
Nadine membuka pintu kamar Arindi. Di dalam kamar Rasya sedang menggantikan pakaian Arindi. "Gimana Sya?" tanya Nadine.
"Ada lebam di pundaknya. Kayanya dia terbentur sesuatu deh. Badannya panas tapi juga berkeringat. Gue lagi usahain ganti bajunya. Lu bisa ambilin kompres?"
"Okeh. Tristan udah cerita semuanya soal Anggi. Dia bilang tadi Arin kedorong Anggi".
"Udah gue sangka tuh cewe sialan. Tante Acha dah lo telpon? Dia lemes Nad, dia sadar cuma ga bisa banyak ngomong, lo tau sendiri kalo dia dah sakit," jelas Rasya.
Arindi memang selalu fit, ia jarang sakit. Tapi ia akan benar-benar drop saat jatuh sakit.
"Udah, lagi OTW kesini. Nih kompresnya," seru Nadine memberikan kompres pada Rasya.
.
.
Tristan menunggu dengan gelisah di depan pintu kamar Arindi. Di dalam kamar, Nadine dan Rasya berdiri disamping Arindi. Tante Acha yang baru saja datang sedang memeriksa keadaan Arindi. Semua menatap cemas pada tubuh Arindi yang terbaring lemas itu.
Setelah memeriksa Arindi, tante Acha pun membereskan kembali peralatan yang ia gunakan. Lalu mengambil selembar kertas dan mulai menulis. Lalu setelah itu ia berdiri dan memberikan kertas itu pada Nadine.
"Arindi sedang tidur sekarang. Dia mengalami luka memar di bahunya mungkin dia terbentur benda keras. Saat ini lukanya harus segera dikompres dengan air es. Ini tante sudah meresepkan obat pereda nyeri dan obat oles agar lukanya cepat sembuh. Dan lagi...." Tante Acha tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap pada Nadine dan Rasya.
"Sebaiknya ia jangan terlalu banyak pikiran agar kondisinya cepat membaik," sambungnya lagi.
"Iyya tante," jawab Nadine dan Rasya bersamaan.
"Terimakasih tante," ujar mereka lagi.
Rasya, Nadine dan tante Acha hendak keluar dari kamar Arindi. Saat pintu kamar terbuka, Tristan yang sedang menunggu dengan gelisah tampak sedikit tersentak.
Nadine menepuk bahu Tristan. "Udah tenang dia gapapa," ujarnya menenangkan Tristan.
"Oh... Ya syukurlah. Oiya trimakasih tante," ujar Tristan pada dokter Acha.
"Jangan sungkan, kalo ada apa-apa hubungi tante segera. Tapi...." Tante Acha melihat Tristan dengan heran. "Tante ga pernah ngeliat dia, penghuni baru?"
Tristan baru saja akan memperkenalkan diri tapi Nadine telah mendahuluinya.
"Owh dia pacarnya Arindi tante."
"Owwhh, pantes tante ga pernah liat... Kalau begitu tante pamit. Oh iya, pastiin dia ga gunain tangannya untuk melukis dulu beberapa hari ini."
Tante Acha pun berpamitan. Nadine dan Rasya mengantar ke depan. Sementara Tristan duduk di samping Arindi. Ia menggenggam telapak tangan gadis itu menyembunyikannya di bawah wajahnya yang tertunduk.
Nadine dan Rasya kembali masuk ke kamar setelah mengantarkan tante Acha. Mereka tertegun saat masuk ke kamar Arindi, melihat Tristan yang hanya duduk tertunduk lemah di samping Arindi.
Sejak datang mereka berdua menyadari sesuatu bahwa Tristan sangat mengkhawatirkan Arindi lebih dari mereka, mata Tristan memerah menahan sedih, wajahnya kalut, rambutnya tak lagi tersisir rapi.
Mereka pun tak hanya mengkhawatirkan sahabatnya sekarang, tapi juga pria yang disampingnya itu. Mereka tak tahu harus apa sekarang. Mereka tak bisa menyuruhnya pulang tapi juga tak berani untuk memintanya tinggal. Rasya pun mendekatinya.
__ADS_1
"Kak, sebaiknya kakak juga istirahat," ujar Rasya pelan.
Tristan pun menoleh terkejut. Ia tak menyadari kehadiran mereka berdua. Ia menatap pada mereka dengan posisi tetap menggenggam tangan Arindi. "Oh, gue gapapa kok," jawab Tristan.
Pria ini tak akan bergerak dari sini selangkah pun, ia juga pasti tak akan pergi dari sini jika Arindi masih seperti ini, pikir Nadine dan Rasya.
"Sya kita keluar. Gue mau beli obat yang tadi udah diresepin," ujar Nadine pada Rasya. "Tan, kalo gitu kita keluar dulu beli obat ini," pamit Nadine kemudian.
"Owh iya. Biar gue yang beli...."
"Ga usah, biar kami aja," potong Rasya cepat.
Nadine dan Rasya pun akhirnya pergi ke apotek meninggalkan Tristan dan Arindi berdua saja.
...----------------...
Nadine kembali setelah beberapa menit. Ia mendapatkan obat yang dimaksud. Ia kembali sendiri karena Rasya harus ke studionya sekarang. Nadine pun sebenarnya tak bisa lama-lama karena ia dan Rasya mempunyai tugas yang harus mereka selesaikan.
Vivian pun tak bisa dihubungi karena sedang berada di luar kota. Selain itu mereka mempercayakan Arindi pada Tristan. Akhirnya setelah memberi obat pada Tristan, Nadine pun pamit pergi.
Tristan sendiri sekarang. Arindi masih tertidur. Pundaknya telah diberi plester kompres agar tidak membengkak. Tristan memegang dahi gadis itu, masih demam. Ia mengompres dahi gadis itu dengan air hangat.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tristan kembali menyentuh dahi gadis itu. Demamnya sudah turun. Ia pun kembali duduk di kursi di samping tempat tidur Arindi. Ia menggenggam telapak tangan Arindi. Ia merasa lega karena demamnya sudah turun.
Tristan pun menidurkan kepalanya, menjadikan lengan kanannya sebagai alas kepala sementara lengan lain menggenggam lengan gadis itu. Ia lelah. Tristan pun tertidur.
...----------------...
Ia ingin menggerakkan tangan kanannya namun tertahan. Ia baru menyadari kalau Tristan ada disana, ia masih tertidur sambil menggenggam tangan Arindi. Arindi hanya tersenyum menatap pria itu. Dengan perlahan ia melepaskan tangannya dari tangan Tristan. Ia menyentuh dengan perlahan helaian rambut Tristan, takut membangunkannya.
Arindi pun berusaha duduk, tenggorokannya terasa serak, lidahnya kering. Dilihatnya ada segelas air diatas nakas disamping tempat tidurnya. Ia pun perlahan memanjangkan tangannya, tapi tak sampai. Jika ia bergerak ia takut Tristan terbangun. Ia berhenti berusaha dan duduk menatap Tristan.
Tiba-tiba Tristan bangun. Ia sadar genggamannya sudah terlepas, artinya gadis itu sudah terbangun. Ia pun mengangkat kepalanya. Didapatinya gadis itu sedang tersenyum kepadanya.
"Apa Arin ngebangunin kakak?" ujar Arin lembut.
"Engga kok sayang, kapan kamu kebangun?" tanya Tristan sambil berusaha menyadarkan dirinya.
"Baru aja kak, Arin haus."
"Oh." Tristan pun berdiri, ia mengambilkan minuman yang ada di atas nakas lalu memberikannya pada Arindi. Tristan pun duduk menyamping di tempat tidur Arindi, menghadapi gadis itu. "Kamu juga harus minum obat ini," ujar Tristan sambil memberikan beberapa butir obat pada Arindi.
Matanya menelisik wajah gadis itu. Wajah Arindi terlihat sudah merona tak lagi pucat seperti sebelumnya. Artinya ia sudah merasa sedikit baikan pikir Tristan Arindi yang merasa sangat haus, menghabiskan seluruh isi gelas.
"Mau lagi?" tanya Tristan yang baru tersadar kalau gelas di tangan Arindi telah kosong.
"Udah cukup kak."
Tristan meletakkan kembali gelas itu ke tempat semula. Ia pun kembali duduk disamping gadis itu dan menyentuh dahi Arindi memastikan ia benar-benar tidak demam lagi. "Demam kamu udah turun."
__ADS_1
Arindi melirik kompresan di atas nakas dan sebuah plastik obat. "Tadi Arin di kompres?"
"Iyya badan kamu panas."
"Itu obat apa?"
"Pereda nyeri sama obat oles untuk pundak kamu."
Arindi pun melihat ke arah pundaknya yang sakit. Karena bajunya tanpa lengan ia bisa langsung melihat lebam merah keunguan pada pundaknya yang tertutup plester kompres.
"Jadi gara-gara ini Arin sakit dan juga demam?"
"Iyya. Uhm Rin...." Tristan memandang lembut wajah Arindi. "Kakak minta maaf udah buat Arin kesulitan lagi." Tristan meminta maaf dengan tulus.
"Ini bukan salah kakak kok. Sebenernya Arin yang mau minta maaf, harusnya Arin cerita ke kakak sejak awal soal taruhan itu. Arin merasa bersalah karena kakak harus denger dari orang lain."
Sama seperti yang Tristan rasakan, kembali rasa bersalah menggelayuti pikiran Arindi, rasa sakit yang menusuk itu kembali menghunjam hatinya.
"Soal itu... Kakak ga mempermasalahkannya kok. Kalo memang nanti...."
Arindi cepat memotong kata-kata Tristan. "Engga kak. Ada hal yang harus Arin bilang, kami udah batalin semua soal taruhan itu. Arindi sama kakak sekarang bukan karena taruhan itu. Itu karena...."
Ia berhenti berbicara. Ia ragu mengatakan perasaannya yang sebenarnya, ia masih takut Tristan tak mempercayainya. Ia hanya menatap Tristan. Tristan pun mengernyitkan dahinya.
"Karena... Arin suka sama kakak."
Tristan membeku mendengar kata-kata Arindi barusan. Hatinya sangat lega, rasa sesak yang tadi menyempil di salah satu sudut hatinya hilang seketika. Sekarang hanya degupan jantungnya saja yang memenuhi kepalanya. Ia tersenyum penuh makna pada Arindi. Mereka pun saling bertatapan.
Tristan mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya pada wajah gadis itu lalu mengusap lembut pipinya. Jantung mereka berirama mengisi keheningan malam. Perlahan Tristan mendekatkan wajahnya pada Arindi, ia mencium bibir gadis itu. Arindi pun membalas kecupan sayang Tristan.
Tristan merengkuhkan kedua tangannya ke wajah Arindi. Mereka berdua benar-benar menikmati ciuman mereka. Hingga tanpa sadar tangan Tristan menyentuh pundak Arindi yang sakit. Arindi yang merasa kesakitan menarik bibirnya lalu meringis kecil.
"Awwwh..."
Tristan kaget, ia tak menyadari kalau tangannya menyentuh tepat di tempat yang sakit. "Ah maaf... Kakak lupa."
Arindi hanya tersenyum melihat wajah kaget Tristan.
"Ya udah sayang kamu tidur aja lagi. Kakak tungguin."
"Kakak yang harusnya istirahat. Oh iya...," Arindi melihat pada pakaian yang masih dikenakan Tristan. "Kalau kakak mau pulang istirahat gapapa. Kakak belum ganti baju kan?"
"Kenapa? Apa tercium bau ga enak?" Tristan menciumi bajunya karena Arindi berkata seperti itu. Ia takut kalau tubuhnya berbau tidak enak.
"Engga kok kak." Arindi tersenyum lalu memeluk Tristan tiba-tiba. Tristan yang kaget langsung membalas pelukannya dengan berhati-hati. Ia takut menyentuh bagian yang sakit lagi.
"Arin cuma berpikir mungkin kakak mau ganti baju aja," ujar Arindi masih memeluk Tristan.
"Iya kakak ngerti. Kakak juga nanti pulang kalo kamu udah tidur. Jadi tidur lagi ya?"
__ADS_1
Arindi pun hanya mengangguk, ia melepaskan pelukannya. Arindi memang masih mengantuk ditambah lagi obatnya itu menyebabkan kantuk. Ia pun berbaring kembali ke tempat tidurnya. Tristan duduk di samping tempat tidur Arindi. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Arindi. Matanya tak lepas dari wajah itu.
Ia benar-benar menjadi obat yang terbaik untuk Arindi saat ini.