Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Rasa Cemburu


__ADS_3

Keesokan pagi, Tristan bertemu dengan pimpinan kampus. Masalah kemarin membuat ia ikut dipanggil karena ia adalah satu-satunya korbannya.


Tubuh Tristan masih terasa sakit, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap datang ke kampus. Lagipula ia yakin obatnya akan membantunya menahan rasa perih yang ia rasakan.


Akhirnya setelah diskusi panjang, telah disepakati bahwa Celyn akan dikeluarkan dari kampus, Tristan tak ingin memperpanjang masalah. Terlebih lagi karena acara pameran yang masih berlangsung dua hari lagi. Ia ingin fokus pada acara, karena ini adalah acara terakhir dimasa jabatannya sebagai ketua BEM.


Setelah menyelesaikan pertemuan dengan pimpinan kampus, Tristan bergegas kembali ke acara.


"Gimana Tan?" ujar Rendy yang menyambut kedatangan Tristan.


"Udah kelar. Hasil akhir Celyn...," suara Tristan terhenti karena Rendy langsung memotong ucapannya tiba-tiba.


"Bukan itu, gue nanya keadaan lo? Kalo lo masih sakit mending istirahat dulu aja Tan, jangan maksain diri," ujar Rendy menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Iya Tan, Rendy bener, lagian kita berdua bisa handle acara disini kok," tambah Joe kemudian.


"Paan sih lo bedua, emang gue selemah itu apa. Lagian ini udah enakan kalo dah minum obat. Kalian bedua tau kan acara ini penting buat gue," sanggah Tristan meyakinkan kedua sahabatnya itu bahwa acara ini benar-benar berarti penting di akhir masa jabatannya sekarang.


Tristan ingin memberikan persembahan terakhir yang terbaik sebelum akhirnya ia melepaskan jabatan sebagai ketua BEM.


"Tapi kesehatan lo lebih penting kali Tan," timpal Joe diiringi anggukan Rendy.


"Udah lo bedua lemah banget, gue ga kan kenapa kenapa, yang penting sekarang kita harus fokus pada acara. Dan oh iyya Celyn di keluarin dari kampus," ucap Tristan teringat hasil rapat tadi.

__ADS_1


"Pokoknya bilang kalo lo merasa ga enak Bro," tegas Rendy. "Trus Celyn, segitu doang? Cuma dikeluarin dari sini? Harusnya dibawa ke pihak yang berwajib Tan, selama dia masih bebas dia masih bisa berbuat kejahatan kan?"


"Udah gapapa, yang penting dia ga akan muncul di kampus ini lagi, gue yang akan pastiin kalo dia ga akan pernah muncul lagi," terang Tristan.


"Ya syukur deh kalo gitu Tan, btw Arindi gimana?" tanya Rendy.


"Arindi?? Diaa...." Tristan sendiri tak tahu bagaimana kabarnya, ia pun melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok Arindi, pagi ini ia belum bertemu dengannya. Jadi ia belum bisa mengatakan kalau Arindi baik-baik saja pada yang lain. Padahal Ia sangat ingin melihat wajah itu pagi ini.


Tristan ingin menghubunginya pagi ini, tapi karena begitu banyak urusan yang harus ia selesaikan dengan para pimpinan di kampus membuatnya lupa untuk sekedar mengecek ponselnya.


"Nyariin Arindi?" celetuk Joe tiba-tiba yang bisa membaca kebingungan di mata Tristan. "Udah tenang, woles bro, dia lagi sama temen-temennya, dia tadi telpon gue mau izin ke kafe depan sebentar," lanjut Joe kemudian.


"Oh engga kok gue...." Tristan berpura-pura menatap ponselnya. Mendengar perkataan Joe barusan seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya saat ini.


Tristan menatap kosong pada layar ponselnya, ia tak melihat ada satupun panggilan atau pesan obrolan dari Arindi pagi ini. Sama sekali.


"Ternyata gue emang berlebihan," batin Tristan lemah.


"Udah ga usah khawatir Tan, mending lu kesana, udah kerja sana, lagian lu dari tadi di cari sama Anggi loh," celetuk Joe kemudian membuyarkan lamunan Tristan.


"Oh yaa... udah kalo gitu gue ke panggung dulu." Tristan pun meninggalkan Joe dan Rendi di belakang panggung dan bergerak menuju ke panggung dengan langkah gontai. Entah kenapa rasanya sedikit sakit pada hatinya.


.

__ADS_1


.


Sementara itu.


"Joe, emang bener Arindi nelpon lu? Ngapain dia nelpon lu? Bukannya Tristan?" tanya Rendy yang dari tadi penasaran akan kebenaran perkataan Joe.


"Weits bro, ya engga lah! Seorang Arindi nelpon gue, ga mungkin banget," jawab Joe dengan santai sambil bersiul siul sendiri.


"Ttrus kenapa lo bilang gitu ke Tristan, wah loh sakit. Si Tristan tuh lagi ga sehat Joe, lo bikin pikiran dia sakit juga." Rendy masih belum peka akan sikap Joe rupanya.


"Weits santai elah, lagian gue becanda doang, gue pengen liat aja reaksi si Tristan gimana. Lu bisa liat kan keliatan kecewa banget kan? tapi masih juga ngeles," jelas Joe pada Rendy.


"Asli lu jahat banget," Rendy memberi tepukan pada kepala Joe.


Joe dengan cepat menangkis serangan Rendy tiba-tiba. "Eh Ren lu kudu tau ya, cinta itu harus dibanyakin bumbu biar makin romantis, nih ya ibarat makanan harus dibanyakin bumbu biar makin sedaaaapp," jawabnya sambil tertawa keras.


"Bumbu?... pala lu tuh dibumbuin biar pinter, cinta disamain sama masakan. Sakit ni anak. Btw lu tau dari mana Arindi ke kafe depan?" tanya Rendy masih penasaran dari mana info yang didapat Joe.


"Yaah gue sih ga sengaja denger kata-kata Nadine tadi pas jemput si Arindi. Lu tau sendiri kan mulut si Nadine kalo ngomong, kaya speaker masjid."


Hhumh,,, gila parah, ga kasian lu sama si jomblo abadi?" ujar Rendy pun ikut terkekeh.


"Tenang Ren, bentar lagi juga lepas kok predikat jomblonya, makan makan kita nanti," Joe tertawa keras.

__ADS_1


Mereka berdua lagi-lagi menertawakan Tristan di belakang. Mereka tak sadar jika ada yang menjadi cemburu karena perbuatan konyol mereka.


__ADS_2