Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Salah Tingkah


__ADS_3

Tiit tiiit tiiit...


Jam alarm di samping tempat tidur berbunyi. Arindi menyetel alarm itu tepat pukul enam pagi, tapi ia telah bangun sejak subuh. Ia bergegas mematikannya, suaranya nyaring memekakkan telinga.


Ia duduk di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya. Ia baru selesai mandi dan masih memakai jubah mandinya.


Acara Pagelaran Seni Budaya yang diadakan di kampusnya berakhir hari ini, acara akan dihadiri oleh pemimpin kampus jadi Arindi sebagai salah satu panitia acara harus datang lebih pagi. Lebih dari itu, karena Tristan akan menjemputnya pagi ini jadi ia bangun pagi mempersiapkan diri.


Memikirkan hal itu, membuatnya terus merasa berdebar, ia gugup tanpa alasan.


"Kok gue deg-degan gini sih?"


"Gue kenapa?"


"Sarapan dulu deh, kali aja gara-gara laper."


Ia berjalan menuju kulkas, mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk meredakan gugupnya. Ia mengambil sebuah apel lalu mengupasnya dan memakannya hingga habis. Ia juga menuangkan susu ke gelas dan meneguknya hingga habis. Perutnya kenyang tapi ia masih saja gelisah.


"Gue kenapa sih?"


"Kayanya gue akhir-akhir ini kurang olahraga deh."


Ia pun meregangkan tangan dan kakinya melakukan pemanasan lalu naik ke treadmill. Ia tak sadar ia masih menggunakan jubah mandinya, setelah beberapa menit berjalan ia baru menyadarinya. Ia pun bergegas turun dari treadmill.


"Gue masih pake jubah mandi?"


"Ngaco banget sih gue pagi ini, lagian udah mandi seger, ngapain gue olahraga lagi?"


Arindi bingung dengan dirinya sendiri. Ia salah tingkah. Akhirnya ia pun berjalan lemas menuju tempat tidurnya. Mungkin dengan berbaring ia bisa tenang, pikirnya.


Ia merebahkan tubuhnya, tapi baru saja kepalanya menyentuh kasur tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia menatap jam dindingnya, secepat kilat ia mengangkat kembali tubuhnya.


"Udah hampir jam 7? Kenapa gue masih rebahan sih?"


Ia pun cepat-cepat membuka ruang ganti pakaiannya. Ia mulai mengacak-acak gantungan pakaian mencari pakaian yang harus ia kenakan pagi ini.


"Pake baju apa?... Oh iya hari ini dress code nya pake dress."


"Dress... dress... dress... dimana dress gue."


Ia mulai heboh seakan bukan dirumahnya sendiri, ia lupa dimana letak-letak pakaiannya hingga ia mondar mandir karena kebingungan.


Setelah beberapa menit ia akhirnya memilih sebuah midi dress berwarna peach berbahan sifon, ia pun memakainya. Lalu cepat-cepat ia merapikan rambutnya membuat kuncir setengah dan memoles wajahnya agar terlihat natural.


Setelah merasa cukup ia bergegas menuju rak sendal, mencari sneaker-nya. Tak lama hp-nya berdering. Ia membaca nama penelepon lalu buru-buru mengangkatnya.


"Ya kak... ha-halo... Eh eh...."


Ia berusaha memasukkan sneakers itu ke kakinya, tapi karena tangan satunya memegang hp membuat keseimbangan tubuhnya goyang, ia pun hampir terjatuh.

__ADS_1


"Halo Rin... Hei kenapa?" ujar Tristan yang heran dengan suara Arindi.


"Engga papa kok. Kakak udah di bawah ya?"


"Belum sih, lagi ditoko roti Murbery, kamu mau apa? Belom sarapan kan?"


"Kamu?" Arindi kaget mendengar panggilan itu. "Uhm udah makan apel sih kak. Sejak kapan kita jadi aku kamu."


Pipinya menjadi hangat mendengar Tristan menyebutnya seperti itu.


"Ya udah kalo gitu, tunggu ya."


Arindi mematikan hp nya, ia memasang sneakernya dengan benar. Jantungnya tiba-tiba berdegup, semakin ingin bertemu membuat ia semakin gugup. Ia pun mengambil nafas panjang dan menghembuskannya beberapa kali. Lalu turun ke bawah.


Sesampai dibawah Tristan sudah menunggu, ia berdiri di samping mobilnya. Ia benar-benar tampan pagi ini, semua yang ia kenakan pas ditubuhnya membuat ia semakin kelihatan mempesona di mata Arindi. Arindi pun menghambur mendekat kepadanya.


Tristan menyambutnya dengan senyuman. Ia sendiri terpukau melihat Arindi yang kelihatan sangat anggun. Jantungnya pun berdegup kencang melihat gadis itu.


"Cantik", ujar Tristan dalam hatinya.


"Selamat pagi kak." Arindi menyapa Tristan yang masih saja bengong, membuat Arindi menjadi malu. Tristan benar-benar tak bisa menahan tangannya untuk tak menyentuh gadis itu tiap kali berhadapan dengannya, meski hanya sehelai rambut ia ingin menyentuhnya.


Ia pun mengangkat tangannya lagi, menyapukan ujung jarinya perlahan ke anak rambut yang ada di dahi Arindi, ia takut membuat rambutnya yang sudah tertata rapi itu berantakan. Matanya menangkap senyuman di wajah gadis itu saat ia melakukannya. Senyuman itu menular padanya.


Arindi tanpa sadar mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan lembut itu, ia menyukainya setiap kali Tristan melakukannya.


"Selamat pagi. Udah siap berangkat?" tanya Tristan.


"Iya udah kok," jawab Tristan.


Tristan pun membukakan pintu mobil mempersilahkan Arindi masik lalu mereka berangkat menuju kampus.


.


.


Mobil Tristan melaju menuju kampus. Tristan mengambil sebuah paper bag kecil yang ada di sampingnya, ia memberikannya pada Arindi. Arindi mengintip isinya, beberapa batang cokelat yang berukuran kecil.


"Coklat? buat Arin?"


"Iyya, kakak beli ukuran kecil biar gampang di bawa di tas," jawab Tristan.


"Wah makasih ya kak."


Arindi kegirangan seperti anak kecil. Ia tak tahu harus berkata apa, sikap Tristan, sentuhannya padanya membuat ia seakan terus melayang terbang. Mereka pun terus mengobrol selama perjalanan.


.


.

__ADS_1


Sesampai di kampus mereka turun bersama. Kebetulan sekali Renyi dan Joe baru saja datang dan memarkirkan motornya disamping mobil Tristan.


"Weiits Ren, gue ga salah liat kan? udah pergi bareng aja ya. Gercep ya Tan?" seru Joe saat melihat Tristan.


"Takut ditikung lo kayanya," balas Rendy.


Tristan hanya tersenyum menanggapi duo jahil itu, begitu juga Arindi, ia tak mengerti apa maksud perkataan mereka berdua. Tristan berusaha berjalan mendampingi Arindi, menjauhkannya dari mereka.


"Pagi kak..." Arindi menyapa seadanya kedua anak itu dari balik tubuh Tristan.


Tristan mengimbangi langkah kecil Arindi, dan kedua sahabatnga mengikuti apa yang dilakukan Tristan membuat Arindi hanya menahan senyumnya.


"Ada yang mau disampein ke gue Ren? Joe?" tanya Tristan sambil menekankan kata-katanya.


"Ga ada sih," jawab Rendy cuek.


"Iyya ga ada tuh," Joe menambahi.


Rendy dan Joe berjalan sambil terus menatap pada Tristan yang sedikit pun tak ingin menoleh pada mereka.


"Trus mau sampe kapan ngikutin gue?" tanya Tristan yang mulai kesal.


Tristan awalnya tak ingin perduli tapi kedua orang itu membuat ia ingin menendang bokong mereka.


"Hahaha ga kok Tan, ampuuunn, Joe kuy lah, sebelum ada yang ngamok," ledek Rendy kemudian.


"Bentar deh Ren, eh Arindi... Pagi cantik," sapa Joe pada Arindi.


"Oh ya pagi kak Joe." Arindi membalas sapaan Joe.


Joe melirik Tristan yang menatap sinis padanya. Tapi ia bukannya segera berlari menjauh malah makin menjadi.


"Kenapa sih Tan, emang ga boleh gue nyapa Arindi, kaya pacarnya aja, ups... Udah pacaran belum sih Ren mereka?" tanya Joe pada Rendy pura-pura bego.


Rendy pun menarik tangan Joe, ia menjepit lehernya. Mereka pun berlari menjauh sambil terus tertawa. Melihat mereka telah menjauh Tristan pun berhenti berjalan, begitupun Arindi. Ia melihat ke Arindi, ia khawatir gadis itu terganggu dengan kejahilan mereka.


"Kenapa kak?" ujar Arindi heran.


"Gapapa, ga usah didengerin kata kata mereka," ujar Tristan.


"Telinga Arin kan masih sehat kak, gimana ga didenger coba? Lagian bagian mana yang ga boleh didenger?" tanya Arindi.


Arindi pun bergantian menggoda Tristan yang mengkhawatirkannya. Mendengar pernyataan Arindi membuat Tristan malu, ia telah salah mengkhawatirkannya.


"Yang didengerin tuh yang baek-baek aja, ngerti? kakak tarik telinganya kalo dengerin mereka," ujar Tristan.


"Tarik kek begini ya kak." Arindi tiba-tiba mengarahkan satu tangannya ke telinga Tristan, membuat Tristan terkejut. Ia pun menjauhkan dirinya.


"Oh berani ya...." Tristan ingin membalas tapi Arindi sudah berlari menjauh.

__ADS_1


"Berani dong, emang kakak, ya udah Arin duluan. Daah...."


Arindi melambai pada Tristan meninggalkan Tristan dibelakang. Sikap gadis itu selalu saja membuat ia terkejut dan senang bersamaan.


__ADS_2