
Hari pertama acara Gelaran Seni Budaya berjalan dengan sangat meriah. Semua panitia sibuk dengan tugas masing-masing, termasuk Arindi. Pagi-pagi sekali ia sudah ada di kampus karena ia adalah salah satu panitia di acara tersebut.
Hari tak terasa sudah pukul satu siang. Matahari bersinar sangat terang. Arindi membenarkan topi hitam yang dipakainya. Ia harus menutupi wajahnya jika tidak ingin wajahnya gosong, rambutnya dikuncir kuda karena ia mulai merasa gerah.
Sisa sakit hati kemarin masih terasa menyesakkan, untuk itu hari ini ia sengaja menghindari Tristan. Semakin melihat pria itu semakin sesak dadanya. Jika tak sengaja bertemu Tristan ia akan menundukkan kepalanya, menyembunyikannya dibawah topinya.
"Hei...."
Suara Rasya mengejutkan Arindi yang sedang duduk di stan lukisan tak jauh dari panggung. Ia kelelahan karena sibuk mondar-mandir di hari panas ini.
"Hei Sya." Arindi menjawab lemah. "Darimana aja? Sendiri? Nadine sama Vivi mana?" Ia tak melihat dua sahabatnya yang lain.
"Heemh... ga tau, ada kerjaan katanya. Sory ya semalem gue ga ke tempat lo, gue selesain maket sih semalem," jawab Rasya.
"Iyya udah tau kok, it's ok." Arindi merasa badannya benar-benar terasa lemah saat ini, dengan kedatangan sahabatnya ini ia berharap akan jadi lebih baik dan tidak akan terpikirkan hal yang membuat hatinya sakit.
"Kenapa lemes banget sih, kemaren kemaren excited banget. Cape ya jadi panitia?" Rasya heran melihat Arindi yang terlihat tak tertarik dengan hingar bingar acara yang diadakan oleh kampusnya ini.
Bisa dibilang Gelaran Seni Budaya kampus mereka adalah salah satu acara bergengsi yang diadakan oleh anak anak BEM, jadi acara ini selalu ramai pengunjungnya setiap kali digelar.
"Ga kok, gue lelah aja. Ga seberapa sih capenya... dibanding cape hati."
Rasya pun duduk disampingnya, ia mengangkat kamera yang dibawanya, mengambil gambar kerumunan manusia di bawah panggung yang ada dihadapan mereka.
"Eh eh liat deh di atas panggung, itu Tristan kan? Mau ngapain dia? Kayanya mau perform deh Rin," tunjuk Rasya ke atas panggung.
"Owhh ya kali, gue ga tau...."Arindi hanya menjawab cuek tak perduli.
"Loh kok gitu ekspresinya, iiih... gitu banget sih, kan lo panitia masa ga tau kalo ketua lo ada nampil di acara sebesar ini?" goda Rasya kemudian.
"Ya ga semuanya juga gue yang urus, palagi ngurusin dia, ngapain coba." Jawaban Arindi sedikit ngegas.
Rasya yang mendengar jawaban itu bukannya mengerti nalah makin menggoda Arindi. "Ciee lagi marahan ya... Eh eh eh btw dia mau nyanyi loh.... Liat deh Rin, beneran mau nyanyi kayanya." Rasya heboh sendiri melihat Tristan di atas panggung, ia tak perduli seberapa kesal Arindi melihat Tristan.
__ADS_1
Arindi hanya bersandar malas di kursinya, ia melipat kakinya, kepalanya tertunduk melihat layar hp yang dimainkannya. Ia berpura-pura tak memerdulikan kata-kata Rasya.
Sementara itu Tristan diminta untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan suara emasnya di atas panggung secara tiba-tiba. Ia tidak ingin melakukannya tapi semua orang menjeritkan namanya, ia pun hanya setuju pada akhirnya.
Tristan pun naik ke panggung, ia mengambil gitar akustik yang ada di atas panggung. Ia mulai mencoba menyetel gitarnya, setelah dirasa pas ia pun memberi salam pada penonton.
"Cek... ehm selamat siang, gue Tristan, uhhmm gue ga ada rencana sebenernya buat berdiri disini jadi maaf kalo suara gue ga enak didenger," ujar Tristan dengan suara baritonnya yang dalam yang tentu sangat menggoda.
Semua orang pun bertepuk tangan menyemangatinya. Tristan hanya mencoba tersenyum, ia mengedarkan matanya, mencari sosok yang ada di pikirannya saat ini. Sebenarnya ia gelisah, ia bisa merasakan Arindi selalu menghindarinya sepanjang ini.
Tak lama ia pun menemukan sosok Arindi jauh disana, dibawah payung tenda di stan makanan. Ia bisa mengenalinya meski dari jauh. Ia pun mulai memetik gitarnya. Tristan pun bernyanyi.
...🎶 Senyumanmu yang indah bagaikan candu...
...Ingin terus kulihat walau......
...Ku berandai kau disini mengobati rindu ruai...
...Perasaan yang tak jua di dengar...
...Tak kan apa bila rasa ini tumbuh sendirinya...
...Tak berdaya diri bila di antara...
...Walau itu hanya bayang bayangmu...
...Senyumanmu yang indah bagaikan candu...
...Ingin trus ku lihat walau dari jauh...
...Skarang aku pun sadari semua hanya mimpiku yang berkhayallah kan bisa bersamamu🎶...
Semua orang ikut bernyanyi bersamanya. Seakan terhanyut dengan bait lagu yang dinyanyikan Tristan dengan penuh perasaan. Walau itu lagu lama, entah kenapa Tristan ingin menyanyikan lagu itu.
__ADS_1
Saat Tristan mulai menyanyikan intro lagu, Arindi tersentak. Entah mengapa ia merasa seakan lagu itu berbicara padanya. Ia pun mengangkat kepalanya. Ia melihat Tristan dari jauh sedang bernyanyi dan Tristan sedang melihat ke arah Arindi.
"Apa dia ngeliat ke gue? Emang keliatan? Gue kok baper banget sih. Ga mungkin gitu," batin Arindi sambil menatap lurus pada Tristan.
"Wah Rin, keren deh, serius suaranya bagus banget." Rasya menyikut Arindi.
"Biasa aja kaleeee...." Arindi membalas cuek, ia tak ingin terlihat sedang menatap pada Tristan, ia pun menundukkan kembali kepalanya.
"Serius gue, liat deh... dia liatin elu kayanya, wuiihhh gilak banget, kalo gue diliatin pake dinyanyiin gitu pasti dah klepek klepek Rin." Goda Rasya lagi, sepertinya ia belum puas kalo Arindi belum mengeluarkan emosinya.
"Apaan sih, Sya," ia masih menolak mentah-mentah perkataan Rasya sambil terus berpura-pura memainkan ponselnya.
Arindi merasa senang sesaat. Tapi ia tak ingin mengakuinya. Ia membantah luapan perasaan bahagia yang entah datang darimana tiba-tiba memenuhi tubuhnya.
"Humh, jangan tertipu, paling juga lagunya buat si nenek lampir.... Ih kok gue malah mikirin nenek lampir deh... eerrggh... gue kenapa sih...."
Suara tepuk tangan riuh memberi apresiasi atas penampilan Tristan barusan, Tristan telah selesai bernyanyi tapi Arindi masih pura-pura tak perduli.
"Sya kesana yuk," tiba-tiba ujar Arindi yang mulai merasa tak karuan.
"Kemana?"
"Beli camilan atau apalah gitu kek, laper gue." Arindi berpikir mungkin dengan memakan sesuatu suasana hatinya jadi lebih baik.
"Ya udah sih... hayuuuuk... Tapi yakin gak mau nyamperin Tristan dulu, udah di kasih lagu looh padahal, emang belum kenyang," goda Rasya lagi sambil menggandeng lengan Arindi.
"Lo mau mati...." Dengan cepat Arindi melingkarkan lengannya ke leher Rasya.
"Engga engga Rin, ampun... Hahahhah." Rasya senang menggoda Arindi yang sedang dilanda perasaan bingung seperti sekarang.
Akhirnya Arindi dan Rasya pun pergi ke stan makanan membeli beberapa camilan. Setelah selesai makan, mereka berdua berpisah karena Arindi masih sibuk dengan pekerjaannya begitu juga Rasya
...---------------_...
__ADS_1