Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Sisi Lainnya


__ADS_3

Arindi terus mengemudikan mobilnya, ia melaju kencang. Ia masih dikuasai emosi. Lampu merah didepan membuat ia memberhentikan mobilnya tiba-tiba beruntung saat itu jalanan tidak terlalu ramai.


Ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan berusaha mengendalikan emosinya. Ia masih ingat ada hal yang harus ia kerjakan saat ini bersama anggota BEM lainnya. Jika ia menurutkan emosinya maka ia bisa menghancurkan semuanya, lagipula ia bukanlah seorang yang tidak profesional.


Setelah merasa sedikit tenang, ia menghubungi kak Anggi, anggota BEM lainnya, karena pergi terburu-buru tadi ia tak sempat menanyakan titik kumpul pada Tristan. Setelah mendapatkan alamatnya, Arindi pun memacu mobilnya kesana.


Sesampainya disana, disebuah gedung serba guna, semua orang sedang sibuk memuat barang ke mobil. Sudah ada Anggi, Rendy, Andrew, Rangga, dan dua anggota lainnya. Ia pun langsung mendekat dan ingin ikut membantu.


"Eh Rin, lu sendiri?" tanya Rendy.


"Iiya."


"Tristan mana? Gue telpon dari tadi ga di angkat-angkat."


"Bener juga, kemana dia... ah paling juga sibuk sama pacarnya si nenek lampir... ga profesional banget... yang laen pada sibuk dia enak-enakan pacaran. Gue ga tau Ren, tadi gue duluan."


"Hooh gitu?"


"Kenapa emang Ren?"


"Kita udah selesai, barang barang udah di muat ke mobil, tinggal beberapa kardus pakaian bekas ini, udah ga muat lagi disana. Nunggu mobil Tristan aja sih, hari juga udah siang banget. Andrew sama Rangga juga mau isi bensin dulu, takut lama ngantri," jelas Rendy.


"Owh kalo gitu biar gue yang tunggu barang-barang ini disini, elu sama yang lain duluan aja, tar ketemu di SPBU aja, Tristan paling bentar lagi sampe," jawab Arindi.


"Ok kalo gitu, tapi lu gapapa disini sendiri?"


"Gapapa kok. Duluan aja."


"Ok kami duluan ya."


Arindi kini sendiri setelah yang lainnya pergi lebih dulu. Ia pun duduk disebuah kursi plastik dibawah pohon tak jauh dari mobilnya di parkir. Jam tangannya menunjukkan pukul satu siang. Ia pun mengecek media sosialnya di hp sembari menunggu.


"Masih lama ga sih?"


Ia mulai bosan, lima belas menit telah berlalu. Tak lama suara mobil memasuki lapangan. Bruuumm!! Sebuah mobil dobel gardan mendekat ke mobilnya. Mobil pun berhenti, Tristan turun dari mobil, ia mendekati Arindi.


"Dateng juga yang abis pacaran, enak ya, ga tau disini udah kek ikan asin dijemur. Udah dateng telat pasti mau marah lagi ke gue. Gue ga akan minta maaf ke cewe lu sekalipun lu yang minta maaf."


"Lo gapapa Rin?"


Pertanyaan tidak terduga yang diberikan Tristan membuat Arindi heran, tak sesuai ekspektasi.


"Tumben ga marah marah?" batin Arindi lagi.


"Gue minta maaf soal yang tadi," ujar Tristan.


"Bener gue bilang, belain aja terus pacar lo, segitu sukanya ya sama nenek lampir sampe elu yang harus minta maaf ngegantiin dia. Maaf? Ga usah repot-repot minta maaf, gue ga akan pernah maafin dia."


"Ha? Dia?... Gue kok yang minta maaf, tangan gue tadi nyakitin lo ga? Maaf kalo gue kasar tadi," ujar Tristan menjelaskan.


"Hah? Tangan? Owh jadi maksudnya tangannya tadi? Dia minta maaf untuk itu? Oh... tangan gue gapapa kok. Kok jadi gini? Oya harusnya gue yang minta maaf, gue tadi juga kasar ke kakak, apa ... Kakak gapapa?"


Arindi merasa bersalah, Tristan ternyata mengkhawatirkan dirinya tapi ia malah berpikir yang tidak baik soal Tristan padahal seharusnya ia juga minta maaf karena telah mendorong dengan kuat helm kedada Tristan. Ia sekali lagi memikirkan egonya sendiri dan mengambil kesimpulan sendiri. Mungkin karena Celyn alasan ia berpikir negatif ke Tristan.


"Gapapa, badan gue kuat kok."


"Kayanya gue nyusahin kakak terus." Arindi hanya menunduk merenungi kesalah pahamannya. Tristan tersenyum melihat Arindi merasa bersalah. Dalam hatinya sangat senang melihat Arindi baik-baik saja. Sejak tadi ia mengkhawatirkan gadis itu akan membencinya karena sikap tidak sopannya.


Setelah Tristan yakin Arindi tak apa ia pun mengajak Arindi berkemas lalu menyusul teman yang lain yang mungkin sudah menunggu lama.


...----------------...


Setelah semua berkumpul kami pun menuju lokasi bencana, karena medan yang berat, menurut informasi yang didapat, perjalanan bisa memakan waktu kira kira satu jam atau lebih.


Arindi dan Tristan hanya berdua didalam mobil. Tristan fokus mengendarai mobilnya karena medan yang sulit. Arindi pun hanya fokus menatap kedepan, ia juga cukup takut dan hanya berpegangan.


"Lo gapapa? Jalan kedepan udah bagus kok," jelas Tristan.


"I-iya gapapa," ujar Arindi tersenyum cemas.


"Oh iya."


Tristan mengambil sesuatu dari dalam tas punggung di sampingnya dengan satu tangannya. Ia pun mengeluarkannya, sebungkus cokelat yang sangat disukai Arindi.


"Nih buat lo, lo belom makan kan?"


"Cokelat, kapan dia? Cokelat? Kapan belinya? btw makasih ya kak, ini beneran buat gue?"


"Tadi sih gue beli, dideket sini. Iya buat lo."


"Deket sini? Boong banget, ini tuh jelas jelas toko cokelat dekat apartemen gue. Jadi ini alasan dia telat tadi, gue jadi makin merasa bersalah kan kalo gini. Setau gue ini cokelat homemade yang cuma di buat di toko roti deket apartemen gue."


"Ada juga kok deket sini," jawab Tristan.


Arindi memberi tatapan curiga padanya menandakan kalau ia tahu Tristan sedang berbohong.


"Iya sih gue beli disana."


Tristan pun tersenyum karena tak bisa berbohong saat Arindi memberi tatapan seperti itu.


"Jauh banget kan, jadi telat tadi karena ini? tapi makasih cokelatnya. Lo bela-belain beli cokelat buat apa coba? Merasa bersalah? So sweet banget sih....ah apaan, biasa aja ah, jangan baper, dia biasa gitu ke cewe cewe mungkin, tipe tipe cowok brengsek banget sih."


"Ga jauh kok, makan aja."


Bukan Arindi namanya kalau tidak gampang mengambil kesimpulan. Ia tak pernah merasakan ketulusan Tristan, ia tak menyadari betapa khawatirnya Tristan karena kejadian tadi.


...----------------...


Tak terasa kami tiba di daerah bencana. Suasana cukup ramai, terlihat banyak anggota Basarnas sibuk membenahi sisa longsor, banyak warga berkerumun. Kedatangan Tristan dkk disambut baik di tenda pengungsian.


"Tan, lu berdua aja? Joe mana?" tanya Rendy.

__ADS_1


"Ehm, Joe bilang dia ga bisa ikut, nyokapnya masuk rumah sakit lagi."


"Owwh, jadi lu berdua Arindi doang, makin deket aja kayanya Tan? Nempel terus bang kaya prangko."


"Apaan sih Ren," elak Tristan.


Rendi menggoda Tristan yang sedang sibuk menurunkan barang dari mobil. Setelah itu Tristan dan beberapa anggota lain duduk disalah satu tenda bertemu dengan pejabat desa dan warga yang tertimpa bencana.


Setelah ikut membantu, Arindi duduk di sebuah bangku kayu di pos kamling yang sudah tua tak jauh dari tenda warga. Ia duduk memandang kesekitar. Ia tak pernah menyangka dalam hidupnya akan pergi ke tempat seperti ini. Ia juga tak pernah merasakan aura keterpurukan dan kesengsaraan begitu dekat seperti ini. Ia hanya berdiam merenunginya.


Di tenda sepertinya pembicaraan telah usai, Tristan dan anggota lain sedang mencoba menghibur anak-anak korban bencana. Tristan tampak tertawa bersama mereka, ia bermain gitar milik Rendi, mereka bernyanyi bersama anak-anak itu.


"Dia bisa senyum selebar itu? Baru kali ini gue liat ekpresi itu? Apa itu bener dia?" Arindi tersenyum memandangnya.


Arindi pun mengeluarkan buku sketsanya, ia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia mulai mencoret-coret.


"Lagi apa Rin." Suara kak Anggi mengejutkan Arindi yang sedang menambahkan detail dan menyempurnakan garis sketsanya.


"Kak Anggi... uhm lagi buat ini kak."


"Owh keren, oiya lu anak seni ya, detail banget gambarnya."


"Asalkan gue langsung menggambarnya setelah melihatnya bisa kok kak."


"Lu emang berbakat. Oh lu ngegambar mereka?" Anggi meNunjuk ke tenda sambil menatap hasil gambaran Arindi.


"Hemh, gue ga pernah liat ekspresi kak Tristan gitu jadi gue iseng aja...."


"Beneran? Berarti lu ga kenal dia, dia emang gitu kok, gue udah cukup lama kenal jadi ya udah tahu dia gitu sih."


"Haha iya ya. Mungkin ga ke semua orang juga dia gitu."


"Emang kalo ke lo gimana dianya?"


"Kaya harimau kelaparan, dan gue mangsanya, gue berasa mau dimakan sama dia."


"Beneran? Hahahaha lo bisa aja, dia gak gitu kok... serius... ya udah ya kak kesana dulu lanjutin aja gambarnya.


Anggi pun meninggalkannya, ia salah satu senior yang cukup nyaman diajak berbicara, karena ia orang yang ceria. Arindi pun sering bertanya padanya perihal kegiatan BEM yang dia ga paham. Arindi melanjutkan kembali coretannya.


Setelah beberapa lama, Tristan dkk pun berpamitan untuk pulang. Arindi menunggu Tristan yang sedang berbicara dengan anggota lain di dekat mobil Andrew. Arindi berdiri di samping pintu mobil Tristan. Jam tangannya menunjukkan pukul enam lewat. Udara sedikit dingin karena cuaca mendung, Arindi pun melipat rapat tangannya ke perutnya.


Tristan menyudahi obrolan dengan yang lain, dari kejauhan ia bisa melihat Arindi tak tahan dengan hembusan angin malam.


"Sori lama Rin, ayo naik," ajak Tristan.


"Hemmh gapapa kok," jawab Arindi.


"Kak Tristan!!" Suara Anggi memanggil, ia menghampiri kami.


"Kenapa Nggi?"


"Kakak berdua aja kan?" tanya Anggi.


"Kak, Anggi ikut kakak aja ya, sekalian pulang, rumah kita kan searah," ujar Anggi sambil tersenyum ceria.


"Owh ya udah."


Arindi hanya tersenyum melihat Anggi yang terlihat sangat ceria. Mereka pun masuk ke mobil, Anggi duduk tepat di belakang Tristan.


Mobil bergerak perlahan karena malam dan medan yang kurang bagus.


"Kalo mo tidur gapapa, tidur aja. Si Anggi kayanya udah tidur tuh," tegur Tristan.


Arindi menoleh ke belakang dan melihat Anggi sudah tertidur.


"Engga ngantuk kok. Owh ya rumah kakak searah ya sama kak Anggi?"


"Iya."


"Owh gitu."


"Kenapa?"


"Berarti udah lama kenal ya?"


"Lumayan lama sih, dia adik kelas waktu SMA dan sekarang jadi adik tingkat karena satu fakultas," jelas Tristan.


Arindi membulatkan mulutnya. Ia tak menjawab apapun. Entah kenapa ia merasa obrolan itu tak menyenangkan untuk didengar.


"Sudah selama itu ya? Pantes udah tau baik buruknya Tristan.


...----------------...


Tristan pun mengantarkan Arindi ke mobilnya yang masih terparkir di halaman gedung serba guna. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Arindi dan Tristan turun dari mobil, Anggi sepertinya masih tertidur pulas dalam mobil. Tristan memarkirkan mobilnya didepan pintu gerbang masuk, mereka tak bisa masuk karena pintu itu sudah di gembok ternyata.


"Gimana nih?" tanya Arindi.


"Tar gue telpon pak Latif pemegang kunci."


Tristan mencoba menghubungi pemegang kunci yang sudah dikenalnya, karena ia beberapa kali sudah meminjam gedung ini untuk kegiatan amal.


"Ga di angkat. Ntar gue coba lagi."


Arindi kelihatan gelisah. Ia mondar mandir karena panik. Tristan pun memutuskan sambungannya karena pak Latif tak kunjung mengangkat telponnya.


"Gimana kak?"


"Belom di angkat sih, kita tunggu aja sebentar lagi. Ke mobil aja dulu."


Arindi dan Tristan baru saja akan berjalan ke mobil, tiba-tiba sebuah lampu mobil datang mendekat dan menyorot ke arah mereka berdua dan membuat mereka mengangkat tangan menutup cahaya yang membuat mata silau. Mesin mobil mati, cahaya lampu pun padam. Sesosok wanita turun dari mobil. Wanita yang dikenal Arindi dan juga Tristan.

__ADS_1


Wanita itu penuh emosi mendekat ke arah Arindi.


"Celyn lu ngapain disini?" ujar Tristan kaget.


Celyn tak menjawab pertanyaan Tristan, ia terus saja berjalan ke arah Arindi lalu tiba-tiba mendorong Arindi ke arah pagar besi tua yang ada dibelakang Arindi.


"Cewek ******!!!" jerit Celyn melengking marah.


"Celyn!!" bentak Tristan kasar.


Awww!!


Lengan bawah Arindi membentur besi yang mencuat di antara jeruji besi pagar itu. Walau tak membuatnya jatuh karena Tristan dengan sigap menangkap tubuh Arindi yang tak siap dengan serangan tiba-tiba itu, tapi tangannya tergores, walau tak dalam tapi cukup membuatnya tergores dan luka.


Tristan memegang kuat kedua pundak Arindi dengan kedua tangannya. Ia melihat tangan Arindi yang terluka lalu menatap tajam ke Celyn. Sedangkan Celyn semakin emosi melihat Tristan membantu Arindi.


"Lu apa apaan sih Cel? Lu gila?" bentak Tristan lagi.


"Iya emang gila? Kenapa? Lu baru tau? Kalo tau kenapa lu gini ke gue Tan? Dan lo...."


Tangan Celyn akan menunjuk ke Arindi lagi, tapi Tristan dengan cepat berdiri membelakangi Arindi, menutupinya dari tangan Celyn. Celyn pun terkejut dan semakin emosi.


"Kenapa lu ngelindungin dia? Minggir ga lo Tan."


"Lo yang minggir," ujar Tristan. "Lo dateng-dateng melabrak orang, lo beneran gila Cel. Udah gue ingetin elo dan lo makin nekat?"


"Kenapa kak?" Anggi yang turun dari mobil tiba-tiba melihat semuanya langsung gelagapan, keceriaannya serta merta hilang. Ia hampir menangis melihat Arindi terluka. Ia panik.


"Kenapa lu selalu ngelindungin dia?" teriak Celyn lagi.


"Rin lu gapapa? Kak Celyn, udah kak, malu diliat orang, udah ya kak. Kak...," bujuk Anggi.


Ia menahan Celyn dengan panik. Ia kenal Celyn cukup lama sejak ia bergabung jadi anggota BEM. Ia sering bertemu Celyn yang datang melihat Tristan. Ia juga cukup tahu soal dinginnya Tristan padanya dan obsesi Celyn ke Tristan.


"Lepasin gue, gue mau buat peritungan dengan cewek ****** itu," ujar Celyn.


"Udah kak, ayo pulang," bujuk Anggi.


Tristan berbalik menatap Arindi. Ia merasa tenang karena Anggi sudah memegang Celyn. Ia sangat khawatir melihat kondisi Arindi sekarang.


"Kita ke rumah sakit," ujar Tristan.


"Ga usah!" ujar Arindi dingin, bergetar menahan emosi.


Arindi tidak merasakan sakit ditangannya, lebih dari itu hatinya lebih sakit. Emosinya sudah memuncak, kalau saja tadi Tristan tak memunggunginya ia pasti sudah mematahkan jari telunjuk Celyn.


"Kak Celyn ayo pulang kak," Anggi masih membujuk.


"Lu tunggu aja, lu bakal mati ditangan gue," teriak Celyn.


Anggi masih membujuk Celyn untuk pulang. Ia menggeret Celyn ke mobilnya. Tak lama mereka pun beranjak dari tempat itu.


Arindi masih menegang di tempatnya. Tristan mencoba membujuknya.


"Rin ayolah Rin kita obati luka lu," ujar Tristan.


"Gue bilang ga usah!" ujar Arindi setengah menjerit.


Arindi pun menatap dingin pada Tristan. Tristan sangat panik, ia tak tahu bagaimana cara meredakan emosi gadis dihadapannya ini. Ia pun mengambil hp nya dan mencari nama seseorang di kontak hp-nya. Tiba-tiba seorang bapak tua datang mendekat.


"Nak Tristan."


Tristan menoleh ke arah bapak tua yang menegurnya. Begitu pun Arindi, ia kaget.


"Pak Latif," ujar Tristan.


"Maaf, bapak ndak tau nak Tristan nelpon, aduh ini kenapa temannya?"


Ia menatap pada Arindi. Arindi menatap tak enak hati pada bapak tua itu, ia merasa malu pada bapak itu karena nada tingginya ke Tristan barusan.


"Aduh nak, ayo di obatin dulu tangannya, ayo nak ajak temannya ke rumah bapak. Di rumah ada perlatan P3K."


Ia menepuk pundak Tristan, memberi tanda untuk mengikutinya. Tristan pun mencoba berbicara pada Arindi lagi.


"Rin, kalo ga mau ke rumah sakit, kita ke tempat Pak Latif dulu, luka lu harus segera di obati."


Arindi hanya mengikuti saat lengan Tristan dengan lembut menyentuh punggungnya.


...----------------...


"Diobati dulu tangannya."


Pak Latif memberikan sekotak perlatan P3K, lalu ia masuk kedalam untuk membuat minuman hangat. Pak Latif adalah penjaga gedung serba guna ini. Rumahnya persis di samping pagar gedung ini. Di rumah ini ia hanya tinggal sendiri. Istrinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, anaknya kerja di kota lain.


Tristan duduk di samping Arindi, setengah menghadap Arindi, di sebuah balai bambu yang ada di teras rumah pak Latif. Ia sedang mengobati luka Arindi. Ia membersihkan lukanya dengan hati-hati, memberinya obat dan menutupnya dengan plester.


Arindi hanya memperhatikan saat Tristan merawatnya. Ia memandangi wajah Tristan, terlihat kekhawatiran di wajah tampannya. Keringatnya mengalir di samping pelipis matanya saat ia menunduk mengoleskan obat luka ke tangan Arindi. Udara dingin tapi Tristan berkeringat karena cemas.


Entah kenapa Arindi terpukau saat melihat wajah itu dari dekat. Ia merasakan ekspresi yang tergambar dengan tulus dari wajah itu. Arindi tersenyum tipis sambil terus mengamatinya. Emosinya yang meluap luap tadi menguap entah kemana saat memandang wajah itu.


"Gue udah coba obati lukanya, tapi kalo bisa lo ke rumah sakit nanti." Tristan telah selesai dan ia mengangkat kepalanya melihat ke Arindi yang sedang menatapinya. Tristan terkejut saat tahu Arindi sedang mengamatinya. Mereka pun saling bertatapan. Lagi lagi Tristan merasakan detakan jantungnya berirama tak menentu setiap kali melihat kedalam mata itu.


"Oh? Oh... ehem... I-iya makasih kak."


Arindi mengalihkan matanya ketempat lain, mencoba bersikap natural. Ia tersadar telah memandangi Tristan begitu lama, ia pun merasa malu saat Tristan membalas tatapannya.


"Gue kenapa sih?" batin Arindi.


"Lu bisa bawa mobil?" tanya Tristan.


"I-iya bisa. Lagian ini sudah di obati."

__ADS_1


Tristan pun merapikan kotak P3K. Malam itu pak Latif menjamu mereka dengan minuman hangat. Tristan pun mengantar Arindi pulang setelahnya, mobilnya Mengikuti dibelakang mobil Arindi, memastikan Arindi pulang dengan selamat.


Ia tak berhenti khawatir meski ia sudah yakin mengobati luka gores itu dengan benar. Tapi ia sedikit tersenyum saat ingat tatapan Arindi yang begitu dalam padanya.


__ADS_2