Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Sifat Asli Anggi


__ADS_3

Tristan baru saja memarkirkan mobilnya cukup jauh dari parkiran gedung sekretariat BEM. Ia melirik jam di tangannya, masih pukul sembilan tiga puluh. Ia berpikir masih ada cukup waktu sebelum Arindi masuk kelasnya.


Ia pun menatap Arindi yang duduk diam di sebelahnya. Ia hanya duduk dalam diam. Tristan kurang lebih bisa mengetahui arti diamnya itu.


"Arin...."


Suara Tristan yang lembut membuat ia menoleh padanya. Suara itu selalu saja bisa menenangkan hatinya. Sejenak ia lupa kalau kini ia punya pria ini disampingnya.


"Kenapa?" tanya Tristan lagi.


Tristan tersenyum menatapnya meskipun dalam dirinya sangat mengkhawatirkan Arindi. Tangannya mengusap lembut kepala gadis itu. Arindi membalas senyuman Tristan. Ia pun menggenggam tangan Tristan dengan kedua tangannya.


"Gapapa kak, kakak percaya kan sama Arin. Lagipula sekarang ada kakak."


"Kakak percaya kamu bisa, kita ga tau apa rencananya, kita harus tetap hati-hati."


Arindi pun hanya mengangguk mengiyakan saja. Ia masih emosi tapi ia ingin menahannya dengan baik. Ia pun menelpon Anggi.


"Halo kak Anggi, kakak dimana? Arin baru mau masuk ke gedung."


"Kakak sih udah dijalan, tapi laptop kakak ada di meja. Sandinya Anggi888, huruf A nya besar."


"Ok kak," jawab Arindi.


Arindi dan Tristan pun keluar dari mobil. Arindi berjalan terpisah dengan Tristan, ia masuk lebih dulu ke dalam gedung. Tristan mengambil jarak dan membuntuti dari jauh.


Sesampai di depan ruang BEM, pintu ruangan BEM terbuka begitu saja. Arindi pun masuk ke dalam, tapi tidak ada siapapun di dalam sana. Arindi mengambil tempat duduk di meja Anggi sesuai permintaan Anggi ia mulai duduk dan membuka sandi laptop milik Anggi.


Kebetulan tempat duduk Anggi membelakangi pintu masuk jadi Arindi tak menyadari jika dibelakangnya ada seseorang berdiri di depan pintu sedang merekam Arindi diam-diam.


"Lu ngapain didepan pintu?" suara Tristan terdengar dingin dan lantang menegur orang yang sedang merekam hingga ia terkejut dan menjatuhkan hp-nya. Arindi yang sedang di dalam juga terkejut mendengar suara Tristan. Ia pun berbalik.


Di depan pintu Arindi melihat Anggi yang sedang berhadapan dengan Tristan. Ia pun berdiri dan mendekati mereka.


"Ka-kak T-Tristan...."


Mulut Anggi gemetar menyebutkan nama itu, ditambah lagi pandangan tajam Arindi yang sudah ada disampingnya. Ia seperti sedang tertangkap basah melakukan kejahatan.


"A-Arin...."


Arindi tak melepaskan matanya pada Anggi yang ketakutan. Tristan berjongkok memungut hp yang dijatuhkan Anggi dari tangannya tadi. Melihat Tristan memegang hp-nya, Anggi menjadi semakin panik.

__ADS_1


Tristan menatap dingin pada Anggi. "Apa yang lu buat dengan hp ini?"


"I-itu... gue ...." Anggi tergagap.


"Kenapa lo ngerekam Arindi dengan hp lo?" tanya Tristan.


"Apa alasannya kakak gini ke gue?" suara Arindi bergetar.


Merasa disudutkan oleh dua orang di depannya membuat Anggi mundur beberapa langkah.


"Kalo lo ga mau bilang, gue sendiri yang akan buka. Gue tahu semua apa yang lo lakuin di belakamg Arindi. Lo yang kirim sms provokasi ke Celyn. Elo juga yang kirim foto ke Celyn, gue punya semua buktinya di hp gue," terang Tristan.


Anggi pun panik mendengar tuduhan Tristan, pikirannya menjadi kacau, seperti orang kesurupan ia menjerit.


"Gu-gue... aaaaaaaa... Lo seharusnua cuma ngeliat ke gue Tan. Lo ga pernah sadar apa gue itu suka sama elo. Gue udah susah payah nyingkirin Celyn. Dan sekarang dia... harusnya sekarang gue yang ada disamping elu Tan. Gue yang udah lebih dulu kenal sama lo. Dia yang baru lo kenal tapi kenapa lo lebih perhatian ke dia, kenapa lo selalu ada buat dia? Gue kurang apa di mata lo Tan?" mulut Anggi meracau meluapkan semua isi hatinya.


Arindi berdiri membeku setelah Anggi mengatakan semua itu. Sesuatu yang tajam mencuat dari dalam hatinya dan menyakiti hatinya tiba-tiba. "Dia suka sama Tristan?"


"Karena alasan itu?" tanya Tristan dingin.


"Karena alasan itu lo bilang? Gue lebih pantes dari dia Tan. Asal lo tau Tan, dia ini busuk, lo itu cuma bahan taruhan dia sama temen-temennya doang, udah dapetin lo, bentar lagi lo bakal dibuang," pekik Anggi kemudian.


Kata-kata Anggi barusan benar-benar bagai mata pisau yang tajam. Menyayat setiap jengkal hati Arindi yang sedang terluka. Tangannya mulai bergetar, matanya terasa panas. Emosinya naik hingga ubun-ubun. Ingin rasanya ia menampar mulut gadis itu sekarang.


Tapi Tristan bertekad untuk tidak mempercayainya meskipun ada sedikit bagian dihatinya yang terluka mendengar kata-kata itu. "Aku bukan taruhan," batinnya dalam hati berulang-ulang.


"Gue gak mau denger apa-apa lagi," ujar Tristan kemudian.


"Kenapa? Lo gak percaya, tinggal nunggu waktu yang tepat elo bakal dibuang," teriak Anggi lagi.


Arindi tak tahan lagi. Amarah dalam dirinya sudah tidak terbendung. "Kak Anggi, tutup mulut kakak selagi gue masih bisa sabar."


"Kenapa? Lo pikir gue juga ga tau, gue ada disana waktu lo dan sahabat lo bilang soal taruhan itu. Lo mau apa? Tampar gue? Dasar cewek bar-bar. Kalian pikir karena kalian sudah punya semuanya kalian bisa seenaknya pada orang lain?" teriak Anggi seperti kehilangan kesadaran.


Tak ada lagi citra Anggi yang ceria dan bersemangat seperti sebelumnya. Semua hilang lenyap begitu saja seperti kemarau setahun yang terhapus oleh hujan sehari.


"Anggi cukup...," teriak Tristan kemudian.


Arindi sangat marah tapi tidak bisa melampiaskannya. Pikirannya mencoba mengingat kembali awal yang menjadi akar masalah ini. Awal dimana Arindi dan sahabatnya membuat taruhan ini. Dari ingatannya itu, Arindi tak menemukan petunjuk apapun. Ia hanya tak menyangka Anggi mendengar percakapan mereka.


Tapi apakah Anggi tak tahu kebenaran lainnya yaitu mereka sudah membatalkan taruhan itu. Anggi tak tahu atau ia sengaja tak mengatakannya, Arindi tak tahu. Arindi menjadi kesal sendiri. Tristan, apa dia percaya kalau Arindi membantah kata-kata itu sekarang.

__ADS_1


Anggi pun cepat-cepat mengambil hp dari tangan Tristan dan berlari, ia menabrak tubuh Arindi yang sedang terdiam karena tenggelam dalam pikirannya dengan sangat keras hingga... Brak!!


Arindi pun terjatuh, pundaknya membentur ujung kursi besi yang tak jauh dari sana dengan keras. Sesuatu berdenyut di pundaknya, ia kesakitan, tapi ia menahannya.


Ia lebih sakit saat membayangkan ekspresi apa yang akan keluar dari wajah pria didepannya. Ia hanya tertunduk tak berani menatap Tristan. Kedua tangannya masih memegang lantai tempat ia terjatuh. Ia tak ingin berdiri dan menghadapi kemarahan Tristan.


Tiba-tiba, sepasang tangan yang sangat dikenalnya mengulur kepadanya. Tangan itu memegang lengan bagian atasnya. Arindi pun menatap ke arah si pemilik tangan dengan perlahan.


"Kamu gapapa? Ada yang sakit?" tanya Tristan lembut.


Arindi perlahan mendongakkan kepalanya, ia tak menjawab, hanya menatap tak percaya. Kali ini Tristan tak meninggalkannya, ia tetap dihadapannya dan mengulurkan tangannya. Matanya yang sejak tadi panas mulai berkaca-kaca, ia ingin menangis, tapi ia menahannya.


Tristan membantunya berdiri. Arindi masih tertunduk, menahan air matanya. Ia menarik napas panjang.


"Sayang, kamu gapapa?" tanya Tristan kemudian. Ia bisa mengira bagaimana perasaan Arindi saat ini. Tapi ia tak ingin memperburuk perasaan itu. Oleh karena itu dengan tekad yang sudah dirapalkannya sejak tadi, ia mengulurkan tangannya pada gadis itu.


Arindi melebarkan matanya menatap lantai dibawahnya, panggilan lembut itu tak mampu lagi membuatnya membendung air matanya. Ia pun menangis mengeluarkan ketakutannya lalu memeluk Tristan tiba-tiba. Ia tetap tak berbicara apa-apa. Seluruh kata hatinya tergantikan oleh linangan air matanya.


"Kenapa nangis? Hei... Ada yang sakit?" Tristan terkejut saat Arindi memeluknya tiba-tiba. Ia pun membalas pelukan itu. Tristan menepuk pundak Arindi mencoba menenangkannya lalu merangkul Arindi dengan erat. Ia tahu alasan gadis itu menangis. Ia pun tak lagi bertanya apa-apa hanya merangkulnya dengan erat.


.


.


Setelah beberapa lama, Arindi melepas pelukannya. Ia sudah berhenti menangis, matanya sembab. Sesuatu berdenyut di bahu kanannya. Sangat sakit. Tapi ia menahannya, melihat wajah tenang Tristan saat menatapnya, ia tak ingin membuat pria itu khawatir.


"Bahu kamu kebentur, mau kita periksa dulu?"


Tristan sangat khawatir, ia tak bisa melihat langsung bagaimana keadaan bahunya karena tertutup baju. Tapi tadi ia mendengar suara tumbukan keras dibahu gadis itu.


"Gausah kak," jawab Arindi dengan suara parau.


"Kamu tadi terbentur keras, takutnya bahu kamu cidera."


"Arin gapapa kak, anter Arin kuliah aja, hari ini ada tiga mata kuliah," ucap Arin pelan.


Tristan menatap nanar pada Arindi, ia tak bisa memaksanya. Ia juga tak ingin merusak ketenangan yang dirasa gadis itu sekarang. Ia pun menurutinya saja dan memapahnya menuju mobil.


"Kalo ada apa-apa hubungin kakak ya," ujar Tristan lalu memacu mobilnya perlahan. Ia sangat mengkhawatirkan gadis itu dan ia juga merasa bersalah, karenanya gadis itu lagi-lagi dalam keadaan bahaya.


Tristan sendiri berusaha mengabaikan luka dihatinya karena tekadnya sudah bulat untuk tak mempercayai perkataan Anggi tentangnya.

__ADS_1


"Aku ingin mempercayaimu dan akan selalu begitu."


__ADS_2