
Arindi membuka matanya dengan perasaan bahagia. Rasa sakit di pundaknya tak terlalu terasa lagi, badannya juga sudah merasa lebih baikan. Ia menoleh pada kursi kosong di samping tempat tidurnya. Ia tersenyum membayangkan cara Tristan merawatnya semalam.
Arindi pun bangun, ia perlahan berdiri dan menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kertas memo berwarna kuning di atas nakas. Ia meraihnya lalu membacanya.
"Hubungi kakak kalo udah bangun!!"
Setelah membaca memo itu segera ia meraih hp-nya. Awalnya ia ragu, takut Tristan mungkin saja belum terbangun karena kelelahan setelah menjaganya semalaman. Tapi isi memo itu seolah berkata bahwa kapanpun ia bisa melakukannnya jika telah terbangun, ia juga tak ingin membuat pria itu khawatir lagi.
Tuuuut!!! Bunyi telepon tersambung.
Tristan baru selesai mandi. Sebenarnya ia hanya tertidur dua jam saja. Baru pukul setengah empat tadi ia meninggalkan apartemen Arindi setelah meyakinkan dirinya kalau gadis itu telah tertidur pulas dan badannya sudah lebih baikan.
Pukul enam pagi tadi ia terbangun karena alarm yang ia setel agar ia tak kesiangan. Pagi-pagi ia telah sarapan dan mandi. Ia bersiap-siap menunggu seandainya Arindi menelponnya.
Suara hp yang nyaring membuatnya bergegas berlari menghampiri tempat tidurnya dimana hp nya tergeletak. Ia mengangkat panggilan masuk itu.
"Udah bangun sayang?" Suaranya serak karena kurang tidur. Nadanya masih terdengar khawatir. Tapi bagi Arindi itu adalah sapaan pagi terbaik yang ia dengar hari ini. Membuat tubuhnya terasa bersemangat lagi.
"Udah kak. Suara kakak kenapa? Kakak sehat kan? Atau kakak masih tidur. Maaf kak, Arin ga tau kalo kakak masih tidur." Dari cara Arindi menanyakan rentetan pertanyaan itu membuat Tristan yakin bahwa gadis itu sudah baik-baik saja.
"Kedengaran gitu ya? Mungkin kurang minum aja. Kakak sehat kok dan ga lagi tidur juga, malahan ini udah mandi."
"Uhm... Emang kakak ga cape?" Arindi merasa tidak enak karena membuat pria itu kelelahan.
"Engga kok sayang... Gimana badannya udah enakan?"
"Iyya... Udah enakan kak."
"Ya udah kamu mandi dulu aja, kakak mau beliin sarapan. Kamu mau sarapan apa?"
"Eh? Sarapan? Ga usah kak, Arin...."
"Kamu masih harus minum obat, jadi harus sarapan dulu. Ya udah tunggu aja ntar kakak kesana."
"Tapi kak...."
Tut tuut tuut tuut! Telepon terputus.
"Yah ini memang Tristan yang gue kenal... Hummh...." ujar Arindi menarik napas mengingat sikap Tristan barusan. "Tunggu... mau beli sarapan? Apa? Jadi dia mau kesini?"
Arindi baru menyadari sesuatu, ia baru sadar kalau kemarin sore sepulang kampus ia tidak mandi dan Tristan akan kesini. Ia merasakan bau tidak sedap dari dirinya. Ia pun melempar hp nya ke tempat tidur lalu berjalan cepat menuju kamar mandinya.
__ADS_1
.
.
Arindi sedang menyisir rambutnya, ia telah menyegarkan diri dan berganti pakaian. Tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi, ia kaget. Buru-buru ia berlari ke depan dan membuka pintunya.
Pintu terbuka. Seorang pria tampan berdiri disana, ia tersenyum cerah pagi ini melihat Arindi yang tersenyum manis menyambut kedatangannya. Ditangannya ia menenteng sebuah bungkusan putih berisi sarapan.
"Gue tuh bener-bener ga butuh obat kalo udah liat senyum itu. Cepet banget datengnya, pasti ngebut ya kak?"
Tristan tak dapat menahan rasa bahagianya mendapat sambutan hangat gadis itu. Ia berjalan mendekatinya lalu memeluknya erat. Arindi hanya tersenyum lalu membalas erat pelukan Tristan.
"Arin tuh ga perlu sarapan kalo udah dipeluk kaya gini kak...," goda Arindi pada Tristan.
Tristan pun melepas pelukannya, ia menatap gadis itu. "Kalo kaya gini...."
Cupp! Sebuah kecupan mendarat di dahi Arindi membuat pipinya terasa sangat panas.
"Ya udah ayo sarapan dulu biar bisa minum obat."
Arindi hanya tertawa melihat Tristan terus menggodanya. Ia menyukai paginya itu. Rasa sakitnya lenyap seketika saat bersama pria yang sangat disukainya ini.
...----------------...
"Nadine?" sapa Arindi saat melihat hanya sosok Nadine seorang di depan pintunya. "Rasya mana?"
"Oh anak itu lagi beli bubur di depan ntar dia nyusul. Gimana keadaan lo? Keliatan dari muka riang lo nyambut gue lo dah baikan? Sia sia gue khawatirin lo semalem. Lagi pula seorang Arindi itu ga akan gampang tumbang, apalagi hanya gara-gara masalah cowok. Halah masalah cemen kaya gitu. Makanya gue ga mau dulu mikirin cowok, cowok cuma nyusahin aja. Apalagi cowoknya modelan Tristan. Muka muka pasaran kaya Tristan gitu pasti banyak yang ngincer. Tar hidup lu juga yang susah Rin."
Entah angin dari mana, pagi itu Nadine mengoceh tanpa henti. Ia tak memperhatikan ada sepasang telinga yang sedang merah mendengar ocehannya.
Arindi langsung mengejar Nadine yang berjalan santai menuju sofa yang ada di depan televisi. Ia berusaha untuk membuatnya berhenti berbicara. "Pelanin suara lo bego!!" ujar Arindi setengah berbisik pada Nadine, kedua matanya melotot pada Nadine.
"Elo kenapa sih? Bener kan yang gue bilang? Selama ini hidup kita lancar aja kan sampe akhirnya Tristan dateng. Dia bener...." Arindi mendorong Nadine hingga ia jatuh terduduk ke sofa. Ingin rasanya ia memiting leher Nadine tapi diurungkannya mengingat pundaknya yang belum sembuh benar.
Arindi pun langsung duduk di samping Nadine dan menutup mulut embernya dengan salah satu bantal sofa.
"Elo kenapa sih?" Nadine menyingkirkan bantal tersebut dengan cepat. Ia sangat heran dengan sikap Arindi dan ingin memarahinya.
Namun pemandangan yang terpampang di hadapannya saat ia menyingkirkan bantal itu, pemandangan yang tak terlihat saat ia masuk karena letak ruang makan yang bersebrangan dengan ruang tengah dan ada sekat dinding jika dari pintu masuk.
Diseberang sana duduk seorang pria yang sedang menatap kosong pada semangkuk bubur dihadapannya. Hal itu membuat mulut Nadine tiba-tiba terkunci rapat.
__ADS_1
"Tristan?" bisik Nadine pada Arindi yang sedang membulatkan matanya pada Nadine. "Kenapa lo ga bilang sih?" katanya lagi pada Arindi yang mulai beranjak menuju meja makan mengabaikan Nadine.
"Riiin...," panggil Nadine setengah berbisik. Nadine pun mengekor Arindi ke meja makan sambil mengingat kata-kata apa saja yang telah ia ucapkan tadi.
Arindi pun duduk kembali ditempatnya diikuti Nadine yang mengambil kursi di sampingnya. Nadine melirik pada Arindi yang melanjutkan kembali sarapannya. "Sialan... Pura-pura gatau lagi. Lagian nih mulut kenapa lancar amat sih ngomongnya padahal belom sarapan," batin Nadine.
"Hai Nad," sapa Tristan saat kedua gadis sudah duduk tenang di kursi masing-masing.
"Oh Tan, hai... pagi... juga," jawab Nadine merasa tak enak.
"Kak kenapa buburnya diliatin aja? Makan gih keburu dingin," ujar Arindi yang mulai mengkhawatirkan ekspresi Tristan. Ekspresinya berubah tak seperti sebelumnya.
"Oh iya Rin, kakak udah kenyang. Arin aja yang makan," jawab Tristan kemudian sambil berusaha tersenyum pada Arindi. Arindi sekilas menatap ke dalam mangkuk di depan Tristan yang sepertinya bahkan tak tersenggol sedikit pun setelah Arindi berdiri tadi.
"Iyya Rin lu makan gih, lu kan abis sakit musti banyak makan," sambung Nadine seolah pendapatnya saat ini diperlukan. Arindi pun kembali mendelik pada Nadine. Nadine kembali menutup mulutnya.
"Arin... Apa yang dibilangin Nadine bener. Abisin sarapannya trus jangan lupa obatnya diminum," ujar Tristan kemudian. "Karena Nadine udah disini, kalo gitu kakak pulang dulu." Tristan pun berdiri dari duduknya. "Nad gue pulang dulu, pastiin dia ga lupa minum obatnya," ujar Tristan berpamitan pada Nadine.
"Oh... Eh iya Tan," ujar Nadine perlahan.
Ada yang berdenyut di hati Arindi. Arindi pun ikut berdiri. Ia ingin menahan pria itu tapi tak dilakukannya. Arindi juga kehilangan kata-kata setelah melihat reaksi Tristan saat ini. Arindi tahu ada gurat kesedihan tergambar di senyum Tristan tadi. "Gue anter Tristan dulu Nad," ujarnya pada Nadine yang hanya diam duduk di meja makan sambil berpikir keras.
Arindi mengiringi langkah Tristan hingga depan pintu. Tristan memakai sepatunya dengan cepat. Ia tahu Arindi mengikutinya, ia tak ingin gadis itu berlama-lama meninggalkan sarapannya.
"Seharusnya buburnya dimakan, ntar dingin ga enak lagi," ujar Tristan berbalik menatap Arindi yang hanya diam tertunduk. "Jangan lupa obatnya diminum," lanjut Tristan dengan suara pelan sambil menyelipkan rambut Arindi ke belakang telinganya hingga membuat wajah Arindi menatap ke arahnya.
Tristan pun masih belum ingin berpisah dengan Arindi. Namun ia tak sanggup menahan malu dan sedih jika ia masih berlama-lama disini. Kata-kata Nadine tadi datang ibarat mata panah yang melesat menusuk setiap tempat di hatinya. Ia tak menampiknya karena ia tahu itu kenyataannya meskipun sangat pahit tapi ia mengakuinya.
"Kak...," ujar Arindi kemudian. "Arin minta maaf soal perkataan Nadine tadi," ujar Arindi pelan.
"Kenapa minta maaf? Udah jangan dipikirin lagi ya. Kakak juga gapapa kok," ujar Tristan kemudian.
Arindi tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya sedang menyelidiki raut wajah sedih yang sedang disembunyikan Tristan.
"Sayang kamu gapapa?" tanya Tristan yang mulai heran dengan sikap bengong Arindi.
"Oh ga-gapapa kak." Wajahnya sendu menatap Tristan. Hatinya berdenyut mengetahui pria ini berpura-pura tegar untuknya.
"Ya udah kakak pulang dulu ya," jawab Tristan sambil mengusap lembut pipi mulus Arindi. "Wajahnya jangan gitu, gimana kakak bisa pulang dengan tenang. Senyum donk Sayang," ujar Tristan setelah melihat ekspresi Arindi.
"Kakak mohon tersenyumlah. Kakak masih pengen lama disini, tapi... perkataan Nadine tadi buat kakak menyadari sesuatu. Apa kakak boleh sebahagia ini setelah nyakiti kamu. Sekarang kakak pengen tenangin diri dulu. Kalo udah lebih tenang, kakak pasti langsung dateng dan minta maaf dengan bener," batin Tristan kemudian.
__ADS_1
Ia pun mendekatkan wajahnya pada Arindi lalu mencium dahi gadis itu. Cukup lama. Ia ingin Arindi merasakan betapa besar perasaan sayangnya padanya.
Arindi membalas ungkapan perasaan yang tak terucap itu dengan tersenyum penuh kehangatan pada Tristan. Sebelum akhirnya Tristan pun pulang.