
Arindi menutup buku sketsanya. Tak terasa sudah tiga jam ia duduk di kafe ini. Selama tiga jam itu ia sudah menghabiskan chocolate milkshake dan lychee ice tea masing-masing satu gelas. Selain itu tiga halaman kosong di buku sketsanya sekarang sudah menjadi objek karya seninya.
Alasan Arindi berada di kafe ini tentu saja karena Anggara. Pagi tadi setelah Anggara menghabiskan mie pangsit pesanannya, ia meminta Arindi mengantarnya ke tempat-tempat yang sudah dijadwalkan dalam agenda perjalanan bisnisnya.
Arindi terpaksa menuruti saja apapun permintaan Anggara karena ia mengancam untuk terus tinggal bersama jika Arindi menolaknya. Baru beberapa jam bersamanya saja sudah membuat Arindi naik darah apalagi jika ia tinggal bersama selama satu minggu. Ia bisa gila memikirkannya.
Oleh karena itu Arindi bersedia menjadi sopir Anggara untuk hari ini dan mematuhi apapun yang ia perintahkan.
Termasuk perintah paling tidak masuk akal yang diberikan Anggara pada Arindi saat ini yaitu Arindi harus menunggunya di kafe tak jauh dari gedung perusahaan tempat Anggara melakukan business meeting dan Arindi harus menyerahkan ponselnya pada Anggara.
Setelah tiga jam menunggu Arindi baru menyadari alasan kenapa ia harus menyerahkan ponselnya. "Sial," batin Arindi. "Harusnya gue udah curiga alasannya nyita hp gue."
Arindi mulai gelisah sendiri, tiba-tiba ia teringat soal Tristan. "Gimana kalo Tristan nelpon trus kakak yang angkat?" gumam Arindi. "Engga... ga mungkin. Pasti hp gue di silence kan sama dia? Tapi gimana kalo engga? Haduh...."
Arindi pun menelungkupkan kepalanya ke meja. Memikirkan Tristan membuat Arindi merasa sedih. "Gimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik aja?"
.
.
Sementara itu.
Anggara baru saja selesai dengan meeting-nya. Ia bergegas keluar dari gedung karena sebagai kakak, ia juga mengkhawatirkan adiknya. Ia sendiri tak menyangka meeting-nya akan selama itu.
Anggara pun tiba di kafe. Matanya menyapu bersih seisi kafe mencari sosok Arindi. Hampir saja ia tak menemukannya jika ia tak berjalan lebih masuk kedalam karena Arindi menelungkupkan kepalanya di meja. Arindi duduk tepat di salah satu pojok kafe yang ada disamping pilar penyangga.
Anggara pun mendekat tapi sepertinya Arindi tak terusik dengan suara berisik langkah kakinya. "Dia tidur? Hah... Bisa-bisanya lo tidur disembarang tempat?"
Anggara pun menarik perlahan kursi yang ada di samping Arindi. Ia ingin membangunkannya tapi masih tak tega.
Drrt! Drrt! Getar ponsel dari saku jasnya membuat Anggara kaget. Hampir saja ia lupa. Selama meeting tadi ponsel Arindi yang ia simpan dalam saku jas terus saja bergetar.
Anggara pun mengeluarkan ponsel itu. Ia melirik pada Arindi yang masih tertidur Karena penasaran ia membuka ponsel Arindi yang kebetulan tidak diberi kunci pengaman.
"Banyak banget. Ehm... grup kampus, komunitas lukis, komunitas seni, BEM, Nadine, Rasya...." Anggara membaca satu persatu nama yang muncul di bilah notifikasi ponsel Arindi dalam hatinya.
"BEM? Dia ikut yang beginian? Ga salah?" gumam Anggara pada dirinya sendiri. Lalu ada hal yang lebih menyita perhatian Anggara dari semua notifikasi yang ia baca yaitu ada lima panggilan tak terjawab dari seseorang yang nama kontaknya adalah Tristan.
Tentu saja Anggara tak akan curiga sekalipun itu seratus panggilan tak terjawab. Yang membuatnya curiga adalah penulisan nama Tristan itu disertai sebuah simbol hati di bagian depan dan sebuah lagi di belakang namanya.
"Tristan? Siapa dia? Pacarnya? Dua simbol hati? Udah bisa pacaran juga nih bocah," Anggara bergumam sendiri. Matanya memandang tak suka pada nama itu. Karena ia tahu benar bagaimana namanya di tulis di daftar kontak adiknya. Sebagai kakak ia merasa iri.
"Dua ya? Cuma dua...." gumam Anggara lagi. "Kalo gitu gue harus ganti nama gue jadi...." Anggara dengan gesit mengahapus namanya yang ada di kontak ponsel itu lalu menggantinya dengan Anggara, lima simbol hati di bagian depan dan lima di bagian belakang. "Simpan," ujarnya kemudian sambil tertawa puas.
Arindi kaget karena mejanya sedikit bergetar ketika Anggara tertawa tadi. Ia pun mengangkat kepalanya. "Kakak?" ujarnya kaget mendapati Anggara sudah duduk dihadapannya.
__ADS_1
"Wah nona sopir kita udah bangun aja. Gampang banget ya lo tidur disembarang tempat," ujar Anggara pura-pura kecewa.
"Hah? Emangnya gara-gara siapa gue bisa tidur disini? Arin ini ngantuk tau. Ti-ga-jam Arin nunggu disini kaya orang stres," ujar Arindi kesal.
"Berdiri!" ujar Anggara cuek lalu berangkat dari duduknya.
"Ck!! Pulang kan?" tanya Arindi penuh harap.
"Ikut gue ke satu tempat lagi!"
"Lagi? Ini dah jam lima sore kak. Kita mau kemana lagi sih?"
"Banyak tanya banget. Udah ayo jalan!"
"Tunggu!! Arin mau ke toilet dulu." Arindi pun berlari cepat menuju toilet.
Anggara kembali duduk di kursinya. Ia melirik pada buku sketsa Arindi yang tergeletak di atas meja. Sudah lama ia tidak melihat coretan tangan adiknya. Ia jadi ingin tahu sejauh mana kemampuannya sudah berkembang.
Anggara membolak-balik buku sketsa tersebut. Dari sekian banyak coretan tangan Arindi. Ada satu halaman yang lagi-lagi menarik perhatiannya. Pada halaman itu ada lukisan beberapa orang pria dan beberapa anak kecil. Sebuah coretan kecil di sudut paling bawah halaman bertuliskan Tristan dan anak-anak di pengungsian.
"Nama ini lagi," batin Anggara. Ia pun mulai sibuk menebak sosok Tristan yang ada di lukisan itu.
Plak! Tiba-tiba tangan Arindi menutup bagian halaman yang sedang diperhatikan Anggara. Anggara pun kaget mendapati Arindi sudah berdiri di sampingnya.
Arindi pun berjalan cepat mendahului Anggara keluar dari kafe menuju ke mobilnya.
.
.
"Kita mau ke mana sekarang?" ujar Arindi yang duduk di belakang kemudi. Ia sudah kehilangan semangat.
"Central Park Mall," ujar Anggara singkat. Seolah tak perduli dengan keletihan Arindi.
"Mall? Ini serius?" ujar Arindi mulai memutar mobilnya menuju arah yang disebutkan Anggara. Sedang Anggara hanya duduk bersandar memejamkan matanya. Sejak tiba di apartemen Arindi ia bahkan belum memejamkan mata dengan benar. Tubuhnya juga sangat kelelahan.
"Serius dong sayang, emang kakak bercanda? Kakak yang punya se-pu-luh hati ini, ga mungkin lah bercanda," jawab Anggara sambil senyum-senyum. Ia menekankan kata sepuluh dengan jelas walaupun mungkin terdengar konyol di telinga Arindi.
"Se-sepuluh hati? Pftt... Apaan tuh? Kakak sehat? Ngomong apaan sih?" Arindi merasa heran dengan perkataan random Anggara barusan. Tapi karena tubuhnya terlalu lelah untuk berpikir keras ia pun menganggapnya omong kosong belaka. "Jangan-jangan kesambet ni anak," batinnya.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Setelah memarkirkan kendaraannya, Arindi langsung menyandarkan tubuhnya berusaha menutup matanya yang sudah tidak kuat menahan kantuk.
"Ayo turun!" suara bariton Anggara menggema di telinga Arindi. Ia sengaja mengucapkan kata-katanya barusan sangat dekat ke telinga Arindi. Arindi yang baru saja menutup matanya menjadi kaget. Ia pun refleks memukul Anggara yang dengan cepat bisa menghindarinya.
"Arghh... Telinga gue bisa infeksi kalau kakak ngomong sedekat itu," ujarnya sambil menggosok-gosokkan tangannya ke telinga. "Arin nggak mau turun!"
__ADS_1
"Yakin nggak mau turun?" tanya Anggara yang sudah keluar dari mobil. Hanya kepalanya yang muncul dari jendela mobil mengintip ke Arindi yang masih kesal.
"Nggak lama kan disana?"
"Enggak... lima jam doang," ujar Anggara lalu menegakkan tubuhnya. Ia pun berjalan menjauhi mobil.
Arindi buru-buru mengambil tasnya lalu ikut keluar dari mobil. "Lima jam? gila aja gue disuruh nunggu lima jam di sini," batin Arindi. "Kak tungguin...," teriak Arindi pada kakaknya yang sudah berjalan menjauh.
Sedangkan Anggara hanya tersenyum puas mendengar teriakan Arindi memanggilnya. Kakinya yang jenjang membuat langkahnya lebar dan Arindi pun kesulitan mengimbanginya.
...----------------...
"Ngapain sih kita di sini? Kakak mau ketemu klien di sini?" kata Arindi yang mulai bad mood.
"Klien? Ngapain?"
"Ya... Ini bagian dari agenda bisnis kakak kan?" tanya Arindi mulai curiga.
"Siapa bilang? Kakak nggak bilang ini urusan pekerjaan."
"Jadi?"
"Belanja lah, ngapain kerja di mall?"
"Udah ah Arin mau pulang aja, sebel banget." Arindi pun membalikkan badannya. Namun usahanya sia-sia karena tangan besar Anggara telah melingkar di lehernya dan membuat Arindi terpaksa berjalan lurus ke depan mengikuti langkah cepat Anggara.
Mereka pun tiba di sebuah butik ternama. Anggara pun berbincang dengan salah satu pegawai toko. Seolah sudah menunggu kedatangannya, pegawai toko tersebut langsung mempersilakan Anggara dan Arindi untuk menuju fitting room.
Arindi yang sudah tidak memiliki daya dan upaya lagi hanya mengikuti saja kemauan kakaknya.
"Ini tuh sebenarnya buat apa sih kak?" tanya Arindi yang mulai merasa pusing dan mual setelah menjadi juri fashion dadakan Anggara. Arindi harus memilih satu set pakaian yang cocok dari sepuluh set pakaian yang di coba Anggara.
"Kita pulang aja kak, Arin udah ga sanggup lagi," suaranya terdengar parau.
"Besok malam gue harus menghadiri acara penting. Sebagai tamu undangan yang mewakili perusahaan, gue harus dandan maksimal dong," jelas Anggara sambil mencoba memasang dasi yang baru saja ia pilih. Sedangkan Arindi hanya mengangguk-angguk tak bersemangat.
Anggara melirik adiknya dari cermin besar dihadapannya. "Abis dari acara gue langsung ke hotel yang udah dipesan Johan, jadi...."
Belum sempat Anggara melanjutkan perkataannya, Arindi sudah menyela. "Langsung ke hotel kan? maksudnya beberapa hari kedepan kakak di hotel kan?" ia kembali semangat mendengar kakaknya akan meninggalkan apartemennya.
"Dasar bocil, segitu doang udah berasa seneng," batin Anggara. "Kenapa? Jangan sedih gitu dong, ntar juga kakak pasti sering mampir kalo lo mau."
"Ga usah repot-repot kak. Arin mulai besok udah sibuk di kampus."
Arindi benar-benar tak sabar menanti hari dimana Anggara meninggalkan apartemennya.
__ADS_1