Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Pengakuan


__ADS_3

"Belom tidur?" Suara lembut Tristan ditelepon membuat Arindi senyum-senyum sendiri, suara itu terdengar sangat menenangkan bagi Arindi.


"Belom ngantuk kak," jawab Arindi.


"Trus lagi ngapain, kenapa belom tidur?"


"Ga ada ngapa-ngapain sih, rebahan aja, pengen tidur tapi mata belom ngantuk."


Arindi berbohong. Sebenarnya sejak sampai ke apartemennya setelah diantar Tristan tadi, Arindi teka bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia memutar musik klasik yang ada di ponselnya lalu berpura-pura sedang berdansa dan menari mengeliling kamarnya.


Arindi bersemangat karena membayangkan semua kejadian hari ini. Bahkan setelah mandi ia masih bersenandung tak jelas dengan jubah mandi masih melekat dibadannya. Ia tertawa sendiri mengingat ciumannya tadi. Terkadang ia memegangi bibirnya sambil tersenyum sumringah membayangkan kehangatan yang tadi menyentuh bibirnya.


Ini adalah pengalaman baru dalam hidupnya. Bukan semata karena ciuman itu, tapi ini untuk pertama kalinya ia jatuh cinta pada seseorang. Ia tidak pernah tahu jatuh cinta semenyenangkan ini.


"Tidur gih, udah malem," ujar Tristan kemudian.


"Iya bentar lagi kakak."


"Emang besok ga ada kuliah?" tanya Tristan yang mulai ingin tahu apa saja kegiatan Arindi esok hari.


"Ada sih kak jam 10. Oh iya kak, besok pagi-pagi ikut Arin ya."


"Kemana emang?" tanya Tristan.


"Ada dehhh, mau yah?" Suara Arindi setengah merengek. Ia benar-benar merasa nyaman berbicara dengan Tristan sekarang.


"Ok. Sekarang tidur gih, besok pagi-pagi kakak jemput," jawab Tristan menyetujui ajakan Arindi.


"Iyaa deh. Eh jemput?" Arindi hanya mengiyakan tanpa sadar apa ucapan Tristan. "Ooh... I-iya ya kak."


"Kenapa kok kaget? Lupa kalo udah punya pacar?" goda Tristan pada Arindi.


"Ya ga mungkin lupa lah kak. Masa lupa sih," jawab Arindi dengan malu-malu.


"Ya udah tidur ya kamu, besok kakak jemput," ujar Tristan lembut.


"I-iya kak," jawab Arindi lalu memutus panggilannya.

__ADS_1


Tristan bukanlah orang yang punya banyak pengalaman berpacaran, ia tak tahu bagaimana caranya berpacaran. Ia tak tahu bagaimana cara berkata manis pada perempuan. Tapi dengan Arindi semua mengalir begitu saja, ia selalu ingin membuat gadis itu tersenyum dengan kata-katanya, dengan sentuhannya dan dengan tatapannya. Ia ingin Arindi menyambut ketulusannya, merasakan kehangatan yang ia berikan, dan ia ingin gadis itu terus berpegangan dan bersandar padanya.


Tristan dimata Arindi seperti sosok yang tidak pernah ia temukan dalam hidupnya sebelumnya. Ia tidak pernah merasa ingin diperhatikan oleh laki laki seperti pada Tristan. Ia selalu cuek dan tak pernah menanggapi perhatian laki-laki. Tapi dengan Tristan ia selalu mengharapkan perhatian laki-laki itu.


...----------------...


Pagi-pagi sekali Arindi, Nadine, Vivian dan Rasya telah duduk bersama di kafe Harmoni. Sebenarnya Arindi lah yang meminta mereka bertiga datang pagi ini, karena ada yang ingin ia katakan pada ketiga sahabatnya itu.


Arindi menyeruput cokelat panas di hadapannya perlahan. Ia menikmati setiap tegukannya dengan santai. Sementara itu ketiga sahabatnya hanya duduk mematung, mata mereka hanya terpaku pada pemandangan yang tak biasa yang ada di depan mereka sekarang yaitu sosok pria tampan yang sedang duduk disamping Arindi saat ini, Tristan.


Tristan yang merasa dipandangi oleh tiga pasang mata itu cuek tak perduli, ia hanya duduk menopangkan satu tangannya di dagu memandangi dengan mata penuh pertanyaan pada Arindi, pacarnya, yang saat ini hanya santai menikmati minuman hangatnya seolah tak perduli dengan keadaan di sekitarnya.


"Adaaaa... yang bisa jelasin kenapa kita ber... lima duduk disini sekarang?" Rasya yang dari tadi tidak mengerti dengan situasi sekarang akhirnya membuka suara.


Sebenarnya sejak membuka mata ia sudah dibuat bingung. Pagi-pagi sekali Nadine menelponnya dan menyampaikan pesan dari Arindi untuk berkumpul di kafe pagi ini tanpa ada penjelasan alasan mengapa dia harus melakukan itu. Dan Nadine menambahkan kata 'penting' sesuai pesan Arindi yang ia terima agar ketiga sahabatnya mau datang.


Rasya menatap pada Arindi, tapi yang ditatap tidak juga bergeming. Lalu menatap Vivian dan Nadine berusaha mencari jawaban, tapi mereka hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.


"Rin...."


Rasya menatap penuh tanda tanya pada Arindi. Ia mengamati dengan teliti tampang pura-pura tenang Arindi saat ini. Lalu ia pun berganti melihat ke Tristan.


Ia menatap ekspresi ketiga sahabatnya. Mereka bertiga hanya mengangguk menanggapi serius perkataan yang ingin Arindi sampaikan. Arindi pun melanjutkan perkataannya.


"Perkenalkan orang yang di sebelah gue ini namanya Tristan." Arindi mengangkat tangannya menunjuk pada Tristan seolah sedang memberi perkenalan.


Tristan yang merasa ditunjuk lalu mengubah posisi tangannya, ia mengaitkan jari jemarinya ke atas meja lalu tersenyum tipis kearah ketiga sahabat Arindi dengan gugup. Ia lalu melihat dengan wajah bingung pada Arindi, ia tak tahu apa maksud Arindi memperkenalkan namanya dengan sopan begitu.


"Bukannya gue ga sopan ya Rin, tapi gue udah kenal dia, gue bahkan satu klub sama dia," ujar Nadine tiba-tiba.


"Gue juga tahu kok," timpal Rasya. "Dia kenapa sih?" tanyanya setengah berbisik pada Vivian disampingnya.


"Ga tahu gue, lagi geser nih kayanya anak ini pagi ini", jawab Vivian pun sambil berbisik pada Rasya.


"Udah pada tahu kan? Tapi yang belum kalian tahu dia ini pacar gue."


Dengan singkat Arindi menjawab kebingungan mereka berempat. Setelah itu ia dengan santainya melipat tangannya menatap datar pada ketiga sahabatnya.

__ADS_1


Tristan yang merasa terekspos secara tiba-tiba terbatuk-batuk saat Arindi dengan lantang mendeskripsikan dirinya di depan sahabatnya. Ia hanya menutup mulutnya seolah menahan batuknya. Ia menjadi salah tingkah.


Tak kalah dengan Tristan, ketiga sahabat itu juga mengeluarkan reaksi yang tak kalah terkejut. Nadine menyemprotkan lattenya kecangkirnya kembali mendengar kata kata Arindi sampai ia pun terbatuk-batuk. Rasya menjerit dengan suara nyaringnya. Sedangkan Vivian hanya menarik nafas lalu menahannya dan matanya melotot tak percaya ke arah Arindi.


"Uhm... kakak keluar sebentar ya," ujar Tristan mencoba melarikan diri.


Greep. Tangan Arindi dengan cepat menggenggam tangan Tristan yang ingin beranjak dari kursinya karena malu. Ia menatap wajah Tristan.


"Mau kemana? Nanti dulu...," pinta Arindi.


Tristan pun duduk kembali ke kursinya dengan tangan Arindi masih menggenggam tangan Tristan di atas meja.


Ketiga sahabatnya yang tadi terkejut lagi lagi dibuat terkejut oleh Arindi, mereka menatap bengong pada tangan mereka berdua yang saling menggenggam sekarang. Lalu mereka bertiga saling bertatatapan dan bersamaan akhirnya mereka menjerit.


"Waaaaaaa...." jerit mereka heboh.


Tristan menutup telinganya. Arindi hanya melemparinya senyum seolah mengatakan pada Tristan untuk memaklumi saja kelakuan sahabatnya.


"Gimana ceritanya sih Ariiiiiin...," ujar Vivi penasaran.


"Rin, gue ga salah denger, ga salah liat kan? Kalian udah pacaran? Tan ini beneran?" Nadine bergantian melihat pada Arindi dan Tristan.


"Trus trus kapan jadiannya, semalem? ya kan? Semalen kan?" selidik Rasya.


"Semalem? Apaan lagi, ga ngerti gue, gimana sih Rin kok bisa jadian lu bedua?" ujar Nadine masih tak percaya.


"Arin Arin Arin cerita donk." Vivian menggoyang-goyangkan tubuh Arindi. Sementara Tristan hanya tersenyum melihat tingkah konyol mereka.


"Sabar ya sayang, ntar deh, hari ini gue mau kenalin aja dulu," ujar Arindi menutup perkenalannya.


"Kapaaaann? Kapan ceritanya... Ih gitu banget...," desak Rasya pada Arindi.


"Sekarang aja sih... Trus Tan emang lu mau beneran sama anak ini," ujar Nadine menunjuk Arindi. "Dia itu keliatannya aja lembut gini, sebenernya kaya singa loh, serius lo tahan?"


"Uhhhmmmm ntar pokoknya gue ceritain. Nadine apaan sih, gue kan emang gini dari lahir...," jawab Arindi singkat.


"Ih Nadine kok jahat banget sih," tambah Vivian.

__ADS_1


Tristan hanya tersenyum menanggapi ocehan-ocehan sahabat Arindi. Dia hanya senang mereka bertiga menerima kehadirannya.


__ADS_2