Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Alergi Bulu Kucing


__ADS_3

Satu minggu yang berat telah berlalu. Arindi dan sahabatnya baru menyelesaikan kuis pertama di semester ini. Hari ini, sabtu, pagi-pagi sekali Arindi sudah ada di studio Rasya, ia ingin melanjutkan projek lukisannya. Cat minyak di lapisan pertama sudah mengeras, ia akan mengerjakan lapisan selanjutnya. Gambarannya masih terlihat kasar.


"Wuaaahhh semangat banget anak ini, pagi-pagi udah disini aja, gue yang punya studio sampe kalah."


Suara Rasya dibelakang yang baru saja masuk membawa secangkir kopi hangat. Ia melihat Arindi penuh semangat menyapukan kuasnya kesana kesini.


"Mau ngopi Say?" tanya Rasya


"Ogah gue, minuman lu kek orang tua," balas Arindi.


"Iidih, sok muda. Btw ni lukisan apaan Rin?"


"Tar juga tau kalo udah selesai."


"Truuus kapan selesainya?"


"Belom tau, mungkin seminggu, sebulan atau dua bulan lagi."


"Aaaah lama, keburu tua gue."


"Eeeemang udah tua kan? Hahahaha...." Arindi menertawai Rasya.


"Ngelunjak ni anak, btw besok lu ga ada kerjaan kan Rin?"


"Ada nih depan gue," tunjuk Arindi pada lukisan didepannya.


"Bukan itu, gue mau minta temenin lu ke kontes foto besok?"


"Dimana?"


"Gedung dinas pariwisata."


"Nadine kemana?"


"Ada acara klub motor. Vivi ada acara klubnya juga, kan cuma lu yang nganggur?" Rasya mencoba menggoda Arindi.


"Well, semua punya klub hobi masing-masing, apa cuma gue disini yang idupnya terlalu santai?"


Arindi memang tak terlibat dalam satu klub seni apapun, karena satu satunya yang ia suka adalah melukis, jika punya waktu luang yang ia lakukan adalah melukis.


Ia lebih suka berkeliling sendirian hanya untuk mencari objek yang bagus. Ia pernah mencoba melukis di stasiun kereta api, di atap sebuah gedung tinggi, di halaman bermain sebuah TK, di pantai, di mall bahkan di tengah pasar.


Semua tempat ia datangi jika jiwa seninya sudah meronta-ronta keluar selain itu karena ia termasuk penganut aliran naturalisme dan realisme dalam melukis.


Alasan lainnya karena ia tidak suka terikat dengan sesuatu, yang mana menurutnya hobinya itu menuntut kebebasan, dalam berimajinasi ataupun bergerak.


"Kenyataannya gitu. Lagian Rin ga cuma kontes foto, ada pameran seni budaya, mural, lukis sketsa, fashion show dan lain lain deh. Lu besok bisa ikut lukis melukis disana, dan jangan lupa pake baju yang cantik", jelas Rasya pada Arindi yang terdengar tak tertarik.


"Baju cantik gimana maksudnya? Emang gue mau ikut fashion show?" Arindi pun berbalik melihat ke Rasya yang masih menyesap kopinya.


"Hhemhh jadi gini, gue mau jadiin lu objek foto gue, lu yang lagi melukis, pasti cantik banget, makanya pake dress yang cantik ya."


"Heeemmh," Arindi berpikir sejenak. "Ok lah."


Arindi hanya mengiyakan, asal menyetujui saja. Tak ada salahnya bagi ia menuruti kemauan sahabatnya yang sangat perfect soal fashion ini. Lagi pula ia ingin bersantai setelah satu minggu berkutat dengan kuliah.


...----------------...


Pukul 7 pagi, hari Minggu, gedung Dinas Pariwisata.


Rasya sedang memeriksa dan mempersiapkan kameranya. Disampingnya Arindi ikut memeriksa kamera lainnya. Hari ini ia benar-benar menuruti kata Rasya, ia memakai sebuah midi lace dress berwarna putih, berlengan pendek sangat kontras dengan rambut hitamnya yang bergaya messy bun.


Riasan yang dia pakai adalah riasan natural, hanya agar kulitnya tak terlihat pucat. Lalu sebuah sneakers berwarna hitam putih. Sesuai dengan harapan Rasya, tampilannya sempurna untuk jadi objek foto.


"Perfect. Gue suka gaya lo," puji Rasya sambil mengacungkan jempol ke arah Arindi.


"Gini-gini gue pro. Kalo diminta jadi model yaaa gue bisa lah tampil OP."


"Iya deh, sahabat gue ini emang ga ada duanya."


"Ya dong, btw Sya kali ini temanya apaan?"


"Budaya dan Fashion. Seru kan?"


"Heeemmh. Ya udah gue kesana dulu ya, nih kamera lu dah siap."


Arindi pun meninggalkan Rasya, ia menuju ke stan melukis. Setiba disana sudah ada beberapa peserta, mereka duduk di tempat yang telah disediakan panitia dengan kanvas kosong didepannya. Arindi pun mengambil tempat.


Siang itu juga Tristan dan Andrew datang kesana. Andrew juga ikut kontes foto. Tristan hanya menemani, ia suka dengan fotograpi tapi ia belum yakin dengan kemampuannya, jadi ia hanya berlatih mengambil gambar saja.


Tristan pun hanya berkeliling mencoba mengambil foto disekitar. Ia pun tiba di stan melukis. Ia mencoba mengambil foto peserta yang sedang melukis, tiba-tiba kameranya menangkap gambar seseorang yang ia kenal.


"Arindi?" Bisiknya dalam hati. Ia pun mencoba menembus kerumunan agar bisa melihat dari dekat untuk memastikan apa yang dilihatnya. Disana Arindi terlihat sangat fokus dengan lukisannya. Tristan mengangkat kameranya lalu mengarahkan bidikan kameranya pada Arindi. Arindi tak menyadari bahwa dirinya menjadi objek jepretan kamera Tristan.


"Cantik," ujar Tristan dalam hati.


Tristan tersenyum melihat hasil jepretannya, Arindi terlihat cantik di kameranya. Ia benar-benar terpukau melihat visual gadis itu. Ia pun mengambil beberapa foto Arindi dari berbagai sudut.


Arindi hampir menyelesaikan lukisannya. Ia meregangkan jari jemarinya dan mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja matanya melihat Tristan yang sedang mereview gambar di kameranya.


"Tristan?"


Ia senang melihat sosok itu, ia pun menunggu Tristan melihatnya. Tak lama Tristan melihat Arindi. Tristan kaget karena ternyata Arindi juga sedang melihatnya. Arindi pun melambai kepadanya, Tristan membalas lambaian tangannya.


"Tunggu disana," Arindi menggerakkan bibirnya, berkata tanpa suara sambil menunjuk ke posisi Tristan. Tristan menangkap maksudnya, ia pun memberi kode dengan tangannya bahwa ia mengerti.


Selesai melukis, Arindi membereskan peralatannya. Ia mendatangi Tristan yang sedang menunggunya.


"Kak Tristan, udah lama dateng?"


"Oh iya lumayan, dari pagi." Ia masih tak percaya Arindi gadis kasar itu sekarang berubah menjadi seramah ini.


"Kakak sendirian aja? Atau sama siapa gitu?"


"Sama si Andrew, dia ikut kontes foto."


"Owhh, kakak ga ikut?"Arindi melihat ke kameranya.


*Uhm gue ga mahir sih, iseng aja bawa."


"Yaa gapapa kak, itung itung latihan."


"Uhm ga kok, ini lagi coba coba aja."


"Owhya? boleh gue liat hasilnya?"

__ADS_1


"Hhah?"


Tristan baru ingat dari tadi ia mengambil beberapa foto Arindi diam-diam, ia merasa malu jika Arindi tahu ia mengambil fotonya diam-diam.


"Uuhm, lain kali aja ya kalo gue dah jago." Tristan ngeles.


"Kenapa harus tunggu jago sih? Gapapa liat yang ini dulu."


"Jangan deh, tar aja ya," Tristan berusaha menolak.


"Ariiin...."


Tiba-tiba suara Rasya memanggil Arindi dari kejauhan, Arindi dan Tristan berbalik. Rasya sedang berjalan ke arah mereka.


"Eh ada kak Tristan." Rasya menyadari kehadiran Tristan. " Eh ya Rin nih mau liat hasil jepretan gue pas lu lagi ngelukis?"


Tristan tersenyum membalas sapaan Rasya. Ia menyembunyikan kameranya dibelakang tubuhnya.


"Iyya mana mana, Sya."


Rasya memperlihatkan hasil jepretannya pada Arindi.


"Wuaaahh keren, gue kok keren banget difoto, kak liat deh jepretan Rasya."


Arindi beralih menunjukkan hasil foto Rasya pada Tristan, ia mendekatkan dirinya tanpa canggung ke arah Tristan. Entah sejak kapan semua ketidakcanggungan ini bermula


Arindi sibuk mengoceh mengagumi dirinya dalam foto, ia tak menyadari Tristan merasa canggung. Terlebih lagi Rasya melihat ke arah mereka dengan senyum senyum. Arindi memang kurang peka.


"Gimana? bagus kan jepretan gue?" ujar Rasya. " Oh ya, tadi kakak juga ikut kontes foto?" Rasy melihat Tristan.


"Engga kok, ini cuma iseng doang."


Tristan merasa sangat kaku berbicara dengan sahabat Arindi yang satu ini, karena ia baru pertama kali mengobrol langsung.


"Okoooo, ya udah Rin, gue kesana dulu ya, mau lanjut lagi. Oh iya ...."


Rasya tidak melanjutkan kata-katanya tapi mendekat lebih rapat ke Arindi dan membisikkan sesuatu ke telinga Arindi.


"Gue pikir dia ikut kontes foto juga, soalnya dari tadi gue liat dia sibuk fotoin lu."


Rasya menyiku tangan Arindi menggodanya. Rasya memang melihat Tristan sedari tadi, ia hanya berpura-pura tak melihatnya. Ia pun melambai pergi pada mereka.


Arindi hanya tersenyum mendengar bisikan Rasya. Ia tak sadar pipinya sampai memerah karena malu. Sesuatu yang hangat menjalar ke pipinya.


"Kenapa?" Tristan heran melihat Arindi.


"Ooohhh ga kok." Arindi merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, tapi ia tak tahu apa itu.


"Ada rencana lagi abis ini?" ujar Tristan memudarkan lamunan Arindi.


"Uhm ga ada sih, paling nunggu Rasya selesai."


"Owh, gimana kalo kesana?" Tristan menunjuk stan makanan. " Udah siang, mau makan sesuatu?"


"Kakak laper?"


"Ehm ga juga, cuma takutnya nanti ada yang perutnya keroncongan kelaperan," ia menyindir Arindi.


Arindi tersenyum malu. " Kenapa pake diinget segala sih kak, ya udah yuk."


Arindi dan Tristan sedang menikmati camilan di salah satu stan makanan. Hari lumayan panas, beruntung stan itu memiliki payung-payung besar di setiap mejanya hingga bisa menghalangi teriknya matahari siang yang menyengat.


Tristan telah menghabiskan makanannya. Arindi masih menghisap jus segarnya sambil bertopang dagu memandang sekitar. Tak lama sebuah pesan masuk ke hp-nya. Ternyata dari Rasya.


RasyaπŸ’•


_________________________________________________


Rin, msih sma dia kan??? 13.30


Klo gtu gw cabut ..... 13.30


Gw bru ingt hrus ke studio 13.30


^^^Gue sm syp plngny? 13.30^^^


^^^_________________________________________________^^^


Arindi kaget membaca pesan Rasya. Ia mengetik cepat balasannya tapi pesannya tak dibaca Rasya lagi. Ia pun mencoba menelponnya.


"Rasya apa-apaan sih maen tinggal aja? Gue gimana?" Ujar Arindi menjerit dalam hatinya.


Rasya telah duduk di mobilnya dan berlalu pergi, ia sengaja tak mengangkat telepon dari Arindi. Ia sengaja meninggalkan Arindi dan Tistan berdua.


Arindi terus menelpon Rasya, tapi tak kunjung di jawab. Ia jadi gelisah. Tristan pun melihat kegelisahannya.


"Kenapa?"


"Uhhm, Rasya, kayanya ...." Mau alesan apa gue?. "Dia pulang duluan karena ada urusan mendadak di studio katanya."


Tristan hanya menatap tak mengerti ke Arindi, Arindi hanya senyum kecut. Beruntung tiba-tiba hp Tristan berbunyi, seseorang menelponnya.


"Ya Ndrew? Gue di stan makanan," jelas Tristan pada Andrew di telepon.


Ternyata Andrew temannya. Tak lama Andrew datang setelah melihat keberadaan kami berdua.


"Disini lo? Arindi? Hai Rin, sama siapa?" sapa Andrew.


"Kak Andrew, sama temen, dia juga ikut kontes foto kaya kakak," jawab Arindi masih tidak bisa tenang memikirkan nasibnya sekarang.


"Oooohh, udah selesai kok kontesnya, Tan gimana, udahan? Pulang yuk...."


Tristan melihat ke arah Arindi ia mulai menangkap arti kata Arindi tadi, lalu ia melihat ke Andrew.


"Ooohh, gue masih ada urusan kayanya Ndrew...," jawab Tristan tiba-tiba.


"Serius? Urusan apa?" Andrew bingung dengan jawaban Tristan.


"Uhmmm ...." Tristan bingung harus memberi alasan apa ke Andrew.


"Kak Tristan masih mau berkeliling, dia lagi mau coba foto di stan pameran lain, mungkin bisa jadi referensi buat acara kampus tar." Arindi yang melihat Tristan kebingungan hanya asal menjawab saja.


Tristan pun mengangguk mengiyakan kata-kata Arindi.


"Ya udah gue duluan kalo gitu, tapi lu pulang sama siapa Tan?"

__ADS_1


"Gue bisa naek taksi ntar."


"Ya udah kalo gitu duluan ya. Maaf ya Tan gue ga bisa bantu. Rin gue cabut dulu."


"Oh ya kak," sambil melambai pada Andrew.


Andrew pun meninggalkan kami. Tristan melihat ke arah Arindi. Arindi sedang fokus menghisap jusnya. Pikirannya berkecamuk. Ia tak berani melihat ke Tristan.


"Gue kenapa sih, kenapa gue yang cari alasan biar Tristan ga pulang, sadar Arindi, lo kenapa?"


Arindi pun melihat ke Tristan, ia baru sadar kalau Tristan melihat padanya dari tadi.


"Uhhm maaf kak," ujar Arindi merasa tak enak.


"Kenapa minta maaf?"


"Kalo kakak mau pulang... uhm maksudnya tadi gue mikirnya kalo kakak belum mau pulang jadi...." Arindi menjelaskan terbata-bata.


"Emang gue belum mau pulang, kenapa minta maaf?" Tristan menegaskan katanya agar Arindi tak merasa canggung.


Arindi menutup mulutnya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Hanya tersenyum simpul.


"Mau keliling ke stan lain?" ujar Tristan tiba-tiba. Ia menjadi gugup sendiri saat melihat Arindi tersenyum malu malu.


"uhm yuk...." Arindi cepat berdiri.


Mereka pun berkeliling mengunjungi stan lain. Semakin sore ternyata semakin ramai, karena akan ada pameran fashion. Ada satu stan yang sangat ramai, Tristan mengajak Arindi mendekat kesana. Mereka sampai lebih cepat sehingga bisa melihat dari dekat. Ternyata itu pameran fashion, tepatnya fashion show untuk kucing.


Arindi melihat ke tengah stan. Arindi pun tak berani mendekat, ia beralih berdiri ke belakang Tristan. Melihatnya yang terus pindah kebelakang tubuhnya, Tristan pun berbalik.


"Kenapa?" Tristan heran melihat sikap Arindi tiba-tiba.


"Gapapa kak."


Gelombang orang mulai memadati stan itu karena acaranya akan segera dimulai, membuat Arindi tidak bisa mundur lagi dan malah terdorong maju. Ia hampir menabrak tubuh Tristan jika tangannya tidak menahannya.


"Hati hati, jangan mundur-mundur," tangannya refleks ingin menahan Arindi, tapi ia tarik dengan cepat sebelum Arindi menyadarinya.


"I-iya kak."


Arindi pun maju perlahan ke samping Tristan, manusia mulai berjejal dibelakangnya. Tristan mengangkat kamera yang di gantungnya di tubuhnya dan mencoba mengambil gambar.


Hatsyii...hatsyii...


Tiba-tiba Arindi terus saja bersin, sampai hidungnya mulai memerah. Buru-buru ia mengeluarkan tisu dari tasnya dan menutupi hidungnya. Tristan menurunkan kameranya. Ia berhenti mengambil gambar dan melihat heran ke arah Arindi.


"Kenapa Rin? Lo gapapa?" Tristan menyadari ada sesuatu yang tak beres.


"Gue ... Hatsyiii.. alergi bulu ... Hatsyii... Kucing...," terang Arindi.


Tristan pun kaget, tanpa berpikir panjang ia berusaha menjauhkan Arindi dari sana. Ia mengajak Arindi untuk keluar dari kerumunan. Ia benar-benar khawatir.


"Ayo ke belakang," ujar Tristan mencoba membuka jalan untuk Arindi.


Mata Arindi mulai terasa panas dan berair. Di tambah banyaknya manusia dibelakangnya, ia merasa sesak. Ia pun hanya berbalik tapi tak bisa melangkahkan kakinya.


"Rin, kenapa? bisa jalan?"


Arindi hanya mengangguk, ia hanya menunduk, matanya sangat panas. Ia mencoba melangkahkan kakinya, tapi pundaknya tertabrak orang dan hampir terjatuh. Tristan pun sigap merangkulkan lengannya ke belakang pundak Arindi, ia menahan tubuhnya. Tangan satunya mencoba memberi ruang didepan tubuh Arindi agar Arindi bisa berjalan.


Akhirnya mereka bisa keluar dari kerumunan orang. Tristan menemukan tempat duduk tak jauh dari sana di bawah sebuah tenda. Ia mendudukkan Arindi perlahan ke kursi di hadapannya. Ia berjongkok didepan kursi, gelisah menatap Arindi.


Arindi tidak bersin lagi tapi matanya masih berair, air matanya menetes karena panas. Ia mencoba mengeringkan air mata itu. Melihatnya Tristan semakin cemas.


"Rin...," Tristan Berkata lirih, kali ini ia benar benar khawatir dan sesuatu berdenyut di hatinya.


"Gapapa kok kak." Arindi berusaha menjawab dengan suara parau.


Arindi mengambil tisu dan mengelap air matanya yang mengalir. Tristan tak tahu harus apa. Pandangannya hanya terus melekat pada wajah gadis itu.


"Gapapa kak. Ini cuma alergi."


"Gu-gue minta maaf... harusnya gue ga ajak kesana tadi."


"Gapapa kak. Serius gapapa. Lagian kita berdua ga tau kalo ternyata itu acara untuk kucing."


Air matanya telah berhenti mengalir. Ia melihat dengan jelas Tristan masih berjongkok menatapnya dengan penuh khawatir.


"Ka-kakak bisa berdiri sekarang." Arindi merasa tak enak di tatap seperti itu.


"Udah merasa baikan?"


Arindi mengangguk pelan, ia merasa lebih baik sekarang, ia hanya terpaku pada mata itu. Ia melihat dirinya dari bola mata bening Tristan, mata yang terlihat sangat khawatir. Tristan bisa melihat Arindi sudah lebih baik. Ia jadi gugup sekarang karena gadis itu menatapnya.


Tristan pun berdiri tiba-tiba lalu melangkah mundur. Dug dug dug. Jantungnya berdetak dengan kencang kali ini. Ia gugup. Arindi ikut berdiri.


"Kita pulang aja? Udah sore juga."


Mereka pun pulang. Tristan mengantarkan Arindi pulang dengan taksi hingga ke apartemennya. Ia merasa bersalah, lagi lagi perasaan bersalah. Ia merasa bersalah bukan karena ia bersikap kasar tapi karena ia lagi-lagi membahayakan gadis itu.


...----------------...


Arindi baru saja ingin memejamkan matanya. Suara hp-nya berbunyi. Tristan mengiriminya pesan.


Tristan


__________________________________________


Udah tidur? 08.50


Gimana alerginya? 08.50


^^^Bru mw tdur. 08.51^^^


^^^Ga kmat lg. 08.51^^^


Sukurlah. 08.51


Ya udah slamat istirahat 08.51


^^^πŸ‘ŒπŸ’€πŸ’€ 08.52^^^


^^^___________________________________________^^^


Seiring berjalan hari, hubungan mereka terus tumbuh. Perlahan tapi pasti ke arah yang lebih baik. Biarkan ketulusan menjadi penyegar, senyuman menjadi cahaya hangat, hati yang kokoh sebagai dasar berpijak dan komunikasi yang baik akan menyuburkannya.

__ADS_1


__ADS_2