
Arindi sedang duduk di sebuah bangku yang ada di bawah sebuah pohon dibelakang panggung, ia sedang mengecek hp nya sambil menikmati cokelat yang diberi Tristan tadi pagi.
Dibelakang panggung tidak ada orang. Semua orang sedang menonton penampilan band pop terkenal ibukota, yang sedang perform diatas panggung sekarang. Arindi tak terlalu menyukai kehingarbingaran seperti itu. Lagi pula ia lelah setelah mondar-mandir sejak tadi.
"Hai Rin lagi ngapain?" Suara Anggi mendekat, ia terdengar ceria. Ia duduk disamping Arindi.
"Oh kak Anggi, gada sih. Istirahat doang," jawab Arindi.
"Kakak mau makan, mau ikut? Udah siang loh," ajak Anggi ramah pada Arindi.
"Owh ga kak, Arin kenyang kok makan ini aja. Oiya kakak mau?" Arindi mengeluarkan sebatang cokelat yang masih terbungkus dari dalam tasnya dan memberikannya ke Anggi.
"Cokelat? Ga usah Rin, kakak ga suka makan cokelat. Alergi. Eh btw kayanya cokelat ini sama ama yang lo lukis waktu itu?" tanya Anggi setelah ingat sesuatu.
"Oh, maaf kak Arin ga tau. Iya sama, kakak masih inget? ini cokelat favorit Arin, cuma dijual di toko roti deket tempat tinggal Arin."
"Enak ya bisa makan cokelat tapi banyak bener beli cokelatnya?" Anggi melirik isi tas Arindi.
"Owh ini tadi dibeliin sama Kak Tristan," jawab Arindi senang.
"Kak Tristan?"
"Iyya tadi pagi," jawab Arindi polos. "Sebelum jemput Arin."
"Owh gitu. Berarti tadi pergi bareng kak Tristan?" tanya Arindi menyelidik.
"Iyya kak."
"Lu berdua pacaran ya?" Anggi berbisik mendekat.
"Engga kok kak," tepis Arindi.
"Uhhmmm ngaku deh...."
"Lagi ngapain berdua?" Suara Tristan tiba-tiba dari belakang sedang berjalan mendekat. Mereka pun menoleh bersamaan.
"Oh kak," seru Anggi kemudian. Sedangkan Arindi tersenyum melihat sosok Tristan.
__ADS_1
"Nggi laporan final keuangan udah di cetak?" tanya Tristan pada Anggi kemudian.
"Ini baru mau Anggi cetak kak... ya udah Rin, kakak tinggal ya masih ada kerjaan," ujar Anggi sambi mengedipkan mata pada Arindi.
Anggi pun meninggalkan Arindi dan Tristan berdua saja. Tristan mengambil sebuah kursi kosong tak jauh dari kursi yang diduduki Arindi, ia menempatkannya tepat di hadapan Arindi. Ia duduk begitu dekat hingga kaki mereka bersentuhan. Ia menatap gadis dihadapannya itu.
"Kenapa sendirian disini? Ga mau kedepan?" tanya Tristan.
"Enak disini adem, kakak ngapain kesini?"
"Kakak cariin tadi, di depan ga ada, jadi kak coba cari disini."
"Kenapa cariin Arin?Ada apa?"
"Ehmm engga ada sih, pengen aja."
Blupp! Pipi Arin merona seketika. Ia berhenti menggigit cokelatnya. Tristan kelihatan santai menggodanya, membuat Arindi menjadi malu.
"Ya udah abisin gih, ntar meleleh loh cokelatnya."
Tristan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menunduk membuka hp nya dan mengeceknya. Ia menunggu Arindi menghabiskan cokelatnya. Arindi pun melanjutkan makan cokelatnya dengan gugup. Tristan terus saja membuat ia menjadi malu. Ia pun menghabiskan cokelat yang ada ditangannya lalu menyimpan bungkusnya di dalam tasnya.
"Gapapa kak... Kebiasaan sih, kalo apa apa pasti buang kedalem tas."
Tristan hanya membulatkan mulutnya lalu melanjutkan melihat hp-nya. Arindi merasa sedikit gerah, ia pun berusaha membenarkan kunciran rambutnya. Gerakannya membuat Tristan teralihkan dari hp-nya, ia pun memandanginya.
"Kenapa di kuncir?" tanya Tristan kemudian.
"Gerah kak."
"Udah ga usah ya." Tristan mengambil lagi karet rambut yang ada di tangan Arindi dan memasukkannya ke saku celananya. Ia pun berdiri.
"Yuk ke depan, nonton," ajak Tristan kemudian.
"Ga mau, kakak aja, Arin mau disini aja, adem disini."
Tristan pun duduk kembali. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.
__ADS_1
"Loh kenapa duduk lagi?" Arindi jadi heran.
"Gapapa kok," ujar Tristan tersenyum.
"Ya udah yuk kedepan, ntar kita dicariin lagi," jawab Arindi kemudian.
"Yakin gapapa?" tanya Tristan heran ketika Arindi berubah pikiran.
"Yakin kakak."
Tristan menggosok rambutnya, sengaja mengacaknya. Lalu ia berjalan lebih dulu.
"Iiihhh... udah ga boleh di kuncir, di acak-acaj lagi...," seru Arindi.
Tristan hanya tersenyum melihat Arindi yang berjalan cepat sambil terus ngomel.
.
.
Arindi dan Tristan berjalan bersisian menuju mobil Tristan. Mereka akan beranjak dari tempat itu karena acara sudah selesai, semuanya pun sudah dibereskan. Waktu menunjukkan pukul lima sore.
"Kita sebenernya mau kemana sih kak, penasaran deh?" tanya Arindi setelah masuk ke dalam mobil.
"Kesini nih." Tristan menujukkan hp nya pada Arindi. Di layar hp Tristan terlihat dua buah tiket online untuk masuk ke sebuah galeri seni.
"Galeri seni Sanggaratih? Ini kan galeri yang terkenal itu? Serus ini kak kita mau kesana?" Arindi tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.
"Iyya, Arin pernah kesana?" Tristan bertanya balik.
"Belum pernah sih kak, ga kebagian terus tiketnya, kalopun mau kesana bentrok trus sama jadwal Arin. Jadi... serius kita mau kesana?"
"Iyya, tapi galeri baru buka jam 7 sih, jadi... gimana kalo makan aja dulu, gapapa kan?"
"Boleh." Karena begitu senang Arindi hanya mengiyakan saja apa kata Tristan.
Sebenarnya Arindi selalu ingin pergi ke galeri itu, tapi selalu saja ada kendala yang membuatnya mengurungkan niatnya. Melihat tiket itu di depan mata membuat ia sangat bersemangat sekarang. Rasanya kelelahannya beberapa hari ini terbayar sudah.
__ADS_1
Mereka berdua pun mencari tempat makan yang letaknya tak jauh dari galeri. Selama perjalanan menuju ke galeri Arindi tak pernah tahu bahwa Tristan semakin merasa gugup. Tangannya trus saja berkeringat, namun melihat Arindi yang begitu senang mendapat tiket itu membuatnya sedikit tenang.