
"Kak Xavier, jangan begini, ayo kita pulang. Nanti Kakak sakit," Keysha mencoba mengajak suaminya untuk pulang bersama dengannya, dia khawatir jika Xavier akan sakit jika terus hujan-hujanan begini.
"Kamu pulanglah dulu, aku masih mau di sini," tolak Xavier.
'Kak Xavier pasti ada masalah, tapi kenapa ya?' batin Keysha bertanya, dia tidak berani untuk bertanya kepada Xavier secara langsung. Karena dia takut kalau nanti Xavier akan marah.
"Kalau aku pulang sendirian, berarti aku harus jalan kaki dong, Kak," kata Keysha seraya menjebikkan bibirnya kesal. Mendengar perkataan Keysha, Xavier pun tersadar, bahwa tadi pagi dia mengantarkan Keysha.
"Ya sudah, ayo pulang ." akhirnya Xavier memutuskan pulang, karena dia tidak tega jika harus membiarkan Keysha pulang sendirian. Xavier berpikir, bahwa Keysha pasti akan kesulitan mendapatkan taksi, karena ini tengah hujan.
Sepanjang perjalanan, baik Keysha maupun Devan sama-sama diam, Devan masih memikirkan tentang Aira, karena dia benar-benar kecewa dengan Aira. Sedangkan Keysha, jelas dia tengah memikirkan tentang kenapa Xavier sebenarnya.
Sesampainya di rumah tanpa sepatah kata pun, Xavier langsung masuk ke dalam kamar, dan di luar kamar, Keysha meminta kepada Xavier untuk mandi, karena baju Xavier sudah sangat basah dan takut kalau nanti Xavier sakit. Hujan deras sore itu benar-benar menggambarkan perasaan Xavier, yang tengah dilanda kekecewaan.
-//-
Malam sudah tiba, Keysha tebgah mengecek apakah makan malam sudah siap atau belum. Tapi pada saat itu, Keysha mendengar suara bel. Keysha pun memutuskan untuk melihat siapakah tamu yang datang.
"Aira?" Keysha begitu terkejut melihat Aira datang dengan keadaan yang tidak cukup baik. Aira jelas terlihat kalau dia tengah kacau sekarang.
"Apa Xavier ada? Aku mau bertemu dengan dia," jawab Aira dengan nada memohon.
Keysha tidak tega melihat keadaan Aira, melihat Aira yang sampai datang ke rumah, membuat Keysha semakin yakin bahwa memang ada yang terjadi anatar Xavier dan Aira.
"Baiklah, masuklah dulu biar aku tanya kak Xavier," Keysha meminta Aira untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Kesysha sendiri tidak cukup yakin, apakah Xavier mau bertemu dengan AIra, sedangkan perasaan Xavier saat ini saja belum terlalu baik. Tapi setidaknya Keysha akan bertanya lebih dulu, dari pada nanti dia mengambil keputusan salah, justru nanti dia dianggap semakin membuat hubungan Aira dan Xavier merenggang.
Sejujurnya, Keysha justru senang karena Xavier dan Aira tengah tidak baik-baik saja, hal ini tentu mengntungkannya, Keysha bisa saja membuat hubungan keduanya semakn merenggang, tapi Keysha tidak mau memanfaatkan kesempatan itu. Karena Keysha tahu, bukan begini caranya untuk bisa mendapatkan hati Xavier.
"Kak Xavier?" Keysha mengetuk pintu kamar Xavier. "Ada Aira di bawah, dia bilang mau ketemu kamu," kata Keysha memberitahukan.
"Suruh saja dia pulang, aku tidak mau bertemu dengan dia," jawab Xavier. Hal ini semakin membuat Keysha yakin, bahwa memang Xavier juga Aira tengah bertengkar.
Akhirnya, Keysha pun turun ke lantai bawah dan mengatakan semuanya kepada Aira, bahwa Xavier tidak mau bertemu dengannya, bahkan mengatakan bahwa Xavier meminta Aira untuk pulang saja.
"Enggak, kamu pasti bohong. Pasti kamu nggak memberitahukan kepada Xavier, kan soal kedatangan aku? Kamu mengarang ceriata, kan?" AIra merasa tidak terima dan menuduh Keysha dengan tuduhan yang membuat Keysha justru jengkel. Perasaan Keysha yang semula perduli, pun berubah marah.
"Aira, aku sudah sampaikan ke kak Xavier, tapi dia nggak mau dan mau kamu pulang," Keysha mencoba meyakinkan Aira, bahwa apa yang dikatakn olehnya adalah benar.
"Nggak mungkin, aku mau ketemu Xavier." Aira bangkit dari tempat duduknya dan berusaha untuk naik ke lantai atas, tapi langsung ditahan oleh Keysha.
"Aira, tolong hargai aku, aku istri kak Xavier, pemilik rumah ini." Keysha menekankan kata-kata istri, supaya Aira sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
"Aku sudah berbaik hati membiarkan kamu masuk, padahal kamu adalah kekasih suami ku. Aku juga sudah menyampaikan kedatangan kamu, tapi kak Xavier nggak mau," Keysha mencoba menjelaskan kepada Aira, berharap Aira mengerti dan tidak memancing emosinya.
"Aku tetap mau ketemu Xavier," Aira benar-benar keras kepala, dia tetap pada pendiriannya untuk bertemu dengan Xavier.
"Bukan hubungan aku dan Xavier yang harus berakhir, tapi kamu. Harusnya aku yang menjadi istri Xavier, bukan kamu!" sentak Aira.
"Terserah apa kata kamu, yang jelas aku dan kak Xavier sudah menikah dan kita nggak akan berpisah," jawab Keysha dengan tegas.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Aira, dia merasa heran kenapa Keysha bisa seyakin itu tidak akan berpisah dengan Xavier.
"Karena aku sedang hami, aku mengandung anak kak Xavier," terang Keysha, membuat Aira membelalakkan matanya terkejut.
"Kamu pasti bohong," kenyataan tentang kehamilan Keysha, tidak bisa diterima dengan mudah oleh Aira.
"Kenapa aku harus bohong, itu kenyataannya," jawab Keysha lagi.
"Kamu nggak boleh mengandung anak Xavier, enggak boleh!" Aira histeris dan dia mendorong tubuh Keysha sampai tubuh Keysha terhuyung ke belakang. Keysha pasrha, dan hanya bisa berharap semoga kandungannya baik-baik saja. Keysha sudah memejamkan matanya, tapi dia merasakan tubuhnya ditanpang dari arah belakang, dan kepalanya menabrak dada bidang yang kekar, Keysha juga mencium aroma parfum yang sangat dia kenal.
'Kak Xavier?' batin Keysha.
"Xavier?" Aira menatap Xavier dengan tatapn terkejut.
"Hanya untuk bertemu dengan ku, apa kau harus melukai istri dan calon anak ku?" tanya Xavier geram, dia menatap Aira dengan tatapan tajam.
'Kak Xavier mendengarnya?' batin Keysha, dia tidak menyangka kalau ternyata Xavier sudah mendengar semua perkataan Keysha. Xavier tahu bagaimana keras kepalanya Aira, jadi Xavier memutuskan untuk menemui Aira, tapi dia justru mendengar pengakuan yang begitu mengejutkan dari Keysha, soal kehamilannya.
"Xavier, aku yakin dia hanya berbohong, nggak mungkin kalian melakukannya sekali dan langsung hamil, kan?" Aira masih berusaha untuk mencuci otak Xavier.
"Kata siapa hanya sekali?" tanya Xavier, dan sontak membuat Aira terkejut, karena itu berarti sebelum meminum obat perangsang darinya, Xavier sudah pernah melakukannya.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita Aira, aku sudah memikirkannya, aku nggak mau terjebak oleh kamu dan ibu kamu. Hubungan kita benar-benar berakhir, jangan pernah temui aku, dan jangan pernah coba untuk datang ke sini dan mengganggu keluarga ku," Xavier memberikan peringatan Aira.
"Nggak bisa, aku nggak bisa kehilangan kamu," AIra terus mencoba memohon kepada Xavier.
"Aku nggak bisa bertahan dengan kamu," jawab Xavier, "bawa perempuan ini, Pak. Dan pastikan jangan sampai dia datang ke sini," Xavier memerintahkan dua keamanan untuk membawa Aira pergi, seblumnya memang Xavier sudah menghubungi pihak keamanan.
"Xavier, kamu nggak bisa lakuin ini sama aku," AIra terus mengiba pada Xavier, tapi Xavier seolah menulikan pendengarannya.
__ADS_1
"Kak Xavier, jangan begini, ayo kita pulang. Nanti Kakak sakit," Keysha mencoba mengajak suaminya untuk pulang bersama dengannya, dia khawatir jika Xavier akan sakit jika terus hujan-hujanan begini.
"Kamu pulanglah dulu, aku masih mau di sini," tolak Xavier.
'Kak Xavier pasti ada masalah, tapi kenapa ya?' batin Keysha bertanya, dia tidak berani untuk bertanya kepada Xavier secara langsung. Karena dia takut kalau nanti Xavier akan marah.
"Kalau aku pulang sendirian, berarti aku harus jalan kaki dong, Kak," kata Keysha seraya menjebikkan bibirnya kesal. Mendengar perkataan Keysha, Xavier pun tersadar, bahwa tadi pagi dia mengantarkan Keysha.
"Ya sudah, ayo pulang ." akhirnya Xavier memutuskan pulang, karena dia tidak tega jika harus membiarkan Keysha pulang sendirian. Xavier berpikir, bahwa Keysha pasti akan kesulitan mendapatkan taksi, karena ini tengah hujan.
Sepanjang perjalanan, baik Keysha maupun Devan sama-sama diam, Devan masih memikirkan tentang Aira, karena dia benar-benar kecewa dengan Aira. Sedangkan Keysha, jelas dia tengah memikirkan tentang kenapa Xavier sebenarnya.
Sesampainya di rumah tanpa sepatah kata pun, Xavier langsung masuk ke dalam kamar, dan di luar kamar, Keysha meminta kepada Xavier untuk mandi, karena baju Xavier sudah sangat basah dan takut kalau nanti Xavier sakit. Hujan deras sore itu benar-benar menggambarkan perasaan Xavier, yang tengah dilanda kekecewaan.
-//-
Malam sudah tiba, Keysha tebgah mengecek apakah makan malam sudah siap atau belum. Tapi pada saat itu, Keysha mendengar suara bel. Keysha pun memutuskan untuk melihat siapakah tamu yang datang.
"Aira?" Keysha begitu terkejut melihat Aira datang dengan keadaan yang tidak cukup baik. Aira jelas terlihat kalau dia tengah kacau sekarang.
"Apa Xavier ada? Aku mau bertemu dengan dia," jawab Aira dengan nada memohon.
Keysha tidak tega melihat keadaan Aira, melihat Aira yang sampai datang ke rumah, membuat Keysha semakin yakin bahwa memang ada yang terjadi anatar Xavier dan Aira.
"Baiklah, masuklah dulu biar aku tanya kak Xavier," Keysha meminta Aira untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Kesysha sendiri tidak cukup yakin, apakah Xavier mau bertemu dengan AIra, sedangkan perasaan Xavier saat ini saja belum terlalu baik. Tapi setidaknya Keysha akan bertanya lebih dulu, dari pada nanti dia mengambil keputusan salah, justru nanti dia dianggap semakin membuat hubungan Aira dan Xavier merenggang.
Sejujurnya, Keysha justru senang karena Xavier dan Aira tengah tidak baik-baik saja, hal ini tentu mengntungkannya, Keysha bisa saja membuat hubungan keduanya semakn merenggang, tapi Keysha tidak mau memanfaatkan kesempatan itu. Karena Keysha tahu, bukan begini caranya untuk bisa mendapatkan hati Xavier.
"Kak Xavier?" Keysha mengetuk pintu kamar Xavier. "Ada Aira di bawah, dia bilang mau ketemu kamu," kata Keysha memberitahukan.
"Suruh saja dia pulang, aku tidak mau bertemu dengan dia," jawab Xavier. Hal ini semakin membuat Keysha yakin, bahwa memang Xavier juga Aira tengah bertengkar.
Akhirnya, Keysha pun turun ke lantai bawah dan mengatakan semuanya kepada Aira, bahwa Xavier tidak mau bertemu dengannya, bahkan mengatakan bahwa Xavier meminta Aira untuk pulang saja.
"Enggak, kamu pasti bohong. Pasti kamu nggak memberitahukan kepada Xavier, kan soal kedatangan aku? Kamu mengarang ceriata, kan?" AIra merasa tidak terima dan menuduh Keysha dengan tuduhan yang membuat Keysha justru jengkel. Perasaan Keysha yang semula perduli, pun berubah marah.
"Aira, aku sudah sampaikan ke kak Xavier, tapi dia nggak mau dan mau kamu pulang," Keysha mencoba meyakinkan Aira, bahwa apa yang dikatakn olehnya adalah benar.
"Nggak mungkin, aku mau ketemu Xavier." Aira bangkit dari tempat duduknya dan berusaha untuk naik ke lantai atas, tapi langsung ditahan oleh Keysha.
"Aira, tolong hargai aku, aku istri kak Xavier, pemilik rumah ini." Keysha menekankan kata-kata istri, supaya Aira sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
"Aku sudah berbaik hati membiarkan kamu masuk, padahal kamu adalah kekasih suami ku. Aku juga sudah menyampaikan kedatangan kamu, tapi kak Xavier nggak mau," Keysha mencoba menjelaskan kepada Aira, berharap Aira mengerti dan tidak memancing emosinya.
"Aku tetap mau ketemu Xavier," Aira benar-benar keras kepala, dia tetap pada pendiriannya untuk bertemu dengan Xavier.
"Bukan hubungan aku dan Xavier yang harus berakhir, tapi kamu. Harusnya aku yang menjadi istri Xavier, bukan kamu!" sentak Aira.
"Terserah apa kata kamu, yang jelas aku dan kak Xavier sudah menikah dan kita nggak akan berpisah," jawab Keysha dengan tegas.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Aira, dia merasa heran kenapa Keysha bisa seyakin itu tidak akan berpisah dengan Xavier.
"Karena aku sedang hami, aku mengandung anak kak Xavier," terang Keysha, membuat Aira membelalakkan matanya terkejut.
"Kamu pasti bohong," kenyataan tentang kehamilan Keysha, tidak bisa diterima dengan mudah oleh Aira.
"Kenapa aku harus bohong, itu kenyataannya," jawab Keysha lagi.
"Kamu nggak boleh mengandung anak Xavier, enggak boleh!" Aira histeris dan dia mendorong tubuh Keysha sampai tubuh Keysha terhuyung ke belakang. Keysha pasrha, dan hanya bisa berharap semoga kandungannya baik-baik saja. Keysha sudah memejamkan matanya, tapi dia merasakan tubuhnya ditanpang dari arah belakang, dan kepalanya menabrak dada bidang yang kekar, Keysha juga mencium aroma parfum yang sangat dia kenal.
'Kak Xavier?' batin Keysha.
"Xavier?" Aira menatap Xavier dengan tatapn terkejut.
"Hanya untuk bertemu dengan ku, apa kau harus melukai istri dan calon anak ku?" tanya Xavier geram, dia menatap Aira dengan tatapan tajam.
'Kak Xavier mendengarnya?' batin Keysha, dia tidak menyangka kalau ternyata Xavier sudah mendengar semua perkataan Keysha. Xavier tahu bagaimana keras kepalanya Aira, jadi Xavier memutuskan untuk menemui Aira, tapi dia justru mendengar pengakuan yang begitu mengejutkan dari Keysha, soal kehamilannya.
"Xavier, aku yakin dia hanya berbohong, nggak mungkin kalian melakukannya sekali dan langsung hamil, kan?" Aira masih berusaha untuk mencuci otak Xavier.
"Kata siapa hanya sekali?" tanya Xavier, dan sontak membuat Aira terkejut, karena itu berarti sebelum meminum obat perangsang darinya, Xavier sudah pernah melakukannya.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita Aira, aku sudah memikirkannya, aku nggak mau terjebak oleh kamu dan ibu kamu. Hubungan kita benar-benar berakhir, jangan pernah temui aku, dan jangan pernah coba untuk datang ke sini dan mengganggu keluarga ku," Xavier memberikan peringatan Aira.
"Nggak bisa, aku nggak bisa kehilangan kamu," AIra terus mencoba memohon kepada Xavier.
"Aku nggak bisa bertahan dengan kamu," jawab Xavier, "bawa perempuan ini, Pak. Dan pastikan jangan sampai dia datang ke sini," Xavier memerintahkan dua keamanan untuk membawa Aira pergi, seblumnya memang Xavier sudah menghubungi pihak keamanan.
"Xavier, kamu nggak bisa lakuin ini sama aku," AIra terus mengiba pada Xavier, tapi Xavier seolah menulikan pendengarannya.
__ADS_1
"Kak Xavier, jangan begini, ayo kita pulang. Nanti Kakak sakit," Keysha mencoba mengajak suaminya untuk pulang bersama dengannya, dia khawatir jika Xavier akan sakit jika terus hujan-hujanan begini.
"Kamu pulanglah dulu, aku masih mau di sini," tolak Xavier.
'Kak Xavier pasti ada masalah, tapi kenapa ya?' batin Keysha bertanya, dia tidak berani untuk bertanya kepada Xavier secara langsung. Karena dia takut kalau nanti Xavier akan marah.
"Kalau aku pulang sendirian, berarti aku harus jalan kaki dong, Kak," kata Keysha seraya menjebikkan bibirnya kesal. Mendengar perkataan Keysha, Xavier pun tersadar, bahwa tadi pagi dia mengantarkan Keysha.
"Ya sudah, ayo pulang ." akhirnya Xavier memutuskan pulang, karena dia tidak tega jika harus membiarkan Keysha pulang sendirian. Xavier berpikir, bahwa Keysha pasti akan kesulitan mendapatkan taksi, karena ini tengah hujan.
Sepanjang perjalanan, baik Keysha maupun Devan sama-sama diam, Devan masih memikirkan tentang Aira, karena dia benar-benar kecewa dengan Aira. Sedangkan Keysha, jelas dia tengah memikirkan tentang kenapa Xavier sebenarnya.
Sesampainya di rumah tanpa sepatah kata pun, Xavier langsung masuk ke dalam kamar, dan di luar kamar, Keysha meminta kepada Xavier untuk mandi, karena baju Xavier sudah sangat basah dan takut kalau nanti Xavier sakit. Hujan deras sore itu benar-benar menggambarkan perasaan Xavier, yang tengah dilanda kekecewaan.
-//-
Malam sudah tiba, Keysha tebgah mengecek apakah makan malam sudah siap atau belum. Tapi pada saat itu, Keysha mendengar suara bel. Keysha pun memutuskan untuk melihat siapakah tamu yang datang.
"Aira?" Keysha begitu terkejut melihat Aira datang dengan keadaan yang tidak cukup baik. Aira jelas terlihat kalau dia tengah kacau sekarang.
"Apa Xavier ada? Aku mau bertemu dengan dia," jawab Aira dengan nada memohon.
Keysha tidak tega melihat keadaan Aira, melihat Aira yang sampai datang ke rumah, membuat Keysha semakin yakin bahwa memang ada yang terjadi anatar Xavier dan Aira.
"Baiklah, masuklah dulu biar aku tanya kak Xavier," Keysha meminta Aira untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Kesysha sendiri tidak cukup yakin, apakah Xavier mau bertemu dengan AIra, sedangkan perasaan Xavier saat ini saja belum terlalu baik. Tapi setidaknya Keysha akan bertanya lebih dulu, dari pada nanti dia mengambil keputusan salah, justru nanti dia dianggap semakin membuat hubungan Aira dan Xavier merenggang.
Sejujurnya, Keysha justru senang karena Xavier dan Aira tengah tidak baik-baik saja, hal ini tentu mengntungkannya, Keysha bisa saja membuat hubungan keduanya semakn merenggang, tapi Keysha tidak mau memanfaatkan kesempatan itu. Karena Keysha tahu, bukan begini caranya untuk bisa mendapatkan hati Xavier.
"Kak Xavier?" Keysha mengetuk pintu kamar Xavier. "Ada Aira di bawah, dia bilang mau ketemu kamu," kata Keysha memberitahukan.
"Suruh saja dia pulang, aku tidak mau bertemu dengan dia," jawab Xavier. Hal ini semakin membuat Keysha yakin, bahwa memang Xavier juga Aira tengah bertengkar.
Akhirnya, Keysha pun turun ke lantai bawah dan mengatakan semuanya kepada Aira, bahwa Xavier tidak mau bertemu dengannya, bahkan mengatakan bahwa Xavier meminta Aira untuk pulang saja.
"Enggak, kamu pasti bohong. Pasti kamu nggak memberitahukan kepada Xavier, kan soal kedatangan aku? Kamu mengarang ceriata, kan?" AIra merasa tidak terima dan menuduh Keysha dengan tuduhan yang membuat Keysha justru jengkel. Perasaan Keysha yang semula perduli, pun berubah marah.
"Aira, aku sudah sampaikan ke kak Xavier, tapi dia nggak mau dan mau kamu pulang," Keysha mencoba meyakinkan Aira, bahwa apa yang dikatakn olehnya adalah benar.
"Nggak mungkin, aku mau ketemu Xavier." Aira bangkit dari tempat duduknya dan berusaha untuk naik ke lantai atas, tapi langsung ditahan oleh Keysha.
"Aira, tolong hargai aku, aku istri kak Xavier, pemilik rumah ini." Keysha menekankan kata-kata istri, supaya Aira sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
"Aku sudah berbaik hati membiarkan kamu masuk, padahal kamu adalah kekasih suami ku. Aku juga sudah menyampaikan kedatangan kamu, tapi kak Xavier nggak mau," Keysha mencoba menjelaskan kepada Aira, berharap Aira mengerti dan tidak memancing emosinya.
"Aku tetap mau ketemu Xavier," Aira benar-benar keras kepala, dia tetap pada pendiriannya untuk bertemu dengan Xavier.
"Bukan hubungan aku dan Xavier yang harus berakhir, tapi kamu. Harusnya aku yang menjadi istri Xavier, bukan kamu!" sentak Aira.
"Terserah apa kata kamu, yang jelas aku dan kak Xavier sudah menikah dan kita nggak akan berpisah," jawab Keysha dengan tegas.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Aira, dia merasa heran kenapa Keysha bisa seyakin itu tidak akan berpisah dengan Xavier.
"Karena aku sedang hami, aku mengandung anak kak Xavier," terang Keysha, membuat Aira membelalakkan matanya terkejut.
"Kamu pasti bohong," kenyataan tentang kehamilan Keysha, tidak bisa diterima dengan mudah oleh Aira.
"Kenapa aku harus bohong, itu kenyataannya," jawab Keysha lagi.
"Kamu nggak boleh mengandung anak Xavier, enggak boleh!" Aira histeris dan dia mendorong tubuh Keysha sampai tubuh Keysha terhuyung ke belakang. Keysha pasrha, dan hanya bisa berharap semoga kandungannya baik-baik saja. Keysha sudah memejamkan matanya, tapi dia merasakan tubuhnya ditanpang dari arah belakang, dan kepalanya menabrak dada bidang yang kekar, Keysha juga mencium aroma parfum yang sangat dia kenal.
'Kak Xavier?' batin Keysha.
"Xavier?" Aira menatap Xavier dengan tatapn terkejut.
"Hanya untuk bertemu dengan ku, apa kau harus melukai istri dan calon anak ku?" tanya Xavier geram, dia menatap Aira dengan tatapan tajam.
'Kak Xavier mendengarnya?' batin Keysha, dia tidak menyangka kalau ternyata Xavier sudah mendengar semua perkataan Keysha. Xavier tahu bagaimana keras kepalanya Aira, jadi Xavier memutuskan untuk menemui Aira, tapi dia justru mendengar pengakuan yang begitu mengejutkan dari Keysha, soal kehamilannya.
"Xavier, aku yakin dia hanya berbohong, nggak mungkin kalian melakukannya sekali dan langsung hamil, kan?" Aira masih berusaha untuk mencuci otak Xavier.
"Kata siapa hanya sekali?" tanya Xavier, dan sontak membuat Aira terkejut, karena itu berarti sebelum meminum obat perangsang darinya, Xavier sudah pernah melakukannya.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita Aira, aku sudah memikirkannya, aku nggak mau terjebak oleh kamu dan ibu kamu. Hubungan kita benar-benar berakhir, jangan pernah temui aku, dan jangan pernah coba untuk datang ke sini dan mengganggu keluarga ku," Xavier memberikan peringatan Aira.
"Nggak bisa, aku nggak bisa kehilangan kamu," AIra terus mencoba memohon kepada Xavier.
"Aku nggak bisa bertahan dengan kamu," jawab Xavier, "bawa perempuan ini, Pak. Dan pastikan jangan sampai dia datang ke sini," Xavier memerintahkan dua keamanan untuk membawa Aira pergi, seblumnya memang Xavier sudah menghubungi pihak keamanan.
"Xavier, kamu nggak bisa lakuin ini sama aku," AIra terus mengiba pada Xavier, tapi Xavier seolah menulikan pendengarannya.
__ADS_1