
Arindi sedang berjalan menuju mobilnya, hari menunjukkan pukul tujuh malam. Ia dan anggota lain baru selesai membereskan sisa acara tadi, rencananya ia ingin cepat pulang ke apartemennya. Ditengah jalannya tiba-tiba HP nya berbunyi, Nadine menelponnya.
"Dimana Rin?" suara Nadine diseberang telepon.
"Baru selesai acara, mau pulang. Kenapa?"
"Tungguin, jangan pulang dulu ya, gue sama Vivi kesana," ujar Nadine tiba-tiba.
"Oh ok," jawab Arindi lalu mematikan ponselnya. "Mereka berdua masih di kampus," bisiknya pelan.
Arindi pun masuk ke parkiran tempat ia memarkirkan mobilnya. Disamping mobilnya ia melihat sosok wanita. Wanita yang dikenalnya dan juga sangat dibencinya dan ia sedang berdiri seperti memang sedang menunggu Arindi. Arindi pun jadi kesal karenanya.
"Celyn? Ngapain dia disana?"
Arindi pun memencet remote mobilnya dari kejauhan untuk memuka kunci. Bip! Bip! Suara alarm mobil membuka kunci membuat Celyn terkejut.
Celyn berbalik, ia tahu Arindi sudah datang. Arindi tak memperdulikannya, ia sedang tidak ingin mencari masalah meskipun hatinya saat ini sedang terbakar emosi.
Masalah kemarin entah mengapa membuat tenaganya terasa terkuras habis. Ia pun melewatinya saja berusaha membuka mobilnya, ia ingin menganggap Celyn tak ada.
"Heh...," teriak Celyn.
Celyn yang merasa diabaikan, menarik lengan Arindi dengan keras.
"Eh lu apa apaan sih, cewek stres?" Arindi menepis tangan Celyn lebih keras hingga tangan Celyn terlepas.
"Kuat juga lo ya, heh cewek ja****, lo bener bener pengen cari masalah sama gue ya?" Celyn pun mengangkat tas tangannya siap memukulkannya ke Arindi.
Tristan muncul tiba-tiba entah darimana, menarik tangan Celyn hingga Celyn terkejut dan mundur beberapa langkah kebelakang. Kemunculan Tristan bukanlah kebetulan, sejak tadi Tristan memang mencari Arindi untuk membicarakan masalah kemarin. Dan beruntung Tristan cepat menemukan Arindi saat Celyn hendak berbuat kasar.
"Cukup!! Mau ngapain lo?" ujar Tristan lantang. Celyn dan Arindi terkejut. Celyn menarik tangannya cepat.
Melihat kehadiran Tristan, Arindi malah makin emosi. Ia ingin cepat cepat pergi dari sana. Ia tak ingin berurusan dengan mereka berdua. Ia pun berusaha membuka pintu mobilnya.
"Pahlawan kita udah muncul, lu yang cari masalah duluan ya Tan, jadi jangan halangin gue lagi, lu liat...." Tiba-tiba Celyn mengangkat lagi tasnya dengan cepat dan siap memukulkannya ke kepala Arindi yang baru saja memegang handle pintu mobil.
Arindi tak tahu bahaya yang akan menimpanya. Ia tak menyadari serangan tiba-tiba yang diarahkan Celyn padanya. Kali ini Celyn berusaha sekuat tenaga yang ia punya untuk menyakiti Arindi, sekalipun Tristan menarik tangan Celyn pun pasti tetap akan mengenai Arindi.
Bugh!!
__ADS_1
Sebuah suara pukulan. Arindi terkejut mendengar suara keras benturan benda di belakangnya.
Ia cepat berbalik dan ia kaget saat melihat tubuh tinggi Tristan sudah berdiri berhadapan dengannya dan tangan Tristan yang besar dengan cepat memegang kap mobil Arindi berusaha sekuat tenaga menahan bobot tubuhnya agar tak mengenai Arindi. Arindi pun tertahan antara mobil dan Tristan.
Arindi melepaskan handle mobil yang tadi dipegangnya. Ia ingin melihat dari mana asal suara itu dan kenapa ekspresi wajah Tristan seperti menahan sakit saat ini .
Arindi mencoba bergeser kesamping untuk melihat ke belakang tubuh Tristan, tapi tangan Tristan menahan kedua lengan atas Arindi dengan kuat dan sedikit mendorong tubuh Arindi ke mobilnya. Ia mengapit tubuh Arindi dengan kedua tangannya dan mendekatkan dirinya pada gadis itu.
Arindi sangat kaget karena kelakuan Tristan yang tiba-tiba, ia melihat perubahan emosi pada wajah Tristan. Terlihat Tristan yang sedang menahan sakit meminta walau tanpa kata pada Arindi untuk tidak bergerak sedikitpun.
Arindi baru menyadari bahwa Tristan mencoba menutupi sesuatu, ia tahu Tristan berbuat hal bodoh demi melindunginya dari pukulan yang tadi berbunyi keras.
"Minggir kak." Arindi masih berusaha mendorong tubuh Tristan ke samping, tapi tangan kecilnya tak sanggup menggeser tubuh Tristan yang berdiri tegap dihadapannya.
"Jangan bergerak," ujar Tristan menolak kata-katanya.
"Apaan sih kak? Minggir ga?" perasaan marah bergejolak dalam tubuh Arindi.
"Wah wah romantis banget ya," ujar Celyn yang berusaha mengatur napasnya karena tangannya sendiri terasa sakit saat tasnya menumbuk belakang tubuh Tristan.
"Sehebat apa sih lu Tan, badan lo juga ga akan kuat kan kalo gue pukul terus-terusan." Rasa marah, perasaan ingin menghabisi mereka berdua membuat Celyn semakin dibutakan emosi.
"Stop Cel, sadar lo...," Tristan hanya menolehkan wajah ke belakang melihat Celyn, ia tahu Celyn masih belum puas.
Tristan bisa saja melepaskan tangannya dari Arindi, tapi pasti Arindi akan berkelahi dengan Celyn. Tristan tak ingin Arindi terluka sedikit pun ditambah lagi ia melihat sesuatu ditangan Celyn.
"Pu-pukul? Dia mau mukul Tristan lagi?" batin Arindi.
"Tristan minggiiiir, lepasin gue!!!!!" teriak Arindi lantang,
Buggh!! Suara pukulan lagi dan lagi, terus menerus.
Teriakan Arindi hilang dalam kerasnya suara benturan itu. Matanya menegang menatap pada Tristan yang hanya memejamkan matanya menerima satu persatu pukulan tanpa perlawanan. Tristan tak bergeming dengan teriakan Arindi.
Saat ini Tristan tahu benar apa yang diinginkan Celyn dari apa yang dilihatnya sekilas ditangan Celyn tadi, ia tak hanya ingin melukai Arindi, lebih dari itu ia sangat ingin melukai Tristan. Ia ingin Tristan merasakan rasa sakit yang ia rasakan. Perasaan cinta bertepuk sebelah tangan dan obsesi selama ini ingin ia hancurkan hingga perasaan itu tak tersisa. Lebih dari siapapun ia ingin Tristan hancur sehingga tak ada yang bisa memilikinya.
Arindi sangat panik, ia mengangkat tangannya berusaha menggapAi bahu belakang Tristan, ia mencoba melepas pegangan Tristan dari kedua sisinya .
Tapi Arindi kaget, ia merasakan sesuatu yang basah di tangannya saat menyentuh bahu kiri Tristan tempat ia berpegang. Arindi menarik tangannya dan mendekatkannya ke hidungnya. Ia melihat cairan kental berwarna merah berbau amis di antara jari jari tangannya.
__ADS_1
"Jangan bergerak, gue bilang tetap ditempat!" Tristan menatap Arindi dengan tajam, suaranya jelas meskipun lemah. Tristan tidak memberikan tatapan kebencian sedikit pun pada Arindi seperti yang selalu dipikirkan Arindi selama ini, tapi lebih ke tatapan memohon. Ia sadar sekarang Arindi sudah tahu kondisi tubuhnya dari melihat apa yang ada di tangan Arindi sekarang.
"Darah? Ini darah ...," suara Arindi mulai bergetar membayangkan bagaimana Tristan dari tadi menahannya. "Hentikaaaaaann... stoop!!!"
Arindi menjerit tiba-tiba. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia ketakutan tapi juga darahnya mendidih secara bersamaan melihat Tristan berdarah.
"Rin, liat gue...," pinta Tristan, ia juga tak tahu harus berbuat apa sekarang. Jika ia melepaskan Arindi sekarang, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi namun rasa sakit itu tak tertahan di belakangnya.
Celyn yang ada dibelakangnya tertawa puas setelah melakukan perbuatan keji itu. Ternyata Celyn telah menyiapkan semuanya, ia membawa sebuah pisau saku kecil yang ingin ia gunakan pada Tristan dan Arindi seperti yang tadi sekilas dilihat Tristan.
Pukulan Celyn yang kedua bukan sekedar pukulan, ia telah menusuk bahu Tristan lebih dulu dengan pisau kecil itu. Meski tidak dalam namun seketika pisau dicabut darahnya mulai mengalir keluar. Ditambah lagi Celyn terus memukul bagian yang sakit itu.
Aliran panas yang selama ini tertahan di hati Arindi akhirnya berderai membasahi pipi Arindi. Ia pun menangis. Hatinya terasa sakit melihat Tristan menahan sakit seperti itu. Suara Tristan yang berusaha menenangkannya tak lagi terdengar olehnya. Rasa kesal dan emosi menguap menjadi rasa ketakutan yang teramat sangat yang tak pernah ia rasa sebelumnya.
"Guue mohon hentikan, Cel!" suara Arindi lirih, tangannya bergetar, kakinya mulai terasa lemas. Tapi ia telah menguatkan tekad untuk tetap berdiri tegak.
"Gue ga perduli, baik elo atopun cewek ja**** itu, kalian harus mati sekarang. Kita akan hancur bersama malam ini," jerit Celyn seperti kehilangan akal sehat.
"Sadar Cel. Perbuatan lo udah kelewatan, ini gila," pekik Tristan kemudian.
Tubuh Tristan masih memunggungi Celyn, ia tak bisa mengendalikan kedua gadis ini jika ia melepaskan pegangannya pada Arindi, satu satunya cara hanyalah dengan melindungi Arindi dari amukan Celyn. Celyn sedang tidak waras.
Arindi sudah tak tahan lagi, ia mencoba mendorong Tristan, ia ingin membalas Celyn dengan apapun yang ia bisa, tapi tubuh Tristan masih kuat bertahan menghalangi pergerakannya.
"Iyyya, gue gila, gue bener-bener gila, gila gara-gara lo Tan dan gue pengen lu berdua gila juga, hahahahahaha." Suara Celyn melengking.
"Minggir kak," Arindi berbisik lirih. "Kakak udah berdarah, gue minta minggir dulu." Ia berusahan menahan suara isak tangisnya.
"Ga akan... lo tetep disini!!" Tristan tak mau mengalah.
Ia menatap wajah Arindi yang mulai basah karena air mata. Luka ditangannya mulai terasa sakit tapi hatinya lebih sakit melihat mata gadis itu yang memohon sambil terisak. Tangannya masih menahan Arindi yang terus berusaha keluar dari cengkeramannya.
"Oh my hero, oh pahlawanku... mulai berdarah ya!! Mau gue tambahin lukanya?" Celyn kembali terkikik melihat mereka berdua kesakitan.
Ia menggoreskan pisaunya di bagian yang sama lalu memukulkan sekali lagi tasnya ke tubuh Tristan. Membuat Arindi semakin menjerit histeris.
Arghh!! Tristan mengerang.
"Stoooooooppp. Stoooopp gue bilang stop!" teriak Arindi.
__ADS_1
Tristan menahan sakit ditangannya, ia mulai meringis kesakitan, luka yang tadi belum hilang sakitnya di buat semakin parah dengan luka yang lain. Matanya menegang melihat ke Arindi yang menjerit sambil terisak-isak. Ia harus bertahan jika ingin melindungi gadis itu.