisa Lita tunjukkan pada Aira, untuk sekedar tahu, seperti apa wajah ayahnya walau hanya foto.
Terus memikirkan nasibnya, tanpa sadar Aira sudah sampai di depan sebuah villa. Villa ini adalah tempat biasa di mana Harun biasanya ingin bertemu dengan Aira. Aira mencoba melihat riasannya dan terlihat masih sangat rapi, Aira hanya menambahkan parfum di tubuhnya. Aroma parfum dengan wangi yang sexy membuat Aira semakin percaya diri.
"Selamat datang, Nona." sapa penjaga yang memang bertugas di sana, mereka sudah mengenal Aira, karena memang dia sering bolak-balik ke villa itu.
"Om Harun udah di dalam?" tanya Aira.
"Sudah, Nona. Tuan sudah menunggu sejak tadi," jelas anak buah Harun. Aira pun melangkah dengan melenggak-lenggok.
"Malam Om," sapa Aira ketika dia memasuki villa Harun, suaranya yang sensasional sangat menggoda telinga Harun.
"Malam sayang," Harun, lelaki paruh baya namun masih memiliki tubuh kekar dan atletis, karena memang dirinya masih rutin olah raga. Walau usia tak lagi muda, namun tubuhnya masih terlihat muda. Bul halus yang ada di sekitar wajahnya menambah kesan maskulin, rambutnya yang sudah setengah butih itu nampak berkharisma.
Harun yang tengah duduk santai segera mengdekati sang wanita yang sudah ditunggunya, dikecupnya singkat bibir Aira, lalu membawa Aira untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu ke mana aja sih, Om udah nunggu loh dari tadi," tanya Harun, seraya mulai mengendus ceruk leher Aira, daerah sesnsitif bagi Aira. Benar saja, hal itu sudah membangkitkan gairahnya. Aira akui, meski usia Harun tidak lagi muda, namun karena masih rutin olahraga, kekuatan Harun di atas ranjang, tidak boleh diragukan.
"Maaf ya Om, Aira ada keperluan di luar, Aira lagi jalan-jalan sama temen," bohong Aira.
"Wah, pasti keluar uang banyak ya?" tanya Harun, Aira tidak mau menghilangkah kesempatan. Aira langsung bangkit dari tempat pangkuan Harun. Tidak lama, Aira hanya mengubah posisinya, dia kembali duduk di pangkuan Harun namun dengan posisi menghadap wajah Harun.
"Aira beli lingeria baru Om," ucap Aira seraya mengedipkan matanya nakal.
"Om mau lihat?" bisik Aira tepat di telinga Harun, suaranya dibuat sensual dan sedikit mendesah, tidak lupa dia juga mejilat sedikit daut telinga Harun, sontak gairah Harun langsung terpancing. Tanpa menjawab panjang lebar, dengan posisi Aira masih dalam pangkuannya, Harun membawa Aira masuk ke dalam kamar, Aira seperti koala yang tengah bergelayut pada sang induk. Dalam posisi ini, Harun meraup bibir Aira dan mereka saling berpagut sampai dalam kamar. Kamar dengan ac yang sudah cukup dingin itu, namun tidak terasa oleh dua manusia dalam kamar, mereka berkeringat bersama, Aira benar-benar kewalahan mengimbangi permainan Harun, dia tidak bisa membayangkan, seperti apa dulu Harun, jika sudah diusinya yang sekarang saja, Harun masih begitu kuat di atas ranjang.
Aira yang tengah dalam dekapan Harun, sejujurnya merasa bersalah pada Xavier, tidak seharusnya dia mengkhianati Xavier yang begitu tulus padanya. Setiap Aira tengah melayani clientnya, dia selalu saja mengucapkan maaf untukk Xavier dalam hati, dan dia berharap semoga rahasia ini akan terus tersimpan rapat tanpa Xavier tahu. Aira tidak mau kalau sampai Xavier kecewa padanya dan meninggalkan Aira, hanya Xavier yang Aira yakini bisa membebaskan Aira dari lubang hitam ini.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"Udahlah, Mah. Aira mau ke kamar istirahat." Aira hendak melangkah menuju kamarnya, namunlangsung ditahan oleh Lita.
"Nggak bisa, hari ini kamu harus ketemu sama om Harun, dia udah nanyain kamu terus bahwa nunggu kamu. Masih jam segini, sebaiknya kamu susul om Harun ke tempat biasa," titah Lita. Aira tidak kuasa menolak perintah ibunya, dia hanya bisa pasrah dan menuruti apapun perkataan sang Mamah. Dengan langkah gontai, Aira menuju mobil dan kembali melajukannya menuju tempat di mana dia biasa bertemu dengan Harun.
Sepanjang jalan, dia terus merutuki dirinya sendiri, yang mana Aira menyesal karena harus hidup dan menjadi anak Lita, seandainya Aira menjadi anak orang lain, mungkin dirinya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Menjadi wanita penghibur lelaki hidung belang. Ya, Aira memang seorang model, namun tidak ada yang tahu bahwa di balik itu semua, dia juga menjadi wanita idaman om-om dan sering di bawa ke ranjang hangat mereka. Uang yang didapat oleh Aira, jauh lebih banyak dari pada uang yang dia dapatkan menjadi seorang model.
Aira ingin lepas dari semua ini, kehidupannya yang melelahkan dan dirinya yang merasa lelah jika terus melayani para lelaki itu, dengan imajinasi **** nya yang terlampau tinggi. Aira tahu, hanya dengan menjadi istri Xavier lah, dia bisa lepas dari belenggu ibunya, dan bisa menjalani kehidupan Aira yang sangat dia inginkan selama ini.
Beberapa bulan lalu, Aira sudah bisa membayangkan, hidupnya akan sangat sempurna jika dia menjadi istri Xavier, namun semua itu harus pupu, karena Aira nyatanya masuk ke rumah sakit dan koma. Pernikahan Xavier dan Keysha, jelas membuat Aira menjadi semakin jauh menggapai apa yang dia inginkan, yaitu menjadi istri Xavier, dan bisa memberikan uang yang banyak kepada Lita, tanpa harus Aira berpeluh di atas pelukan dan ranjang para pria hidung belang itu.
Takut, jelas Aira takut, dia takut jika suatu saat nanti pekerjaan gelapnya ini akan diketahui oleh orang lain dan terdengar oleh Xavier, maka pupus sudah harapan Aira untuk menjadi istri Xavier, dan yang lebih buruknya, Aira akan terus menjadi wanita malam.
'Andai aku masih punya papa, pasti ini semua nggak akan terjadi. Kehidupan kami akan tercukupi, tanpa aku harus bekerja dua kali lipat,' batin Aira. Aira tidak pernah tahu bagaimana rupa mendiang ayahnya, ya menurut Lita, ayah Aira meninggal pada saat Aira masih dalam kandungan, karena kejadian kebakaran. Itulah mengapa, tidak ada foto kenangan yang bisa Lita tunjukkan pada Aira, untuk sekedar tahu, seperti apa wajah ayahnya walau hanya foto.
Terus memikirkan nasibnya, tanpa sadar Aira sudah sampai di depan sebuah villa. Villa ini adalah tempat biasa di mana Harun biasanya ingin bertemu dengan Aira. Aira mencoba melihat riasannya dan terlihat masih sangat rapi, Aira hanya menambahkan parfum di tubuhnya. Aroma parfum dengan wangi yang sexy membuat Aira semakin percaya diri.
"Selamat datang, Nona." sapa penjaga yang memang bertugas di sana, mereka sudah mengenal Aira, karena memang dia sering bolak-balik ke villa itu.
"Om Harun udah di dalam?" tanya Aira.
"Sudah, Nona. Tuan sudah menunggu sejak tadi," jelas anak buah Harun. Aira pun melangkah dengan melenggak-lenggok.
"Malam Om," sapa Aira ketika dia memasuki villa Harun, suaranya yang sensasional sangat menggoda telinga Harun.
__ADS_1
"Malam sayang," Harun, lelaki paruh baya namun masih memiliki tubuh kekar dan atletis, karena memang dirinya masih rutin olah raga. Walau usia tak lagi muda, namun tubuhnya masih terlihat muda. Bul halus yang ada di sekitar wajahnya menambah kesan maskulin, rambutnya yang sudah setengah butih itu nampak berkharisma.
Harun yang tengah duduk santai segera mengdekati sang wanita yang sudah ditunggunya, dikecupnya singkat bibir Aira, lalu membawa Aira untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu ke mana aja sih, Om udah nunggu loh dari tadi," tanya Harun, seraya mulai mengendus ceruk leher Aira, daerah sesnsitif bagi Aira. Benar saja, hal itu sudah membangkitkan gairahnya. Aira akui, meski usia Harun tidak lagi muda, namun karena masih rutin olahraga, kekuatan Harun di atas ranjang, tidak boleh diragukan.
"Maaf ya Om, Aira ada keperluan di luar, Aira lagi jalan-jalan sama temen," bohong Aira.
"Wah, pasti keluar uang banyak ya?" tanya Harun, Aira tidak mau menghilangkah kesempatan. Aira langsung bangkit dari tempat pangkuan Harun. Tidak lama, Aira hanya mengubah posisinya, dia kembali duduk di pangkuan Harun namun dengan posisi menghadap wajah Harun.
"Aira beli lingeria baru Om," ucap Aira seraya mengedipkan matanya nakal.
"Om mau lihat?" bisik Aira tepat di telinga Harun, suaranya dibuat sensual dan sedikit mendesah, tidak lupa dia juga mejilat sedikit daut telinga Harun, sontak gairah Harun langsung terpancing. Tanpa menjawab panjang lebar, dengan posisi Aira masih dalam pangkuannya, Harun membawa Aira masuk ke dalam kamar, Aira seperti koala yang tengah bergelayut pada sang induk. Dalam posisi ini, Harun meraup bibir Aira dan mereka saling berpagut sampai dalam kamar. Kamar dengan ac yang sudah cukup dingin itu, namun tidak terasa oleh dua manusia dalam kamar, mereka berkeringat bersama, Aira benar-benar kewalahan mengimbangi permainan Harun, dia tidak bisa membayangkan, seperti apa dulu Harun, jika sudah diusinya yang sekarang saja, Harun masih begitu kuat di atas ranjang.
Aira yang tengah dalam dekapan Harun, sejujurnya merasa bersalah pada Xavier, tidak seharusnya dia mengkhianati Xavier yang begitu tulus padanya. Setiap Aira tengah melayani clientnya, dia selalu saja mengucapkan maaf untukk Xavier dalam hati, dan dia berharap semoga rahasia ini akan terus tersimpan rapat tanpa Xavier tahu. Aira tidak mau kalau sampai Xavier kecewa padanya dan meninggalkan Aira, hanya Xavier yang Aira yakini bisa membebaskan Aira dari lubang hitam ini.
"Harusnya malam ini kamu bisa dapat uang banyak, malah waktu kamu terbuang sia-sia di sana," ujar Lita membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Kapan sih, Mah aku berhenti jadi penghibur om-om itu, aku takut kalau Xavier tahu, dan dia ninggalin aku," Aira berucap dengan nada memohon.
"Kamu nggak perlu takut Xavier tahu, dia sudah terlalu cinta sama kamu, lagi pula kalian sudah melakukannya, kan? Jadi dia nggak akan heran kalau setelah kalian menikah, kamu udah nggak virgin," kata Lita, membuat Aira hanya bisa terdiam membisu.
'Gimana kalau Mamah tahu, bahwa malam itu nggak pernah terjadi,' batin Aira.
"Udahlah, Mah. Aira mau ke kamar istirahat." Aira hendak melangkah menuju kamarnya, namunlangsung ditahan oleh Lita.
"Nggak bisa, hari ini kamu harus ketemu sama om Harun, dia udah nanyain kamu terus bahwa nunggu kamu. Masih jam segini, sebaiknya kamu susul om Harun ke tempat biasa," titah Lita. Aira tidak kuasa menolak perintah ibunya, dia hanya bisa pasrah dan menuruti apapun perkataan sang Mamah. Dengan langkah gontai, Aira menuju mobil dan kembali melajukannya menuju tempat di mana dia biasa bertemu dengan Harun.
Sepanjang jalan, dia terus merutuki dirinya sendiri, yang mana Aira menyesal karena harus hidup dan menjadi anak Lita, seandainya Aira menjadi anak orang lain, mungkin dirinya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Menjadi wanita penghibur lelaki hidung belang. Ya, Aira memang seorang model, namun tidak ada yang tahu bahwa di balik itu semua, dia juga menjadi wanita idaman om-om dan sering di bawa ke ranjang hangat mereka. Uang yang didapat oleh Aira, jauh lebih banyak dari pada uang yang dia dapatkan menjadi seorang model.
Aira ingin lepas dari semua ini, kehidupannya yang melelahkan dan dirinya yang merasa lelah jika terus melayani para lelaki itu, dengan imajinasi **** nya yang terlampau tinggi. Aira tahu, hanya dengan menjadi istri Xavier lah, dia bisa lepas dari belenggu ibunya, dan bisa menjalani kehidupan Aira yang sangat dia inginkan selama ini.
Beberapa bulan lalu, Aira sudah bisa membayangkan, hidupnya akan sangat sempurna jika dia menjadi istri Xavier, namun semua itu harus pupu, karena Aira nyatanya masuk ke rumah sakit dan koma. Pernikahan Xavier dan Keysha, jelas membuat Aira menjadi semakin jauh menggapai apa yang dia inginkan, yaitu menjadi istri Xavier, dan bisa memberikan uang yang banyak kepada Lita, tanpa harus Aira berpeluh di atas pelukan dan ranjang para pria hidung belang itu.
Takut, jelas Aira takut, dia takut jika suatu saat nanti pekerjaan gelapnya ini akan diketahui oleh orang lain dan terdengar oleh Xavier, maka pupus sudah harapan Aira untuk menjadi istri Xavier, dan yang lebih buruknya, Aira akan terus menjadi wanita malam.
'Andai aku masih punya papa, pasti ini semua nggak akan terjadi. Kehidupan kami akan tercukupi, tanpa aku harus bekerja dua kali lipat,' batin Aira. Aira tidak pernah tahu bagaimana rupa mendiang ayahnya, ya menurut Lita, ayah Aira meninggal pada saat Aira masih dalam kandungan, karena kejadian kebakaran. Itulah mengapa, tidak ada foto kenangan yang bisa Lita tunjukkan pada Aira, untuk sekedar tahu, seperti apa wajah ayahnya walau hanya foto.
Terus memikirkan nasibnya, tanpa sadar Aira sudah sampai di depan sebuah villa. Villa ini adalah tempat biasa di mana Harun biasanya ingin bertemu dengan Aira. Aira mencoba melihat riasannya dan terlihat masih sangat rapi, Aira hanya menambahkan parfum di tubuhnya. Aroma parfum dengan wangi yang sexy membuat Aira semakin percaya diri.
"Selamat datang, Nona." sapa penjaga yang memang bertugas di sana, mereka sudah mengenal Aira, karena memang dia sering bolak-balik ke villa itu.
"Om Harun udah di dalam?" tanya Aira.
"Sudah, Nona. Tuan sudah menunggu sejak tadi," jelas anak buah Harun. Aira pun melangkah dengan melenggak-lenggok.
"Malam Om," sapa Aira ketika dia memasuki villa Harun, suaranya yang sensasional sangat menggoda telinga Harun.
"Malam sayang," Harun, lelaki paruh baya namun masih memiliki tubuh kekar dan atletis, karena memang dirinya masih rutin olah raga. Walau usia tak lagi muda, namun tubuhnya masih terlihat muda. Bul halus yang ada di sekitar wajahnya menambah kesan maskulin, rambutnya yang sudah setengah butih itu nampak berkharisma.
Harun yang tengah duduk santai segera mengdekati sang wanita yang sudah ditunggunya, dikecupnya singkat bibir Aira, lalu membawa Aira untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu ke mana aja sih, Om udah nunggu loh dari tadi," tanya Harun, seraya mulai mengendus ceruk leher Aira, daerah sesnsitif bagi Aira. Benar saja, hal itu sudah membangkitkan gairahnya. Aira akui, meski usia Harun tidak lagi muda, namun karena masih rutin olahraga, kekuatan Harun di atas ranjang, tidak boleh diragukan.
"Maaf ya Om, Aira ada keperluan di luar, Aira lagi jalan-jalan sama temen," bohong Aira.
"Wah, pasti keluar uang banyak ya?" tanya Harun, Aira tidak mau menghilangkah kesempatan. Aira langsung bangkit dari tempat pangkuan Harun. Tidak lama, Aira hanya mengubah posisinya, dia kembali duduk di pangkuan Harun namun dengan posisi menghadap wajah Harun.
"Aira beli lingeria baru Om," ucap Aira seraya mengedipkan matanya nakal.
"Om mau lihat?" bisik Aira tepat di telinga Harun, suaranya dibuat sensual dan sedikit mendesah, tidak lupa dia juga mejilat sedikit daut telinga Harun, sontak gairah Harun langsung terpancing. Tanpa menjawab panjang lebar, dengan posisi Aira masih dalam pangkuannya, Harun membawa Aira masuk ke dalam kamar, Aira seperti koala yang tengah bergelayut pada sang induk. Dalam posisi ini, Harun meraup bibir Aira dan mereka saling berpagut sampai dalam kamar. Kamar dengan ac yang sudah cukup dingin itu, namun tidak terasa oleh dua manusia dalam kamar, mereka berkeringat bersama, Aira benar-benar kewalahan mengimbangi permainan Harun, dia tidak bisa membayangkan, seperti apa dulu Harun, jika sudah diusinya yang sekarang saja, Harun masih begitu kuat di atas ranjang.
Aira yang tengah dalam dekapan Harun, sejujurnya merasa bersalah pada Xavier, tidak seharusnya dia mengkhianati Xavier yang begitu tulus padanya. Setiap Aira tengah melayani clientnya, dia selalu saja mengucapkan maaf untukk Xavier dalam hati, dan dia berharap semoga rahasia ini akan terus tersimpan rapat tanpa Xavier tahu. Aira tidak mau kalau sampai Xavier kecewa padanya dan meninggalkan Aira, hanya Xavier yang Aira yakini bisa membebaskan Aira dari lubang hitam ini.
__ADS_1