Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Badai Pertama


__ADS_3

Pukul 11.30, hari jum'at.


"Rin, gue kangen, dimana lu?" tanya Vivian siang itu.


"Gue baru selesai kelas, ntar gue kesana, gue ada urusan bentar," jawab Arindi.


Suara Vivian heboh ditelepon, ia baru saja pulang dari luar kota. Vivian baru menyelesaikan seminar dan training robotik di luar kota bersama dosennya. Sudah hampir seminggu ia tak bertemu sahabatnya. Siang ini ia ingin berkumpul dengan mereka di Kafe Harmoni.


Arindi baru keluar dari kelasnya. Ia sedang memasukkan buku-buku ke lokernya. Minggu ini banyak projek yang ia selesaikan sebelum ujian tengah semester dimulai minggu depan hingga ia hanya fokus pada tugasnya. Tapi tentu saja bayangan tentang hutang yang belum terbayarkan selalu menghantuinya, tapi kesibukan membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain mata kuliahnya.


Ia pun bersandar di lokernya, ia membuka grup obrolan anak BEM, mencari nomor Tristan yang belum disimpannya. Ia tidak pernah merasa punya keperluan untuk menghubungi nomor itu jadi ia tak menyimpannya, tapi sekali ini ia harus menghubunginya jika tak ingin disebut ingkar janji.


Satu pesan dikirim.


^^^Selamat siang kak.^^^


^^^Ini Arindi.^^^


^^^Lagi dimana?^^^


Siang ini Tristan sedang ada di perpustakaan, ia sedang mencari bahan untuk skripsinya. Ia membaca pesan yang masuk ke hp-nya. Ia cukup terkejut membaca isi pesan itu.


"Dari siapa Tan?" Suara Celyn yang dari tadi ikut duduk disebelahnya membuat Tristan kaget dan mengetik dengan cepat membalas pesannya.


^^^Di perpus.^^^


Ia kembali menatap jurnal yang ada di hadapannya, tak menjawab pertanyaan Celyn barusan. Dalam pikirannya bertanya-tanya kenapa Arindi tiba-tiba mengiriminya pesan dan mengapa isi pesannya seperti itu.


"Habis ini kita makan siang yuk." Suara Celyn kembali mengusiknya. Ia cukup jengah dengan kehadiran Celyn tapi ia juga tak berniat mengusirnya karena ia hanya ingin menganggapnya tak ada.


"Gue sibuk." Tristan menjawab dengan dingin sambil terus menatap ke meja yang penuh dengan jurnal dan skripsi yang ia bawa dari rak buku.


"Huummh kayanya sibuk banget ya, ya udah gue pulang ya... kapan-kapan kita makan bareng ya?"


Akhirnya Celyn pergi karena Tristan terus bersikap cuek padanya. Lagipula Celyn meras malu sendiri karena semua mata memandangi dirinya yang terus tak dipedulikan Tristan. Harga dirinya merasa terkoyak bahkan oleh tatapan tanpa suara itu.


Sementara itu Arindi berjalan masuk ke perpustakaan. Ia berjalan masuk menuju lantai satu, ia tak menyadari ada tatapan mata yang tak sengaja melihatnya masuk ke perpustakaan. Dan tatapan mata itu terus melekat padanya, mengikuti setiap langkahnya dari jauh.


Arindi tak bisa menemukan Tristan dengan mudah, jadi ia pun mengiriminya pesan lagi.


^^^Kak, gue udah di lantai satu.^^^


^^^Kakak dimana?^^^


Tristan membaca lagi pesan yang masuk, ia pun berdiri setelah membalas pesan itu.


Arindi membaca balasan pesan dari Tristan yang mengatakan kalau Tristan ada di lantai dua. Arindi pun bergegas naik ke tangga menuju lantai dua. Tristan yang sudah turun ke lantai satu melalui tangga di bagian ujung lainnya, hampir saja tak melihat Arindi jika ia tak berlari turun tadi.


Tristan melihat dari kejauhan Arindi sudah naik ke lantai dua, Tristan yang baru turun segera naik kembali ke atas dengan tangga tempat ia turun tadi.


Arindi berjalan menuju meja besar di tengah ruangan lantai dua itu, tapi ia tak menemukan Tristan. Akhirnya ia mencari Tristan diantara rak-rak buku yang besar itu. Ternyata Arindi masuk ke bagian rak tempat penyimpanan lukisan-lukisan hasil karya mahasiswa yang pernah dilombakan. Ia terpukau melihat banyaknya karya seni lukisan tangan tersusun rapi disana. Ia lupa dengan tujuan utamanya datang kesana.


Ia membuka sebuah gulungan kertas gambar, tiba-tiba suara gemerasak berbunyi dari atas kepalanya membuat ia menoleh ke atas, rupanya beberapa gulungan bergeser keluar dari rak dan siap jatuh menimpanya. Ia tak mencoba berlari, ia hanya heran mengapa gulungan itu bisa bergerak sendiri, sampai akhirnya gulungan-gulungan itu jatuh kearahnya, ia pun hanya berkata "aahh" sambil memejamkan matanya, ia spontan hanya menundukkan kepalanya melindungi dengan tangannya.


Tuk tuk tuk klatak...


Suara beberapa gulungan yang jatuh lalu berhenti. Arindi masih menutup matanya. Ia hanya membatin kenapa ia tak merasakan sakit sedikitpun tertimpa gulungan yang memiliki ujung kayu dikedua sisinya itu.

__ADS_1


Arindi membuka matanya perlahan, kepalanya yang masih tertunduk memandang sepasang sepatu sneaker berwarna hitam ke abu abuan di ujung sepatu sneaker miliknya. Arindi pun mengangkat wajahnya, ia melihat Tristan, sang pemilik sepatu, yang saat ini berdiri sangat dekat dengannya karena berusaha melindunginya dari tertimpa gulungan. Kepala dan tubuh Tristan melengkung menutupi tubuh Arindi, dan kedua tangannya menahan rak di dekat kepala Arindi guna menopang berat badannya.


Mereka saling bertatapan. Arindi tak bisa berkata karena ia kaget melihat Tristan yang tiba-tiba sudah ada didepannya. Tristan pun hanya membeku saat mata mereka bertemu. Tristan bisa mencium aroma shampo dari rambut Arindi yang dibiarkannya terurai. Ia juga bisa melihat dengan jelas setiap sudut wajah cantik gadis itu. Hingga ia pun merasakan irama jantungnya semakin meningkat, ia mendengar detakan jantungnya yang begitu keras.


"Lo gapapa?" Tristan tampak khawatir.


Tristan pun menarik badannya saat ia sadar kalau posisi mereka begitu dekat, ia mundur selangkah kebelakang memberi jarak.


"I-iya gapapa," jawab Arindi.


"Lo kenapa mau ketemu gue?"


"Anu." Arindi baru inget. "Gue mau balikin uang yang waktu itu. Nih."


Arindi bergegas mengambil uang yang sudah disiapkannya dalam saku celananya. Ia pun mengulurkan tangannya.


Tristan tercekat saat Arindi berkata seperti itu ia pun tiba-tiba memandang dingin pada uang yang ada di tangan Arindi.


"Di mata lo semuanya hanya sebatas barang dan uang, ga lebih dari itu...," ujar Tristan penuh sarkasme.


"Maksudnya?"


Tristan hanya memberi tatapan dingin pada Arindi tanpa menjawab pertanyaanya. Ia pun pergi meninggalkan Arindi yang masih bengong. Arindi merasa tak bisa berkata apa-apa, dia hanya merasa kesal sekarang. Kepalanya terasa mendidih sekarang.


"Cowok sialan, kenapa lu seenak-enaknya sendiri, emang ga bisa di baikin, main kabur aja, orang lagi ngomong juga..lu pikir gue suka ketemu sama lu... Arrghhhh sial sial sial..."


.........


Celyn yang dari tadi mengikuti Arindi dan juga menjadi penyebab jatuhnya gulungan kertas itu hanya diam berdiri menahan marah. Setelah melihat Tristan yang berusaha melindungi Arindi, ia berlari keluar dari perpistakaan, hingga ia kelelahan. Tangannya pun terkepal karena gemetar. Ia menggigit bibirnya menahan emosi.


"Kenapa lu selalu ada didekat Tristan, dan kenapa Tristan selalu didekat lu."


"Sumpah ya kalian bedua."


Ia terus mengutuk dalam hati. Ia sangat sangat membenci Arindi, kali ini bukan karena kabar yang belum tentu kebenarannya tapi karena semua itu terjadi di depan matanya.


...----------------...


Kafe Harmoni.


"Arin sayang...," sambut Vivian ceria. " Loh kok mukanya gitu?"


Suara nyaring Vivian menyambut Arindi yang baru masuk kafe. Arindi menghempaskan tas punggung nya di meja. Ia pun menelungkupkan kepalanya ke atas tasnya. Ketiga sahabatnya yang lain hanya heran.


"Kenapa lagi sih Rin?" tanya Rasya kemudian.


"Paling juga Tristan lagi," jawab Nadine santai sambil main hpnya.


"Ga usah sebutin nama itu," ujar Arindi tiba-tiba mengangkat kepala.


"Tristan lagi? Gue kayanya ketinggalan berita banget ya," tanya Vivian.


"Udah Vi, btw kapan sampe, bawa oleh oleh ga buat gue?" Arindi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tenang lah Rin, pasti lah ada buat lo, tapi ngomong ngomong Tristan kenapa?"


"Udah ga usah sebut nama itu, males gue," jawab Arindi malas.

__ADS_1


"Tapi cerita sedikit gapapa kan Rin, ok? Gue beliin cokelat panas sama cake cokelat kesukaan lu, ok ok?" bujuk Vivian.


Akhirnya Arindi pun menceritakan kejadian di perpustakaan tadi. Bukan karena sogokan yang diberikan oleh Vivi tapi ia berharap dengan bercerita ia bisa tahu apa alasan Tristan kali ini bersikap dingin padanya.


"Hah? Serius lu?" Nadine kaget.


"Uwaaaa romantis banget, udah kaya di drama korea... trus trus mata kalian bedua saling bertatapan trus...," cerocos Vivian.


"Mulai halu... serius, gue juga ga tau dia dateng dari mana, tiba-tiba muncul aja," jawab Arindi.


"Trus kenapa lu jadi emosi gini?" ujar Rasya.


"Ya gue ga tau juga, abis itu dia nanya apa gue gapapa, truuuss... ah iya gue bilang kalo sebenernya gue ketemu dia buat bayar hutang?" jawab Arindi.


"Bayar utang? Hutang hari minggu?" tanya Nadine.


"Iyalah, hutang yang mana lagi? kan lu pada tau gue ga biasa berutang sama orang."


"Oh em ji Rin... Ckckck." Vivian menggeleng kepala.


"Serius lu bilang gitu?" Rasya pun menimpali.


"Itu mah salah elu lah Rin," jawab Nadine to the point.


"Lu sebenernya sahabat gue apa dia sih? Kok keliatannya pada belain dia?" ujar Arindi kesal.


"Helllllooo... yang pertama, etika dasar kalo lu udah di bantu seenggaknya bilang te.ri.ma.ka.sih. kedua, lu bayangin seandainya tuh kayu nimpa kepala lu? Lu ga mikirin apa punggungnya yang sakit demi ngelindungin lu? Seharusnya lu tanya gimana punggungnya? yang ketiga lu kasih uang kedia buat apa coba?" jelas Rasya kemudian.


"Iya kenapa sih Rin, kan dia dah bilang ga usah dibalikin," tambah Nadine.


"Kann udah gue bilang tadi ...." Arindi mulai emosi.


"Tahan dulu Arin sayang. Iya kita tahu lu gimana, tapi lu ngerti ga saat lu dibayarin makan sama cowo trus dia dah bilang untuk ga usah dibayar, seharusnya lu ga usah bayar karena kalo lu bayar itu sama aja jatuhin harga diri dia. Paham sampe sini sayang? Dia bayarin lu bukan karena dia kasian sama lu, bukan juga karena elu terlihat mengenaskan dimatanya, bukan juga karena lu ga punya uang tapi itu karena dia co.wok," jelas Vivian panjang lebar.


Nadine dan Rasya menjentikkan jarinya berbarengan tanda setuju dengan perkataan Vivian.


"Harga diri? Karena dia cowok? Emangnya ...."


Teep... Rasya menutup mulut Arindi yang hendak marah lagi. Dan menjejalkan potongan cake ke mulutnya tiba-tiba.


"Nih makan, cake pesenan lu udah dateng. Gausah bacot lagi. Ntar lu coba hubungin dia, bilang terima kasih dan minta maaf dan apa kek... pokoknya jangan emosi," ujar Rasya.


Arindi pun diam dan hanya memasukkan suapan demi suapan cake ke mulutnya. Ia hanya berpikir tentang perbuatannya, menimbang nimbangnya dalam hati, apa benar yang dia lakukan pantas mendapat tanggapan sedingin itu.


"Tapi, kira kira gulungan itu emang gampang banget jatuh ya? Atau gimana, kok gue penasaran yang bagian situ ya?" tanya Vivian sedikit curiga.


"Bisa jadi kalo gulungan itu udah tua," jawab Nadine.


"Gitu ya? Humhhh...," Vivian merasakan sesuatu yang ganjil.


"Kalo gue lebih penasaran soal hubungan dia berdua, gimana bisa jadi suka kalo sifat nya berdua gini," ujar Rasya setengah berbisik.


"Gue bisa denger bacot lu, gue lagi pegang garpu nih...," ujar Arindi emosi.


Akhirnya mereka sibuk masing masing, begitupun Arindi yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia masih memikirkan apa benar ia salah dan apa dia harus ikuti saran Rasya.


Sementara itu, Tristan masih duduk di dalam perpustakaan. Ia masih membolak balik jurnal di hadapannya sesekali mencatat di buku catatannya. Tapi konsentrasinya sedikit terganggu, ia masih memikirkan kejadian tadi. Ia merasa menyesal telah bersikap dingin dengan gadis itu tapi entah kenapa ia merasa tak bisa menahan rasa kecewanya saat tahu niat Arindi datang padanya. Apa karena ia terlalu berharap?

__ADS_1


__ADS_2