Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Pertemuan Dua Pria (3)


__ADS_3

"Nah gitu kan enak kalo senyum," ujar Anggara merasa puas. Arindi dan Tristan, kedua orang itu terlihat seperti bocah kecil di mata Anggara. Sungguh menggemaskan melihat mereka kesal karena keusilannya.


Anggara segera melepaskan tangannya dari leher Arindi. "Suruh tamu lo masuk," ujarnya dingin sambil melirik pada Tristan yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Ia merasa sudah cukup menilai Tristan untuk pertemuan pertama ini.


Tristan yang mendengar kata-kata Anggara barusan jadi merasa heran. "Kenapa gue harus masuk karena dia yang kasih izin," batin Tristan. Alisnya berkerut, matanya tak lepas dari Anggara bahkan saat punggung Anggara mulai menghilang dari pandangannya.


Arindi tahu apa yang membuat Tristan berekspresi seperti itu. Ia pun segera mendekat padanya. "Kak... Udah ya. Arin mohon jangan berpikir yang engga-engga dulu. Nanti pasti Arin jelasin semuanya. Ayo masuk," ujar Arindi sambil memegang lengan Tristan.


Tristan pun mengalihkan pandangannya pada Arindi. Matanya menatap pada mata gadis itu. Mata adalah jendela hati. Saat ini hal yang paling ingin ia ketahui adalah apa isi hati gadis itu dibandingkan penjelasan yang keluar dari mulutnya mengenai situasi saat ini.


Arindi terkejut. Tristan tak bergerak dari tempatnya. Tubuhnya mengeras bahkan saat Arindi berusaha mengajaknya segera masuk. Tatapan matanya dingin pada Arindi. Tristan tak menyadari bahwa wajahnya saat menatap serius pada Arindi seperti sedang menatap pada orang asing. Terlebih lagi Tristan bahkan tak mengatakan apapun saat ini.


Arindi yang menangkap ekspresi itu mulai merasakan sesuatu yang berdenyut dihatinya. Kilasan memori mengenai hal-hal yang membuat Tristan sedih dan kecewa sejak kemarin lalu ditambah ekspresi tak percaya yang terbingkai di wajahnya saat ini, membuat mata Arindi memanas seketika.


Seperti ada dorongan kuat dari dalam diri Arindi. Dorongan yang membuat rasa sedih dan sakit itu tak bisa bertahan lagi di dalam tubuhnya. Akhirnya dorongan itu membuat buliran air mata meluap keluar tak terbendung membanjiri matanya.


Arindi pun menangis terisak. Wajahnya tertunduk. Ia tak ingin terlihat menyedihkan. Meskipun saat ini ia tak bisa membendung keluarnya semua kekesalan dan emosi yang sejak kemarin tertahan dalam dirinya.


Arindi tetap tak ingin melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan Tristan. Ia takut. Takut dengan ketidakpercayaan yang tergambar di wajah Tristan saat ini dan takut akan kehilangan Tristan. Hal itu membuat ia memegang erat tangan besar itu.


"Kak...," ujarnya masih terisak. Ingin rasanya ia menjelaskan semuanya dengan panjang dan lebar, tapi kepercayaan pada dirinya sendiri hilang entah kemana. Mulutnya terlalu kelu untuk menjelaskan situasi saat ini. Ia tak ingin penjelasannya hanya terdengar seperti ia sedang mencari alasan saja.


Tristan kaget melihat buliran air mata yang menggenang jatuh membasahi wajah Arindi saat ini. Seolah telah mendapatkan jawaban yang dicarinya sejak tadi dari mata gadis itu.

__ADS_1


Tristan pun dengan cepat memeluk Arindi. Ia menenggelamkan wajah gadis itu kedalam dadanya yang bidang. Membiarkannya menangis dalam pelukannya.


"Gue emang ga tau apa yang terjadi saat ini. Banyak hal yang pengen gue tanya ke lo. Akal fikiran gue ga bisa nerima ini semua. Tapi untuk saat ini gue cuma ingin memeluk elo Rin karena sampai saat ini hati gue ga bisa berpaling dari lo. Gue percaya dengan apa yang hati gue rasakan saat ini. Itu udah cukup bagi gue," batin Tristan.


"Maafin Arin kak...," ujarnya parau.


Anggara berdiri tak jauh dari sana. Ia mendengar suara isak tangis Arindi meskipun gadis itu menahan suaranya. Ia pun merasa menyesal. "Apa gue udah kelewat batas?" batinnya.


"Rin nanti kita bicara lagi, sekarang buruan masuk gih. Pake pakaian yang bener dulu," ucap Tristan sedikit berbisik.


Arindi pun terkesiap, ia pun menarik kepalanya dari dada Tristan. Matanya memandang pada Tristan. Kata-kata Tristan tadi membuatnya sadar. "Kalo gitu Arin ganti baju dulu, tapi...," ia tidak melanjutkan kata-katanya. Ia ragu dengan pikirannya sendiri.


"Tapi kak... Kakak masuk dulu," ujarnya. Sebenarnya ia ingin mengatakan untuk tidak pergi dan meninggalkannya. Tapi ia masih ragu apa boleh ia berkata begitu.


Anggara yang mendengar bahwa mereka akan segera masuk segera beranjak dari tempatnya berdiri. Dengan sedikit berjinjit ia mendekat ke sofa di ruang tengah lalu duduk dengan tenang.


Saat melihat wajah pria itu, Tristan kembali mengingat perlakuan dan kata-katanya pada Arindi. Emosinya kembali meradang. Namun ia tetap bisa menahannya. Ia harus mendengar penjelasan Arindi dulu sebelum bertindak.


Tristan pun duduk di sofa yang ada di seberang Anggara. Hanya meja bulat putih itu yang memisahkan mereka berdua. Anggara hanya duduk seolah tak perduli dengan keberadaan Tristan. Sedangkan Tristan menatap lurus pada sosok Anggara.


Beberapa menit kemudian Arindi keluar dari kamarnya. Ia langsung menuju ke tempat kedua orang itu berada. Ia pun mengambil tempat duduk di sofa di antara kedua pria itu.


"Kak Tristan... Kak Anggara," ujar Arindi memulai percakapan. Tristan melihat pada Arindi, begitu juga Anggara. Kedua pria itu masih bisa melihat jejak tangisan di wajah Arindi. Matanya yang masih sembab dan hidungnya yang memerah kontras dengan kulit putihnya.

__ADS_1


"Gimana kalo kita mulai dengan bener kali ini," ujar Arindi kemudian.


"Kak," ujar Arindi menatap pada Anggara. "Kakak udah denger kan yang Arin bilang tadi. Kak Tristan ini pacar Arin," jelasnya.


Tristan mendengar penjelasan Arindi dengan penuh ketegangan. Dalam pikirannya tak henti berkelebat hal-hal buruk yang mungkin akan ia dengar selanjutnya tentang Anggara. Sedangkan Anggara tetap bersikap tenang walaupun dalam hatinya sangat penasaran dengan wajah terkejut Tristan saat ia tahu siapa dirinya sebenarnya.


"Kak Tristan... Kak Anggara ini kakak kandung Arin," ujar Arindi tegas seolah ingin cepat menjelaskan semua kesalah pahaman ini.


Tristan pun terkejut mendengar kata-kata itu. Semuanya di luar ekspektasinya. Jadi sikapnya sejak tadi dan kata-kata manisnya pada Arindi tadi tentu saja tidak bisa disalahkan. Ia pun memikirkan semua kata-kata dan sikap yang ia lakukan pada Anggara.


Semua emosi di dalam dirinya lenyap, berganti dengan perasaan bersalah dan malu. Bagaimana mungkin dia bersikap kurang ajar pada kakak dari gadis yang ia sukai. Apa yang harus ia katakan sekarang, pikirnya.


Anggara menelisik wajah bersalah yang tergambar jelas di wajah Tristan sekarang. Dalam hatinya sangat senang sekarang seolah sempurna sudah rencananya untuk mengusili kedua bocah ini. Ia pun menautkan tangannya di atas kakinya yang terlipat. Matanya memandang datar pada Tristan, menunggu respon Tristan setelah mendengar pernyataan Arindi.


"Gue minta maaf." Akhirnya Tristan berkata dengan lantang. Ia tahu ia harus meminta maaf meskipun rasanya ia tak sanggup menatap wajah tenang itu sekarang.


Tak berbeda dengan Tristan, Arindi juga merasakan ketegangan yang serupa. Namun ia tak menyangka Tristan bisa meminta maaf dengan lantang.


"Kakak juga harus minta maaf ke kalian berdua," ujar Anggara singkat. Arindi melongok heran mendengar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut seorang Anggara. "Gue ga salah denger kan?"


Anggara yang tahu bahwa Arindi meragukannya lalu ia melotot tajam ke arah Arindi. "Kenapa? Heran sama kata-kata gue barusan. Jangan seneng dulu, gue belum ngasih restu ya!" lanjutnya lalu berdiri.


Tristan pun berdiri. "Terima kasih kak," ujar Tristan cepat-cepat saat Anggara mulai meninggalkan mereka. Anggara terdiam ditempatnya. Tanpa menoleh ia berkata lagi. "Berani-beraninya lo buat adek gue nangis. Lo langsung berhadapan sama gue!!" Anggara pun berjalan menjauh dan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Wajah Arindi memerah. Rasanya baru kali ini Anggara berkata indah seperti itu. Tristan dan Arindi pun saling bertatapan, senyum mereka merekah layaknya dua insan yang sedang jatuh cinta.


Semua perasaan bersalah, sedih, curiga, khawatir dan takut itu hilang dalam sekejap. Terganti dengan rasa bahagia yang tak terkira.


__ADS_2