
Arindi menutup lokernya perlahan setelah memasukkan beberapa buku kuliahnya. Ia baru menyelesaikan jadwal mata kuliah yang ketiga sore ini. Ia merasakan sakit yang teramat sangat dibahunya. Wajahnya pucat menahan sakit. Keringat dingin membasahi dahinya.
Arindi pun menundukkan kepalanya. Satu dua orang menegur dan mengkhawatirkannya karena wajahnya mulai tak bercahaya. Ia hanya menjawab lemah pada teguran mereka.
Arindi ingin segera pulang, rasanya badannya tak kuat lagi. Jalannya mulai gontai. Ia menekan tombol panggil pada nomor Tristan dengan susah payah.
"Ya Rin? Gimana udah selesai kuliah...."
Suara Tristan terdengar khawatir saat ia mengangkat telepon dari Arindi. Ia baru akan bertanya tapi Arindi memotong ucapan Trista dan suaranya terdengar lemah.
"Ka-kakak dimana? Arin mau pulang sekarang, Arin udah ga kuat lagi...."
"Tunggu disana! Kakak jemput sekarang," jawab Tristan cepat mengakhiri teleponnya.
Tristan masih dikampus, ia baru saja selesai mengurus keperluan untuk serah terima jabatan dan kelengkapan berkas untuk wisudanya.
Mendengar suara lemah Arindi, ia bergegas menuju mobilnya lalu memacunya kencang. Ia tak pernah mendengar suara gadis itu seperti itu. Ia jadi sangat panik.
Arindi berjalan dengan gontai keluar gedung jurusannya. Rasa sakit dibahunya semakin menjadi, berdenyut-denyut hingga kepalanya ikut sakit. "Gue kenapa? Sakit banget," batin Arindi merasa heran dengan keadaan tubuhnya sendiri.
Arindi melupakan kejadian saat Anggi mendorong tubuhnya tadi. Benturan di pundaknya tadi yang sempat ia abaikan ternyata memburuk perlahan. Arindi tak sadar kalau pundaknya memar. Dan sekarang memarnya sudah berwarna ungu kegelapan.
Tak lama mobil Tristan datang, Tristan bergegas turun dari mobil setelah melihat gadis itu yang tengah berjalan gontai sambil tertunduk. Tristan mendekatinya. Dilihatnya dahi Arindi penuh keringat di hari sedingin ini. Ia pun memegang dahinya. Ingin memastikan sesuatu. Suhu tubuhnya panas tapi keringatnya sangat dingin
"Kamu kenapa? Kamu demam!" ujar Tristan mulai panik.
"He eh... anterin Arin pulang kak," Arindi menjawab lemah.
Tristan bergegas memapahnya masuk ke dalam mobil. Ia memasangkan sabuk ke tubuh gadis itu. Arindi bersandar menahan tubuhnya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Kita ke dokter dulu," ujar Tristan sambil menyentuh bahu gadis itu, ia lupa kalau bahu itu tadi yang terbentur.
"Awwwhhh, sakit...." Arindi meringis kesakitan.
Tristan terkejut melihat ia kesakitan saat bahunya disentuh. "Kenapa? Apa jangan-jangan gara-gara terbentur tadi? Kita periksa dulu ke dokter."
"Ga mau, Arin mau pulang. Arin mau istirahat." Hanya satu hal yang dipikirkan Arindi saat ini yaitu pulang ke rumah dan tidur. Badan Arindi melemah bukan semata-mata karena memar di pundaknya, namun juga karena rasa sakit yang menusuk di hatinya yang ia tahan sejak tadi.
Tristan pun menyerah saja, ia tak mau membuat gadis itu semakin kesakitan. Hal yang penting sekarang adalah membawanya pulang. Tristan buru-buru memacu mobilnya, menuju apartemen Arindi.
...----------------...
Mereka pun tiba. Setelah turun dari mobil, Tristan cepat memapah Arindi dan naik ke atas. Tristan menempelkan access card dan pintu pun terbuka.
"Kesana kak," ujar Arindi saat mereka sudah sampai ke lantai tempat apartemen Arindi berada.
Arindi menunjuk arah kamar tidurnya. Tristan yang baru pertama kali masuk apartemen Arindi tampak bingung. Terlebih lagi itu adalah tempat tinggal cewek, ia jadi kaku dan gagap sendiri.
Tristan panik sendiri, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia mondar mandir di samping tempat tidur gadis itu, Arindi terkulai lemah diatasnya. Ia pun mengeluarkan hp-nya lalu menelpon Nadine.
Setelah lama memanggil akhirnya telepon tersambung.
"Halo Nad," sapa Tristan pada Nadine di ujung telepon.
"Eh Tristan? Ya halo... Kenapa Tan?"
"Gue sekarang di apartemen Arindi, dia sakit, gue gatau harus apa, dan gue juga ga tahu harus hubungi siapa. lu bisa kesini ga?" suara Tristan sangat panik.
"Arindi sakit?" Nadine yang tak pernah melihat Arindi down itu pun segera mengiyakan kata Tristan. " Ok ok gue kesana sekarang kebetulan gue di deket sini."
__ADS_1
Saat ini Nadine dan Rasya kebetulan memang sedang berada tak jauh dari sekitaran apartemen. Mendengar kabar bahwa Arindi sakit membuat mereka bergegas menuju apartemen.
...----------------...
Bel apartemen Arindi berbunyi. Tristan yang sedang duduk di ruang tengah hanya bisa duduk mematung karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Mendengar bunyi bel barusan membuat ia bergegas menuju pintu.
Tak lama pintu dibuka. Nadine dan Rasya menghambur masuk dengan sangat cemas.
"Nad lo buru telpon Tante Acha, gue mau cek keadaan Arindi dulu," ujar Rasya memberi perintah.
Tristan pun kembali duduk di sofa. Ia menundukkan kepalanya sambil terus menekan-nekannya. Tangannya berkeringat dingin, perasaan khawatir dan takut merambati seluruh tubuhnya. Disampingnya Nadine sedang menelpon seseorang.
"Tan ...." tegur Nadine sedikit keras.
"Hah? Ya?" Tristan yang tak menyadari kalau Nadine telah selesai bertelponan terkejut saat di tegur dengan keras.
"Lo gapapa? Ngomong-ngomong kenapa dia bisa gitu?" tanya Nadine kemudian.
Tristan pun menceritakan kejadian tadi di sekretariat BEM saat mereka menemui Anggi.
"Gila ya!! lu kenapa banyak banget fansnya sih?" Nadine melirik ke arah Tristan yang masih menunduk lemah. "Tapi lu ga usah khawatir, bentar lagi tante Acha dateng, dia dokter yang tinggal di lantai tiga. Untungnya dia ada di rumah sekarang. Lo tunggu disini, gue mau ke kamar. Lo bukain aja pintu kalo dia dah dateng," jelas Nadine kemudian.
Acha, atau yang sering dipanggil tante Acha adalah seorang dokter yang kebetulan tinggal di apartemen yang sama dengan mereka. Ia bekerja di rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari kompleks apartement.
Ke rumah sakit itulah biasanya Arindi, Nadine, atau Rasya melakukan medical check up dan Acha lah dokter yang melayani mereka. Jadi mereka sudah lama saling mengenal. Karena itulah Acha mengatakan bahwa mereka bisa menghubunginya kapan pun kalau terjadi keadaan darurat. Seperti saat ini.
"Oh iya Nad. Btw thanks ya dan sorry gue...."
"Kenapa? gapapa kok." Nadine memotong kata-kata Tristan. Ia tahu saat ini Tristan khawatir dan juga merasa bersalah. Semua kejadian yang menimpa Arindi sampai saat ini berhubungan dengannya. "Kejadian kek gitu kita kan ga bisa menduganya. Lo ga usah merasa bersalah, lagian harusnya gue yang terima kasih ke lo. Gue ga tau apa yang terjadi kalo lo ga jemput dia tadi. Ya udah kalo gitu gue masuk dulu."
__ADS_1
Tristan hanya mengangguk lemah sedangkan Nadine berjalan menuju kamar Arindi. Tristan memang tak hanya khawatir ia juga merasa sangat bersalah saat ini. Semua perasaan menyesakkan itu bertumpuk menjadi satu menggelayuti pikiran dan hatinya.
"Kenapa gue selalu membuat dia terluka?" batin Tristan.