Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Awal Jatuh Cinta


__ADS_3

Arindi merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Ia baru selesai membersihkan diri dan menyegarkan wajahnya. Malam terasa dingin karena di luar sedang turun hujan, ia pun menaikkan suhu pendingin ruangan lalu menarik selimutnya. Malam terasa lebih dingin dan lebih melelahkan dari biasanya.


Arindi membuka ponselnya. Ia membaca pesan masuk dari sahabatnya yang sejak tadi ia abaikan. Para sahabatnya ingin datang melihat keadaannya tapi karena Arindi tak ingin membuat mereka merasa bersedih, jadi ia membuat alasan kalau ia benar-benar merasa lelah dan berencana untuk bertemu mereka besok hari saja. Baru kali ini ia mengabaikan mereka.


Triing ting ting...


Nada panggilan hp nya berbunyi saat ia baru saja mematikan lampu kamarnya. Nama penelepon yang tertera dilayar hp-nya menjadi alasan Arindi cepat mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo kak," sapa Arindi pada Tristan yang ada di ujung telepon.


"Halo Rin. Sudah di rumah?" suara khas Tristan bergema ditelinga Arindi.


"Sudah kok kak, kakak udah di rumah? gimana luka-lukanya? Masih sakit? Obatnya udah diminum? Perbannya harus di ganti kan, udah diganti belum?" cecar Arindi pada Tristan yang membuat Tristan tak sempat menjawab pertanyaannya dengan cepat.


"Satu satu nanya-nya. Kakak udah di rumah dari tadi, lukanya masih perih mungkin karena efek biusnya habis tadi tapi ini obatnya udah diminum trus perbannya besok pagi di ganti," jawab Tristan dalam satu tarikan nafas. Ia masih kaku berbicara pada Arindi lewat telepon.


"Masih perih ya kak? trus gimana biar ga perih lagi?" suara pelan Arindi terdengar sangat mengkhawatirkan Tristan.


Tristan selalu merasa senang tiap kali Arindi terdengar mengkhawatirkannya. "Ya mau gimana, yang penting udah di obatin. Udah tenang aja ya. Sekarang lagi apa?"


"Lagiii... Uhm ga ada kak, tadi baru aja mau tidur sekarang lagi tiduran, teleponan aja sama kakak," jawab Arindi polos.


"Udah mau tidur ya? Emang udah makan?" tanya Tristan, ia ingat sejak kejadian tadi sepertinya Arindi belum makan apapun.

__ADS_1


"Belum sih kak, uhmm... ga laper kok," jawab Arindi yang memang tidak berasa lapar.


"Ga laper? Emang kapan terakhir makan?".Tristan mulai resah.


"Tadi siang kayanya... di kampus bareng Rasya," Arindi ingat tadi saat ia dan Rasya ke stan makanan.


"Siang tadi? Udah berapa jam." Tristan melihat ke jam di dinding kamarnya. "Jadi Mau makan apa sekarang?" tanyanya yang makin khawatir.


"Maksudnya gimana?" jawab Arindi yang ternyata tidak peka dengan maksud Tristan.


"Ya Arin maunya makan apa? Bilang aja, nanti kan bisa di pesan antar atau kalau memang ada yang Arin mau dan ga bisa di pesan online, biar kakak yang beliin," jelas Tristan pada Arindi.


"Mana mungkin Arin nyuruh-nyuruh kakak malam malam beliin makanan lagian ga pengen makan apa-apa sih, ga laper kak, seriuuus...."


Arindi tak mungkin membuat Tristan melakukan hal tak masuk akal seperti itu, tapi Arindi sangat senang mendengar ketulusan yang ditawarkan Tristan barusan. Ia tahu Tristan juga sangat mengkhawatirkannya meskipun ia tahu perasaan apa yang ia rasakan sekarang.


"Arin ini kuat kak, lagian gimana ga nangis coba? Liat kakak berdarah-dara gitu. Meskipun bukan Arin yang terluka tapi hati Arin sakit ngeliat kakak terluka," ia menjawab polos tanpa memikirkan apa yang keluar dari mulutnya.


Tristan tertegun mendengar jawaban Arindi barusan, bahkan hanya dengan kata-kata khawatir gadis itu bisa membuat jantungnya terus berdegup kencang seperti ini.


"Fuuuuuuuh...." Tristan menghembuskan nafas panjang. Ia ingin menenangkan jantungnya yang sedang tak karuan.


"Kenapa kak? Tangannya sakit lagi?" suara Arindi mulai terdengar panik sekarang.

__ADS_1


"Engga kok Rin," jawab Tristan pelan.


"Trus kenapa gitu?" Arin masih penasaran.


"Kakak gapapa, ya udah Arin tidur ya? Istirahat aja dulu pasti lelah seharian ini, kakak juga mau istirahat," ujar Tristan ingin mengakhiri percakapannya.


"Oh iya kak, kakak gitu kakak juga istirahat ya."Arindi pun mematikan ponselnya. Ia hanya ingin tidur sekarang, berharap pagi datang lebih cepat.


...----------------...


Sementara itu.


Tristan telah menyudahi panggilannya. Ia meletakkan ponselnya di samping tubuhnya. Ia masih ingin bertelponan dengan Arindi tapi tiap kali Arindi berbicara ia tak kuat mendengar suaranya, rasanya tak sanggup ia menahan perasaannya. Ia benar-benar merindukannya.


Tristan bukanlah orang yang gampang untuk jatuh cinta, ada banyak gadis yang mendekatinya, tapi tak ada yang mampu menggugah hatinya. Merindukan seseoang gadis bukanlah hal yang biasa baginya.


Awal pertama bertemu Arindi, segalanya berubah bagi Tristan. Wajah gadis itu sejak pertama mengisi satu bagian kosong dari hatinya. Bukan karena pertemuan baru beberapa hari ini, tapi sudah sejak dua tahun lalu ia bertemu Arindi untuk pertama kalinya.


Entah kenapa wajah gadis itu terukir permanen di ingatannya sejak pertemuan pertamanya di hari ia menjadi mahasiswa baru. Setelah pertemuan itu ia tak lagi bertemu Arindi. Selama ini bukan ia tak ingin menemuinya, tapi karena tak punya pengalaman berpacaran membuat ia menahan keinginannya.


Hari itu, hari dimana ia melihat gadis itu pertama kali setelah sekian lama d idepan gedung sekretariat BEM, meskipun saat itu Arindi berkaca mata hitam tapi ia tahu dengan jelas wajah yang selama ini ada dalam ingatannya.


Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya terjadi saat Arindi berlalu melewatinya. Jantungnya berdebar melihat wajah itu, jantungnya berpacu tanpa alasan.

__ADS_1


Ia masih tak percaya dengan apa yang matanya lihat. Gadis yang selama ini terukir wajahnya dalam hatinya, kini gadis itu ada dihadapannya, gadis itu yang mendatanginya lebih dulu.


Tristan bukanlah orang yang percaya pada kebetulan, segala sesuatu yang terjadi baginya sudah digariskan. Jadi saat gadis itu mendatanginya saat itu, ia telah bertekad tak akan kehilangannya gadis itu lagi. Ia tak akan menyiakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya.


__ADS_2