Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Sirkuit


__ADS_3

"Lu dimana, gue udah di basemen?" ujar Nadine di telepon.


"Bentar lagi gue turun, gue lagi pake baju," jawab Arindi.


Terdengar suara terburu-buru Arindi dari balik telepon. Hari ini hari minggu, Arindi masih di alam mimpinya karena ia baru tidur pukul tiga pagi menyelesaikan projek lukisannya. Beberapa malam ini ia selalu begadang karena tugas kuliahnya, karenanya ia ingin menghabiskan hari liburnya dengan tidur seharian.


Tapi telepon dari Nadine membuatnya lagi lagi kehilangan rasa kantuknya. Nadine mengancam akan terus menekan bel pintunya jika ia tidak bangun dan pergi keluar bersamanya.


Ting. Pintu lift terbuka.


Arindi dengan malas keluar dari lift. Ia melihat Nadine berdiri di salah satu tiang basemen sedang menunggunya.


"Hoaaahmm kita mau kemana sih Nad? Pagi pagi gini?" tanya Arindi.


"Pagi mata lu. Jam 11 dibilang pagi. Ayo!"


Arindi pun mengeluarkan kunci mobilnya dari tas punggungnya.


"Eh eh siniin kunci lu." Nadine menarik kunci mobil Arindi lalu memasukkannya ke saku celana jeans nya.


"Ngapain sih Nad? Kita mau...."


Jleb.


Belum selesai Arindi bicara, Nadine memasangkan helm ke kepala Arindi. Arindi pun membuka kaca helmnya.


"Woi kita mau ngapain?"


"Udah diem, hari ini kita naik motor gue, ayo naik," ujar Nadine.


"Ga mau, bilang dulu mau kemana!"


"Argh bacot. Naek ga?" Nadine pun mengambil paksa tas punggung Arindi yang dikaitkannya di bahu kanannya.


"Eh eh jangan, itu ... Iya ... iya gue naek." Arindi tak bisa mengelak saat tas punggungnya sudah di peluk Nadine, karena semua hartanya yang berharga ada didalam tas itu.


"Anak pinter, pegangan yang kuat," ujar Nadine.


"Jangan ngebut ngebut!"


Bruuuuuummm...

__ADS_1


Suara Arindi tertelan oleh suara motor sport Nadine. Arindi hanya pasrah menuruti Nadine. Ia memeluk erat sahabatnya.


...----------------...


Motor Nadine pun memasuki area parkir sebuah sirkuit balap. Saat ini mereka sedang ada di Sirkuit Bentul. Arindi bergegas turun setelah motor di parkir, ia membuka helmnya.


"Nad... ini sirkuit, elu bangunin gue pagi pagi untuk ini?" tanya Arindi.


"Keliatan kan, lagian ini tuh siang, mata lu picek, liat matahari diatas pala lu."


"Bentar bentar bentar Nad, lu mimpi apa bawa gue kesini? Lu mimpi menang lotre? Enga engga ini tuh ga bener, anterin gue balik."


"Ya udah balik sono." Nadine pun berlari sambil mengangkat tinggi tas milik Arindi yang masih di peluknya.


"Nadiiiiine... Tungguin gue, balikin tas gue...," jerit Arindi.


Arindi dan Nadine akhirnya masuk. Arindi kelelahan mengejar langkah besar Nadine hingga akhirnya tanpa sadar kakinya sudah menginjak ke dalam tribun.


"Udah duduk sini." Nadine mengajak Arindi duduk di barisan yang masih kosong di tribun yang mulai di padati orang.


"Kita mau ngapain sih disini? Itu tas gue balikin dong."


"Mau nonton balapan lah, mau piknik? Nonton aja dulu tuh mau mulai," ujar Nadine.


"Ya udah yang penting lu duduk. Mau lu tidur terserah. Gue mau nonton. Dan lo inget ya, catet ni, garis bawahi kalo gue ini sahabat terbaek lu yang bakal bantuin lu."


"Lo ngigo. Udah ah gatau. Siniin tas gue," ujar Arindi.


"Biar gue yang pegang. Mau apa sih?" tanya Nadine.


"Hp, dompet, harta gue semua disitu. Lagian lu kenapa sih Nad?"


"Udah ah," jawab Nadine cuek.


"Ya udah sih, keluarin buku sketsa gue, gue bosen," pinta Arindi.


"Uhm... kalo buku sketsa boleh boleh. Ntar gue ambilin." Nadine membuka tas punggung Arindi, ia mengambilkan buku sketsa yang dimaksud, salah satu harta berharga yang selalu ia bawa kemana-mana bahkan saat ia boker. Bagi Arindi, inspirasi dan ide bisa datang dimana saja dan kapan saja, dengan alasan itu dia tak pernah meninggalkan buku sketsanya.


"Buku doang?" tanya Nadine lagi.


"Pensilnya juga lah," Arindi masih merasa capek, capek lari dan capek berdebat.

__ADS_1


"Pensil yang mana? ada banyak nii...."


"Pensil drafting."


"Draft? Apaan... Udah ah ribet nih pakek yang ini aja." Nadine mengambil satu pensil sembarang lalu memberikannya ke Arindi. Ia bingung ada banyak jenis pensil di dalam tas Arindi. Ia pun menutup kembali tasnya dan memeluknya lagi.


"Gue anak seni, bawa banyak pensil ga aneh. Lagian lu kan anak arsitek masa ginian ga tau." Arindi mulai mencoret-coret, menggambar atau melukis sesuatu di buku sketsanya. Pekerjaan yang selalu disukainya sejak kecil. Saat bosan, tak ada kerjaan, buku sketsa layaknya oase di tengah gurun panas yang menghilangkan dahaganya.


Nadine sangat mengerti dengan kebiasaan sahabatnya satu ini. Asalkan tangannya mulai sibuk maka setiap bagian tubuh lainnya pasti akan diam dan fokus, terutama mulutnya akan berhenti merengek, itu membuat Nadine tersenyum penuh kemenangan.


"Maafin gue Rin, tapi entar lu pasti berterima kasih ke gue," batin Nadine.


"Nadine !!!"


Suara pria menyapa Nadine. Nadine membalas sapaannya. Sementara Arindi masih sibuk dengan buku sketsanya, ia tak berniat melihat siapa lawan bicara Nadine, ia hanya berpikir mungkin itu teman satu klubnya.


"Eh Rendi, Tristan, baru dateng?" tanya Nadine.


Arindi tersentak saat Nadine mengucapkan nama itu. Tangannya berhenti, ia pun menoleh ke arah suara pria yang tadi menyapa Nadine. Dilihatnya Rendi dan Tristan berdiri di samping Nadine lalu mengambil tempat duduk kosong dibelakang Nadine.


Tristan. Ada Tristan. Tunggu ... Tristan... Nadine ... Mereka punya motor besar, jangan jangan mereka satu klub. Itu yang dipikirkan Arindi.


"Iya baru. Lu dah lama?" tanya Rendy.


"Baru juga dateng," jawab Nadine.


Arindi menatap kosong ke depan, ia berusaha mencerna keadaan. Ia pun menyikut Nadine yang masih asyik mengobrol dengan mereka.


"Kenapa?" ujar Nadine berbisik.


"Jadi ini alasan lu ngajakin gue kemari? Lu satu klub sama Tristan? Kenapa lu ga bilang sih?" tanya Arindi.


"Bingo. Lu udah sadar. Baru setahun kenal di klub sih, ya kalo gue bilang kan ga surprise dong ya," jawab Nadine cuek.


"Surprise? lu mau mati?" tanya Arindi.


"Ampun Rin, tapi udahlah udah disini juga kan," jawab Nadine cuek.


Arindi menjadi jengkel, ingin rasanya ia mencabik-cabik buku sketsa nya. Tapi ia mengurungkannya lalu membalik kertasnya. Memberi tatapan tajam ke Nadine lalu mulai fokus lagi ke bukunya.


"Kenapa? Lu pasti benci banget kan sama gue? Hahahaha gambar yang bagus ya...."

__ADS_1


Nadine terus menertawakan kelakuan Arindi. Ia tahu benar apa yang bakal Arindi lakukan, saat ia benci, marah pada seseorang ia akan menggambar wajah orang tersebut lalu memberinya berbagai atribut tak jelas, seperti menambahkan tanduk di kepala atau hal ekstrem lainnya.


__ADS_2