
Tristan baru saja selesai mengunci ruang BEM. Tiba-tiba Celyn datang menghampirinya.
"Tan...," ujar Celyn mencoba berkata pelan.
"Kenapa lo masih disini?" Tristan hanya Cuek dan berjalan pergi mencoba menghindari wanita itu.
"Tan tunggu, lo bener ga ada hubungan apa apa kan sama dia?" ia masih penasaran dengan yang tadi.
Tristan pun berbalik menatap tajam pada Celyn. "Bukan urusan lo, dan lo inget gue mau pacaran sama siapapun bukan urusan lo, karena kita sudah dan ga akan pernah lagi ada hubungan. Inget itu!" ujar Tristan menegaskan kata-katanya.
Celyn tak mau kalah. "Jadi lo bener pacaran sama dia?" ia berkata setengah teriak. " Dan ...." Celyn mengeluarkan hp nya, ia menunjukkan beberapa foto Tristan dan Arindi di taman dekat apartemen Arindi waktu kejadian dari sirkuit waktu itu.
"Jadi bener lo udah sedeket ini sama dia? Ini apartemen Arindi kan?" Celyn mengangkat hp nya ke arah Tristan.
Tristan kaget melihat foto itu. "Ada yang foto diam-diam? Tapi siapa? Apa tujuannya? Tunggu... nomor ini..," batin Tristan.
Tristan merasakan keanehan, lalu ia pun melihat ke nomor telepon pengirim pesan gambar itu pada Celyn, ia menghafalkan nomor itu dalam hati.
"Lo tau kan ini bukan urusan lo? Jadi jangan lagi dekati gue ataupun Arindi," jawab Tristan dingin. "Gue ga perduli dengan yang begini." Ia pun menepis tangan Celyn.
Tristan pergi meninggalkan Celyn. Kebencian dan kedengkian semakin menumpuk dalam hati Celyn. Ia semakin membenci Arindi tanpa alasan. Obsesinya pada Tristan pun berubah menjadi kebencian yang meradang.
"Lo berubah Tan, jadi lo bener-bener suka ja**** itu?" gumam Celyn terbakar emosi.
Nada bicaranya menjadi dingin, rasa sukanya menjadi dendam sekarang. Ia merasakan perubahan pada pria itu, ia bisa melihat bagaimana cara Tristan memandang ke Arindi.
...----------------...
Tristan baru saja selesai makan malam. Ia duduk di gazebo belakang rumahnya. Ia memeluk gitarnya, memetiknya sembarang, ia termenung menatap pantulan cahaya bulan di air kolam renang dihadapannya.
"Arindi ga mungkin ngirim pesan itu."
"Tapi kalo bukan dia, siapa?"
"Jelas-jelas itu nomor hp nya?"
Pikirannya berkecamuk memikirkan pesan yang diterima Celyn tadi siang. Ia percaya bahwa Arindi tak mungkin melakukan itu, tapi ia tak tahu siapa yang tega memfitnah Arindi.
"Dan foto-foto itu...."
"Tunggu dulu foto itu dikirim dari nomor yang berbeda, tapi nomor siapa, gue kayanya pernah ngeliat...." Tristan bergumam sendiri.
Ia pun bergegas mengeluarkan hp dari saku celananya. Ia hampir saja melupakan nomor itu. Lalu Tristan bergegas mengetikkan nomor yang ia hafal tadi siang di hp nya. Sebuah nama keluar di layarnya, artinya nomor tersebut tersimpan di buku kontaknya.
"Anggi?" Tristan sangat kaget ketika tahu siapa pemilik nomor itu.
"Dia yang kirim foto foto itu ke Celyn?"
"Tapi kenapa Anggi...?"
Sebuah nama yang tak pernah diduga muncul. Beribu pertanyaan memenuhi pikiran Tristan saat ini. Ia benar-benar tak habis pikir atas semua kejadian ini. Dari sekian banyak mengapa harus Anggi. Hal ini benar-benar mengganggu pikiran Tristan
...----------------...
Malam itu Arindi duduk disofa apartemennya, ia memeluk bantal sofanya. Ia hanya terdiam. Masih ada bagian yang terasa sakit disudut hatinya.
__ADS_1
"Lu kenapa diem aja sih? Tumben, ketelen biji salak lu?" ujar Nadine yang sedang menyantap mie instan di samping Arindi.
"Arin sayang kenapa?" Vivian pun menimpali karena Arindi tak kunjung memberi jawaban.
Arindi menarik napas panjang. Membuat kedua sahabatnya hanya saling pandang.
"Kkenapa Rin?" ujar Vivian
"Rasanya sakit," suara Arindi lirih.
"Sakit???" teriak Nadine dan Vivian bersamaan.
"Lu sakit?" Nadine mengulang kata-katanya.
"Arin sakit? Sakit apa? Bagian mana yang sakit." Vivian pun mendekati Arindi.
"Disini." Arindi menunjuk ke dada bagian kirinya.
"Susah napas? Jantung Arin sakit? Nad gimana ni Nad," wajah Vivian mulai menegang.
"Ya gimana, gue ga tahu, buru ke dokter deh Rin." Nadine asal menjawab.
"Hati gue yang sakit Ogeb," ujar Arindi memeluk erat bantal sofanya.
Lagi lagi kedua sahabat itu saling berpandangan. Mereka masih belum menangkap maksud omongan Arindi.
"Hati?" gumam Nadine, ia menekan dadanya sendiri memastikan dimana letak hati. "Ah ga ga... Ga bener ini... Ini bukan kaya elu yang biasa deh Rin, coba cerita yang bener bener,"
Vivian hanya mengangguk, mengiyakan kata Nadine. Tak lama Arindi pun mengambil hp nya, ia menunjukkan pesan yang tadi siang di kirim ke Celyn dari ponselnya. Nadine dan Vivian memanjangkan leher mereka mendekat dan membaca isi pesan tersebut.
"Ga mungkin elu kan?" Vivian ikut heboh.
"Udah berapa lama sih kita sahabatan, kalian percaya ini gua yang kirim?" Arindi menutup kepalanya dengan bantal, ia merasa sangat tak bertenaga sekarang.
Nadine dan Vivian menggelengkan kepalanya berbarengan, menolak pernyataan Arindi, mereka tahu Arindi tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu.
"Tapi gimana bisa pesan ini dikirim dari hp lu? Makanya sering gue bilang hp tuh perlu di kunci," tanya Nadine.
"Iya ini bener Arin yang kirim tapi orang lain yang ketik dan kirim pake hp lu. Coba lu inget kapan elu ninggalin hp elu?" ujar Vivian mulai mencium hal yang tak beres.
"Itu ga mungkin," tepis Arindi.
"Apanya yang ga mungkin sayang?" ujar Nadine makin penasaran.
"Ok Rin ceritain sedetail mungkin deh Rin. Vivi sama Nadine bakal dengerin ceritanya dulu."
"Ya ampun guys, gue gada ninggalin hp gue lama-lama, bentaran doang, pas gue ngeprint ke bawah, lagian di atas cuma ada kak Anggi, Dodi sama Ratih. Mereka ga mungkin gitu. Kak Anggi orangnya baik, ceria, Dodi sama Ratih ga mungkin juga." Arindi menjelaskan keadaan saat itu.
"Trus yang paling deket duduknya sama lo?" selidik Vivian.
"Lagian nih ya Rin, jaman sekarang pencuri juga pake jas sama dasi kok Rin, ga bisa dibedain lagi, ya kan Vi," celetuk Nadine.
Arindi menjawab lemah. "Yaaa cuma kak Anggi yang paling deket, tapi itu ga mungkin kan, dia orangnya baek."
"Kaalo Celyn kayanya ga mungkin kan? Menurut lo gimana Vi?" tanya Nadine kemudian.
__ADS_1
"Ga mungkin si Celyn deh Nad. Tersangkanya hanya tiga orang itu yang memungkinkan."
"Tapi Nad, Vi gak mungkin lah mereka gitu, alasannya apa coba?"
"Ga ada yang ga mungkin Rin, sekarang kemungkinan dari mereka bertiga, siapa yang paling deket sama Celyn dan bisa tahu nomor Celyn?" Nadine masih menolak pendapat Arindi soal ketiga orang itu.
"Mana gue tahu, gue cuma tahu kak Anggi kayanya lumayan deket sama Celyn," jawab Arindi mulai lelah.
"Luu tau darimana mereka deket?" cecar Nadine yang seolah menemukan titik terang.
"Yaaah malem gue luka itu, kak Anggi yang ajak Celyn pulang, dan mereka sepertinya sudah lama kenal walopun gak akrab sih," terang Arindi.
"Tunggu dulu, kenapa lu bisa ninggalin tempat duduk lo?"
"Ya ampun Vi, kan udah gue bilangin, itu karena kak Anggi minta tolong ke gue buat print dokumen, dia harus buru buru pulang karena nyokapnya sakit," jelas Arindi
"Vivi yakin ada yang ga beres ini Rin."
"Iyya, ya udah deh lu mending istirahat dulu, Vi yuk lah pulang," ajak Nadine pada Vivi.
"tapi Nad, kita belum selesai... Vivi belum...."
"Uudah ah yuk pulang." Nadine menggeret tangan Vivian paksa. Karena lelah Arindi hanya memendam kecewa karena ditinggalkan sahabatnya. Ia juga sebenarnya lelah, bahkan tak pernah selelah ini.
...----------------...
Di dalam lift.
"Nad kenapa cepet banget sih pulangnya? Kita kan harus menghibur Arindi, Rasya lagi sibuk, kalo bukan kita siapa yang bakal ngehibur dia?"
"Udah deh, gue punya rencana, lu mending tidur malem ini, besok ada yang harus kita selidiki," jawab Nadine.
"Apaan sih maksudnya, ga ngerti gue...." Vivian mulai bingung.
"Udah besok lu ikut aja."
"Yya kemana Nad, trus ngapain coba?" Vivian masih bingung.
" Udah jangan bawel."
"Ok deh, terserah lu aja."
Nadine memiliki rencana untuk menolong sahabatnya, ia memiliki perasaan tak enak kali ini.
...----------------...
Arindi masih belum tidur, ia hanya berbaring mencoba menutupkan mata. Rasa sakit itu membuatnya lelah tapi juga membuatnya tak tenang. Ia ingin tidur tapi matanya ta bisa menutup.
Tiba tiba hp nya berbunyi, sebuah panggilan masuk dari Tristan.
"Ngapain dia nelpon? hah... paling mau marah-marah lagi. Males banget. Ngapain juga elu nelpon?" itu yang dipikirkan Arindi saat itu, seperti biasa ia dengan mudah menyimpulkan sesuatu.
Tuuk!
Arindi menonaktifkan hp nya. Ia tak ingin mendengar apapun kata kata Tristan sekarang. Tatapan dingin nya tadi siang cukup bagi Arindi untuk menyimpulkam apa yang akan Tristan katakan jika meneleponnya.
__ADS_1