Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Batal Taruhan


__ADS_3

Arindi, Nadine, Rasya dan Vivian ada di kafe Harmoni sekarang.


"Gimana Rin keadaan lo? Lo gapapa kan? Maaf ya sayang gue ga bisa liat semalem. Gue dapet tugas dari Nadine sih," ujar Rasya sambil menyikut Nadine, ia merasa bersalah karena tak ada saat sahabatnya tertimpa musibah.


"Gapapa kok Sya? Kelihatan kan gue sehat ga kurang satu apapun," jawab Arindi sambil mencoba bercanda. "Lagian tugas apaan sih?" ia pun penasaran dengan maksud perkataan Rasya.


"Jadi gini ya Rin, kita lagi menyelidiki keanehan-keanehan yang terjadi disekitar lo. Yah sebagai sahabat kita punya firasat ga enak. Jadi... kemarin gue sama Vivian ke perpus, kita penasaran dengan kejadian lu ketimpa gulungan disana, akhirnya kita cek di ruang cctv, ternyata emang bener si Celyn yang coba jatuhin gulungan itu dari belakang rak," jelas Nadine panjang lebar pada Arindi.


"Bener Arin sayang," Vivian menimpali. "Terus kita juga cek ke cctv depan gedung BEM, kita juga mau menyelidiki keberadaan Celyn di waktu yang tepat pas hp Arin kirim pesan ke dia. Ternyata Celyn emang baru dateng pas dia mau ngelabrak Arin, sebelumnya ga ada tuh Celyn masuk ke gedung. Hanya ada anak BEM yang keluar dari gedung."


"Begitu Rin, truuus nah semalem gue dapet tugas buat nyelidikin cctv di deket gedung serba guna waktu lu kegores pager. Kebetulan toko didepannya punya temen gue. Di rekaman sih ga keliatan Celyn ngikutin elo, dia emang tiba-tiba baru dateng ke lokasi selang beberapa menit kalian disana," jelas Rasya kemudian.


"Astaga teman-temanku yang baik... Gue harus bilang apa ke kalian... Sekali lagi makasih ya... kalian emang sahabat yang baek," ujar Arindi merasa terharu meskipun tubuhnya masih terasa lemas.


Tidur semalam tak membuat Arindi segar dipagi harinya. Entah kenapa, apakah karena ia masih trauma dengan kejadian semalam. Ia memaksakan diri datang ke kampus hanya untuk menemui Tristan, meskipun ia berharap Tristan lebih baik beristirahat di rumah.


"Jadi kesimpulannya Rin, Celyn emang ada niat ga bagus ke elu, terus...." Nadine tak melanjutkan perkataannya. Ia menyadari sesuatu. Sama seperti Vivian dan Rasya sekarang, mereka menyadari bahwa Arindi sedang memaksakan dirinya


Vivian dan Rasya mengedipkan mata ke Nadine, mereka berdua memberi kode agar Nadine tak meneruskan kata-katanya. Sebenarnya tak hanya itu yang mereka lakukan hari itu. Tapi Vivian dan Rasya melihat Arindi masih terlihat tidak fit makanya mereka tidak ingin menambahi beban fikirannya.


"Kita sebenernya mau minta maaf ke Arin," ujar Vivian pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Iiyya," jawab Rasya yang juga merasa bersalah. "Gara- gara taruhan itu lu jadi dalam bahaya, kita udah sepakat buat batalin taruhannya kok Rin."


"Bener Rin, kita ga usah lagi taruhan soal Tristan, udah kapok gue begituan lagi. Gue ga pengen siapapun diantara kita terancam bahaya lagi," jawab Nadine dengan jelas.


Ketiga sahabat itu hanya diam dan tertunduk lemah. Mereka hanya tak menyampaikannya ke Arindi karena takut akan menambahi beban Arindi bahwa mereka semalam bertiga menangis sesenggukan di kamar Rasya. Mereka benar-benar tak tahu harus apa, mereka tak menyangka taruhan kali ini hampir mengancam nyawa seseorang.


"Kalian gapapa?" ujar Arindi kemudian. Ia tahu apa yang sedang difikirkan para sahabatnya, ia juga tak ingin hal buruk terjadi lagi pada mereka.


"Kita yang harusnya tanya gitu ke elu Rin, maaf banget ya sayang." Rasya yang ada disebelah Arindi langsung memeluk Arindi, matanya berkaca kaca dan mulai menangis.


Lalu Vivian pun ikut menangis melihat Rasya menangis. Rupanya tangisan mereka semalam belum bermuara.


Mereka bersahabat sejak dulu. Mereka tidak hanya membuat ikatan persahabatan tapi juga membuat ikatan perasaan yang erat.


"Ke-kenapa kalian nangis sih, gue kan jadi pengen nangis," ujar Arindi mulai serak, matanya mulai berkaca-kaca.


"Eehm sial... gue kelilipan deh kayanya," tukas Nadine.


Nadine pun memeluk mereka. Keempat sahabat itu akhirnya saling berpelukan. Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika salah satu dari mereka akan terluka karena taruhan konyol yang mereka buat sendiri. Selama ini tak pernah ada kejadian seperti ini, akhirnya dari kejadian ini membuat mereka sadar.


.

__ADS_1


.


Entah berapa menit mereka terus menangis sambil berpelukan. Satu dua orang mencuri pandang perbuatan mereka karena heran. Akhirnya setelah semua air mata terkuras habis. Mereka pun duduk dengan tenang di kursi masing masing. Lelah yang teramat sangat menyerang tubuh mereka.


"Tristan gimana, apa dia gapapa setelah kejadian semalem?" tanya Vivian ketika ingat kejadian semalam.


"Udah diobatin sih tapi ya ga bisa di bilang baik juga," jawab Arindi seadanya.


"Trus gimana Rin hubungan lo sama Tristan?" tanya Nadine tiba-tiba sambil membersihkan hidungnya yang terus berair.


"Gimana... gimana maksudnya?" Arindi kebingungan saat Nadine bertanya soal hubungannya dengan Tristan.


"Pasti gimana gimana kan? Gue liat kok semalem Arin di peluk sama Tristan...,"goda Vivian sambil mengedipkan mata sembabnya ke arah Arindi. Hal itu membuat Arindi jadi salah tingkah.


"Haaaah serius???" suara nyaring Rasya melengking tiba-tiba mendengar kata Vivian. " Tuh kan gue ngelewatin adegan romantisya...."


"Paan sih, adegan romantis apaan... pelukan ...." Arindi tak melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya mengingat perasaan saat Tristan memeluk dirinya dengan hangat semalam, membuatnya senyum sendiri. "Pelukan doang kok."


"Pelukan doang? Tapi kok pipinya Arin merah gitu... cieeee grogi yaa...," goda Vivian.


Mereka pun tertawa menggoda Arindi. Membicarakan Tristan membuat Arindi teringat dengan luka Tristan. Ia ingin bertemu dengannya, ia ingin melihat keadaannya sekarang.


"Uhhm gue lupa, gue masih ada kerjaan, kalo gitu gue duluan... sory yaaa...." Arindi pun meninggalkan mereka.


Sahabatnya hanya saling pandang, mereka tahu itu hanya alasan Arindi untuk bertemu Tristan.


Arindi datang ke kampus hari ini karena ia tahu Tristan di panggil petinggi kampus karena masalah semalam, jadi ia ingin menemui Tristan. Itu yang dipikirkan Arindi saat ini, ia tak menyadari bahwa itu adalah perasaannya pada Tristan yang mulai berkembang.


Sesampainya di tempat acara, Arindi terkejut karena ternyata disana sudah sangat ramai bahkan lebih ramai dari hari sebelumnya. Sangat sulit bagi Arindi menemukan sosok itu dalam ramai.


"Dia dimana sih?" batin Arindim


Ia terus mencari kesana kemari ketempat dimana biasa panitia BEM bertugas di acara tapi tak juga melihat sosok Tristan.


Akhirnya ia pun kebelakang panggung menuju ruang persiapan. Mungkin Tristan sedang ada dengan narasumber acara. Ia berlari dengan cepat kesana.


Greeep!!


Belum sampai kesana tak jauh dari ruangan itu, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik seseorang. Ia pun berbalik untuk melihat siapa yang memegang tangannya.


"Hei mau kemana, kenapa lari-lari?"


Tristan berdiri disana, Arindi melihat tangan Tristan mengait ke pergelangan tangannya. Wajahnya tampak sedang heran melihat ke arah Arindi. Arindi pun mengatur napasnya yang kelelahan karena berlari. Ia berbinar melihat wajah yang dicarinya itu.

__ADS_1


Ppfuuuuhhh hah hah hah. Arindi belum bisa menjawab.


"Kenapa lari-lari?" Tristan berjalan lebih mendekat ke Arindi. Tristan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arindi, lalu mengarahkannya ke wajah Arindi. Ia melihat ada beberapa helai rambut Arindi yang keluar dari kuncirannya dan menutupi wajah gadis itu, ia pun membenarkannya ke belakang telinganya Arindi.


Arindi menahan nafasnya yang masih ngos-ngosan. Ia menatap wajah Tristan yang kelihatan heran, ia masih menunggu jawaban Arindi. Arindi ingin segera menjawab tapi sentuhan tangan Tristan membuatnya kehilangan kata-kata.


"Uuhm... tadi cariin kakak," jawabnya singkat.


"Kenapa pake lari-lari? Kenapa ga telepon aja?" tanya Tristan yang sedang berusaha menghilangkan rasa penasarannya mengenai kata-kata Joe tadi.


Arindi tak terpikirkan hal itu, ia hanya ingin melihatnya langsung. Ia ingin bertemu dengannya.


"Gimana keadaan kakak? Obatnya udah diminum?" tanya Arindi malah bertanya balik.


"Sudah kok, perbannya juga udah di ganti," jawab Tristan masih dengan perasaan aneh.


"Uuhm... harusnya kakak istirahat dulu hari ini, kenapa malah datang ke kampus?" seolah tak ada habisnya pertanyaan yang ingin diajukan Arindi.


"Gapapa kok. Lagipula ntar kalo dah lulus ga bisa ngerasain lagi momen kaya gini. Oya tadi dari mana? kata Joe dari kafe depan?" Tristan pun tak tahan lagi, ia pun menanyakan hal yang sejak tadi membuatnya tak tenang.


Tristan pun mencoba mengkonfirmasi sesuatu, kata-kata Joe tadi membuat sesuatu tersangkut di tenggorokanya. Ia ingin mengeluarkannya agar lebih lega.


"Kak Joe? Dia tahu darimana? Tadi emang dari kafe sih," jawab Arindi kemudian.


"Bu-kannya tadi nelpon Joe?" tanya Tristan lagi.


"Nelpon Joe? Siapa?" Arindi Menunjuk pada dirinya sendiri.


Tristan mengangguk ragu sekarang. "Jadi ga ada nelpon Joe?" tegasnya lagi dan di jawab anggukan tak mengerti dari wajah Arindi.


Tristan pun menyadari kalau ia telah di bohongi oleh temannya. Ia merasa malu sekarang karena seolah-olah sedang mencurigai gadis itu.


"Arin aja ga tau nomernya, gimana mau nelpon," jawab Arindi kemudian.


"Tan coaching clinic mau dimulai", seru Andrew yang tiba-tiba datang dari belakang. Tristan yang kaget pun mengangguk saja pada Andrew.


"Uhm kalo gitu... Kakak pergi ke sana dulu", ujar Tristan yang merasa sangat malu. "Udah ketemu kan? Masih ada yang mau di tanyain?" Tristan mencoba menggoda Arindi karena mencoba menghilangkan rasa malunya. Membuat Arindi yang berbalik tersenyum malu.


"Gaa ada kok. Kesana gih, ntar di tungguin," ujarnya singkat membiarkan Tristan pergi.


Tristan pun bergegas menuju ketempat acara. Arindi juga berbalik menuju ketempat lain.


...----------------...

__ADS_1


Sementara itu tadi sebelum Arindi keluar kafe. Ssepasang telinga yang sejak tadi menguping pembicaraan keempat sahabat saat di kafe, tampak begitu tidak senang.


"Giliran nyingkirin lu, tunggu aja waktunya, sekarang puas puasin dulu, tunggu gue keluarin kartu lu, lu tamat." Suara batin seseorang yang sangat tidak ingin Arindi berada di samping Tristan.


__ADS_2